
Saat ini Kenzi sedang belajar di ruang tamu, Kenzi sedang belajar untuk ujian akhir semester yang akan diadakan beberapa hari lagi dan Kenzi juga sedang belajar serta mempersiapkan berkas untuk mendaftar ke universitas impiannya.
Sibuk belajar hingga Enzi tidak memperdulikan sekitarnya, tapi tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang dan itu membuat Kenzi terkejut.
"Dek, kamu kenapa tiba tiba datang dan peluk Abang?" tanya Kenzi kepada Enzi dan Enzi hanya menggeleng saja, Enzi tidak melepaskan dekapannya dan itu membuat Kenzi penasaran soalnya Enzi akan manja dengannya apabila ada suatu masalah yang membuat hatinya gundah.
"Dek, hei kamu kenapa?" Kenzi mencoba melepaskan tangan Enzi dari pinggang nya, cukup lama dia mencoba melepaskan nya karena dia melepaskan secara lembut, dia tidak mau adeknya terluka gara gara dirinya, dan akhirnya berhasil. Dia terkejut melihat mata adeknya yang sembab dan hidung yang memerah.
"Abang…," Enzi menangis dengan suara sedikit keras.
"Kamu kenapa, coba bilang sama Abang siapa yang lakuin ini semua." Enzi tidak menjawab, dia hanya terisak Kenzi yang melihat keadaan adeknya pun tidak tega dan langsung memeluknya.
"Kamu kenapa?" Lagi lagi Enzi tidak menjawab dia hanya menangis di dekapan Kenzi. Kenzi yang tidak mendengar apapun dari adeknya hanya menghela nafas saja sambil mengusap punggung adeknya, kalau sudah seperti ini dia harus menunggu adeknya tenang.
Setelah cukup lama akhirnya Enzi tenang dan melepaskan dekapannya dari Kenzi dan Kenzi mengusap air mata adeknya.
"Kamu kenapa dek, kenapa pulang pulang nangis kayak gini, ceritain ke Abang kenapa kayak gini." Enzi terisak mendengarkan perkataan Abangnya, kenapa laki laki diluar sana tidak seperti Abangnya.
"Abang…," panggil Enzi dengan terisak.
"Iya."
"Enzi benci banget sama cowok diluar sana, kenapa mereka tega sama Enzi, Enzi ada salah apa sama mereka," ucap Enzi sambil terisak.
__ADS_1
Kenzi bingung mendengarkan perkataan Enzi, ada apa ini sebenarnya.
"Kamu kenapa dek, Abang enggak paham apa yang kamu katakan."
"Kak Kaivan." Enzi mengatakan itu dengan terisak.
"Kenapa sama Kaivan?" tanya Kenzi penasaran.
"Dia pacaran dengan aku karena taruhan," ucap Enzi dan menangis dengan keras.
"Maksud kamu?" Ujar Kaivan sambil memegang bahu Enzi
"Aku dijadikan taruhan kak Kaivan dengan teman temannya demi sebuah motor." Kenzi yang mendengar itupun sangat kesal berani beraninya Kaivan memperlakukan adeknya seperti ini.
"Abang sakit," cicit Enzi.
Kenzi yang sadar pun melepaskan cekramannya dari bahu Enzi.
"Maaf dek Abang enggak sengaja," ujarnya sambil mengusap pelan bahu adeknya.
"Abang…," panggil Enzi dan Kenzi mengarahkan pandangannya kearah Enzi.
"Iya, Kenapa dek?"
__ADS_1
"Apa salah Enzi ya, kenapa banyak cowok yang selalu nyakitin perasaan Enzi, Enzi enggak mau berhubungan dengan laki laki lagi bang, Enzi benci banget sama laki laki," ujar Enzi dengan terisak.
Kenzi langsung memegang pipi adeknya dengan lembut dan berkata.
"Dek, enggak semua laki laki seperti itu."
"Tapi kenapa semua laki laki yang Enzi temuin seperti itu, kenapa mereka mudah banget nyakitin perasaan perempuan, kenapa mereka enggak pikiran bagaimana perasaan perempuan." Enzi masih menangis dengan keras, Kenzi yang sangat prihatin dengan adeknya pun langsung memeluk adeknya.
Kenzi berjanji akan memberikan pelajaran yang setimpal buat orang orang yang telah menyakiti adeknya dan orang orang yang telah menambahkan trauma kepada adeknya.
Cukup lama Enzi menangis di pelukan abangnya dan Kenzi yang merasakan adeknya sudah merasa tenang pun langsung melepaskan pelukannya.
"Sudah, adek Abang yang cantik ini nggak boleh nangis hanya karena lelaki brengsek itu. Adek Abang ini harus bahagia," ujar Kenzi sambil menghapus jejak air mata adeknya dari pipi Enzi dan juga tidak lupa merapikan rambut adeknya yang berantakan.
Enzi hanya mengangguk saja mendengarkan perkataan Kenzi, sesungguhnya Enzi sangat sakit hati melihat bahwa dia dijadikan taruhan, tapi mau bagaimana sudah begitu takdirnya.
"Daripada kamu nangis, mending kamu ikut Abang."
"Kemana bang?" tanya Enzi.
"Abang mau beli jajanan diluar, abang pengen beli mie di komplek sebelah."
"Ya sudah, Enzi ikut Abang deh." Mereka pun pergi untuk membeli makanan yang ingin mereka makan dimalam hari ini.
__ADS_1
Karena dirumah pun Aira dan Elina tidak pulang karena ada kerjaan masing-masing, Aira yang sibuk dengan butik dan Elina yang sibuk dengan kuliahnya.