
Magnolia tidak mengerti apa yang telah
terjadi. Dimas memaksanya pulang saat
kondisi pasar masih ramai. Dia tidak bisa
menolak karena tangannya ditarik begitu kuat.
Bahkan Dimas dengan kasar melemparkan
semua barang dagangan Magnolia ke dalam
keranjang sepeda gadis itu lalu
memerintahkan adiknya untuk duduk di
belakang sementara dia duduk di jok depan,
mengayuh pedal seperti kesetanan agar
mereka cepat sampai di rumah.
Magnolia bisa melihat peluh membasahi
tengkuk abangnya. Seragam sekolah putih
bersih yang Dimas kenakan tampak jomplang
dibanding jaket lusuh dan pudar yang selalu
dia pakai. Bahkan sarung tangan yang
menampakkan jari-jari tangannya tampak
jelek dan robek. Tapi dia tidak
mempermasalahkan hal tersebut. Asal
tangannya terlindungi dari sinar matahari,
tidak mengapa, pikir Magnolia.
“Mamas, kenapa marah-marah? Yaya beliin
mie ayam tadi. Mamas sudah makan, kan?
Kenapa lo ke pasar? Bukannya jam segini lo
mesti les?”
Dimas tidak menjawab. Entah karena jalanan
ramai atau dia memang sedang banyak
pikiran, Magnolia tidak mengerti. Yang pasti,
begitu dia bersuara, Dimas malah mengayuh
sepedanya makin kencang. Dimas bahkan
melewati begitu saja lubang-lubang dalam
yang pada hari sebelumnya telah menyakiti
Magnolia. Dia juga hampir menabrak gerobak
bakso dan mendapat makian dari
pedagangnya. Tapi, bukannya minta maaf,
Dimas balik memarahi pedagang tersebut
tanpa ragu, sebuah hal yang hampir tidak
pernah Magnolia lihat keluar dari bibir abang
satu-satunya tersebut.
“Mas. Lo kenapa, sih?”
Magnolia mendapatkan jawabannya lima
menit kemudian ketika mereka berdua tiba di
rumah. Dimas membiarkan sepeda Magnolia
terparkir di pekarangan sementara dia
menyeret adiknya kembali ke teras. Saat itu
sandal milik mama ada di rumah dan Magnolia
sempat melihat Malik sedang memanaskan
motor di depan rumah. Pada jam segini, Malik
biasanya akan berangkat menuju tempat
kursus. Dimas seharusnya juga melakukan hal
tersebut. Biasanya dia akan berangkat
bersama Malik. Tapi, menurut Magnolia,
Dimas seolah tidak peduli dengan hal tersebut
dan hanya bernafsu meluapkan
kemarahannya yang Magnolia tidak mengerti
alasannya.
“Lo kenapa, sih?” tanya Magnolia begitu Dimas
memerintahkannya untuk duduk di kursi
teras. Awalnya Magnolia menolak. Mama
masih berada di dalam rumah seperti tadi pagi
dan dia takut duduk di sana. Mama bakal
mengira dia mengotori teras dengan pakaian
dan kakinya yang berasal dari pasar.
“Lo yang kenapa!” hardik Dimas, “Gue
nungguin lo dari tadi di sekolah. Tapi mereka
bilang lo nggak masuk. Dengan mata gue
sendiri lo malah asyik jualan di pasar.”
Napas Dimas memburu. Dia menunjuk wajah
__ADS_1
adiknya berkali-kali. Sinar matanya berkilat
penuh kemarahan dan saat ini, kemarahan
telah membuat wajahnya merah seperti
kepiting rebus.
“Gue bangun kesiangan.” Magnolia mencoba
menjawab dengan jujur, “Bangun setengah
sembilan gara-gara begadang.’
“Begadang?” Dimas meninggikan suara. Saat
itu juga, mama berlari tergopoh-gopoh
menuju teras demi mencari tahu apa yang
sedang terjadi, begitu juga Kezia yang lebih
dulu tiba di rumah daripada mereka berdua.
“Ngapain dia? Bikin masalah, Mas?” tanya
mama dari ambang pintu. Dia kelihatan amat
senang melihat Dimas begitu emosi kepada
Magnolia.
Akan tetapi, Dimas tidak menjawab
pertanyaan mama dan lebih memilih fokus
kepada adiknya. Karena itu juga, Mama dan
Kezia memilih masuk kembali ke rumah
sambil tertawa-tawa. Akhirnya Dimas
membuka mata terhadap Magnolia.
“Lo begadang buat UN dan lo bangun
kesiangan? Kenapa lo malah jualan? Kenapa
nggak langsung ke sekolah?” Dimas
mencengkeram lengan kiri Magnolia dengan
amat kasar sehingga adiknya meringis.
“Lo pikir lo doang yang begadang? Gue masih
bisa bangun pagi. Segitu susahnya lo nurutin
permintaan abang lo buat lulus SMP, Dek. Gue
pengen lo masuk SMANSA ta[i lo lebih milih
kayak gini. Jualan aja yang lo pikirin. Masa
depan lo lebih panjang daripada jualan lap
yang nggak ada gunanya itu.”
Air mata Magnolia yang dia tahan-tahan dari
tadi menggenang di pelupuk mata. Dia
suaranya masih tetap tenang saat membalas
ucapan Dimas. Pemuda itu adalah abangnya
yang amat dia sayang.
“Gue bangun kesiangan itu bukan kemauan Gue. Lo jangan jadikan pekerjaan gue sebagai
alasan buat lo nyalahin kenapa hidup gue
begini. Kenapa gue lebih milih jualan. Justru
karena sadar diri gue milih jualan.”
Magnolia berusaha tersenyum, tapi gagal. Air
matanya jatuh sebutir ketika dia susah payah
merangkai satu atau dua kalimat lagi.
“Maaf bikin lo malu, bikin keluarga ini malu.
Tapi, gue sudah mutusin jualan adalah jalan
hidup gue daripada belajar yang cuma
ngabisin duit.”
Dimas yang tersinggung karena Magnolia
memilih berjualan daripada belajar tanpa
sadar melayangkan pukulan ke bahu adiknya
sehingga Magnolia nyaris tersungkur dari
kursi. Tapi, belum puas sampai di situ, Dimas
kembali melayangkan pukulan ke pipi adiknya
dan nyaris kesetanan jika saja saat itu tidak
dilihat Malik yang sebenarnya hendak
mengajak Dimas berangkat les bersama.
“Pukul aja gue!” Magnolia berteriak lantang,
“Lo pikir sekolah nggak bayar? Lo pikir baju
seragam nggak beli? Untung gue nggak jual
diri buat bayarin semua kemauan lo asal gue
sekolah. Lo malu lihat gue jualan lap? Selama
ini adek lo makan dari situ, nggak ngemis dari
kalian semua.”
Magnolia bangkit dan mendorong tubuh
Dimas agar menjauh darinya. Air matanya
__ADS_1
sudah tumpah dan basah. Matanya semerah
darah, tapi tidak ada yang lebih sakit daripada
ucapan Dimas yang paling dia sayangi.
“Lo berani mukul gue. Lo tahu gue demam tapi
lo lebih mikirin gue mesti sekolah dan jawab
soal UN sialan itu.”
Dimas memandangi tangannya sendiri. Dia
terlalu terkejut telah melakukan hal tersebut.
Tangan Malik telah menahan bahunya dan
dengan mata merah dia menyaksikan
Magnolia terisak-isak di hadapannya.
“Dek, maafin gue.”
“Lo satu hari bakal punya anak, Mas. anak
perempuan. Jangan sampe lo pukul anak lo
kayak lo pukul gue. Sakit banget. Sakit karena
lo nganggap gue orang yang bikin kalian malu.”
Magnolia merasa kalau dia masih ingin
menumpahkan segala perasaannya. Akan
tetapi, Kezia yang kembali muncul di depan
pintu seolah menertawakan perseteruannya
dengan Dimas dan wajah Malik yang begitu
mengkhawatirkan Dimas membuatnya
merasa seolah-olah dia memang sendirian di
dunia ini.
“Gue beliin lo mie ayam buat makan. Jangan
nggak dimakan. Itu duit hasil jualan lap gue.”
Magnolia lantas berjalan begitu saja melewati
ketiga orang di hadapannya dan lari keluar
pagar tanpa menoleh lagi. Sementara Kezia
terkikik dari belakang melihat kepergian
saudarinya.
“Bagus, dia minggat. Moga-moga aja nggak
balik lagi.”
“Keke!” Dimas menghardik adiknya dan Kezia
menjulurkan lidah. Dia kemudian memanggil
Malik dengan suara lembut, akan tetapi Malik
sepertinya sudah terlalu fokus kepada Dimas.
“Yaya!” Dimas yang akhirnya sadar mulai
menoleh ke arah sekeliling. Seperti Magnolia,
matanya juga basah dengan air mata. Dia
melihat ke arah Malik yang masih memegangi
bahunya, mencoba membisikkan kata-kata
agar dia lebih sabar lagi.
“Adek gue demam.” Dimas menyeka air mata
dengan punggung tangan, “Dia masih sempat
beliin gue mie ayam.”
Dimas mengusap wajahnya dan nyaris
berteriak karena telah melakukan keslahan
bodoh. Kenapa dia harus menampar dan
memukul Yayanya yang tersayang? Dia terlalu
panik dan marah kepada adik bungsunya itu.
“Bro, mau ke mana?” tanya Malik saat dia
melihat Dimas berlari dengan cepat ke arah
pagar.
“Cari Yaya.”
“Les lo gimana?”
Dimas tidak menjawab. Dia ingat tadi Magnolia
berlari ke arah kanan, menuju jalan raya.
Adiknya bahkan tidak lagi memakai sandal
dan dalam keadaan demam dia berlari
sendirian. Dimas malah tidak tahu apakah
Magnolia sudah makan atau belum.
Langit mendadak gelap dan petir bersaut
dengan gemuruh secara tiba-tiba. Rasanya
tidak mungkin, tapi dalam sekejap, tetes-tetes
hujan mulai jatuh hingga membuat Dimas
memejamkan mata dan memaki dirinya
sendiri.
__ADS_1
Kenapa hujan mesti turun di saat seperti ini?
***