Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian VI


__ADS_3

Magnolia tidak mengerti apa yang telah


terjadi. Dimas memaksanya pulang saat


kondisi pasar masih ramai. Dia tidak bisa


menolak karena tangannya ditarik begitu kuat.


Bahkan Dimas dengan kasar melemparkan


semua barang dagangan Magnolia ke dalam


keranjang sepeda gadis itu lalu


memerintahkan adiknya untuk duduk di


belakang sementara dia duduk di jok depan,


mengayuh pedal seperti kesetanan agar


mereka cepat sampai di rumah.


Magnolia bisa melihat peluh membasahi


tengkuk abangnya. Seragam sekolah putih


bersih yang Dimas kenakan tampak jomplang


dibanding jaket lusuh dan pudar yang selalu


dia pakai. Bahkan sarung tangan yang


menampakkan jari-jari tangannya tampak


jelek dan robek. Tapi dia tidak


mempermasalahkan hal tersebut. Asal


tangannya terlindungi dari sinar matahari,


tidak mengapa, pikir Magnolia.


“Mamas, kenapa marah-marah? Yaya beliin


mie ayam tadi. Mamas sudah makan, kan?


Kenapa lo ke pasar? Bukannya jam segini lo


mesti les?”


Dimas tidak menjawab. Entah karena jalanan


ramai atau dia memang sedang banyak


pikiran, Magnolia tidak mengerti. Yang pasti,


begitu dia bersuara, Dimas malah mengayuh


sepedanya makin kencang. Dimas bahkan


melewati begitu saja lubang-lubang dalam


yang pada hari sebelumnya telah menyakiti


Magnolia. Dia juga hampir menabrak gerobak


bakso dan mendapat makian dari


pedagangnya. Tapi, bukannya minta maaf,


Dimas balik memarahi pedagang tersebut


tanpa ragu, sebuah hal yang hampir tidak


pernah Magnolia lihat keluar dari bibir abang


satu-satunya tersebut.


“Mas. Lo kenapa, sih?”


Magnolia mendapatkan jawabannya lima


menit kemudian ketika mereka berdua tiba di


rumah. Dimas membiarkan sepeda Magnolia


terparkir di pekarangan sementara dia


menyeret adiknya kembali ke teras. Saat itu


sandal milik mama ada di rumah dan Magnolia


sempat melihat Malik sedang memanaskan


motor di depan rumah. Pada jam segini, Malik


biasanya akan berangkat menuju tempat


kursus. Dimas seharusnya juga melakukan hal


tersebut. Biasanya dia akan berangkat


bersama Malik. Tapi, menurut Magnolia,


Dimas seolah tidak peduli dengan hal tersebut


dan hanya bernafsu meluapkan


kemarahannya yang Magnolia tidak mengerti


alasannya.


“Lo kenapa, sih?” tanya Magnolia begitu Dimas


memerintahkannya untuk duduk di kursi


teras. Awalnya Magnolia menolak. Mama


masih berada di dalam rumah seperti tadi pagi


dan dia takut duduk di sana. Mama bakal


mengira dia mengotori teras dengan pakaian


dan kakinya yang berasal dari pasar.


“Lo yang kenapa!” hardik Dimas, “Gue


nungguin lo dari tadi di sekolah. Tapi mereka


bilang lo nggak masuk. Dengan mata gue


sendiri lo malah asyik jualan di pasar.”


Napas Dimas memburu. Dia menunjuk wajah

__ADS_1


adiknya berkali-kali. Sinar matanya berkilat


penuh kemarahan dan saat ini, kemarahan


telah membuat wajahnya merah seperti


kepiting rebus.


“Gue bangun kesiangan.” Magnolia mencoba


menjawab dengan jujur, “Bangun setengah


sembilan gara-gara begadang.’


“Begadang?” Dimas meninggikan suara. Saat


itu juga, mama berlari tergopoh-gopoh


menuju teras demi mencari tahu apa yang


sedang terjadi, begitu juga Kezia yang lebih


dulu tiba di rumah daripada mereka berdua.


“Ngapain dia? Bikin masalah, Mas?” tanya


mama dari ambang pintu. Dia kelihatan amat


senang melihat Dimas begitu emosi kepada


Magnolia.


Akan tetapi, Dimas tidak menjawab


pertanyaan mama dan lebih memilih fokus


kepada adiknya. Karena itu juga, Mama dan


Kezia memilih masuk kembali ke rumah


sambil tertawa-tawa. Akhirnya Dimas


membuka mata terhadap Magnolia.


“Lo begadang buat UN dan lo bangun


kesiangan? Kenapa lo malah jualan? Kenapa


nggak langsung ke sekolah?” Dimas


mencengkeram lengan kiri Magnolia dengan


amat kasar sehingga adiknya meringis.


“Lo pikir lo doang yang begadang? Gue masih


bisa bangun pagi. Segitu susahnya lo nurutin


permintaan abang lo buat lulus SMP, Dek. Gue


pengen lo masuk SMANSA ta[i lo lebih milih


kayak gini. Jualan aja yang lo pikirin. Masa


depan lo lebih panjang daripada jualan lap


yang nggak ada gunanya itu.”


Air mata Magnolia yang dia tahan-tahan dari


tadi menggenang di pelupuk mata. Dia


suaranya masih tetap tenang saat membalas


ucapan Dimas. Pemuda itu adalah abangnya


yang amat dia sayang.


“Gue bangun kesiangan itu bukan kemauan Gue. Lo jangan jadikan pekerjaan gue sebagai


alasan buat lo nyalahin kenapa hidup gue


begini. Kenapa gue lebih milih jualan. Justru


karena sadar diri gue milih jualan.”


Magnolia berusaha tersenyum, tapi gagal. Air


matanya jatuh sebutir ketika dia susah payah


merangkai satu atau dua kalimat lagi.


“Maaf bikin lo malu, bikin keluarga ini malu.


Tapi, gue sudah mutusin jualan adalah jalan


hidup gue daripada belajar yang cuma


ngabisin duit.”


Dimas yang tersinggung karena Magnolia


memilih berjualan daripada belajar tanpa


sadar melayangkan pukulan ke bahu adiknya


sehingga Magnolia nyaris tersungkur dari


kursi. Tapi, belum puas sampai di situ, Dimas


kembali melayangkan pukulan ke pipi adiknya


dan nyaris kesetanan jika saja saat itu tidak


dilihat Malik yang sebenarnya hendak


mengajak Dimas berangkat les bersama.


“Pukul aja gue!” Magnolia berteriak lantang,


“Lo pikir sekolah nggak bayar? Lo pikir baju


seragam nggak beli? Untung gue nggak jual


diri buat bayarin semua kemauan lo asal gue


sekolah. Lo malu lihat gue jualan lap? Selama


ini adek lo makan dari situ, nggak ngemis dari


kalian semua.”


Magnolia bangkit dan mendorong tubuh


Dimas agar menjauh darinya. Air matanya

__ADS_1


sudah tumpah dan basah. Matanya semerah


darah, tapi tidak ada yang lebih sakit daripada


ucapan Dimas yang paling dia sayangi.


“Lo berani mukul gue. Lo tahu gue demam tapi


lo lebih mikirin gue mesti sekolah dan jawab


soal UN sialan itu.”


Dimas memandangi tangannya sendiri. Dia


terlalu terkejut telah melakukan hal tersebut.


Tangan Malik telah menahan bahunya dan


dengan mata merah dia menyaksikan


Magnolia terisak-isak di hadapannya.


“Dek, maafin gue.”


“Lo satu hari bakal punya anak, Mas. anak


perempuan. Jangan sampe lo pukul anak lo


kayak lo pukul gue. Sakit banget. Sakit karena


lo nganggap gue orang yang bikin kalian malu.”


Magnolia merasa kalau dia masih ingin


menumpahkan segala perasaannya. Akan


tetapi, Kezia yang kembali muncul di depan


pintu seolah menertawakan perseteruannya


dengan Dimas dan wajah Malik yang begitu


mengkhawatirkan Dimas membuatnya


merasa seolah-olah dia memang sendirian di


dunia ini.


“Gue beliin lo mie ayam buat makan. Jangan


nggak dimakan. Itu duit hasil jualan lap gue.”


Magnolia lantas berjalan begitu saja melewati


ketiga orang di hadapannya dan lari keluar


pagar tanpa menoleh lagi. Sementara Kezia


terkikik dari belakang melihat kepergian


saudarinya.


“Bagus, dia minggat. Moga-moga aja nggak


balik lagi.”


“Keke!” Dimas menghardik adiknya dan Kezia


menjulurkan lidah. Dia kemudian memanggil


Malik dengan suara lembut, akan tetapi Malik


sepertinya sudah terlalu fokus kepada Dimas.


“Yaya!” Dimas yang akhirnya sadar mulai


menoleh ke arah sekeliling. Seperti Magnolia,


matanya juga basah dengan air mata. Dia


melihat ke arah Malik yang masih memegangi


bahunya, mencoba membisikkan kata-kata


agar dia lebih sabar lagi.


“Adek gue demam.” Dimas menyeka air mata


dengan punggung tangan, “Dia masih sempat


beliin gue mie ayam.”


Dimas mengusap wajahnya dan nyaris


berteriak karena telah melakukan keslahan


bodoh. Kenapa dia harus menampar dan


memukul Yayanya yang tersayang? Dia terlalu


panik dan marah kepada adik bungsunya itu.


“Bro, mau ke mana?” tanya Malik saat dia


melihat Dimas berlari dengan cepat ke arah


pagar.


“Cari Yaya.”


“Les lo gimana?”


Dimas tidak menjawab. Dia ingat tadi Magnolia


berlari ke arah kanan, menuju jalan raya.


Adiknya bahkan tidak lagi memakai sandal


dan dalam keadaan demam dia berlari


sendirian. Dimas malah tidak tahu apakah


Magnolia sudah makan atau belum.


Langit mendadak gelap dan petir bersaut


dengan gemuruh secara tiba-tiba. Rasanya


tidak mungkin, tapi dalam sekejap, tetes-tetes


hujan mulai jatuh hingga membuat Dimas


memejamkan mata dan memaki dirinya


sendiri.

__ADS_1


Kenapa hujan mesti turun di saat seperti ini?


***


__ADS_2