
Masa-masa setelah Ujian Nasional ternyata
merupakan masa-masa yang amat disenangi
oleh Magnolia Rayya Hassan. Alasannya
karena dia tidak perlu datang ke sekolah.
Pembelajaran untuk anak kelas sembilan telah
selesai seiring dengan selesainya Ujian
Sekolah. Kelas Magnolia juga telah selesai
mengadakan Ujian Sekolah dan ujian praktik
sehingga yang saat ini dilakukan oleh mereka
adalah menunggu pengumuman kelulusan
yang biasanya berlangsung di bulan
berikutnya.
Magnolia juga semakin rajin bangun sebelum
matahari muncul. Dia sudah mandi dan salat
subuh sebelum mama sempat membuka pintu
rumah. Setelahnya, dengan mengendarai
sepeda, dia berangkat pagi-pagi sekali menuju
pasar.
Setelah pulih dari sakitnya yang ternyata
berlangsung amat cepat berkat senyuman dari
Malik Galih Kencana, Magnolia berjualan
dengan semangat meluap-luap. Tidak sampai
satu minggu, dia sudah memberanikan diri
bicara dengan Beni dan ingin diajari berjualan
cabai. Beni yang saat itu memang sedang
butuh bantuan seorang asisten, pada akhirnya
memita Magnolia untuk menjaga lapak
cabainya di los yang berbeda dengan los
tempat Beni berjualan. Sambil disambi dengan
berjualan lap yang kini tinggal dia letakkan di
__ADS_1
sebelah gunungan cabai, Magnolia merasa
menyesal tidak melakukan hal ini sejak awal.
“Hah? Ikut? Otak lo beres?” balas Magnolia
ketika pada hari Jumat malam, Dimas meminta
untuk ikut berjualan dengannya. Magnolia
yang tidak menyangka Dimas bisa senekat itu,
kemudian menggeleng tanda dia tidak
mengizinkan abangnya ikut melakukan
rutinitas hariannya.
“Jualan itu capek. Gue mesti bangun pas kalian
masih enak-enak mimpi terus mesti genjot
sepeda ke pasar waktu hari masih gelap.
Sampai di pasar, gue mesti nunggu kiriman
barang dari Bang Beni terus gue bawa ke los
tempat gue jualan. Itu juga belum kelar sampai
di situ. Gue mesti buka karungnya, hamparin
ke terpal, nyiapin kantong, timbangan. Belum
makan.”
Baru mendengar cerita Magnolia saja Dimas
sudah bisa membayangkan betapa berat
beban yang ditanggung oleh adiknya. Hal itu
juga makin menguatkan tekad Dimas untuk
ikut menemani Magnolia berjualan.
“Mumpung tanggal merah. Nggak setiap saat
gue libur Sabtu Minggu. Sekali-sekali pengen
nemenin lo jualan.”
Saat itu Magnolia baru kembali dari terminal
usai berjualan kopi panas. Dimas yang
sebelumnya sedang belajar di rumah Malik
langsung meloncat dari kursi demi
__ADS_1
menyambut adik bungsunya tersebut.
“Nggak usah. Manfaatin Sabtu sama Minggu lo
buat bantu Mama beresin rumah. Jualan itu
capek. Kalau ada pekerjaan lain, gue nggak
mau jualan. Tapi, karena gue butuh duit buat
masuk SMANSA, gue mesti kerja lebih giat
lagi.”
Setelah beberapa hari, Magnolia akhirnya
tertarik untuk mendaftar di SMA Negeri 1
Jakarta Raya lewat jalur prestasi dan Dimas
yang mengumpulkan semua piagam
penghargaan yang adiknya peroleh selama ini.
Setelah itu, Dimas sendiri yang mendaftarkan
Magnolia karena dia tahu mama tidak akan
melakukannya dan Magnolia yang terlalu
sibuk tidak akan sempat datang. Dia baru akan
menyuruh adiknya datang bila pihak SMA
Negeri 1 menyuruh calon peserta didik baru
hadir.
“Nggak, Dek. gue malah kepingin banget ikut
lo.”
Magnolia menguap. Saat itu sudah pukul
sepuluh lewat. Seluruh badannya letih dan dia
tidak bersemangat meladeni Dimas.
“Lo belajar aja. Jadi dokter. Jangan jadi tukang
lap kayak gue.”
Magnolia memarkirkan sepeda dekat kamar
lalu berjalan menuju kamar mandi di bagian
belakang rumah. Penat dan letih yang kini
terasa meremukkan tubuhnya bakal segeraterganti saat dia mengguyur tubuhnya dengan
__ADS_1
air dingin yang menyegarkan.
***