
Saat ini Elina, Enzi, dan Kenzi serta Aira sedang duduk di ruang keluarga, mereka sedang menonton tv bersama sama hingga pertanyaan dari enzi mengalihkan pandangan mereka semua.
"Bun." Panggil Enzi.
"Iya dek."
"Ayah enggak pulang lagi?" tanya enzi karena sudah beberapa bulan ini ayahnya tidak pulang ke rumah saat makan malam, biasanya ayahnya akan pulang sebelum makan malam walaupun ayahnya memiliki banyak pekerjaan dikantor
"Enggak, katanya ada beberapa hal yang harus diurus, kenapa emangnya?" tanya Aira penasaran sedangkan Enzi hanya menggeleng.
"Enggak papa, cuma tanya aja." Dan Aira hanya mengangguk saja dan melanjutkan menonton televisi, sedangkan Enzi masih memikirkan tentang ayahnya, entahlah akhir akhir ini Enzi sedikit curiga kepada ayahnya, seakan akan ayahnya menyembunyikan sesuatu yang besar dari mereka, Enzi langsung menggeleng kepalanya saat hal hal yang tidak diinginkan terlintas di pikirannya dan Kenzi yang sedari tadi memperhatikan adeknya dan dia heran karena melihat Enzi seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu mikirin apa sih dek,dari tadi bengong aja sambil geleng-geleng kepala."tanya Kenzi sambil menepuk pundak Enzi.
"E-eh enggak apa apa kok bang."ujar Enzi sambil tersenyum.
"Kamu yakin dek," bukan kenzi yang bertanya melainkan Elina karena sedari tadi Elina juga melihat adeknya yang sedang melamun entah apa yang dipikirkan oleh adeknya itu.
"Ya sudah temenin kakak ke Indomaret ayo,"ucap Elina kepada Enzi yang berada tepat disamping dirinya.
"Ngapain kak?" tanya Aira kepada putri sulungnya.
"Elin mau beli cemilan Bun, boleh ya enggak jauh cuma ke Indomaret doang, lagian ada Enzi yang nemanin elin, boleh ya Bun,"
"Ya sudah cepat sana, tapi ingat hati hati, jangan ngebut ngebut bawa motornya,"
"Oke Bun, ayo dek."ajak Elina kepada Enzi.
"Sekarang kak?"
"Tahun depan! ya sekarang lah, ayo cepetan," ujar Elina sambil menarik tangan Enzi yang masih duduk di sofa
"Iya iya bentar, jangan tarik tarik ih sakit tau."gerutu Enzi
"Makanya jangan lelet kayak siput."
"Kita berangkat dulu ya Bun." Pamit Elina
"Iya hati hati,"
__ADS_1
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Setelah kepergian mereka berdua Kenzi langsung menatap Bundanya yang masih fokus dengan televisi didepan mereka.
"Bun."Aira langsung melihat kearah putranya saat putranya memanggil nya.
"Iya kenapa bang?"
"Bunda enggak mau jujur sama kita?"
Aira bingung mendengarkan pertanyaan dari putranya, dia harus jujur tentang apa, Kenzi yang melihat kebingungan yang dari wajah Bundanya pun mengatakan sesuatu yang membuat Aira mematung mendengarkan nya.
"Soal Ayah berselingkuh dengan sekretaris nya, Bunda enggak mau cerita sama kita?"ujar Kenzi sambil menatap manik indah Bundanya.
"Kamu tau dari mana?"tanya Aira penasaran karena Aira sudah menutup rapat-rapat tentang permasalahan ini karena dia tidak mau membuat putra putrinya sedih akibat permasalahan yang dilakukan oleh suaminya, dia tidak mau membuat putra putrinya harus merasakan ketidakhadiran sosok orang tua di hidup mereka, Aira selalu mempertahankan rumah tangga mereka.
"Waktu malam Bunda dan Ayah yang bertengkar dikamar, Kenzi enggak sengaja dengar, waktu malam itu Kenzi kebangun karena haus dan mendengar pertengkaran itu." Aira ingat memang waktu itu dia dan suaminya memang bertengkar di malam hari, Aira mengira putra putri sudah tidur dan dia tidak mengira bahwa putranya mendengar pertengkaran itu.
"Bun, kenapa enggak mau cerita sama kita. Aku, kak Elin, dan Enzi adalah anak Bunda, Bunda tidak harus menanggung semua permasalahan rumah tangga ini sendiri ada anak anak bunda yang akan mendukung Bunda selagi yang Bunda lakukan itu benar," ujar Kenzi sambil memegang tangan Aira.
"Tapi bunda kita keluarga dan seharusnya keluarga saling membantu dalam menyelesaikan permasalah keluarga nya. Jangan merasa sendiri Bun, ada kami sebagai anak Bunda yang siap menjadi tumpuan Bunda apabila Bunda butuh," ujar Kenzi, dia tidak mau Bunda nya menanggung semua permasalahan keluarga nya sendiri karena Bunda nya sudah terlalu sakit apabila menyelesaikan semuanya sendiri.
"Bunda akan menyelesaikan sendiri bang, kalau memang nantinya Bunda tidak sanggup lagi tolong bantu Bunda ya." Dan Kenzi hanya mengangguk dan menjawab
"Pasti Bun, Kenzi akan selalu membantu Bunda, bukan Kenzi aja tapi ada kak Elin dan Enzi juga yang akan selalu membantu Bunda."
...….....
Kring kring kring
Suara bel pulang telah berbunyi saat nya Enzi serta Venya akan pulang dan sedang menunggu jemputan, Venya menunggu jemputan Abang dan Enzi sedang menunggu Abang nya yang sedang ke toilet.
"Zi gue duluan ya bang Arkan udah jemput tu," ucap Venya sambil menunjuk Arkan.
"Oke, hati hati ya."
Tidak berapa lama kemudian Kenzi pun sampai.
__ADS_1
"Ayo dek kita pulang sekarang,"Enzi hanya mengangguk dan mengikuti langkah Kenzi ke parkiran.
Sesampainya mereka dirumah, Kenzi serta Enzi bertemu Elina yang baru turun dari motornya
"Tumben enggak jalan jalan sama temannya kak."Tanya Enzi karena biasanya sehabis kuliah Elina akan bermain dengan teman teman.
"Lagi malas dek, enggak tau kenapa."sedangkan Kenzi dan Enzi hanya mengangguk saja,tiba tiba terdengar teriakan didalam rumah mereka, mereka pun buru buru masuk dan terkejut melihat keadaan rumah yang jauh dari kata baik. Bingkai foto mereka bersama sudah tidak terbentuk lagi,guci yang pecah dan juga gelas,atensi mereka teralihkan dengan suara bunda mereka yang berasal dari ruang makan.
"Kamu tega sama aku mas, apa kurang nya aku. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik buat kamu serta ibu bagi anak anak, tapi kamu malah memilih perempuan lain dan menciumnya didepan umum."Tangisan Aira terdengar begitu memilukan.
"Aku minta maaf Aira, aku tau aku salah aku mohon maafkan aku," ucap Aditya sambil bersimpuh di kaki Aira
"Tidak ada kata maaf buat kamu mas, aku ingin kamu menceraikan aku, hati aku terlalu sakit melihat kamu berciuman dengan wanita murahan itu."
Elina, Kenzi,dan Enzi yang mendengar itupun terkejut, sepertinya hanya Elina dan Enzi saja yang terkejut, soalnya Kenzi sudah mengetahui hal itu sejak lama, ayah yang mereka banggakan berselingkuh dibelakang Bunda mereka.
"Aku mohon maafkan aku Aira, aku janji akan berubah, tapi mohon kita berdua jangan bercerai, aku mohon Aira."
"Kamu ingat perkataan aku mas,tidak ada toleransi lagi bagi pasangan yang selingkuh, dan aku akan tetap mengurus penceraian kita."
"Bagaimana dengan anak anak Aira,kamu tidak sayang kepada mereka, mereka…"ucapan Aditya terpotong dengan suara Kenzi.
"Ayah yang tidak sayang dengan kami! bagaimana ayah selingkuh dibelakang bunda yang masih menjadi istri sah ayah."Ucap kenzi heran.
"Aku setuju kalau Bunda dan ayah bercerai, bunda terlalu banyak menanggung kesakitan dari perbuatan ayah."Sambung Kenzi lagi
"Aku juga setuju."ujar Elina
"Aku juga."sekarang Enzi yang menjawab dengan berurai airmata, mereka tidak mau Bunda mereka tambah sakit hati dengan perbuatan ayah mereka, benar kata bunda mereka tidak ada toleransi untuk pasangan yang selingkuh.
"Ayah minta maaf, ayah tau ayah salah. Ayah akan pergi dari rumah ini dan Aira maafkan segala kesalahan ku, ayah pamit." Aditya pergi dari hadapan mereka, Aira langsung terduduk dilantai dan menangis sejadi jadinya.
Elina, Kenzi serta Enzi langsung memeluk bunda mereka.
"Maafin Bunda ya,bunda tidak bisa pertahankan keluarga ini," ucap Aira dengan terisak.
"Tidak Bun, Bunda berhasil mempertahankan keluarga ini, Bunda berhasil Bun walaupun bunda harus menanggung sakit, kita bertiga bangga sama bunda," ucap Kenzi dengan berurai air mata dan di angguki oleh Elina dan Enzi.
Pada siang itu mereka menghabiskan hari mereka untuk saling menguatkan satu sama lain.
__ADS_1