
Kaivan mengusap rambutnya dengan kasar dan perbuatannya itu tidak lepas dari pandangan teman temannya. Arkan yang melihat itu pun hanya bisa menepuk pundak temannya itu.
"Kenapa nggak lo kejar aja, katanya lo cinta sama dia," ujarnya dan Kaivan hanya menghela nafas mendengarkan perkataan Arkan.
"Masalahnya dia selalu menghindar kalau lihat gue."
Kaivan terputar mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, dimana dia duduk di kantin karena baru selesai jam pelajaran olahraga, saat itu Kaivan sedang menikmati makanan bersama teman temannya.
Aldi yang melihat Enzi berjalan ke arah mereka pun memberitahunya kepada Kaivan
"Kai…," panggilnya.
"Eum."
"Enzi sedang menuju ke sini." Kaivan yang mendengar nama Enzi pun langsung menegakkan badannya dan melihat ke arah Aldo.
"Dimana?" tanyanya.
__ADS_1
"Itu." Tunjuk Aldo dan Kaivan juga melihat ke arah kemana Aldo menunjukkan dan benar saja Enzi sedang menuju ke arah mereka.
Jantung Kaivan tiba tiba berdetak dengan kencang dia tidak tahu Kenapa jantung seperti ini, rasanya seperti pertama kali melihat Enzi tersenyum.
Enzi sudah berdiri di depan Kaivan dan Kaivan hanya bengong melihat wajah Enzi dan panggilan dari Enzi membuatnya terkejut.
"Kak Kaivan."
"E-eh iya, ada apa Zi?" tanya Kaivan dengan tersenyum ke arah Enzi, Kaivan merasa senang karena Enzi mau berbicara dengannya, sebab setelah kejadian di kantin beberapa hari yang lalu Enzi selalu menghindarinya dan tidak mau berbicara dengannya dan itu membuat Kaivan sangat frustasi.
Tapi sekarang dia bahagia karena Enzi mau datang langsung kepadanya tapi kemudian perkataan Enzi membuat senyum Kaivan luntur begitu saja.
Venya juga tidak mau ikut campur urusan mereka berdua, tapi kalau Kaivan menyakiti sahabatnya Venya akan maju paling depan untuk melindungi sahabat nya, kalau bukan karena pak Tian yang menyuruh Enzi untuk memanggil Kaivan, Enzi tidak mau memanggil nya karena Enzi tidak mau berurusan lagi dengan cowok seperti Kaivan.
Venya yang mengetahui sahabatnya dijadikan taruhan pun sangat marah, dia ingin menghajar Kaivan tapi Enzi menahanya.
"O-oh, oke sebentar lagi gue kesana," ujar Kaivan dengan canggung.
__ADS_1
"Kalau begitu kita duluan." Saat Enzi akan pergi tiba tiba Kaivan memanggil nya.
"Enzi." Panggil Kaivan sambil berdiri dan Enzi pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap ke arah Kaivan.
"Iya?"
"Lo cuma mau ngomong gitu doang?" tanya Kaivan dan perkataan Kaivan membuat Enzi sangat bingung.
"Emangnya gue harus ngomong apa lagi?" tanya Enzi dengan bingung. Sedangkan Kaivan hanya menghela nafas mendengar perkataan Enzi.
"Beberapa hari ini lo selalu menghindar dari gue, apa lo benar benar nggak mau maafin gue?" Sekarang Enzi tau kemana arah pembicaraan Kaivan.
"Nggak usah bahas yang sudah selesai kak, nggak ada gunanya." Kaivan hanya menghela napas mendengarkan jawaban dari Enzi, Kaivan pun berucap.
"Gue tau gue salah Zi, tolong jangan membuat gue merasa bersalah dengan lo Zi," ujar Kaivan dengan sendu.
"Emang lo salah kak, sangat salah, lo seenaknya menaruh harapan lo buat gue dan gue seakan merasa bahwa gue adalah orang yang paling bahagia karena bisa mendapatkan perhatian lo, ternyata gue salah. Kalau gue nggak kenal lo dari awal merupakan kebahagiaan gue yang sedang gue tunggu dan sekarang hubungan kita selesai kak. Jadi berhenti membahas yang tidak ada gunanya." Setelah mengucapkan itu Enzi pun pergi dari sana sambil menarik Venya yang sedari tadi berdiri disampingnya.
__ADS_1
Dan Kaivan hanya menghela nafas mendengarkan dan duduk kembali dengan lesu dan teman temannya hanya prihatin memperhatikan Kaivan karena memang mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Walau semua nya ikut andil dalam mempermainkan Enzi, tapi Kaivan meminta kepada teman temannya bahwa biar dia saja yang meminta maaf kepada Enzi karena yang terlalu banyak menoreh luka kepada Enzi adalah dirinya.