Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian I "Abang Malik, mau jadi cowok Yaya, nggak? Atau suami Yaya?"


__ADS_3

Ketika Magnolia menyatakan perasaannya


kepada Malik Galih Kencana, tepat di hari


Valentine, hari yang sama dengan tanggal


kelahirannya, gadis yang genap berusia empat


belas tahun itu hanya mendapatkan sebuah


dengusan dari bocah tampan yang berusia


sebaya dengan Dimas, abang semata


wayangnya. Malik tinggal berseberangan


dengan rumah mereka dan menjadi kawan


main Dimas sejak kanak-kanak. Meski begitu,


dia selalu membuang muka bila sosok


Magnolia ikut nimbrung ketika mereka


bermain.


Padahal dia sudah menyiapkan diri selama


seminggu untuk menyatakan suka seperti


adegan dalam komik yang selalu dia baca di


tempat penyewaan. Tapi, entah kenapa


hasilnya malah tidak berjalan mulus.


Bukannya anggukan atau sekadar balasan


bilang "Akan kupikirkan" atau "kamu nggak


cocok buatku", respon yang dia dapatkan


benar-benar di luar ekspektasi Magnolia.


Akan tetapi, bunda Malik, Laura Hasjim, hanya


menanggapi pernyataan perasaan Magnolia


dengan tawa kecil. Setiap dia melihat anak


tetangganya tersebut menggoda putra semata


wayangnya, Laura malah memanas-manasi


Malik dan berkata bahwa di masa yang akan


datang, dia bisa jadi jodoh yang baik untuk


Magnolia. Namun, seperti sebelum-


sebelumnya, Malik hanya menganggap ibunya


sedang bergurau dan dia lebih memilih


menjauh dari rumahnya dan menyepi entah ke


arah perpustakaan yang memang berada tidak


jauh dari kompleks rumah mereka atau


bahkan toko buku, ke mana saja asal tidak


sering-sering bertemu dengan Magnolia.


"Jangan diambil hati. Malik memang gitu, agak


sedikit kaku, sok introvert." Laura


menjelaskan ketika dia berdiri di depan pagar


rumahnya. Magnolia remaja sedang


memegang sebatang cokelat merk Silverqueen


berhias pita berwarna merah yang tadinya


hendak dia serahkan kepada Malik. Sayang,


bocah enam belas tahun tersebut keburu


berlalu sembari menarik tangan Dimas yang


tidak percaya dengan kelakuan adik


kandungnya tersebut.


"Nggak apa, Bude. Coklatnya buat Bude aja."


Magnolia menyunggingkan senyum lebar dan


menyerahkan cokelat dalam pegangannya


kepada Laura, lalu dia pamit dan bergerak


menuju sepeda miliknya yang berwarna hijau


lumut. Terdapat sebuah bel di gagang sebelah


kanan dan dia siap menaiki benda tersebut


ketika didengarnya Laura memanggil.


"Yaya mau ke mana? Malik ke arah sana, loh."


Magnolia kembali tersenyum kepada Laura,


lalu dia menunjuk ke arah kantong kertas yang


berada di dalam keranjang di depan sepeda.


Isinya cukup familiar di mata Laura karena dia


juga sering menggunakan benda tersebut di


dapurnya sendiri.


"Mau ke pasar. Jualan kain lap dulu, mumpung


libur." ujar Magnolia, menyeringai


memamerkan senyum di wajahnya yang tirus.


Tanggal empat belas Februari jatuh pada hari


Minggu. Sudah genap empat bulan sejak


kematian Papa, Magnolia mengusahakan


semua yang dia bisa demi bertahan hidup. Bila


tidak ada musim lomba, dia akan pergi ke


pasar. Dengan tabungannya, dia membeli apa


saja dalam jumlah lusinan dan menjualnya


kembali dalam bentuk eceran. Selusin lap


kotak-kotak dijual dengan harga empat belas


ribu. Dia membeli sekitar sepuluh lusin. Sisa


stok diletakkannya di dalam kamar dan


Magnolia biasanya membawa empat atau lima


lusin yang dijual seharga sepuluh ribu untuk


empat bijinya. Bila dagangannya laku, dia akan


kembali ke pusat grosir, membeli stok lap dan


mengambil selisihnya untuk membeli barang


lain keesokan harinya.


Setiap pagi, sebelum sekolah, Magnolia akan


mampir ke penjual nasi uduk langganannya.


Dia sudah menjadi semacam penyalur nasi


uduk untuk teman-teman di sekolah. Ada


sekitar dua puluh atau tiga puluh teman yang


menitip dan dia mendapat upah lima ratus


sampai seribu rupiah untuk satu bungkusnya,


ditambah satu bonus dari penjual, Bu Laras,


untuk jatah sarapan Magnolia, yang kemudian


dia berikan buat Dimas.


Magnolia jarang sarapan dan dia hanya suka


minum air putih dan dua butir permen susu


kesukaannya. Perpaduan tersebut cukup


membuatnya kenyang hingga siang. Dia baru


akan makan bila ada sisa nasi yang tidak laku


atau membeli nasi di warteg tidak jauh dari


pasar.


Sejak Mama mengatakan tidak akan


mengurusinya lagi, Magnolia mulai


menguatkan diri. Dia mampu bertahan selama


berbulan-bulan tanpa sokongan dana


sekalipun sang abang mati-matian


menyisihkan uang jajannya yang tidak


seberapa untuk sang adik. Dimas tidak pernah


rela dan tega melihat adiknya mesti


membanting tulang saat dia seharusnya


belajar dan bersenang-senang seperti remaja


lainnya. Tapi, Dimas tidak pernah tahu bahwa


sekalipun tidak pernah diberi uang saku oleh


ibunya, dia telah menyimpan sejumlah uang.


"Nggak, Mas. Lo nabung aja. Papa memang


punya warisan. Tapi itu buat kalian, anak-anak


sahnya, sementara gue… gue nggak tahu,


status gue sendiri entah di dalam keluarga ini,


di mata negara, atau di mata agama. Gue


mungkin baru umur empat belas. Tapi, gue


udah tanya ama ustadzah di pengajian, anak


kayak gue, hasil selingkuhan, nggak berhak


dapat apa-apa, bahkan binti Papa."


Tidak ada yang lebih menyedihkan buat Dimas


dibanding menyaksikan adik bungsunya


tersenyum dan melambaikan tangan menolak


pemberiannya walau itu sisa uang jajannya


sendiri.


"Mama bilang, gue anak haram."


Anak haram nggak berhak dapat apa pun. Dia


mendengar dengan jelas umpatan ibunya


kepada Magnolia beberapa bulan lalu. Tapi,


adiknya tidak marah.


"Buat apa marah? Toh, yang Mama bilang


semuanya benar."


Dimas tidak tahu kebenaran ucapan si bungsu.


Akan tetapi, hal tersebut membuatnya makin


giat belajar dan tidak ingin mengecewakan


Magnolia, Yaya kesayangannya, si kecil yang


bahkan sanggup bekerja dengan giat agar


perutnya tetap terisi.


"Kalau Mamas malu punya adik kayak Yaya,


seperti yang dirasakan Keke, kasih tahu, ya.


Yaya bakal pergi jauh…"


Dimas selalu melarang Magnolia mengabulkan


keinginan yang tidak pernah dia setujui. Adik


bungsunya selalu ingin pergi karena tidak


tahan selalu diusir dan ditelantarkan oleh


Mama dan Kezia, akan tetapi, bila Magnolia


pergi, ke mana Dimas akan mencari adiknya?


Ke mana gadis kecil itu akan tinggal?


“Ke mana aja, Mas. Yaya punya satu misi…”


Magnolia tidak pernah menyudahi kalimatnya


sekalipun Dimas memintanya untuk


melanjutkan. Magnolia memilih mengunci


bibirnya rapat-rapat dan dia hanya


memberikan seulas senyum kepada satu-


satunya abang yang dia punya tersebut.


Sedang rahasiannya akan dia simpan sendiri.


Rahasia tersebut bakal jadi misi yang akan dia


selesaikan nanti, bila dia telah dewasa dan bila


waktunya telah tiba, sebagai pembuktian


terakhir dan bila Tuhan masih sayang


kepadanya, misi tersebut akan jadi hadiah


paling indah buat Dimas, abang


kesayangannya.


***


“Jadi anak SMA enak nggak sih, Mas?” tanya


Magnolia di suatu malam sebelum Dimas


hendak berangkat ke rumah Malik untuk


belajar bersama. Saat itu Magnolia duduk di


kelas delapan dan beberapa bulan lagi dia


akan menjadi murid kelas sembilan,


sedangkan Dimas duduk di kelas sebelas.


Kesempatan ngobrol berdua seperti ini amat


jarang terjadi. Sang abang selalu sibuk belajar,


ikut les tambahan, atau seperti sekarang,


belajar bersama Malik demi mencapai


tujuannya, menjadi mahasiswa fakultas


kedokteran.


“Enak, lah. Kenangan paling indah masa


sekolah itu adanya di masa SMA. Ngapain lo


tanya-tanya?PR udah? Jangan ngecengin Malik


terus.”


Dimas saat itu sedang memakai jaket


kesayangannya yang berwarna putih


sementara Magnolia sendiri sedang berdiri di


depan teras yang diberi penerangan seadanya.


Mama beralasan mereka butuh berhemat dan


memasang lampu dengan watt besar adalah


sebuah pemborosan. Tapi, Magnolia tahu


bukan itu. Mama sengaja melakukannya


supaya Magnolia tidak sering-sering


nongkrong di teras. Bila suasana teras tidak


nyaman, putri tirinya pastilah tidak betah dan


bakal mengurung diri di dalam kamarnya.


Mama akan senang karena hal tersebut berarti


dia tidak bakal sering-sering melihat wajah


Magnolia.


“Gue suka dia, kok.” Magnolia membalas tanpa


malu dan mengabaikan usianya yang baru


empat belas sehingga Dimas hanya mampu


menggelengkan kepala, “Belajar yang giat,


baru boleh naksir orang. Kalo lo pinter, juara

__ADS_1


terus, cowok mana aja bakal antre deketin.”


Dimas tahu, Magnolia akan selalu menuruti


kata-katanya. Akan tetapi, khusus kasus Malik,


dia tidak pernah dituruti. Malik sudah seperti


sebuah obsesi yang bisa membuat Magnolia


yang pendiam jadi agresif dan sedikit


menyebalkan.


"Idih, itu, mah, mereka antre buat minta


dikasih contekan PR atau ulangan." Magnolia


berkilah hingga membuat Malik terkekeh


mendengarnya.


“Selain lo, dia yang paling gue sayang. Tapi, gue


tahu diri, Mas. Malik Galih Kencana nggak


bakalan mau noleh ke arah gue, udah jelek,


anak haram lagi. Memangnya lo pikir gue


nggak bakal diketawain sama kalian semua


karena nggak tahu diri…”


Magnolia berhenti bicara karena Dimas yang


sebelum ini sedang mengancingkan resleting


jaket segera meremas kedua lengan Magnolia


kuat-kuat.


“Berhenti bilang lo anak haram. Lo adek gue.”


Wajah Dimas menyiratkan kemarahan yang


tidak dia sembunyikan sama sekali. Dadanya


berdebar amat kencang dan matanya berkilat


tanda tidak suka mendengar apa yang baru


saja keluar dari bibir adik kandungnya


tersebut. Sementara, Magnolia sendiri


menoleh ke arah sekeliling sebelum dia


membentuk isyarat telunjuk di ujung jari


supaya Dimas tidak mengeraskan suara.


“Awas, nanti Mama dengar. Dia nggak bakalan


suka.” Magnolia mengedipkan kelopak mata


kanannya lalu berjalan mundur sambil


berusaha melepaskan tangan abangnya.


“Titip salam, ya, buat Bang Malik. Malam ini


gue juga mau belajar walau nggak tahu buat


apa gue belajar, toh, jualan di pasar bisa dapet


duit banyak, sih. Tapi, gue milih terus sekolah


karena lo yang minta walaupun sekolah nggak


lagi asyik. Nggak ada kalian berdua dan Keke


selalu jutek kalau lihat gue.”


Meski disatukan oleh darah yang sama, Kezia


tidak sepemaaf Dimas. Seperti sang ibu, Kezia


tidak lagi menyayangi Magnolia seperti dulu.


Dia malah menyalahkan kehadiran adik


bungsunya sebagai penyebab kehancuran


keluarga mereka.


Untunglah, hanya Mama dan Kezia yang


menganggapnya berbeda. Orang tua Malik dan


tetangga mereka yang lain selalu memandang


Magnolia seperti dirinya yang biasa. Bahkan,


Laura Hasjim tidak pernah memarahi


Magnolia sekalipun gadis remaja berambut


sepunggung tersebut secara terang-terangan


naksir putranya.


Malik Galih Kencana yang berusia enam belas


tahun adalah bocah yang amat cemerlang.


Wajahnya tampan dan alis matanya tebal.


Rambutnya lebat dan kulitnya bersih.


Hidungnya mancung dan simetris. Malik


memiliki bibir berwarna kemerahan dan


barisan gigi rapi yang selalu membuat


Magnolia terpesona bila dia tersenyum. Tapi,


tidak hanya Magnolia. Di kampung dan di


sekolah, Malik bisa dikatakan seorang idola.


Karena itu juga, Laura Hasjim tidak terlalu


terkejut melihat Magnolia begitu terobsesi


kepada putranya.


"Cuma perasaan lo aja." Dimas bangkit karena


didengarnya sebuah panggilan dari arah


pagar. Baik dirinya dan Magnolia kemudian


bergegas menuju sang sumber suara. Malik


sudah berdiri di sana, menunggu sahabatnya.


Begitu melihat wajah Magnolia dari balik


punggung Dimas, Malik kemudian mengunci


bibirnya rapat-rapat dan segera berbalik


menuju rumahnya tanpa banyak bicara.


"Bang Malik, udah makan belom?" Magnolia


melonjak-lonjak sembari melambaikan tangan


dengan harapan mendapatkan balasan. Tapi,


sebenarnya dia tahu, Malik tidak bakal


memberi jawaban. Bocah tampan tersebut


selalu bersikap seperti itu sekalipun Dimas


adalah sahabatnya.


"Berisik. Masuk sana. Belajar biar pinter!"


Dimas mengibas-ngibaskan tangan kanan


berusaha menghalau adiknya saat dia


menutup pintu pagar. Rambut kuncir kuda


Magnolia bergoyang sewaktu dia menggeleng,


akan tetapi, tatapan Dimas yang menyuruhnya


berhenti bersikap konyol pada akhirnya


membuatnya diam dan hanya bisa


menyunggingkan senyum lebar sampai


bayangan abangnya dan Malik menghilang ke


teras rumah keluarga Hasjim.


"Dadah Bang Malik. Titip Mamas, ya. Kalau


bandel, jewer aja." seru Magnolia untuk


terakhir kali sebelum Malik benar-benar


menutup pintu rumah dan membiarkan fans


setianya memandangi rumah tetangganya


dalam diam selama beberapa detik.


Tidak butuh waktu lama, Magnolia kemudian


rumah mereka yang baru beberapa detik lalu


dikunci oleh Kezia. Dia tidak protes karena


kamarnya sendiri berada di luar rumah,


sebuah bekas warung yang kemudian tidak


lagi dipakai Mama untuk berjualan beberapa


tahun lalu. Magnolia resmi tinggal di sana dua


hari setelah Papa dimakamkan karena Mama


menolak berada di dalam satu ruangan yang


sama dengan dirinya.


Hal tersebut juga sempat membuat Dimas


amat kecewa kepada ibunya, akan tetapi, dia


tidak bisa banyak berontak. Bagaimanapun


juga, dia masih butuh sokongan dana dari


ibunya agar bisa terus melanjutkan sekolah.


"Jangan pikirin Yaya. Ada langit dan bulan jadi


teman kalau kesepian. Lagipula, keliling


terminal, bawa termos dan kopi saset lumayan


nambah duit."


Dia tidak perlu merasa khawatir kena marah


Mama karena pulang larut malam, tidak peduli


dirinya masih seorang remaja yang


seharusnya berada di rumah. Untunglah, usai


belajar bersama dengan Malik, Dimas bakal


menyusulnya ke terminal lalu mengajak


Magnolia pulang bersama. Sebagai ucapan


terima kasih, sang adik selalu membelikan


makanan untuk menghangatkan perut mereka


yang kadang keroncongan menjelang tengah


malam.


Meski berbeda ibu, mereka tetap saudara dan


Dimas tidak pernah bisa membiarkan si


bungsu sendirian. Dia terlalu sayang kepada


saudarinya melebihi nyawanya sendiri dan dia


telah berjanji kepada Papa untuk selalu


membuat Magnolia tetap berada di rumah.


Walau bertahun-tahun kemudian, dia harus


merelakan adiknya pergi demi menjauh dari


semua orang yang dia cintai.


***


Malik dan Dimas adalah sahabat akrab.


Mereka berdua berteman sejak di bangku SD.


Keduanya punya kegemaran yang sama,


berolahraga, serta menaruh minat yang besar


pada dunia kesehatan. Sewaktu mereka kelas


sembilan SMP, Malik berencana mengambil


jurusan kedokteran. Tak disangka, Dimas juga


menginginkan jurusan yang sama, sehingga


ketika SMA, mereka memilih sekolah paling


populer dan belajar dengan amat giat, agar


mimpi mereka dapat dengan mudah dicapai.


Tidak seperti Dimas, Kezia dan Magnolia


hanyalah murid SMP bernilai rata-rata. Kezia


yang selalu dimanja, malah tidak selalu


mendapatkan nilai yang memuaskan saat SD


dan SMP. Magnolia, di lain pihak, meski


kemampuannya hanyalah rata-rata anak SMP,


dia bisa mengambil hati para guru dengan


memenangkan berbagai lomba olahraga dan


sesekali lomba seni. Tidak ada dari mereka


yang tahu bahwa gadis remaja tersebut


melakukannya semata-mata demi hadiah


supaya dia dapat melanjutkan hidup selama


beberapa bulan. Akan tetapi, di mata orang


orang, Magnolia adalah pelajar yang amat


mudah disuruh-suruh dan tidak pernah


mengeluh bila dia harus ikut pelatihan hingga


senja tiba.


Dia senang melakukannya karena pihak


sekolah sering menanggung makan siang


untuknya dan sejak itu, dia semakin betah


berada di sekolah. Sebagai tambahan, ketika


Dimas dan Malik masih bersekolah di sekolah


yang sama dengannya, dia punya kesempatan


untuk melihat Malik yang sering melakukan


kegiatan ekskul MIPA tanpa ketahuan


orangnya secara langsung. Dia bahkan sering


sekali membuat kesalahan dengan melempar


bola basket, voli, yang lokasi lapangannya


memang dekat dengan ruang Lab dan minta


izin masuk mengambil bola demi


melaksanakan niatnya.


"Bisa nangkap bola, nggak, sih?" Malik


melempar bola voli yang nyelonong masuk


kelas ketika dia sedang bersiap presentasi.


Saat itu, Magnolia bahkan tidak sadar telah


melewatkan satu pukulan dari temannya yang


kelewat bersemangat. Tapi, daripada malu


karena kena marah di depan semua orang,


yang Magnolia lakukan hanyalah


memamerkan senyum super lebar yang


menampakkan kedua lesung pipi dalam


miliknya yang tidak dimiliki oleh Kezia dan


Dimas. Meski begitu, belum sepat Magnolia


menjawab, Malik sudah terlebih dahulu


meninggalkannya kembali ke dalam kelas.


Bocah tampan nan cerdas itu juga amat cerdik.


Supaya Magnolia tidak lagi mengganggu, dia


memutuskan untuk menutup pintu kelas. Dan


bagi si gadis malang tersebut, sikap ketus


Malik hanyalah sebuah angin lalu dan dia tahu,

__ADS_1


gebetan kesayangannya sedang emosi dan


kelaparan. Hari sudah menjelang sore dan


Malik biasanya telah disuguhi cemilan oleh


sang ibu bila sedang berada di rumah.


"Abaang, pulang ntar, kita ngebakso, yuk? Yaya


yang traktir." seru Magnolia dengan penuh


semangat. Dia bahkan menggunakan tangan


kanannya seolah-olah benda tersebut adalah


corong pengeras suara sementara tangan


kirinya sibuk memegang bola. Sayang, boro-


boro jawaban Malik yang dia dengar,


melainkan tatapan tajam guru IPA yang saat


itu sedang membimbing ekskul, terarah


kepadanya.


"Ampun, Bu. Cuma main-main, kok." Magnolia


mengambil langkah seribu dan berlari cepat


ke lapangan voli tanpa menoleh lagi.


Yang paling penting, hari ini Malik mau


mengajaknya bicara karena biasanya, boro-


boro membuka mulut. Menoleh kepadanya


sekadar membalas ucapan salam seperti


selamat pagi atau membalas pujian yang


Magnolia lakukan saja, dia belum pernah


melakukannya sama sekali, tidak peduli,


hubungan Malik dan Dimas bahkan lebih


lengket dari lem.


***


Sebuah lemparan kecil berhasil mengenai


lengan kaos pendek berwarna biru tua yang


Magnolia kenakan. Dia menoleh ke arah sang


pelaku yang lantas pura-pura sibuk memberi


arahan kepada seorang ibu yang hendak


menaiki motornya.


"Balas… balas."


Tangan kurus berbalut kulit miliknya agak


sedikit legam karena terlalu lama tersengat


sinar matahari dan Magnolia mengamati


penampilan pemuda berusia akhir belasan


tahun tersebut dalam diam. Dia terlalu


mengantuk. Ulangan matematika sialan tadi


telah membuatnya bergadang. Padahal


sebelumnya dia mana mau melakukannya.


Akan tetapi, Dimas memaksanya untuk terus


belajar sekalipun dia berpikir, hal tersebut


tidak ada guna sama sekali.


"Belajar, Dek. Jangan kalah sama Keke. Dia


ngerjain materi ini nggak sampai sepuluh


menit dan lo udah hampir dua jam cuma


mentok sampai nomor sepuluh."


Pantas saja Kezia sukses, pikir Magnolia.


Mama meminta bantuan khusus kepada Bude


Laura agar Malik mau mengajarinya. Malik


yang Magnolia hapal betul, jauh lebih pintar


dan cerdas dari Dimas, mengajari Kezia yang


dia tahu lebih bodoh dari dirinya sendiri


dengan penuh sukarela. Amat jomplang bila


dibandingkan dengan dirinya. Malik tidak


pernah mau banyak bicara dam sebelum


Magnolia buka suara, dia sudah keburu kabur.


Bahkan, mama sengaja mengunci pintu rumah


agar Magnolia tidak mengintip mereka. Tetapi,


dari balik jendela ruang tamu, dia bisa melihat,


mama yang selalu mengaku tidak punya uang,


menyiapkan bolu cokelat kesukaannya kepada


Malik dan pemuda tampan itu membalas


kebaikan hati mama dengan seulas senyum


yang membuat Magnolia berharap dia bisa


berada di ruang tamu tersebut dan menjadi


murid Malik daripada murid Dimas yang


selalu memarahinya tiap dia gagal.


Usai membantu wanita yang tadi


memarkirkan motor, Jajang, pemuda yang


melempari Magnolia dengan bekas bungkus


rokok mendekati gadis tersebut.


"Lo nggak balik? Udah sore. Pasar sudah sepi.


Lap lo kagak laku?"


Jajang menunjuk ke arah tumpukan lap dapur


yang berada dalam pelukan Magnolia. Sudah


tinggal separuh sebenarnya. Tadi dia


membawa lima lusin. Hal tersebut berarti dia


sudah mengantongi uang sekitar tujuh puluh


ribu rupiah. Tapi, Magnolia memilih untuk


menggeleng.


"Lumayan, kok. Gue kan jualan dari jam


sebelas."


Beruntung sedang masa ulangan sehingga dia


bisa pulang lebih cepat dan bisa berjualan


lebih lama daripada biasanya. Walau sekarang,


Dimas lebih sering mengomel karena dia


seharusnya belajar bukannya berjualan.


"Lo sudah kelas tiga, Dek. Saatnya belajar


bukan jualan. Mau masuk SMANSA kayak gue,


kan?"


Dia tahu, menjadi siswa SMA Negeri 1 Jakarta


Raya bukanlah hal yang gampang, terutama


untuk yang otaknya pas-pasan seperti dirinya.


Dia juga tahu dengan jelas, biaya masuk


sekolah tersebut tidaklah murah. Dengan dua


anak yang mesti dibiayai untuk masuk sekolah


baru di tahun ini, mama sudah pasti bakal


mengoceh dan mengeluh seperti yang sudah-


sudah. Padahal, Magnolia tidak pernah lagi


mencicipi uang mama. Dia bahkan tidak ingat


kapan terakhir kali diberi uang saku oleh ibu


tirinya tersebut.


"Balik, dah. Orang-orang udah pada mau


tutup." Jajang menunjuk ke arah los. Masih ada


beberapa tukang sayur yang berjualan.


Magnolia kenal mereka semua. Ada Bang Beni,


tukang cabai. Mpok Anis, tukang kubis, serta


Mak Surti, tukang bawang merah dan kentang.


Mereka sering ngobrol terutama kalau


pembeli sedang sepi. Tidak jarang, makan


siang bersama walau hanya makanan ala


kadarnya yang terdiri dari nasi putih


menggunung, kuah bakso dan bakwan goreng.


"Bentar lagi. Pasar masih rame, ih." Magnolia


menguap sekali lagi. Dia benar-benar


mengantuk. Akan tetapi, dirinya masih yakin


bakal ada yang membeli sisa dagangannya.


"Rame-rame, dari belah mana?" Jajang


mengoceh, "Lo jalan sampe sempoyongan gitu.


Abang lo mana? Biasanya dia suka lewat jam


segini."


Jajang dan Dimas punya sifat bagai anak


kembar jika sudah membahas soal Magnolia.


Walau yang satu adalah anak rumahan dan


yang lainnya anak jalanan, tapi, keduanya


bakal ribut bila melihat kondisi Magnolia


berbeda dibanding dirinya yang biasa.


Lagipula, kenapa, sih mereka mesti ribut dan


menyuruhnya pulang? Seolah Magnolia adalah


anak lemah yang tidak tahu cara menjaga diri.


"Pulang, dah." Jajang menyuruh lagi. Khawatir


dengan kondisi Magnolia. Tapi, yang punya


badan memilih menggeleng.


"Tanggung. Habis Magrib gue jualan ke


terminal. Udah bawa termos sama kopi. Lo


mau?" Magnolia menunjuk ke arah bawah


pohon seri, tidak jauh dari tempat mereka saat


ini berada. Dia tidak mau pulang karena sudah


berencana melanjutkan ke terminal jualan


usai pasar sepi.


"Astaga. Kata lo lagi ulangan. Bukannya belajar


malah jualan."


Magnolia menggaruk rambut tepat saat


dagangannya ditolak oleh seorang wanita


berbadan montok dengan lipstik merah


menyala


"Nggak guna gue sekolah. Ngabisin duit.


Ujung-ujungnya, pas tamat gue tetap jualan


kain lap sama kopi. Mending gue jualan kayak


gini. Eh, gue lagi ngumpulin modal biar bisa


jualan cabe kayak Bang Beni. Laris banget


dianya."


Jajang menoleh ke arah lapak cabai milik Beni,


seorang pedagang yang lumayan akrab


dengan mereka. Beni juga sering mengajari


Magnolia cara berdagang dan tidak jarang


meminta Magnolia menggantikannya bila Beni


berhalangan.


"Ambil di pasar induk. Mayan loh untungnya.


Laku sekilo, untung lima ribu. Kalau belinya


eceran, lebih lagi."


"Kacau ini bocah." ujar Jajang. Baru sekali ini


dia melihat anak perempuan berusia lima


belas nekat memilih menjadi pedagang cabai


untuk bertahan hidup. Magnolia sudah


bercerita kepada Jajang tentang statusnya di


dalam keluarga. Dia bersimpati, namun tidak


bisa berbuat banyak. Dirinya sendiri juga


bernasib mirip. Bedanya, Jajang terpaksa


kabur dari kampung karena tidak tahan hidup


bersama keluarganya yang kerap mengatur.


"Sirik aja lo." Magnolia menjulurkan lidah. Di


saat yang sama, Jajang melihat sosok Dimas,


kakak laki-laki gadis itu berdiri di sudut jalan,


memperhatikan adiknya dalam diam. Selang


beberapa detik, Dimas yang saat itu ditemani


oleh bocah sebayanya, yang Jajang tahu adalah


sahabatnya alias gebetan Magnolia, melambai


memanggil adiknya.


"Noh, balik. Dicariin ama mandor lo." Jajang


menoel bahu Magnolia. Gadis manis berlesung


pipi tersebut menoleh ke arah Dimas dan


terlonjak girang karena melihat kehadiran


Malik di sebelah sang abang.


Tanpa pamit, dia berlari meninggalkan Jajang


dan menyongsong dua bocah lelaki tersebut.


"Iiih, ada Abang. Sengaja ke sini jemput Yaya,


ya?"


Padahal tadi Jajang melihat dengan mata


kepala begitu lesu dan tidak bersemangatnya


gadis itu dan sinar matanya benar-benar


redup ketika membahas soal dia yang tidak


berniat melanjutkan sekolah. Kini, di menit


yang berbeda, dia nampak berubah. Seolah


habis kena charge menggunakan kabel paling


mahal di dunia.


Sayangnya, kabel charger super tampan yang


saat ini sedang memandangi bocah tetangga


yang super centil itu, tidak tahu sama sekali,


suatu hari dialah yang menjadi penyebab

__ADS_1


Magnolia memutuskan untuk pergi.


***


__ADS_2