Kenangan & Trauma

Kenangan & Trauma
Bab 5 : Pertemuan Kedua


__ADS_3

Di Sebuah kamar terlihat Enzi sedang belajar, karena besok dia akan mengikuti ujian semester dan terhitung sudah 2 jam Enzi belajar dan dia merasa menginginkan sesuatu.


"Pengen makan seblak," guman Enzi.


"Beli aja kali ya, lagipula belajarnya juga udah lama,minta izin sama bunda dulu deh." Enzi langsung turun untuk menemui Bundanya yang berada dibawah.


"Bunda! Bunda!" teriak Enzi.


"Iya, Bunda disini." Enzi langsung pergi ke arah suara tersebut dan Bundanya berada di ruang keluarga bersama kakak sambil menonton televisi.


"Kenapa dek?" tanya Aira.


"Enzi mau minta izin buat keluar bentar ya."


"Mau kemana malam malam begini dek?" tanya Aira.


"Enzi mau beli seblak Bun, boleh ya pengen banget soalnya, cuma di depan tokonya Pak Yusuf aja."


"Ya sudah cepat sana sebelum kemalaman," ujar Aira.


"Enzi minta uang Bun, uang Enzi sudah habis," ucap Enzi sambil mengulurkan tangannya ke arah Bundanya dan dengan cengengesan bodoh nya dan Aira langsung memberikan uang 50 ribu kepada Enzi.


"Kakak nitip siomay dek ya, disamping seblak itu ada somay, tolong beli ya."


"Oke siap."


"Enzi pergi dulu, assalamualaikum," pamit Enzi


"Wa'alaikumussalam."


Enzi pergi dengan berjalan kaki, karena memang letaknya tidak terlalu jauh dari perumahan Enzi tinggal, Enzi merapatkan jaketnya takala angin malam menembus pelan ke kulitnya, jalanan mulai sepi langit yang sudah gelap dan hanya lampu lampu jalan sebagai penerang, terasa sepi tapi mendamaikan hati.


Tidak terasa Enzi sudah sampai di depan tokonya Pak Yusuf dan Enzi langsung pergi ke gerobak seblak untuk memesan seblak.


"Mas, seblaknya 2 ya, yang pedes."


"Siap neng, duduk dulu, saya buatkan dulu ya," ujar penjual itu sambil mengambil kursi untuk Enzi.


"Makasih mas." Penjual seblak hanya menganggukkan kepalanya dan langsung membuat pesanan untuk Enzi.


Tidak lama kemudian seblak yang Enzi pesan sudah jadi.

__ADS_1


"Ini neng pesanannya," ujar penjual itu.


"Makasih mas dan ini uangnya."


Setelah memesan seblak,Enzi langsung kesebelasan nya untuk membeli siomay pesanan Elina.


"Mas, somay lima ribu dua, yang satu pedas yang kedua jangan pedas ya."


"Iya neng."


Setelah membeli semuanya Enzi pulang ke rumah, saat melewati jalan tadi Enzi mendengarkan pertengkaran di suatu gang,Enzi langsung mencari dimana pertengkaran itu, betapa terkejutnya dia melihat seseorang dikeroyok oleh 4 orang, Enzi langsung bersembunyi di semak semak, Enzi memikirkan cara agar orang itu tidak dikeroyok lagi dan tiba tiba ide yang sangat cemerlang terlintas di pikirannya.


Enzi langsung membunyikan suara sirine mobil polisi di handphone nya dan dapat dilihat 4 orang tersebut sudah lari dan meninggalkan orang yang dikeroyok tadi.


Enzi pun pergi ke hadapan orang yang dikeroyok tadi, betapa terkejutnya dia melihat orang tersebut.


"Kak Kaivan!"


Kaivan yang mendengar suara orang memanggil namanya pun membuka matanya walaupun badannya sakit dia berusaha duduk.


"Jangan teriak cil," ujar Kaivan dengan kesakitan


Enzi yang melihat itu pun langsung membantu Kaivan untuk duduk.


"Diam dulu bego, jangan panik napa, sakit nih badan gue."


"Ya maaf kak, namanya juga panik," ucap Enzi sambil mengerucutkan bibir mungilnya.


"Jadi gue harus bawa lo kemana?, gue nggak bawa motor dan jarang ada taksi kalau udah jam segini," sambung Enzi dengan sedikit tenang walaupun hatinya tidak tenang.


"Enggak usah, gue tadi sebelum dikeroyok udah gue telepon teman teman gue, mungkin bentar lagi juga sampai." Enzi hanya mengangguk kepalanya mendengarkan ucapan Kaivan.


Dan benar saja tidak lama kemudian datang beberapa orang yang diduga teman Kaivan.


"Ya ampun sohib gue nggak ganteng lagi!, ini gimana ceritanya dah lo digebukin sama anak anak sebelah." heboh salah satu teman Kaivan.


"Nggak tau gue, tiba tiba mereka menyerang gue begitu aja," ucap Kaivan sambil dibantu berdiri oleh teman temannya dan Enzi sedikit menjauh dari mereka agar teman teman Kaivan bisa memegang Kaivan.


"Oh ya makasih cil lo udah bantuin gue tadi," ujar Kaivan saat melihat Enzi hanya berdiri tidak jauh dari sebelahnya.


"Iya sama sama kak dan gue bukan bocil nama gue Enzi, jangan panggil gue bocil, cil, gue udah SMA kak," ujar Enzi dengan kesal sambil mengerucut bibirnya.

__ADS_1


"Iya iya." Kaivan terkekeh melihat tingkah laku Enzi yang membuatnya gemas dan ingin mencium bibir pink dan mungil itu.


"Wihhh bocil dari mana nih?" tanya salah satu teman Kaivan.


"Gue bukan bocil kak!, nama gue Enzi." Enzi memelototi teman Kaivan tadi yang mengatakan dirinya bocil, dia tidak mau disebut bocil ayolah dia sudah SMA, walaupun badannya pendek sih.


"Sudah jarang berantem lagi, kalian berdua antar dia ke rumahnya," ujar Kaivan kepada dua orang temannya yang lain.


"Eh nggak usah kak, lagian rumah gue udah dekat, enggak jauh dari sini,"tolak Enzi dengan halus dan tidak memelototi teman Kaivan lagi.


"Nggak baik kalau perempuan pulang sendirian takutnya ada apa apa di jalan."


"Nah benar apa yang dibilang sama sohib gue, lebih baik lo diantar sama mereka berdua supaya aman gitu."


"Nggak usah kak, nggak papa kok, rumah gue udah dekat, kalau begitu gue duluan ya, bye," ujar Enzi sambil melambaikan tangannya ke arah mereka dan mereka hanya membalas lambaian itu.


"Keras kepala banget dah tu bocil," gerutu salah satu teman Kaivan. Kaivan yang melihat temannya tidak berhenti mengoceh pun langsung menjitak jidat temannya itu.


"Aduh! Sangat bego," ujarnya sambil mengusap jidat yang kena jitak oleh tangan Kaivan. Sungguh jitakan Kaivan tidak main main dan terbukti dengan jidat nya yang memerah.


"Dah jangan banyak ngomong lo, cepetan antar gue ke rumah, gue mau ngobatin luka ini dulu sebelum ketahuan sama papa, bisa diceramahi tujuh hari tujuh malam gue." Mereka pun berlalu dari sana untuk mengantarkan Kaivan dan pulang kerumah masih masing.


Sedangkan dilain tempat Enzi sudah sampai di gerbang rumah nya.


"Assalamualaikum, Enzi pulang."


"wa'alaikumussalam."


"mana somay Kakak dek?" tanya Elina.


"Sabar napa, baru masuk juga," ujar Enzi dengan kesal kearah Kakaknya dan Elina hanya nyengir memperlihatkan gigi kelincinya.


"ini." Enzi menyerahkan somay pesanan Elina.


"Dan ini untuk Bunda," ujar Enzi sambil menyodorkan somay nya buat Aira.


"Makasih dek."


"sama sama Bunda." Kemudian mereka memakan mereka masing masing, hingga Aira bertanya kepada putri bungsunya.


"Kenapa lama kali dek pulangnya?" Enzi yang mendengarkan pertanyaan dari Aira pun menghentikan acaranya memakan seblak.

__ADS_1


"Tadi Enzi bantuin orang yang dikeroyok Bun." Aira hanya membentuk mulut seperti huruf O dan tidak ingin mengetahui lebih dari itu.


__ADS_2