Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian XII Masa-masa setelah Ujian Nasional


__ADS_3

Masa-masa setelah Ujian Nasional ternyata


merupakan masa-masa yang amat disenangi


oleh Magnolia Rayya Hassan. Alasannya


karena dia tidak perlu datang ke sekolah.


Pembelajaran untuk anak kelas sembilan telah


selesai seiring dengan selesainya Ujian


Sekolah. Kelas Magnolia juga telah selesai


mengadakan Ujian Sekolah dan ujian praktik


sehingga yang saat ini dilakukan oleh mereka


adalah menunggu pengumuman kelulusan


yang biasanya berlangsung di bulan


berikutnya.


Magnolia juga semakin rajin bangun sebelum


matahari muncul. Dia sudah mandi dan salat


subuh sebelum mama sempat membuka pintu


rumah. Setelahnya, dengan mengendarai


sepeda, dia berangkat pagi-pagi sekali menuju


pasar.


Setelah pulih dari sakitnya yang ternyata


berlangsung amat cepat berkat senyuman dari


Malik Galih Kencana, Magnolia berjualan


dengan semangat meluap-luap. Tidak sampai


satu minggu, dia sudah memberanikan diri


bicara dengan Beni dan ingin diajari berjualan


cabai. Beni yang saat itu memang sedang


butuh bantuan seorang asisten, pada akhirnya


memita Magnolia untuk menjaga lapak


cabainya di los yang berbeda dengan los


tempat Beni berjualan. Sambil disambi dengan


berjualan lap yang kini tinggal dia letakkan di

__ADS_1


sebelah gunungan cabai, Magnolia merasa


menyesal tidak melakukan hal ini sejak awal.


“Hah? Ikut? Otak lo beres?” balas Magnolia


ketika pada hari Jumat malam, Dimas meminta


untuk ikut berjualan dengannya. Magnolia


yang tidak menyangka Dimas bisa senekat itu,


kemudian menggeleng tanda dia tidak


mengizinkan abangnya ikut melakukan


rutinitas hariannya.


“Jualan itu capek. Gue mesti bangun pas kalian


masih enak-enak mimpi terus mesti genjot


sepeda ke pasar waktu hari masih gelap.


Sampai di pasar, gue mesti nunggu kiriman


barang dari Bang Beni terus gue bawa ke los


tempat gue jualan. Itu juga belum kelar sampai


di situ. Gue mesti buka karungnya, hamparin


ke terpal, nyiapin kantong, timbangan. Belum


makan.”


Baru mendengar cerita Magnolia saja Dimas


sudah bisa membayangkan betapa berat


beban yang ditanggung oleh adiknya. Hal itu


juga makin menguatkan tekad Dimas untuk


ikut menemani Magnolia berjualan.


“Mumpung tanggal merah. Nggak setiap saat


gue libur Sabtu Minggu. Sekali-sekali pengen


nemenin lo jualan.”


Saat itu Magnolia baru kembali dari terminal


usai berjualan kopi panas. Dimas yang


sebelumnya sedang belajar di rumah Malik


langsung meloncat dari kursi demi

__ADS_1


menyambut adik bungsunya tersebut.


“Nggak usah. Manfaatin Sabtu sama Minggu lo


buat bantu Mama beresin rumah. Jualan itu


capek. Kalau ada pekerjaan lain, gue nggak


mau jualan. Tapi, karena gue butuh duit buat


masuk SMANSA, gue mesti kerja lebih giat


lagi.”


Setelah beberapa hari, Magnolia akhirnya


tertarik untuk mendaftar di SMA Negeri 1


Jakarta Raya lewat jalur prestasi dan Dimas


yang mengumpulkan semua piagam


penghargaan yang adiknya peroleh selama ini.


Setelah itu, Dimas sendiri yang mendaftarkan


Magnolia karena dia tahu mama tidak akan


melakukannya dan Magnolia yang terlalu


sibuk tidak akan sempat datang. Dia baru akan


menyuruh adiknya datang bila pihak SMA


Negeri 1 menyuruh calon peserta didik baru


hadir.


“Nggak, Dek. gue malah kepingin banget ikut


lo.”


Magnolia menguap. Saat itu sudah pukul


sepuluh lewat. Seluruh badannya letih dan dia


tidak bersemangat meladeni Dimas.


“Lo belajar aja. Jadi dokter. Jangan jadi tukang


lap kayak gue.”


Magnolia memarkirkan sepeda dekat kamar


lalu berjalan menuju kamar mandi di bagian


belakang rumah. Penat dan letih yang kini


terasa meremukkan tubuhnya bakal segeraterganti saat dia mengguyur tubuhnya dengan

__ADS_1


air dingin yang menyegarkan.


***


__ADS_2