
Setiba di parkiran, Dimas yang cemas kepada Magnolia Berbicara “Sanggup naik sepeda?”
Magnolia yang memperhatikan abangnya
sedang meletakkan bungkusan kain lap ke
keranjang sepeda lantas mengangguk.
“Kuat. Gue nggak sakit, kok.”
Dimas menghela napas melihat adiknya yang
bersikap keras kepala seperti itu. Ditolehnya
Malik yang ternyata masih berdiri di depan
sepeda motornya, sedang memperhatikan
kakak beradik tersebut. Kantong belanjaan
pesanan Laura Hasjim sudah tergantung di
bagian leher motor dan dia sebenarnya ingin
meminta bantuan Malik. Tapi, melihat
hubungan Magnolia dan sahabatnya tidak
sebaik sikap Malik kepada Kezia, Dimas lalu
kembali menarik stang sepeda yang tadinya
tersampir di batang kersen supaya lebih dekat
ke arah Magnolia yang saat ini berdiri seperti
orang menggigil kedinginan.
“Naik angkot aja, ya? Gue yang bawa sepeda
pulang.”
Magnolia menggeleng. Bibirnya sudah sedikit
lebih berwarna dibanding saat pertama kali
Dimas melihatnya tadi.
“Nggak mau. Masih jalan juga nanti pas turun.
Sayang duitnya.”
Dimas lagi-lagi berusaha menahan ngilu
sewaktu Magnolia menyebutkan tentang uang.
Salahnya yang terlalu keras kepala sehingga
adiknya mesti berjuang sekuat tenaga untuk
bisa terus bertahan hidup.
“Ikut sini aja.” suara Malik menghentikan
perdebatan mereka berdua. Bocah tampan
tersebut sudah memakai helm. Tapi, dia
melepaskan jaketnya dan menyuruh Dimas
untuk memakaikannya kepada Magnolia.
“Nggak usah, “Magnolia mendorong tangan
abangnya, “badan gue bau balsem, Mas. Gue
nggak mau ngotorin jaket Abang. Gue nggak
mau naik motornya.”
“Daripada lo pingsan di sini, cepet naik. Bunda
mau masak.” balas Malik dengan nada kesal
sehingga Magnolia yang masih menggeleng
kepada Dimas, tidak bisa menolak sewaktu
abangnya sendiri yang memasangkan jaket ke
tubuh adiknya.
“Pulang bareng Malik, ya. Lebih cepat sampai
rumah. Gue juga mau balik lagi ke pasar, lupa
beli Tolak Angin buat lo.”
Magnolia melirik takut-takut kepada Malik
yang sudah duduk di atas motor dan tengah
memegang stang. Di tangannya terdapat
sebuah helm tambahan milik Dimas yang telah
dia angsurkan kepada sahabatnya untuk
dipakaikan ke kepala Magnolia. Meski begitu,
dalam bisikan, Magnolia mengeluh kalau dia
sebaiknya naik sepeda daripada ikut Malik.
“Dia, kan, nggak suka Yaya. Nanti bukannya
sampe rumah, malah di antar ke alam baka.”
“Astaghfirullah, dia nggak sejahat itu. Nurut
Mamas. Nanti pulang gue masakin air panas.
Lo mau makan apa? Sate? Bubur?”
Magnolia menggeleng. Nafsu makannya telah
menguap entah ke mana. Tapi, saat Dimas
mengatakan ingin membeli makanan, dia
dengan serta merta merogoh saku jaketnya.
“Nggak usah.” balas Dimas dengan menahan
rasa pilu karena adiknya menyerahkan
beberapa lembar uang ribuan kepadanya.
“Gue ada duit buat beli makanan sama Tolak
Angin. Kan, gue masih punya gaji dari ngajar
privat si Inggit yang kemarin. Inget, kan?
Magnolia tidak menjawab dan memilih
melayangkan pandangan khawatir kepada
Dimas seolah-olah bila dia membelanjakan
uang tersebut, maka uangnya akan cepat
habis. Sementara dirinya, kan, berjualan setiap
hari. Walau untungnya tidak terlalu banyak,
Magnolia bisa berbelanja kebutuhan sehari-
__ADS_1
hari. Seperti hari ini, sepulang UN tambahan,
dia punya banyak waktu untuk menjajakan
lap. Jika saja Mak Surti tidak memergokinya
sedang muntah, dia masih bisa melanjutkan
berjualan. Bukannya malah dikerok habis-
habisan dan disuruh pulang seperti yang
sedang terjadi saat ini.
“Nah, helmnya sudah dipakai. Sekarang ikut
Malik.” suruh Dimas setelah dia memastikan
Magnolia terlindungi dengan baik. Naik motor
atau naik sepeda sudah pasti akan membuat
kondisi badan Magnolia menjadi makin lemah.
Untunglah dia punya sahabat yang amat baik
dan pengertian sehingga mau membantu
menolong adik bungsu yang amat dia sayangi
itu.
“Pegang perut Bang Malik.” perintah Dimas
yang mana langsung dituruti oleh Magnolia.
Tidak setiap saat Malik menjadi sebaik itu
apalagi dengan sukarela mengajaknya pulang
bersama.
Setelah memastikan adiknya sudah duduk
dengan nyaman, Dimas kemudian
mempersilahkan Malik untuk lebih dulu
pulang sementara dia sendiri akan berbelanja
dulu ke toko kelontong.
Malik yang sudah keluar dari pasar melirik
Magnolia yang memejamkan mata beberapa
kali tidak lama setelah mereka keluar dari
pelataran parkir pasar. Gadis muda tersebut
tidak tahu bahwa pada saat yang sama Malik
sedang memperhatikannya. Sesekali Magnolia
menempelkan kepalanya ke punggung Malik
yang saat itu hanya memakai seragam sekolah.
Saat sadar dengan apa yang dia lakukan,
Magnolia kemudian dengan cepat mengangkat
kepalanya yang tertutup helm, begitu terus
hingga beberapa kali.
Di perempatan lampu merah, Malik yang
sempat berhenti kemudian menarik tangan
tidak mau memeluk pinggangnya. Gara-gara
itu juga dia merasa gadis tersebut bakal jatuh
dan saat berhenti di lampu merah seperti ini
menjadi kesempatan buat Malik untuk
memegangi tangan Magnolia supaya dia tetap
berada di posisinya.
“Nggak usah pegang. Tangan gue kotor.” bisik
Magnolia lirih. Dia berusaha menarik
tangannya tapi gagal. Magnolia sadar Malik
melakukannya demi Dimas, tapi bila
didiamkan, jantungnya seolah akan meledak.
Dia malu diperlakukan seperti ini. Bukan apa-
apa, dalam kondisi sehat, dia bakal sukarela
memeluk Malik jika diizinkan. Tetapi saat ini
kondisinya berbanding terbalik dan dia
merasa si ganteng anak Bude Laura tersebut
terpaksa melakukannya.
“Lo masih nekat jualan. Bukannya minggu
kemarin sudah disuruh istirahat.” ujar Malik
sambil memperhatikan wajah Magnolia dari
spion. Magnolia yang berharap kalau mata
bocah itu rabun, hanya membalas pendek,
“Gue mesti ngumpulin duit buat masuk
SMANSA. Terakhir gue dengar dari Keke yang
ngobrol sama Mama, mereka minta sekitar
enam atau tujuh juta. Belum termasuk duit
buku. Itu nggak tahu duit pendaftaran doang
atau juga duit bangunan.”
Magnolia merasa tenggorokannya ngilu
karena lagi-lagi mulutnya yang bocor bicara
tanpa ragu kepada Malik yang diam sembari
memegangi tangan kanannya di perut pemuda
tersebut.
“Habis UN, kan, gue udah libur. Pendaftaran
masih beberapa minggu lagi. Gue juga dengar
dari Keke, kalau daftar dulu nggak terlalu
mahal. Bayar dua ratus kalau nggak salah.
Nanti ada ujian masuk dan kalau lulus
diumumin lagi.”
__ADS_1
Magnolia diam sejenak dan memilih untuk
melihat ke arah sekelilingnya saat ini.
Beberapa mobil dan motor ikut berhenti di
samping kanan dan kiri mereka. Dia lalu
merasa sadar diri bahwa saat ini Malik tengah
memegangi tangannya dan dia bakal dikira
sebagai gadis genit karena berpegangan
tangan dengan anak SMA sementara dirinya
sendiri masih memakai rok SMP. Benar-benar
suatu perbuatan yang tidak bisa dibenarkan.
“Abang, nggak usah pegang tangan gue. Malu
dilihat orang.” bisik Magnolia dengan suara
tertahan.
“Biasanya ada beasiswa untuk anak baru.”
Malik bicara dengan nada lembut
mengabaikan bahwa pada saat ini, Magnolia
sedang menarik tangannya agar dilepaskan.
“Gue nggak pintar.” Magnolia meringis malu.
Dia memang naksir Malik. Tapi dipegang
langsung seperti ini oleh orang yang dia taksir
membuat bulu kuduknya merinding.
“Bukannya pernah menang lomba? Olahraga,
kan? Beberapa kali menang voli, basket, lari,
sama baca puisi, betul?”
Sejak kapan Malik tahu dia pernah
memenangkan lomba tersebut? Dimas jelas
tahu karena dia selalu bercerita kepada
abangnya. Tapi, ngomong-ngomong setiap dia
memenangkan perlombaan selalu diumumkan
saat selesai upacara bendera, setiap hari Senin
pagi. Tapi, kebanyakan lomba berbasis
olahraga dia menangkan bersama tim, bukan
secara individual.
“Nggak guna menang-menang gitu.” Magnolia
meringis, “Orang gue sengaja ikut biar nggak
disuruh belajar sama biar dapet duit.”
Magnolia menutup bibirnya. Lagi-lagi dia
keceplosan bercerita tentang motivasi
mengikuti berbagai perlombaan. Tapi,
percuma saja menutupi, Malik sudah tahu
semua tentang kejelekannya. Toh, selama ini
Magnolia sadar diri kenapa dia selalu dijauhi
pemuda itu.
“Bisa masuk SMANSA jalur prestasi, lho.
Olahraga juga salah satu bidang yang
diperhitungkan.”
Malik melirik Magnolia yang sempat
menggeleng dari belakang. Seperti beberapa
waktu lalu, dia yakin, rasa rendah diri mulai
merasuki diri adik sahabatnya itu. Padahal
tadi Malik tidak salah dengar, Magnolia sendiri
bertekad masuk ke sekolah paling ngetop se-
ibukota tersebut.
“Kalau gue masuk SMANSA, ntar lo marah, lagi.
Bilang gue ikut-ikut masuk ke sana, karena
naksir lo, iya, kan?”
Malik tertawa. Magnolia bahkan belum pernah
melihat Malik seperti itu sebelumnya. Bahkan
tawanya tidak juga hilang saat lampu merah
berubah menjadi hijau. Membuat Magnolia
merasa dia kembali punya semangat untuk
melanjutkan hidup, walau sumpah, biaya
masuk SMANSA membuatnya pusing tujuh
keliling.
“Gue nggak suka cewek bodoh. Itu doang.”
Hah? Apa katanya? Telinga Magnolia terhalang
helm dan saat lampu berubah hijau, suara deru
mobil dan motor membuatnya seperti orang
tuli. Ketika Magnolia menggoyangkan bahu
kanan Malik agar dia mau mengulang kata-
katanya barusan, bocah tersebut berubah lagi
menjadi dirinya yang sok dingin dan tidak mau
membalas kata-kata Magnolia lagi.
“Ulang, Bang! Yaya nggak dengar tadi.”
Malik menggeleng. Wajah Magnolia sudah
berubah merah dan dia yakin, tidak lama lagi,
bocah tetangga centilnya itu bakal segera
sembuh.
***
__ADS_1