
Menjadi anak baru setelah berjuang
melakukan segala kewajiban awal masuk
sekolah hampir sendirian, termasuk
membayar ini itu, membeli seragam baru,
sepatu, dan semacamnya, membuat Magnolia
sempat memeluk jas kebanggaan SMA 1
Jakarta Raya sambil menangis tersedu-sedu
begitu dia berada di dalam kamar. Saat itu,
Magnolia duduk masih dengan memakai
mukena dan dia menunjukkan hasil kerja
kerasnya selama satu bulan lebih di depan foto
papa yang tergantung di dinding kayu depan
rak pakaian.
"Papa lihat, Adek dibantu Mamas buat dapetin
jas ini. Kerja kayak nggak kenal waktu. Kena
hujan, panas, sampai Adek sakit. Tapi, seperti
Mamas, akhirnya bisa jadi anak SMANSA juga."
Magnolia menyeka air mata yang jatuh
berderai-derai dengan punggung tangan,
"Mamas baik banget. Tiap akhir pekan bantuin
Yaya jualan. Nggak malu teriak-teriak nawarin
lap sama cabe, padahal dia anak tertua
keluarga Hassan, harusnya malu jadi tukang
jual cabe. Papa, kan, pegawai. Yaya takut
banget bakal ketahuan Mama, tapi Mamas
bilang nggak apa-apa. Malah lebih bagus kalau
Mama tahu."
Dia menarik napas dan menyusut ingus
sebelum bicara lagi dengan terbata-bata,
"Mamas juga minta keringanan sama panitia
buat bayar beberapa kali. Soalnya Yaya anak
yatim dan pakai alasan ada Keke yang juga
masuk SMANSA. Alhamdulillah, dibolehin
sampai tiga kali bayar."
Magnolia tersenyum kembali setelah dia
mengalihkan perhatian pada sebuah bingkai
foto kecil berukuran 5R yang tampaknya
masih baru, di dalamnya terdapat foto dirinya
dan Dimas. Foto tersebut diambil saat
kelulusan Magnolia, hari yang sama dengan
__ADS_1
pengumuman nama-nama siswa yang lulus
seleksi administrasi. Namanya dan Kezia
termasuk di antara para lulusan. Meski begitu,
dia juga tidak bisa menahan haru karena
Dimas menemaninya sejak mengambil surat
kelulusan SMP dan juga melihat pengumuman
di SMANSA JUARA, nama lain SMA Negeri 1
Jakarta Raya. Walau di saat yang sama, meskidari kejauhan, dia bisa melihat mama yang
amat bahagia saat mengambil surat kelulusan
Kezia, bahkan dia tidak ragu memeluk dan
mencium gadis manis bertubuh jangkung
tersebut sebagai luapan atas rasa syukurnya.
Untung saja Dimas mengusap rambutnya dan
membujuk Magnolia untuk makan bakso
sebagai perayaan sehingga sedihnya seketika
menguap entah ke mana. Tapi kejutan tidak
hanya itu saja. Baru saja Magnolia
menyuapkan sebiji bakso ke mulutnya, Malik
ikut duduk di sebelahnya dan memesan bakso
juga seperti Dimas dan dirinya.
“Jangan GR. Lo makan di kantin sekolah dan
Dia tidak GR apalagi baper seperti tuduhan
Malik kepadanya. Dia juga tahu, bocah itu ikut-
ikutan makan bakso karena ada Dimas di
sebelahnya. Karena itu juga, ketika Malik dan
Dimas saling lempar obrolan sementara dia
duduk di antara mereka, Magnolia tidak mau
ambil pusing.
Tapi kemudian dia sadar, Malik begitu
terkenal di seantero sekolah. Setiap pemuda
tampan tersebut lewat, rombongan anak
perempuan bakal tersenyum atau tertawa
terkikik-kikik sembari memanggil namanya
dengan harapan mendapat balasan. Tetapi,
Malik hanya memasang wajah dingin seperti
yang selama ini selalu Magnolia dapat,
sehingga gadis itu akhirnya sadar, anak
tetangga di depan rumah rupanya bersikap
sama kepada hampir semua anak perempuan,
kecuali Kezia, pikirnya. Malik selalu bersikap
__ADS_1
ramah kepada saudara tirinya tersebut.
Secara penampilan, Kezia jauh lebih menarik
dan jauh lebih enak dipandang daripada
dirinya, begitulah menurut pemikiran
Magnolia. Tubuh jangkung dan wajah yang
amat cantik diwarisi Kezia dari mama dan
Magnolia amat setuju. Karena kecantikan
mama yang selalu membuatnya terpesona,
Magnolia pada akhirnya tidak pernah
melawan atau memalas perlakuan ibu tirinya
yang kurang mengenakkan. Priviledge orang
cantik membuat Magnolia pasrah
diperlakukan sedemikian rupa oleh wanitatersebut, termasuk saat tidak diakui lagi jadi
bagian keluarga Hassan.
Mungkin, bagian yang sempat disebutkan oleh
Malik saat mereka berada di perempatan jalan
beberapa waktu lalu adalah Malik menyukai
gadis cantik dan Magnolia, si tukang lap yang
berwajah alakadar, tidak pernah bakal dilirik
olehnya. Satu-satunya keberuntungan yang
dia punya adalah karena Dimas bersahabat
dengan Malik. Selain itu, dia tidak akan pernah
dapat kesempatan membuat Malik sekadar
tersenyum dan mengajaknya mengobrol.
Tapi tidak mengapa. Bisa melihatnya
tersenyum dan tertawa mendengar obrolan
Dimas saja sudah membuat Magnolia lebih
dari beruntung. Dia satu-satunya anak
perempuan yang pernah nongkrong bersama
Malik bahkan sebelum dia resmi menjadi siswi
SMANSA JUARA.
Satu tahun yang tersisa bagi Malik dan Dimas
sebagai siswa sekolah tersebut akan sangat
dimanfaatkan Magnolia untuk membuat Malik
mau mengajaknya berbicara sebagai seorang
anak perempuan, bukan sebagai adik Dimas
dan kalau bisa, meskipun ini tidak masuk akal,
dia bakal membuat si ganteng itu naksir berat
kepadanya.
***
__ADS_1