Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian IV Magnolia merasa badannya tidak sehat


__ADS_3

Magnolia merasa badannya tidak sehat saat


Dimas terus memaksa menyelesaikan "satu


soal lagi" selama hampir tiga jam dari pukul


sepuluh malam. Matanya sudah tidak kuat dan


otaknya seperti menguap. Akan tetapi, Dimas


terus membisikkan kata-kata semangat yang


membuatnya ingin muntah. Tetapi, demi


abangnya yang tersayang, ditahannya


perasaan itu dan dengan mata yang semakin


lengket, Magnolia terus mencoret-coret buku


catatannya untuk mencari jawaban yang pas.


"Coba baca lagi, Ya, soal nomor 39 ini.


Dilakukan persilangan antara tanaman


semangka berbuah besar rasa tak manis


(BBmm) dengan tanaman semangka kecil


berbuah manis (bbMM). Sifat besar dan manis


adalah dominan. Keturunan pertama (F1)


adalah tanaman semangka berbuah besar


manis dengan fenotif BbMm. Jika F1


disilangkan F1 disilangkan dengan sesamanya,


perbandingan fenotif… hei, lo tidur?"


Dimas menyentuh lengan kurus Magnolia


yang kepalanya kini terkulai di atas meja.


Matanya terpejam tetapi tangannya masih


memegangi bolpoin.


"Dek."


"Hm…" gumam lemas terdengar dan Dimas


merasa tangan adiknya sedikit lebih hangat


dari biasanya.


"Mau lanjut? Dua nomor lagi."


Magnolia menggeleng. Dia sudah tidak kuat


lagi. Malik sudah pulang saat waktu


menunjukkan pukul sembilan. Dia bahkan


tidak menoleh kepada Magnolia meski gadis


berlesung pipi tersebut menggodanya dengan


kata bersemangat. Yang ada malah, Dimas


bergegas mengantarnya pulang hingga ke


pagar. Mereka sempat mengobrol selama


beberapa menit, meninggalkan Magnolia yang


menatap penuh minat dari meja teras.


Itu pun, tidak lama. Mama kembali muncul di


ambang pintu dan kelihatan tidak senang saat


melihat anak tirinya duduk di kursi kayu jati


kesayangannya. Karena itu juga, Magnolia


yang sadar diri segera bersimpuh.


"Mama sudah makan?" basa-basi Magnolia


bertanya. Ibunya melirik sinis ke arahnya lalu


berkata, "Jaga mulut lo, ya. Jangan kayak lont*


manggil-manggil anak orang supaya ngeliat lo.


Persis banget tingkah lo kayak wanita


murahan di jalan. Gue nggak heran. Mak lo


pasti kayak gini juga. Makanya, sifatnya nurun


ke anaknya."


Cepat, mama berjalan masuk rumah dan


menutup pintu, meninggalkan Magnolia yang


membeku di tempat usai diberi kalimat amat


menyedihkan yang membuat dia berusaha


tersenyum.


"Yaya cuma nyapa Abang, Ma. Bukan godain.


Dia sudah baik mau ngajarin Keke. Maaf kalau


Mama ngira, Yaya genit. Soalnya, Yaya nggak


tahu cara ngomong yang bener sama Abang.


Tiap mau buka mulut, selalu keluarnya kayak


gitu. Emang mirip kayak cewek-cewek genit."


Dia tahu mama tidak mau repot-repot


mendengar penjelasannya dan Magnolia tidak

__ADS_1


punya waktu buat bersedih. Dimas sudah


selesai ngobrol dengan Malik dan sudah


mengunci pagar dengan gembok. Saat dia


kembali, dilihatnya Magnolia sedang tertegun


sambil memegangi tenggorokannya.


"Kenapa, lehernya sakit?"


Pandangan Magnolia tampak kosong dan dia


hanya melihat ke arah keramik teras yang


berwarna merah polos.


"Bau obat nyamuk, ya?" Dimas bertanya lagi.


Kembali Magnolia menggeleng. Setelah itu,


mereka melanjutkan membahas soal hingga


tidak terasa hari sudah lewat tengah malam


dan Magnolia kalah dengan rasa kantuknya.


"Dek?”


Magnolia terbangun dan mengangkat kepala.


Wajahnya merah tapi dia tidak menjawab


pertanyaan abangnya dan memilih untuk


menarik lembaran soal-soal UN tahun


sebelumnya lalu memeriksa sisa nomor yang


belum selesai dia kerjakan. Masih ada dua


nomor lagi dan Magnolia merasa kalau


sebelumnya Dimas sudah menyebutkan


tentang hal tersebut sebelumnya.


“Badan lo agak anget. Udah aja belajarnya.


Sisanya lo bawa semua ke kamar, istirahat.”


Magnolia mengangguk. Tapi setelah Dimas


mengantar Malik tadi, dia jadi amat pendiam.


Saat bangkit, Dimas sempat melihat di sekujur


lengan dan kaki adiknya penuh dengan bentol-


bentol bekas digigit nyamuk. Dia kemudian


menahan langkah Magnolia yang bersiap


berjalan menuju kamar.


“Lo tunggu bentar. Gue baru ingat sesuatu.”


menghilang dengan amat cepat, sementara


Magnolia yang berdiri di depan teras


mengedarkan pandang ke rumah seberang.


Pagarnya tertutup, tapi di bawah bayangan


lampu teras dia bisa melihat Malik sedang


duduk di salah satu bangku sedang duduk


membaca buku tebal yang bila diberikan


kepadanya sudah pasti akan membuat


kepalanya sakit. Jangan sampai buku itu


ditemukan oleh Bang Beni, tukang cabai di


pasar, pikir Magnolia. Jika tidak, pria itu akan


merobek setiap lembarannya untuk dijadikan


bungkus cabai.


“Ini, gue bantu olesin.”


Dimas dengan cekatan membuka tutup botol


minyak kayu putih lalu menuangkan isinya ke


telapak tangannya sendiri dan tanpa ragu


mengusapkan ke sekujur lengan dan kaki


adiknya hingga beberapa kali. Hal tersebut


membuat Magnolia bergumam pelan


kepadanya, “Jangan, Mas. kalau Mama lihat, lo


bakal kena marah.”


Dimas hanya mengerling ke arah Magnolia lalu


kembali memastikan kalau tubuh adiknya


sudah diolesi dengan minyak kayu putih.


Sementara Magnolia sendiri melirik takut-


takut ke arah dalam rumah sambil memeluk


buku dan alat tulisnya dengan erat.


“Gu…gue serius. Biarin aja, gue juga mau


langsung masuk abis ini.”


“Mama udah tidur. Lo jangan lupa cuci kaki


dan buang air dulu. Gue nggak mau perut lo

__ADS_1


sakit lagi gara-gara nahan kencing.”


Magnolia membersihkan diri dan melakukan


kegiatan buang air di sebuah ****** kecil


yang terletak belakang rumag mereka. Seperti


warung yang berada di depan rumah, ******


tersebut sudah ada sejak lama dan Magnolia


tidak pernah lagi melakukan aktivitas di dalam


rumah sejak diusir oleh sang ibu. Untung saja,


tetangga kompleks tempat mereka tinggal


tidak ada yang kepo dan mempertanyakan


kenapa janda keluarga Hassan seolah-olah


sengaja menelantarkan anak bungsu mereka.


Di depan semua orang, Magnolia selalu


bersikap kalau dia adalah anak kesayangan


mama dan karena itu juga, mama selamat dari


ejekan dan sindiran warga.


“Iya. gue pipis. Lo udahan, dong.”


Dimas tahu, daripada merasa rikuh karena


sentuhannya, Magnolia lebih merasa


ketakutan Dimas bakal dipergoki oleh ibu


mereka. Karena itu juga, dia mempercepat


pekerjaannya dan meletakkan botol minyak


kayu putih ke atas meja.


“Itu punya Keke? Balikin, deh. Ntar dia


ngamuk.” Magnolia sempat bertanya sebelum


dia menuruni teras dan mengambil sendal


jepit miliknya.


“Punya gue. Sengaja beli kalau lo sakit atau


nggak enak badan. Ini, lo ambil aja. Ntar kalau


Keke masuk ke kamar gue malah diambil sama


dia.”


Wajah Magnolia agak tidak enak sewaktu


mendengar Dimas memintanya untuk


mengambil minyak kayu putih tersebut


sebelum ketahuan Kezia. Hal tersebut seolah


menegaskan kalau Dimas lebih memilih


Magnolia daripada adiknya yang lain.


“Lo aja yang pegang. Nggak apa-apa kalau


Keke mau ambil. Dia adek lo juga. Jangan pilih


kasih.”


“Punya Keke lebih lengkap. Dia punya


semuanya sedangkan lo nggak.” tangan Dimas


terulur dan dia berharap Magnolia akan


menerima pemberiannya. Akan tetapi, adik


bungsunya itu hanya tersenyum.


“Lo manjain gue terus. Padahal aslinya kita


doyan berantem. Gue jadi kangen masa-masa


berantem kita. Sejak Papa pergi, lo berusaha


banget jadi Papa buat gue, Mas. tapi, di mata


gue, Papa yang papa kita. Sementara lo tetap


Mamas gue.”


Dimas pada akhirnya berjalan mendekati


Magnolia dan memaksa adiknya menerima


minyak kayu putih tersebut tidak peduli gadis


lima belas tahun itu menggeleng.


“Ambil.” desak Dimas. “Sekarang lo ke WC, gue


temenin.”


Magnolia tidak banyak protes lagi. Dia takut


suara mereka terdengar hingga ke kamar


mama. Jadi yang bisa dia lakukan adalah


mengucapkan terima kasih dan mempercepat


langkahnya menuju ****** di belakang


rumah. Badannya sudah begitu lelah dan yang


paling dia inginkan malam ini adalah menutup


mata dan beristirahat hingga penat di


tubuhnya lenyap.

__ADS_1


***


__ADS_2