
Saat ini Enzi sedang duduk di meja belajarnya, rencananya dia ingin belajar untuk ulangan besok tapi dia sedang memikirkan kejadian yang menimpa nya saat disekolah.
Tadi siang saat disekolah Enzi menuju ke kelas Kenzi yang berada dilantai 2 bersama Venya, dia lupa membawa uang jajan sehingga dia ingin meminta kepada Kenzi dan setelah selesai meminta uang jajannya kepada Kenzi, Enzi dan Venya turun terburu buru dan akhirnya Enzi tersandung dengan kakinya sendiri.
Tapi Enzi tidak merasa sakit dan saat membuka matanya dapat dia lihat wajah Kaivan yang sangat dekat dengannya. Dan setelah sadar bahwa dia di peluk oleh Kaivan, Enzi buru buru melepaskan tangan Kaivan yang berada di pinggangnya.
Dan Enzi mengalami memar di tangannya, Kaivan yang melihat itu pun langsung menarik tangan Enzi dan membawanya ke uks dan Kaivan menyuruh yang lain untuk makan dikantin terlebih dahulu.
Awalnya Enzi menolak Karena dia pikir hanya memar saja tapi Kaivan memaksanya katanya
"Walaupun hanya memar harus kita obatin juga, kita enggak tau bisa jadi nanti tambah parah."
Dan Enzi hanya mengikuti arahan dari Kaivan saja dan sesampainya di uks Kaivan menyuruh Enzi untuk duduk dulu dan Kaivan mengambil obatnya.
Kaivan sangat telaten mengobati Enzi dan Enzi hanya melihat apa yang Kaivan lakukan padanya dan Enzi sibuk melihat wajah Kaivan. Ternyata kalau diliat lebih lama Kaivan sangat tampan, Enzi tidak sadar bahwa Kaivan juga melihat kearah.
"Gue tau bahwa gue tampan," ujar Kaivan sambil mengobati tangan Enzi dan Enzi menjadi salah tingkah.
"Pede banget lo kak."
"Emang kenyataan seperti itu, kalau gue enggak tampan, enggak mungkin lo liatin gue sampai enggak kedip seperti tadi."
__ADS_1
Sedangkan Enzi hanya diam saja, dia malu karena ketahuan melihat Kaivan
"Lo udah makan?" tanya Kaivan dan Enzi hanya menggeleng.
"Tunggu sini, biar gue aja yang beli." Enzi langsung memegang tangan Kaivan
"Lo mau kemana kak?"
"Gue mau ke kantin mau beli makanan buat lo sama gue."
"Enggak usah Kak, yang sakit tangan gue bukan kaki gue, lagian tangan gue cuma memar aja," ujar Enzi.
"Enggak, lo disini aja biar gue yang beli makanan buat lo. Tidak ada bantahan," ujar Kaivan saat melihat Enzi akan membantah dirinya dan Enzi hanya mengangguk saja, dia tidak ingin berdebat lebih lama lagi.
"Gue harus dapatin lo, apapun caranya."
Sedangkan Enzi hanya melihat tangannya yang sudah diobati oleh Kaivan.
"Padahal cuma memar saja, tapi gue diperlakukan seperti orang sakit berat," ujar Enzi dengan kekehannya sambil mengusap tangannya yang sudah diobati tersebut.
Enzi hanya menghela nafas mengingat sesuatu dan dia berkata.
__ADS_1
"Gue sebenarnya nyaman sama lo kak, tapi kenyamanan yang lo berikan tidak sebanding dengan ketakutan yang gue alami, rasanya sangat sulit untuk menerima perasaan itu. Gue takut nanti hati gue bertambah sakit dan terluka."
"Gue enggak mau gegabah menerima perasaan lo ke gue kak, setelah melihat perhatian lo ke gue entah kenapa hati gue berdebar dengan kencang tapi mengingat trauma yang gue alami rasanya gue belum bisa menerima perasaan lo kak," ujar Enzi dan tidak lama kemudian Kaivan masuk ke uks dengan menenteng makanan dan jajanan untuk Enzi serta dirinya.
"Ini makanannya."
"Terimakasih kak," ucap Enzi dan Kaivan hanya mengangguk, Enzi pun memakan makanannya begitupun dengan Kaivan. Kaivan memakan makanannya sambil sekali kali melihat kearah Enzi.
"Gue enggak salah kan?"
Enzi bingung melihat Kaivan yang sedang melihat ke arah nya sambil melamun.
"Kak!" panggil Enzi dan itu membuat kesadaran Kaivan kembali.
"E-eh iya, kenapa?" tanya Kaivan dan itu membuat Enzi bingung.
"Seharusnya gue yang tanya, lo kenapa dari tadi gue liat Lo melamun."
"Gue nggak papa," ujar Kaivan.
"Lo yakin?" Kaivan hanya mengangguk mendengarkan pertanyaan dari Enzi.
__ADS_1
"Semoga lo nggak tahu yang sebenarnya Zi."