
Magnolia merasa badannya tidak sehat saat
Dimas terus memaksa menyelesaikan "satu
soal lagi" selama hampir tiga jam dari pukul
sepuluh malam. Matanya sudah tidak kuat dan
otaknya seperti menguap. Akan tetapi, Dimas
terus membisikkan kata-kata semangat yang
membuatnya ingin muntah. Tetapi, demi
abangnya yang tersayang, ditahannya
perasaan itu dan dengan mata yang semakin
lengket, Magnolia terus mencoret-coret buku
catatannya untuk mencari jawaban yang pas.
"Coba baca lagi, Ya, soal nomor 39 ini.
Dilakukan persilangan antara tanaman
semangka berbuah besar rasa tak manis
(BBmm) dengan tanaman semangka kecil
berbuah manis (bbMM). Sifat besar dan manis
adalah dominan. Keturunan pertama (F1)
adalah tanaman semangka berbuah besar
manis dengan fenotif BbMm. Jika F1
disilangkan F1 disilangkan dengan sesamanya,
perbandingan fenotif… hei, lo tidur?"
Dimas menyentuh lengan kurus Magnolia
yang kepalanya kini terkulai di atas meja.
Matanya terpejam tetapi tangannya masih
memegangi bolpoin.
"Dek."
"Hm…" gumam lemas terdengar dan Dimas
merasa tangan adiknya sedikit lebih hangat
dari biasanya.
"Mau lanjut? Dua nomor lagi."
Magnolia menggeleng. Dia sudah tidak kuat
lagi. Malik sudah pulang saat waktu
menunjukkan pukul sembilan. Dia bahkan
tidak menoleh kepada Magnolia meski gadis
berlesung pipi tersebut menggodanya dengan
kata bersemangat. Yang ada malah, Dimas
bergegas mengantarnya pulang hingga ke
pagar. Mereka sempat mengobrol selama
beberapa menit, meninggalkan Magnolia yang
menatap penuh minat dari meja teras.
Itu pun, tidak lama. Mama kembali muncul di
ambang pintu dan kelihatan tidak senang saat
melihat anak tirinya duduk di kursi kayu jati
kesayangannya. Karena itu juga, Magnolia
yang sadar diri segera bersimpuh.
"Mama sudah makan?" basa-basi Magnolia
bertanya. Ibunya melirik sinis ke arahnya lalu
berkata, "Jaga mulut lo, ya. Jangan kayak lont*
manggil-manggil anak orang supaya ngeliat lo.
Persis banget tingkah lo kayak wanita
murahan di jalan. Gue nggak heran. Mak lo
pasti kayak gini juga. Makanya, sifatnya nurun
ke anaknya."
Cepat, mama berjalan masuk rumah dan
menutup pintu, meninggalkan Magnolia yang
membeku di tempat usai diberi kalimat amat
menyedihkan yang membuat dia berusaha
tersenyum.
"Yaya cuma nyapa Abang, Ma. Bukan godain.
Dia sudah baik mau ngajarin Keke. Maaf kalau
Mama ngira, Yaya genit. Soalnya, Yaya nggak
tahu cara ngomong yang bener sama Abang.
Tiap mau buka mulut, selalu keluarnya kayak
gitu. Emang mirip kayak cewek-cewek genit."
Dia tahu mama tidak mau repot-repot
mendengar penjelasannya dan Magnolia tidak
__ADS_1
punya waktu buat bersedih. Dimas sudah
selesai ngobrol dengan Malik dan sudah
mengunci pagar dengan gembok. Saat dia
kembali, dilihatnya Magnolia sedang tertegun
sambil memegangi tenggorokannya.
"Kenapa, lehernya sakit?"
Pandangan Magnolia tampak kosong dan dia
hanya melihat ke arah keramik teras yang
berwarna merah polos.
"Bau obat nyamuk, ya?" Dimas bertanya lagi.
Kembali Magnolia menggeleng. Setelah itu,
mereka melanjutkan membahas soal hingga
tidak terasa hari sudah lewat tengah malam
dan Magnolia kalah dengan rasa kantuknya.
"Dek?”
Magnolia terbangun dan mengangkat kepala.
Wajahnya merah tapi dia tidak menjawab
pertanyaan abangnya dan memilih untuk
menarik lembaran soal-soal UN tahun
sebelumnya lalu memeriksa sisa nomor yang
belum selesai dia kerjakan. Masih ada dua
nomor lagi dan Magnolia merasa kalau
sebelumnya Dimas sudah menyebutkan
tentang hal tersebut sebelumnya.
“Badan lo agak anget. Udah aja belajarnya.
Sisanya lo bawa semua ke kamar, istirahat.”
Magnolia mengangguk. Tapi setelah Dimas
mengantar Malik tadi, dia jadi amat pendiam.
Saat bangkit, Dimas sempat melihat di sekujur
lengan dan kaki adiknya penuh dengan bentol-
bentol bekas digigit nyamuk. Dia kemudian
menahan langkah Magnolia yang bersiap
berjalan menuju kamar.
“Lo tunggu bentar. Gue baru ingat sesuatu.”
menghilang dengan amat cepat, sementara
Magnolia yang berdiri di depan teras
mengedarkan pandang ke rumah seberang.
Pagarnya tertutup, tapi di bawah bayangan
lampu teras dia bisa melihat Malik sedang
duduk di salah satu bangku sedang duduk
membaca buku tebal yang bila diberikan
kepadanya sudah pasti akan membuat
kepalanya sakit. Jangan sampai buku itu
ditemukan oleh Bang Beni, tukang cabai di
pasar, pikir Magnolia. Jika tidak, pria itu akan
merobek setiap lembarannya untuk dijadikan
bungkus cabai.
“Ini, gue bantu olesin.”
Dimas dengan cekatan membuka tutup botol
minyak kayu putih lalu menuangkan isinya ke
telapak tangannya sendiri dan tanpa ragu
mengusapkan ke sekujur lengan dan kaki
adiknya hingga beberapa kali. Hal tersebut
membuat Magnolia bergumam pelan
kepadanya, “Jangan, Mas. kalau Mama lihat, lo
bakal kena marah.”
Dimas hanya mengerling ke arah Magnolia lalu
kembali memastikan kalau tubuh adiknya
sudah diolesi dengan minyak kayu putih.
Sementara Magnolia sendiri melirik takut-
takut ke arah dalam rumah sambil memeluk
buku dan alat tulisnya dengan erat.
“Gu…gue serius. Biarin aja, gue juga mau
langsung masuk abis ini.”
“Mama udah tidur. Lo jangan lupa cuci kaki
dan buang air dulu. Gue nggak mau perut lo
__ADS_1
sakit lagi gara-gara nahan kencing.”
Magnolia membersihkan diri dan melakukan
kegiatan buang air di sebuah ****** kecil
yang terletak belakang rumag mereka. Seperti
warung yang berada di depan rumah, ******
tersebut sudah ada sejak lama dan Magnolia
tidak pernah lagi melakukan aktivitas di dalam
rumah sejak diusir oleh sang ibu. Untung saja,
tetangga kompleks tempat mereka tinggal
tidak ada yang kepo dan mempertanyakan
kenapa janda keluarga Hassan seolah-olah
sengaja menelantarkan anak bungsu mereka.
Di depan semua orang, Magnolia selalu
bersikap kalau dia adalah anak kesayangan
mama dan karena itu juga, mama selamat dari
ejekan dan sindiran warga.
“Iya. gue pipis. Lo udahan, dong.”
Dimas tahu, daripada merasa rikuh karena
sentuhannya, Magnolia lebih merasa
ketakutan Dimas bakal dipergoki oleh ibu
mereka. Karena itu juga, dia mempercepat
pekerjaannya dan meletakkan botol minyak
kayu putih ke atas meja.
“Itu punya Keke? Balikin, deh. Ntar dia
ngamuk.” Magnolia sempat bertanya sebelum
dia menuruni teras dan mengambil sendal
jepit miliknya.
“Punya gue. Sengaja beli kalau lo sakit atau
nggak enak badan. Ini, lo ambil aja. Ntar kalau
Keke masuk ke kamar gue malah diambil sama
dia.”
Wajah Magnolia agak tidak enak sewaktu
mendengar Dimas memintanya untuk
mengambil minyak kayu putih tersebut
sebelum ketahuan Kezia. Hal tersebut seolah
menegaskan kalau Dimas lebih memilih
Magnolia daripada adiknya yang lain.
“Lo aja yang pegang. Nggak apa-apa kalau
Keke mau ambil. Dia adek lo juga. Jangan pilih
kasih.”
“Punya Keke lebih lengkap. Dia punya
semuanya sedangkan lo nggak.” tangan Dimas
terulur dan dia berharap Magnolia akan
menerima pemberiannya. Akan tetapi, adik
bungsunya itu hanya tersenyum.
“Lo manjain gue terus. Padahal aslinya kita
doyan berantem. Gue jadi kangen masa-masa
berantem kita. Sejak Papa pergi, lo berusaha
banget jadi Papa buat gue, Mas. tapi, di mata
gue, Papa yang papa kita. Sementara lo tetap
Mamas gue.”
Dimas pada akhirnya berjalan mendekati
Magnolia dan memaksa adiknya menerima
minyak kayu putih tersebut tidak peduli gadis
lima belas tahun itu menggeleng.
“Ambil.” desak Dimas. “Sekarang lo ke WC, gue
temenin.”
Magnolia tidak banyak protes lagi. Dia takut
suara mereka terdengar hingga ke kamar
mama. Jadi yang bisa dia lakukan adalah
mengucapkan terima kasih dan mempercepat
langkahnya menuju ****** di belakang
rumah. Badannya sudah begitu lelah dan yang
paling dia inginkan malam ini adalah menutup
mata dan beristirahat hingga penat di
tubuhnya lenyap.
__ADS_1
***