
Hanya butuh waktu satu bulan bagi tim inti
voli SMANSA JUARA untuk bisa mengikuti
kejuaraan tingkat kota. Masa-masa tersebut
menjadi dilema buat Magnolia karena dia
harus berlatih hingga petang. Dia yang
sebenarnya merasa tubuhnya remuk tetap
memaksakan diri untuk tetap berjualan di
terminal pada malam hari. Alasannya karena
dia harus melunasi cicilan uang masuk yang
batas jatuh temponya semakin dekat.
Tapi, setelah pengumuman hasil lomba, dia
merasa bisa sedikit bernapas lega karena
pihak sekolah membebaskan hadiah untuk
dibagi-bagikan kepada seluruh anggota tim
dan juga pelatih. Karena itu juga, saat
menghitung semua tabungannya, dia masih
punya beberapa rupiah untuk melunasi cicilan
yang kedua, maka Magnolia lantas
mempercepat pembayaran cicilan kepada
guru yang bertanggung jawab mengurusi
penerimaan mahasiswa baru.
"Sudah ada uangnya?" tanya Bu Ely sewaktu
Magnolia datang dengan membawa uang
cicilan siswa baru kepadanya.
"Sudah, Bu. Uang hadiah lomba kemarin bantu
banget nambahin." terang Magnolia kepada
sang guru. Bu Ely tersenyum dan
mengucapkan terima kasih begitu Magnolia
mengangsurkan sekitar dua puluh lembar
uang seratus ribuan kepadanya.
"Mama sehat, Ya?"
Magnolia yang mulanya mengikuti tulisan
tangan Bu Ely mengangkat kepala,
"Alhamdulillah, sehat."
"Pas Dimas datang minta keringanan beberapa
waktu lalu, Ibu nggak nyangka kalau dua
adiknya masuk ke sini."
Magnolia hanya mengurai sebaris senyum. Dia
mendapatkan kabar tersebut dari Dimas
sehingga tahu garis besar ceritanya. Mama,
tentu saja sempat marah dan tidak setuju
apalagi saat tahu ternyata diam-diam putra
sulungnya ikut berjualan di pasar saat akhir
pekan tiba.
"Mau ditaruh di mana muka Mama, Mas? Kamu
jualan kayak Mama nggak sanggup ngasih
makan kamu. Mama lebih dari sanggup
bahkan menyekolahkan kamu ke fakultas
kedokteran sekalipun. Jangan kamu berbuat
kayak anak yang nggak dikasih makan."
Saking marahnya, mama sempat mendiamkan
Dimas selama satu minggu. Tapi, abangnya
tidak gentar. Dimas tetap menemani Magnolia
hingga akhirnya mereka punya uang yang
cukup untuk mendaftar ke sekolah.
"Nggak usah dipikirin kata-kata Mama. Yang
penting lo sekolah dan selama gue masih bisa
bantu, gue bakal usahain sekuat tenaga."
"Iya, Bu. Biar bisa bareng."
Alasan yang masuk akal, pikir Magnolia. Siapa
saja yang melihat tiga orang bersaudara
bersekolah di tempat yang sama bakal
berpikir seperti itu. Apalagi, Dimas telah
menempelkan embel-embel anak yatim yangmembuat pandangan orang-orang jadi
berbeda.
"Oh, iya. Mending bareng. Enak, toh, ada abang
yang bisa jagain dua adiknya. Tapi Dimas udah
kelas 12."
Kembali Magnolia tersenyum. Dimas memang
sebaik itu. Walau tahu Kezia dan dirinya tidak
akur, dia tetap menyayangi mereka berdua.
Meski begitu, menyatukan Kezia dan Magnolia
dalam satu ruangan yang sama adalah hal yang
amat rumit dan tidak bisa dia wujudkan sama
sekali.
"Ini kuitansinya. Simpan baik-baik. Cicilannya
tinggal satu kali lagi, ya."
Magnolia menerima kuitansi yang diulurkan
oleh Bu Ely kepadanya. Setelahnya, dia pamit
dan berjalan menuju pintu keluar dari ruang
guru, saat yang sama dia bertabrakan dengan
Malik.
Buru-buru Magnolia memeriksa hidungnya.
Luka akibat pukulan bola dari Anita baru saja
sembuh dan dia tidak ingin kembali berjalan
ke mana-mana dengan hidung diplaster
seperti kemarin.
"Abang! Kalau jalan lihat-lihat. Doyan banget
__ADS_1
matahin hidung Yaya." Magnolia mengeluh
dan menunjuk hidungnya yang mulai merah
sementara Malik yang tidak menyangka bakal
bertemu dengan tetangga rasa penggemar,
memandangi Magnolia dengan pandangan
khawatir.
"Patah?"
"Iya, patah. Ganti lima juta." Magnolia
berkacak pinggang.
Malik sempat melihat kuitansi pembayaran
cicilan uang sekolah yang mencuat dari saku
baju gadis tersebut. Dia kemudian
mengerutkan alis dan menggeleng, "Hidung lo
masih utuh."
"Tapi merah, nih." Magnolia berjinjit,
menunjuk hidungnya kepada Malik. Tapi, si
tampan itu malah memalingkan wajah dan
bersiap untuk masuk ruang guru."Minta Dimas yang ngurusin. Sana minggir."
usir Malik dengan halus membuat Magnolia
protes, "Lah, kenapa mesti Mamas? Kan Abang
yang salah. Lo yang bikin hidung gue bocor."
Magnolia tanpa ragu menarik seragam bagian
belakang milik Malik sehingga langkahnya
terhenti.
"Ini, nih. Lari dari tanggung jawab." Magnolia
ngotot tidak mau kalah. Entah apa yang
membuatnya nekat menarik baju Malik. Tapi,
dia merasa dengan begitu, dia bisa
mendapatkan perhatian si tampan idola
sekolah tersebut.
"Lepasin. Lo apa-apaan, sih?"
Wajah Malik tetap datar seperti biasa. Dia juga
tidak tersenyum seperti yang selalu dia
lakukan kepada Kezia. Bahkan raut wajahnya
lebih ke arah dia merasa amat terganggu
dengan perbuatan Magnolia. Padahal, dia
cuma ingin mendapatkan perhatian dari
sahabat Dimas tersebut.
"Hei, bocah! Pacaran aja kelen di depan ruang
guru. Berisik kali pun. Kuping aku sakit kau
buatkan."
Pintu ruang guru yang terbuka menampakkan
wajah sangar milik Jamaluddin Hasibuan guru
matematika kelas sepuluh. Magnolia yang
selalu merasa kaget dengan suara besar khas
Sumatera Utara dari gurunya itu mendadak
Malik.
"Kaget, Pak." Magnolia berusaha tersenyum.
Tapi, gara-gara itu juga, dia makin kena
sembur.
"Aish, kau ini, Magnolia. Sudah kau buat
PRmu?"
Magnolia mengangguk takut-takut. Meski
amat suka dengan pelajaran yang diberikan
oleh Pak Jamaluddin, dia belum bisa terbiasa
dengan logat pria tersebut.
"Tidak bohong, kau? Jangan cengkunek, nanti
kulihat di kelas tahunya bohong."Magnolia tidak tahu arti kata cengkunek
seperti yang disebutkan barusan oleh guru
matematikanya tersebut. Tapi, dia bersumpah
kepada Pak Jamaluddin kalau PR yang diminta
oleh pria tersebut sudah diselesaikannya
dengan baik.
"Sumpah, Pak. Nggak bohong. Nanti di kelas
saya kasih lihat, deh."
Untung saja dia punya guru les paling baik dan
amat sayang kepadanya. Dimas selalu
memastikan kedua adiknya mengerjakan
semua tugas walau untuk Magnolia, dia
terpaksa harus menunggu hingga si bungsu
kembali dari berjualan. Tetapi, pada saat itu,
biasanya hanya tinggal soal-soal sulit saja yang
belum Magnolia selesaikan.
Pak Jamal hanya melirik Magnolia selama
beberapa detik untuk mencari jejak
kebohongan di wajah gadis lima belas tahun
berambut kuncir dua tersebut. Setelah tidak
menemukan apa-apa, pandangan Pak Jamal
kemudian beralih kepada Malik yang berdiri
mematung di sebelah Magnolia."Kau, mau apa?"
"Mau ngasih buku kemajuan kelas sama Bu
Mardiyah, Pak." Malik menunjuk map plastik
transparan dengan isi buku kemajuan kelas di
dalamnya.
"Ya sudah. Masuk sana."
Malik mengucapkan kata permisi kepada Pak
Jamal sebelum memasuki ruang guru
sementara kepada Magnolia, guru berusia
__ADS_1
empat puluh delapan tahun tersebut
menyuruhnya untuk cepat-cepat
meninggalkannya yang mana segera dituruti
oleh Magnolia tanpa banyak protes.
Dia baru bisa menarik napas lega setelah
berhasil bersembunyi di depan lapangan
sepak bola, di bawah pohon angsana tua yang
entah kenapa, telah jadi tempat
persembunyiannya selama beberapa minggu
terakhir.
"Padahal baru mau ngajak ngomong Abang."
Magnolia yang telah duduk, mulai mengusap
hidungnya. Masih terasa berdenyut tetapi
untungnya tidak berdarah seperti waktu itu.
Magnolia kemudian menarik lembaran
kuitansi yang berada dalam sakunya lalu dia
pandangi angka yang tertera di sana. Tinggal
satu kali cicilan lagi yang berarti dia masih
harus bekerja giat sekitar satu atau dua bulan
lagi. Tetapi, sejak masuk SMA waktunya untuk
berjualan berkurang amat drastis. Dia hanya
bisa berjualan dari subuh hanya di hari
minggu atau tanggal merah sementara pada
hari biasa, hanya hari Jumat dia bisa menjual
lap, itu pun agak siang, sekitar pukul sebelas
lewat tiga puluh menit.
Sisanya, dia manfaatkan untuk berjualan kopi
dan minuman di terminal. Untung saja banyak
pembeli yang pulang bekerja yang memakai
jasanya. Sehingga setiap dia pulang dari
berjualan kopi, pada malam hari, Magnolia
bisa mengantongi sekitar enam puluh hingga
seratus ribu rupiah belum dipotong modal.
Tapi, untuk menghidupi dirinya, dia merasa
uang segitu sudah lebih dari cukup. Magnolia
malah masih bisa menyisihkan sebagian untukmembayar cicilan. Beruntung buku bekas
Dimas bisa dia pakai dan Kezia terlalu anti
memakai barang-barang bekas sehingga buku
sang abang bisa dia ambil tanpa perlu berebut
dengan saudara perempuannya tersebut.
"Dua juta lagi lunas. Ayo semangat, Yaya. Lo
bisa." Magnolia tersenyum menyemangati
dirinya sendiri. Dia sebenarnya masih
menyimpan sekitar empat juta rupiah lagi di
dalam tabungannya, yang dia simpan di bank.
Papa sempat membuatkannya rekening ketika
Magnolia kelas lima SD dan dia telah belajar
menyimpan uangnya di sana sejak saat itu.
Hanya saja, bila semua uang dia pakai untuk
melunasi cicilan sekolah, bila nanti ada
kebutuhan mendesak, Magnolia tidak bisa
membayar. Lagipula, berkaca dengan betapa
giatnya dia mencari uang, Magnolia yakin, dia
tidak akan kesulitan.
"Moga ada lomba lagi, Ya Allah. Kalau menang,
lumayan nambahin bayar cicilan."
"Nih."
Sebuah suara membuat Magnolia mendongak.
Alangkah kagetnya dia ketika melihat Malik
berdiri di belakangnya sembari menyodorkan
sekaleng Sprite dan sedotan untuknya.
"Lo, kok, tahu gue di sini?"
Malik tidak menjawab. Magnolia juga heran,
kenapa Malik bisa tahu minuman
kesukaannya? Mereka, kan, hampir tidak
pernah bicara.
Malik kemudian berbalik dan berjalan
meninggalkan gadis itu tanpa sepatah kata
pun, membuat Magnolia hanya mampu
melongo sembari memegang kaleng minuman
favoritnya yang masih dingin dan belum
terbuka sama sekali.
"Ini nggak lo kasih jampi-jampi atau pelet, kan,
Bang?"
Malik yang berjalan menuju gedung utama,
tempat kelasnya berada, segera memejamkan
mata dan menggaruk kepala.
"Abaang! Lo gak kasih pelet, kan?"Dia tidak perlu menjawab, buang-buang
waktu. Magnolia juga tidak bakal percaya
kalau dia memberikan minuman kaleng
tersebut sebagai tanda dia merasa bersalah
sudah menabrak hidung Magnolia untuk
kedua kalinya.
"Gue nggak perlu lo kasih. Udah naksir
duluan."
Dan cuma dia yang bisa bertingkah norak
seperti itu hingga membuat Malik seolah-olah
habis dipergoki maling jemuran oleh orang-
__ADS_1
orang yang lewat di sekitar mereka.
***