Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian XIII Menjadi anak baru


__ADS_3

Menjadi anak baru setelah berjuang


melakukan segala kewajiban awal masuk


sekolah hampir sendirian, termasuk


membayar ini itu, membeli seragam baru,


sepatu, dan semacamnya, membuat Magnolia


sempat memeluk jas kebanggaan SMA 1


Jakarta Raya sambil menangis tersedu-sedu


begitu dia berada di dalam kamar. Saat itu,


Magnolia duduk masih dengan memakai


mukena dan dia menunjukkan hasil kerja


kerasnya selama satu bulan lebih di depan foto


papa yang tergantung di dinding kayu depan


rak pakaian.


"Papa lihat, Adek dibantu Mamas buat dapetin


jas ini. Kerja kayak nggak kenal waktu. Kena


hujan, panas, sampai Adek sakit. Tapi, seperti


Mamas, akhirnya bisa jadi anak SMANSA juga."


Magnolia menyeka air mata yang jatuh


berderai-derai dengan punggung tangan,


"Mamas baik banget. Tiap akhir pekan bantuin


Yaya jualan. Nggak malu teriak-teriak nawarin


lap sama cabe, padahal dia anak tertua


keluarga Hassan, harusnya malu jadi tukang


jual cabe. Papa, kan, pegawai. Yaya takut


banget bakal ketahuan Mama, tapi Mamas


bilang nggak apa-apa. Malah lebih bagus kalau


Mama tahu."


Dia menarik napas dan menyusut ingus


sebelum bicara lagi dengan terbata-bata,


"Mamas juga minta keringanan sama panitia


buat bayar beberapa kali. Soalnya Yaya anak


yatim dan pakai alasan ada Keke yang juga


masuk SMANSA. Alhamdulillah, dibolehin


sampai tiga kali bayar."


Magnolia tersenyum kembali setelah dia


mengalihkan perhatian pada sebuah bingkai


foto kecil berukuran 5R yang tampaknya


masih baru, di dalamnya terdapat foto dirinya


dan Dimas. Foto tersebut diambil saat


kelulusan Magnolia, hari yang sama dengan

__ADS_1


pengumuman nama-nama siswa yang lulus


seleksi administrasi. Namanya dan Kezia


termasuk di antara para lulusan. Meski begitu,


dia juga tidak bisa menahan haru karena


Dimas menemaninya sejak mengambil surat


kelulusan SMP dan juga melihat pengumuman


di SMANSA JUARA, nama lain SMA Negeri 1


Jakarta Raya. Walau di saat yang sama, meskidari kejauhan, dia bisa melihat mama yang


amat bahagia saat mengambil surat kelulusan


Kezia, bahkan dia tidak ragu memeluk dan


mencium gadis manis bertubuh jangkung


tersebut sebagai luapan atas rasa syukurnya.


Untung saja Dimas mengusap rambutnya dan


membujuk Magnolia untuk makan bakso


sebagai perayaan sehingga sedihnya seketika


menguap entah ke mana. Tapi kejutan tidak


hanya itu saja. Baru saja Magnolia


menyuapkan sebiji bakso ke mulutnya, Malik


ikut duduk di sebelahnya dan memesan bakso


juga seperti Dimas dan dirinya.


“Jangan GR. Lo makan di kantin sekolah dan


Dia tidak GR apalagi baper seperti tuduhan


Malik kepadanya. Dia juga tahu, bocah itu ikut-


ikutan makan bakso karena ada Dimas di


sebelahnya. Karena itu juga, ketika Malik dan


Dimas saling lempar obrolan sementara dia


duduk di antara mereka, Magnolia tidak mau


ambil pusing.


Tapi kemudian dia sadar, Malik begitu


terkenal di seantero sekolah. Setiap pemuda


tampan tersebut lewat, rombongan anak


perempuan bakal tersenyum atau tertawa


terkikik-kikik sembari memanggil namanya


dengan harapan mendapat balasan. Tetapi,


Malik hanya memasang wajah dingin seperti


yang selama ini selalu Magnolia dapat,


sehingga gadis itu akhirnya sadar, anak


tetangga di depan rumah rupanya bersikap


sama kepada hampir semua anak perempuan,


kecuali Kezia, pikirnya. Malik selalu bersikap

__ADS_1


ramah kepada saudara tirinya tersebut.


Secara penampilan, Kezia jauh lebih menarik


dan jauh lebih enak dipandang daripada


dirinya, begitulah menurut pemikiran


Magnolia. Tubuh jangkung dan wajah yang


amat cantik diwarisi Kezia dari mama dan


Magnolia amat setuju. Karena kecantikan


mama yang selalu membuatnya terpesona,


Magnolia pada akhirnya tidak pernah


melawan atau memalas perlakuan ibu tirinya


yang kurang mengenakkan. Priviledge orang


cantik membuat Magnolia pasrah


diperlakukan sedemikian rupa oleh wanitatersebut, termasuk saat tidak diakui lagi jadi


bagian keluarga Hassan.


Mungkin, bagian yang sempat disebutkan oleh


Malik saat mereka berada di perempatan jalan


beberapa waktu lalu adalah Malik menyukai


gadis cantik dan Magnolia, si tukang lap yang


berwajah alakadar, tidak pernah bakal dilirik


olehnya. Satu-satunya keberuntungan yang


dia punya adalah karena Dimas bersahabat


dengan Malik. Selain itu, dia tidak akan pernah


dapat kesempatan membuat Malik sekadar


tersenyum dan mengajaknya mengobrol.


Tapi tidak mengapa. Bisa melihatnya


tersenyum dan tertawa mendengar obrolan


Dimas saja sudah membuat Magnolia lebih


dari beruntung. Dia satu-satunya anak


perempuan yang pernah nongkrong bersama


Malik bahkan sebelum dia resmi menjadi siswi


SMANSA JUARA.


Satu tahun yang tersisa bagi Malik dan Dimas


sebagai siswa sekolah tersebut akan sangat


dimanfaatkan Magnolia untuk membuat Malik


mau mengajaknya berbicara sebagai seorang


anak perempuan, bukan sebagai adik Dimas


dan kalau bisa, meskipun ini tidak masuk akal,


dia bakal membuat si ganteng itu naksir berat


kepadanya.


***

__ADS_1


__ADS_2