Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian XI Setiba di parkiran, Dimas yang cemas kepada Magnolia


__ADS_3

Setiba di parkiran, Dimas yang cemas kepada Magnolia Berbicara “Sanggup naik sepeda?”


Magnolia yang memperhatikan abangnya


sedang meletakkan bungkusan kain lap ke


keranjang sepeda lantas mengangguk.


“Kuat. Gue nggak sakit, kok.”


Dimas menghela napas melihat adiknya yang


bersikap keras kepala seperti itu. Ditolehnya


Malik yang ternyata masih berdiri di depan


sepeda motornya, sedang memperhatikan


kakak beradik tersebut. Kantong belanjaan


pesanan Laura Hasjim sudah tergantung di


bagian leher motor dan dia sebenarnya ingin


meminta bantuan Malik. Tapi, melihat


hubungan Magnolia dan sahabatnya tidak


sebaik sikap Malik kepada Kezia, Dimas lalu


kembali menarik stang sepeda yang tadinya


tersampir di batang kersen supaya lebih dekat


ke arah Magnolia yang saat ini berdiri seperti


orang menggigil kedinginan.


“Naik angkot aja, ya? Gue yang bawa sepeda


pulang.”


Magnolia menggeleng. Bibirnya sudah sedikit


lebih berwarna dibanding saat pertama kali


Dimas melihatnya tadi.


“Nggak mau. Masih jalan juga nanti pas turun.


Sayang duitnya.”


Dimas lagi-lagi berusaha menahan ngilu


sewaktu Magnolia menyebutkan tentang uang.


Salahnya yang terlalu keras kepala sehingga


adiknya mesti berjuang sekuat tenaga untuk


bisa terus bertahan hidup.


“Ikut sini aja.” suara Malik menghentikan


perdebatan mereka berdua. Bocah tampan


tersebut sudah memakai helm. Tapi, dia


melepaskan jaketnya dan menyuruh Dimas


untuk memakaikannya kepada Magnolia.


“Nggak usah, “Magnolia mendorong tangan


abangnya, “badan gue bau balsem, Mas. Gue


nggak mau ngotorin jaket Abang. Gue nggak


mau naik motornya.”


“Daripada lo pingsan di sini, cepet naik. Bunda


mau masak.” balas Malik dengan nada kesal


sehingga Magnolia yang masih menggeleng


kepada Dimas, tidak bisa menolak sewaktu


abangnya sendiri yang memasangkan jaket ke


tubuh adiknya.


“Pulang bareng Malik, ya. Lebih cepat sampai


rumah. Gue juga mau balik lagi ke pasar, lupa


beli Tolak Angin buat lo.”


Magnolia melirik takut-takut kepada Malik


yang sudah duduk di atas motor dan tengah


memegang stang. Di tangannya terdapat


sebuah helm tambahan milik Dimas yang telah


dia angsurkan kepada sahabatnya untuk


dipakaikan ke kepala Magnolia. Meski begitu,


dalam bisikan, Magnolia mengeluh kalau dia


sebaiknya naik sepeda daripada ikut Malik.


“Dia, kan, nggak suka Yaya. Nanti bukannya


sampe rumah, malah di antar ke alam baka.”


“Astaghfirullah, dia nggak sejahat itu. Nurut


Mamas. Nanti pulang gue masakin air panas.


Lo mau makan apa? Sate? Bubur?”


Magnolia menggeleng. Nafsu makannya telah


menguap entah ke mana. Tapi, saat Dimas


mengatakan ingin membeli makanan, dia


dengan serta merta merogoh saku jaketnya.


“Nggak usah.” balas Dimas dengan menahan


rasa pilu karena adiknya menyerahkan


beberapa lembar uang ribuan kepadanya.


“Gue ada duit buat beli makanan sama Tolak


Angin. Kan, gue masih punya gaji dari ngajar


privat si Inggit yang kemarin. Inget, kan?


Magnolia tidak menjawab dan memilih


melayangkan pandangan khawatir kepada


Dimas seolah-olah bila dia membelanjakan


uang tersebut, maka uangnya akan cepat


habis. Sementara dirinya, kan, berjualan setiap


hari. Walau untungnya tidak terlalu banyak,


Magnolia bisa berbelanja kebutuhan sehari-

__ADS_1


hari. Seperti hari ini, sepulang UN tambahan,


dia punya banyak waktu untuk menjajakan


lap. Jika saja Mak Surti tidak memergokinya


sedang muntah, dia masih bisa melanjutkan


berjualan. Bukannya malah dikerok habis-


habisan dan disuruh pulang seperti yang


sedang terjadi saat ini.


“Nah, helmnya sudah dipakai. Sekarang ikut


Malik.” suruh Dimas setelah dia memastikan


Magnolia terlindungi dengan baik. Naik motor


atau naik sepeda sudah pasti akan membuat


kondisi badan Magnolia menjadi makin lemah.


Untunglah dia punya sahabat yang amat baik


dan pengertian sehingga mau membantu


menolong adik bungsu yang amat dia sayangi


itu.


“Pegang perut Bang Malik.” perintah Dimas


yang mana langsung dituruti oleh Magnolia.


Tidak setiap saat Malik menjadi sebaik itu


apalagi dengan sukarela mengajaknya pulang


bersama.


Setelah memastikan adiknya sudah duduk


dengan nyaman, Dimas kemudian


mempersilahkan Malik untuk lebih dulu


pulang sementara dia sendiri akan berbelanja


dulu ke toko kelontong.


Malik yang sudah keluar dari pasar melirik


Magnolia yang memejamkan mata beberapa


kali tidak lama setelah mereka keluar dari


pelataran parkir pasar. Gadis muda tersebut


tidak tahu bahwa pada saat yang sama Malik


sedang memperhatikannya. Sesekali Magnolia


menempelkan kepalanya ke punggung Malik


yang saat itu hanya memakai seragam sekolah.


Saat sadar dengan apa yang dia lakukan,


Magnolia kemudian dengan cepat mengangkat


kepalanya yang tertutup helm, begitu terus


hingga beberapa kali.


Di perempatan lampu merah, Malik yang


sempat berhenti kemudian menarik tangan


tidak mau memeluk pinggangnya. Gara-gara


itu juga dia merasa gadis tersebut bakal jatuh


dan saat berhenti di lampu merah seperti ini


menjadi kesempatan buat Malik untuk


memegangi tangan Magnolia supaya dia tetap


berada di posisinya.


“Nggak usah pegang. Tangan gue kotor.” bisik


Magnolia lirih. Dia berusaha menarik


tangannya tapi gagal. Magnolia sadar Malik


melakukannya demi Dimas, tapi bila


didiamkan, jantungnya seolah akan meledak.


Dia malu diperlakukan seperti ini. Bukan apa-


apa, dalam kondisi sehat, dia bakal sukarela


memeluk Malik jika diizinkan. Tetapi saat ini


kondisinya berbanding terbalik dan dia


merasa si ganteng anak Bude Laura tersebut


terpaksa melakukannya.


“Lo masih nekat jualan. Bukannya minggu


kemarin sudah disuruh istirahat.” ujar Malik


sambil memperhatikan wajah Magnolia dari


spion. Magnolia yang berharap kalau mata


bocah itu rabun, hanya membalas pendek,


“Gue mesti ngumpulin duit buat masuk


SMANSA. Terakhir gue dengar dari Keke yang


ngobrol sama Mama, mereka minta sekitar


enam atau tujuh juta. Belum termasuk duit


buku. Itu nggak tahu duit pendaftaran doang


atau juga duit bangunan.”


Magnolia merasa tenggorokannya ngilu


karena lagi-lagi mulutnya yang bocor bicara


tanpa ragu kepada Malik yang diam sembari


memegangi tangan kanannya di perut pemuda


tersebut.


“Habis UN, kan, gue udah libur. Pendaftaran


masih beberapa minggu lagi. Gue juga dengar


dari Keke, kalau daftar dulu nggak terlalu


mahal. Bayar dua ratus kalau nggak salah.


Nanti ada ujian masuk dan kalau lulus


diumumin lagi.”

__ADS_1


Magnolia diam sejenak dan memilih untuk


melihat ke arah sekelilingnya saat ini.


Beberapa mobil dan motor ikut berhenti di


samping kanan dan kiri mereka. Dia lalu


merasa sadar diri bahwa saat ini Malik tengah


memegangi tangannya dan dia bakal dikira


sebagai gadis genit karena berpegangan


tangan dengan anak SMA sementara dirinya


sendiri masih memakai rok SMP. Benar-benar


suatu perbuatan yang tidak bisa dibenarkan.


“Abang, nggak usah pegang tangan gue. Malu


dilihat orang.” bisik Magnolia dengan suara


tertahan.


“Biasanya ada beasiswa untuk anak baru.”


Malik bicara dengan nada lembut


mengabaikan bahwa pada saat ini, Magnolia


sedang menarik tangannya agar dilepaskan.


“Gue nggak pintar.” Magnolia meringis malu.


Dia memang naksir Malik. Tapi dipegang


langsung seperti ini oleh orang yang dia taksir


membuat bulu kuduknya merinding.


“Bukannya pernah menang lomba? Olahraga,


kan? Beberapa kali menang voli, basket, lari,


sama baca puisi, betul?”


Sejak kapan Malik tahu dia pernah


memenangkan lomba tersebut? Dimas jelas


tahu karena dia selalu bercerita kepada


abangnya. Tapi, ngomong-ngomong setiap dia


memenangkan perlombaan selalu diumumkan


saat selesai upacara bendera, setiap hari Senin


pagi. Tapi, kebanyakan lomba berbasis


olahraga dia menangkan bersama tim, bukan


secara individual.


“Nggak guna menang-menang gitu.” Magnolia


meringis, “Orang gue sengaja ikut biar nggak


disuruh belajar sama biar dapet duit.”


Magnolia menutup bibirnya. Lagi-lagi dia


keceplosan bercerita tentang motivasi


mengikuti berbagai perlombaan. Tapi,


percuma saja menutupi, Malik sudah tahu


semua tentang kejelekannya. Toh, selama ini


Magnolia sadar diri kenapa dia selalu dijauhi


pemuda itu.


“Bisa masuk SMANSA jalur prestasi, lho.


Olahraga juga salah satu bidang yang


diperhitungkan.”


Malik melirik Magnolia yang sempat


menggeleng dari belakang. Seperti beberapa


waktu lalu, dia yakin, rasa rendah diri mulai


merasuki diri adik sahabatnya itu. Padahal


tadi Malik tidak salah dengar, Magnolia sendiri


bertekad masuk ke sekolah paling ngetop se-


ibukota tersebut.


“Kalau gue masuk SMANSA, ntar lo marah, lagi.


Bilang gue ikut-ikut masuk ke sana, karena


naksir lo, iya, kan?”


Malik tertawa. Magnolia bahkan belum pernah


melihat Malik seperti itu sebelumnya. Bahkan


tawanya tidak juga hilang saat lampu merah


berubah menjadi hijau. Membuat Magnolia


merasa dia kembali punya semangat untuk


melanjutkan hidup, walau sumpah, biaya


masuk SMANSA membuatnya pusing tujuh


keliling.


“Gue nggak suka cewek bodoh. Itu doang.”


Hah? Apa katanya? Telinga Magnolia terhalang


helm dan saat lampu berubah hijau, suara deru


mobil dan motor membuatnya seperti orang


tuli. Ketika Magnolia menggoyangkan bahu


kanan Malik agar dia mau mengulang kata-


katanya barusan, bocah tersebut berubah lagi


menjadi dirinya yang sok dingin dan tidak mau


membalas kata-kata Magnolia lagi.


“Ulang, Bang! Yaya nggak dengar tadi.”


Malik menggeleng. Wajah Magnolia sudah


berubah merah dan dia yakin, tidak lama lagi,


bocah tetangga centilnya itu bakal segera


sembuh.


***

__ADS_1


__ADS_2