Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian XV Hanya butuh waktu satu bulan


__ADS_3

Hanya butuh waktu satu bulan bagi tim inti


voli SMANSA JUARA untuk bisa mengikuti


kejuaraan tingkat kota. Masa-masa tersebut


menjadi dilema buat Magnolia karena dia


harus berlatih hingga petang. Dia yang


sebenarnya merasa tubuhnya remuk tetap


memaksakan diri untuk tetap berjualan di


terminal pada malam hari. Alasannya karena


dia harus melunasi cicilan uang masuk yang


batas jatuh temponya semakin dekat.


Tapi, setelah pengumuman hasil lomba, dia


merasa bisa sedikit bernapas lega karena


pihak sekolah membebaskan hadiah untuk


dibagi-bagikan kepada seluruh anggota tim


dan juga pelatih. Karena itu juga, saat


menghitung semua tabungannya, dia masih


punya beberapa rupiah untuk melunasi cicilan


yang kedua, maka Magnolia lantas


mempercepat pembayaran cicilan kepada


guru yang bertanggung jawab mengurusi


penerimaan mahasiswa baru.


"Sudah ada uangnya?" tanya Bu Ely sewaktu


Magnolia datang dengan membawa uang


cicilan siswa baru kepadanya.


"Sudah, Bu. Uang hadiah lomba kemarin bantu


banget nambahin." terang Magnolia kepada


sang guru. Bu Ely tersenyum dan


mengucapkan terima kasih begitu Magnolia


mengangsurkan sekitar dua puluh lembar


uang seratus ribuan kepadanya.


"Mama sehat, Ya?"


Magnolia yang mulanya mengikuti tulisan


tangan Bu Ely mengangkat kepala,


"Alhamdulillah, sehat."


"Pas Dimas datang minta keringanan beberapa


waktu lalu, Ibu nggak nyangka kalau dua


adiknya masuk ke sini."


Magnolia hanya mengurai sebaris senyum. Dia


mendapatkan kabar tersebut dari Dimas


sehingga tahu garis besar ceritanya. Mama,


tentu saja sempat marah dan tidak setuju


apalagi saat tahu ternyata diam-diam putra


sulungnya ikut berjualan di pasar saat akhir


pekan tiba.


"Mau ditaruh di mana muka Mama, Mas? Kamu


jualan kayak Mama nggak sanggup ngasih


makan kamu. Mama lebih dari sanggup


bahkan menyekolahkan kamu ke fakultas


kedokteran sekalipun. Jangan kamu berbuat


kayak anak yang nggak dikasih makan."


Saking marahnya, mama sempat mendiamkan


Dimas selama satu minggu. Tapi, abangnya


tidak gentar. Dimas tetap menemani Magnolia


hingga akhirnya mereka punya uang yang


cukup untuk mendaftar ke sekolah.


"Nggak usah dipikirin kata-kata Mama. Yang


penting lo sekolah dan selama gue masih bisa


bantu, gue bakal usahain sekuat tenaga."


"Iya, Bu. Biar bisa bareng."


Alasan yang masuk akal, pikir Magnolia. Siapa


saja yang melihat tiga orang bersaudara


bersekolah di tempat yang sama bakal


berpikir seperti itu. Apalagi, Dimas telah


menempelkan embel-embel anak yatim yangmembuat pandangan orang-orang jadi


berbeda.


"Oh, iya. Mending bareng. Enak, toh, ada abang


yang bisa jagain dua adiknya. Tapi Dimas udah


kelas 12."


Kembali Magnolia tersenyum. Dimas memang


sebaik itu. Walau tahu Kezia dan dirinya tidak


akur, dia tetap menyayangi mereka berdua.


Meski begitu, menyatukan Kezia dan Magnolia


dalam satu ruangan yang sama adalah hal yang


amat rumit dan tidak bisa dia wujudkan sama


sekali.


"Ini kuitansinya. Simpan baik-baik. Cicilannya


tinggal satu kali lagi, ya."


Magnolia menerima kuitansi yang diulurkan


oleh Bu Ely kepadanya. Setelahnya, dia pamit


dan berjalan menuju pintu keluar dari ruang


guru, saat yang sama dia bertabrakan dengan


Malik.


Buru-buru Magnolia memeriksa hidungnya.


Luka akibat pukulan bola dari Anita baru saja


sembuh dan dia tidak ingin kembali berjalan


ke mana-mana dengan hidung diplaster


seperti kemarin.


"Abang! Kalau jalan lihat-lihat. Doyan banget

__ADS_1


matahin hidung Yaya." Magnolia mengeluh


dan menunjuk hidungnya yang mulai merah


sementara Malik yang tidak menyangka bakal


bertemu dengan tetangga rasa penggemar,


memandangi Magnolia dengan pandangan


khawatir.


"Patah?"


"Iya, patah. Ganti lima juta." Magnolia


berkacak pinggang.


Malik sempat melihat kuitansi pembayaran


cicilan uang sekolah yang mencuat dari saku


baju gadis tersebut. Dia kemudian


mengerutkan alis dan menggeleng, "Hidung lo


masih utuh."


"Tapi merah, nih." Magnolia berjinjit,


menunjuk hidungnya kepada Malik. Tapi, si


tampan itu malah memalingkan wajah dan


bersiap untuk masuk ruang guru."Minta Dimas yang ngurusin. Sana minggir."


usir Malik dengan halus membuat Magnolia


protes, "Lah, kenapa mesti Mamas? Kan Abang


yang salah. Lo yang bikin hidung gue bocor."


Magnolia tanpa ragu menarik seragam bagian


belakang milik Malik sehingga langkahnya


terhenti.


"Ini, nih. Lari dari tanggung jawab." Magnolia


ngotot tidak mau kalah. Entah apa yang


membuatnya nekat menarik baju Malik. Tapi,


dia merasa dengan begitu, dia bisa


mendapatkan perhatian si tampan idola


sekolah tersebut.


"Lepasin. Lo apa-apaan, sih?"


Wajah Malik tetap datar seperti biasa. Dia juga


tidak tersenyum seperti yang selalu dia


lakukan kepada Kezia. Bahkan raut wajahnya


lebih ke arah dia merasa amat terganggu


dengan perbuatan Magnolia. Padahal, dia


cuma ingin mendapatkan perhatian dari


sahabat Dimas tersebut.


"Hei, bocah! Pacaran aja kelen di depan ruang


guru. Berisik kali pun. Kuping aku sakit kau


buatkan."


Pintu ruang guru yang terbuka menampakkan


wajah sangar milik Jamaluddin Hasibuan guru


matematika kelas sepuluh. Magnolia yang


selalu merasa kaget dengan suara besar khas


Sumatera Utara dari gurunya itu mendadak


Malik.


"Kaget, Pak." Magnolia berusaha tersenyum.


Tapi, gara-gara itu juga, dia makin kena


sembur.


"Aish, kau ini, Magnolia. Sudah kau buat


PRmu?"


Magnolia mengangguk takut-takut. Meski


amat suka dengan pelajaran yang diberikan


oleh Pak Jamaluddin, dia belum bisa terbiasa


dengan logat pria tersebut.


"Tidak bohong, kau? Jangan cengkunek, nanti


kulihat di kelas tahunya bohong."Magnolia tidak tahu arti kata cengkunek


seperti yang disebutkan barusan oleh guru


matematikanya tersebut. Tapi, dia bersumpah


kepada Pak Jamaluddin kalau PR yang diminta


oleh pria tersebut sudah diselesaikannya


dengan baik.


"Sumpah, Pak. Nggak bohong. Nanti di kelas


saya kasih lihat, deh."


Untung saja dia punya guru les paling baik dan


amat sayang kepadanya. Dimas selalu


memastikan kedua adiknya mengerjakan


semua tugas walau untuk Magnolia, dia


terpaksa harus menunggu hingga si bungsu


kembali dari berjualan. Tetapi, pada saat itu,


biasanya hanya tinggal soal-soal sulit saja yang


belum Magnolia selesaikan.


Pak Jamal hanya melirik Magnolia selama


beberapa detik untuk mencari jejak


kebohongan di wajah gadis lima belas tahun


berambut kuncir dua tersebut. Setelah tidak


menemukan apa-apa, pandangan Pak Jamal


kemudian beralih kepada Malik yang berdiri


mematung di sebelah Magnolia."Kau, mau apa?"


"Mau ngasih buku kemajuan kelas sama Bu


Mardiyah, Pak." Malik menunjuk map plastik


transparan dengan isi buku kemajuan kelas di


dalamnya.


"Ya sudah. Masuk sana."


Malik mengucapkan kata permisi kepada Pak


Jamal sebelum memasuki ruang guru


sementara kepada Magnolia, guru berusia

__ADS_1


empat puluh delapan tahun tersebut


menyuruhnya untuk cepat-cepat


meninggalkannya yang mana segera dituruti


oleh Magnolia tanpa banyak protes.


Dia baru bisa menarik napas lega setelah


berhasil bersembunyi di depan lapangan


sepak bola, di bawah pohon angsana tua yang


entah kenapa, telah jadi tempat


persembunyiannya selama beberapa minggu


terakhir.


"Padahal baru mau ngajak ngomong Abang."


Magnolia yang telah duduk, mulai mengusap


hidungnya. Masih terasa berdenyut tetapi


untungnya tidak berdarah seperti waktu itu.


Magnolia kemudian menarik lembaran


kuitansi yang berada dalam sakunya lalu dia


pandangi angka yang tertera di sana. Tinggal


satu kali cicilan lagi yang berarti dia masih


harus bekerja giat sekitar satu atau dua bulan


lagi. Tetapi, sejak masuk SMA waktunya untuk


berjualan berkurang amat drastis. Dia hanya


bisa berjualan dari subuh hanya di hari


minggu atau tanggal merah sementara pada


hari biasa, hanya hari Jumat dia bisa menjual


lap, itu pun agak siang, sekitar pukul sebelas


lewat tiga puluh menit.


Sisanya, dia manfaatkan untuk berjualan kopi


dan minuman di terminal. Untung saja banyak


pembeli yang pulang bekerja yang memakai


jasanya. Sehingga setiap dia pulang dari


berjualan kopi, pada malam hari, Magnolia


bisa mengantongi sekitar enam puluh hingga


seratus ribu rupiah belum dipotong modal.


Tapi, untuk menghidupi dirinya, dia merasa


uang segitu sudah lebih dari cukup. Magnolia


malah masih bisa menyisihkan sebagian untukmembayar cicilan. Beruntung buku bekas


Dimas bisa dia pakai dan Kezia terlalu anti


memakai barang-barang bekas sehingga buku


sang abang bisa dia ambil tanpa perlu berebut


dengan saudara perempuannya tersebut.


"Dua juta lagi lunas. Ayo semangat, Yaya. Lo


bisa." Magnolia tersenyum menyemangati


dirinya sendiri. Dia sebenarnya masih


menyimpan sekitar empat juta rupiah lagi di


dalam tabungannya, yang dia simpan di bank.


Papa sempat membuatkannya rekening ketika


Magnolia kelas lima SD dan dia telah belajar


menyimpan uangnya di sana sejak saat itu.


Hanya saja, bila semua uang dia pakai untuk


melunasi cicilan sekolah, bila nanti ada


kebutuhan mendesak, Magnolia tidak bisa


membayar. Lagipula, berkaca dengan betapa


giatnya dia mencari uang, Magnolia yakin, dia


tidak akan kesulitan.


"Moga ada lomba lagi, Ya Allah. Kalau menang,


lumayan nambahin bayar cicilan."


"Nih."


Sebuah suara membuat Magnolia mendongak.


Alangkah kagetnya dia ketika melihat Malik


berdiri di belakangnya sembari menyodorkan


sekaleng Sprite dan sedotan untuknya.


"Lo, kok, tahu gue di sini?"


Malik tidak menjawab. Magnolia juga heran,


kenapa Malik bisa tahu minuman


kesukaannya? Mereka, kan, hampir tidak


pernah bicara.


Malik kemudian berbalik dan berjalan


meninggalkan gadis itu tanpa sepatah kata


pun, membuat Magnolia hanya mampu


melongo sembari memegang kaleng minuman


favoritnya yang masih dingin dan belum


terbuka sama sekali.


"Ini nggak lo kasih jampi-jampi atau pelet, kan,


Bang?"


Malik yang berjalan menuju gedung utama,


tempat kelasnya berada, segera memejamkan


mata dan menggaruk kepala.


"Abaang! Lo gak kasih pelet, kan?"Dia tidak perlu menjawab, buang-buang


waktu. Magnolia juga tidak bakal percaya


kalau dia memberikan minuman kaleng


tersebut sebagai tanda dia merasa bersalah


sudah menabrak hidung Magnolia untuk


kedua kalinya.


"Gue nggak perlu lo kasih. Udah naksir


duluan."


Dan cuma dia yang bisa bertingkah norak


seperti itu hingga membuat Malik seolah-olah


habis dipergoki maling jemuran oleh orang-

__ADS_1


orang yang lewat di sekitar mereka.


***


__ADS_2