Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian X Sekitar pukul empat sore


__ADS_3

Sekitar pukul empat sore, Dimas yang baru


kembali dari tempat les meminta bantuan


Malik untuk mengantarnya ke pasar, tempat


Magnolia biasa berjualan. Hari itu adalah hari


ulangan susulan IPA dan Magnolia telah


berjanji untuk ikut ujian kepada abangnya.


Akan tetapi, saat Dimas menjemputnya, gadis


itu sudah tidak berada di sekolah. Meski


begitu, hatinya merasa lega setelah mendapat


info dari salah satu guru bila Magnolia sudah


menyelesaikan semua ujian dan langsung


pulang.


Tapi, dia tahu adiknya tidak akan pulang ke


rumah. Magnolia biasa menyimpan baju kaos


di dalam tas dan dia berganti pakaian di WC


umum dalam pasar lalu kemudian berjualan.


Sepeda Magnolia juga tidak ada di rumah.


Artinya sejak pagi dia sudah membawa


sepedanya supaya bisa ke pasar dengan


mudah tanpa perlu menaiki angkutan umum.


"Yaya? Ada tadi." jawab Jajang begitu Dimas


kesulitan menemukan adiknya. Pasar sudah


lumayan sepi walau masih ada beberapa


penjual yang menggelar dagangannya. Lapak


mereka biasanya berada di dekat jalan


sehingga muda dicapai oleh pejalan kaki yang


kebetulan lewat.


"Nggak kelihatan. Sepedanya masih di sana."


Dimas menunjuk ke arah batang pohon seri


alias kersen. Sepeda Magnolia memang


terparkir di sana, tanda bahwa gadis tersebut


belum pulang.


"Kalau nggak ada di luar, berarti dia nawarin


barang sampai ke dalam. Lo masuk aja, deh.


Jam segini masih ada yang jualan di los."


Jajang menunjuk ke arah los di belakang


mereka. Baris pertama walau sudah agak sepi,


masih terdapat beberapa penjual sayur. Dimas


yang beberapa kali diminta oleh Magnolia


untuk mampir ke tempat pedagang sayur


tersebut mengenal beberapa penjualnya.


"Oke, makasih, Bang." Dimas tersenyum. Dia


lalu menoleh kepada Malik yang masih berada


di motornya. Sahabatnya tersebut masih


memakai helm dan jaket yang sama yang


sebelumnya dipinjam oleh Magnolia. Dua hari


setelah pingsan di dekat rumah mereka,


Magnolia mengembalikan jaket dan sandal


Malik. Khusus jaket, dia sengaja mencuci dan


menyemprotkan banyak pengharum pakaian


agar Malik tidak marah.


"Makasih jaketnya. Udah gue cuci pake Dettol,


Molto. Nyetrikanya pake Rapika. Pokoknya


udah nggak ada kuman lagi. Sandalnya juga


udah gue sikat.”


Saat itu Malik bahkan belum sempat membuka


mulut. Akan tetapi, Magnolia sudah kabur


secepat kilat dan menolak menatap wajahnya


lebih dari satu menit.


Setelahnya, Malik tidak lagi melihat batang


hidung Magnolia hingga Dimas meminta


bantuannya kembali untuk menemani


pemuda itu mencari adiknya hingga ke pasar.


"Yaya mungkin masih di dalam. Gue mau


masuk dulu cari dia. Lo mau nunggu atau


balik?"


Malik sepertinya sedang menimbang-nimbang


ketika pada detik yang sama ponselnya


bergetar dan dia mendapat panggilan dari


sang ibu.


"Ya, Bun? Aku lagi di pasar. Nemenin Dimas


nyari Yaya."


Malik memanggil ibunya, Laura Hasjim dengan


panggilan Bunda dan wanita itu ketika


mendengar nama Magnolia disebutkan oleh


putranya, jadi amat bersemangat.


"Ketemu Yaya?"


"Belum, Bun. Baru sampe. Dimas yang mau


cari. Aku rencananya mau langsung pulang."


"Hei, jangan pulang dulu." potong Laura,


"Bunda nitip beliin kecap asin, minyak wijen,


sama daun bawang beli lima ribu. Pakai duit


kamu dulu. Pulangnya Bunda ganti. Mau


masak nasi Hainan.”


Malik bahkan belum sempat menjawab karena


Laura segera memutuskan sambungan.


Dengan begitu, dia tidak bisa lagi menolak


ketika dimintai melakukan sesuatu. Laura


hapal benar tabiat putranya yang satu itu.

__ADS_1


Karena itu juga, dia kembali menoleh kepada


Dimas yang masih menunggu jawaban


darinya.


"Gue ikut masuk. Disuruh Bunda belanja."


Dimas mengangguk tepat saat Malik berkata


kalau dia akan memarkirkan motor di dekat


pohon kersen, tak jauh dari sepeda Magnolia


berada. Baru kemudian si tampan idaman


banyak gadis di sekolah tersebut bergegas


menyusul Dimas yang sudah lebih dulu


berjalan masuk los.


Seperti dugaan Dimas sebelumnya, pasar


sudah agak sepi. Tapi, sejauh matanya


memandang, tidak ada wajah adiknya di mana


pun. Malik di belakangnya sudah bergegas ke


toko manisan sehingga kemudian, Dimas


memutuskan untuk berjalan melewati penjual


sayur. Di sana, dia akan bertanya kepada


penjual yang akrab dengan adiknya, siapa tahu


mereka tahu keberadaan Magnolia. 2


Di dekat lapak bawang merah, milik Mak Surti,


Dimas mendengar suara seorang perempuan


paruh baya sedang mengomel diiringi suara


tangisan yang amat dia kenal milik siapa.


Karena itu juga, Dimas mempercepat langkah


ke arah sumber suara dan begitu tiba, dia tidak


bisa menahan rasa terkejut.


“Jangan gerak, Neng. Item semua. Sakit emang.


Tapi, kalau nggak dikerok, nggak sembuh.”


ujar Mak Surti dengan suara penuh nada


prihatin, “Ya Allah, kasihan banget lo sampe


kayak gini.


“Sakit, Mak. Yaya nggak pernah dikerok.”


Mak Surti memotong ucapan Magnolia, “Kalau


lo nggak muntah-muntah kayak tadi, nggak


bakal gue kerok. Kasihan banget dah, ah. Mana


badan kurus kering begini. Untung lo putih


cakep.”


Dimas yang sudah melangkah menuju sumber


suara dengan perlahan pada akhirnya tidak


kuasa menahan rasa pilu sewaktu menemukan


adiknya duduk dengan separuh tubuh bagian


belakangnya terbuka. Mak Surti dengan


semangat mengerok punggungnya


menggunakan koin lima ratusan warna


kuning. Bau balsem yang khas merasuk ke


memejamkan mata ketika melihat Magnolia


mengusap air matanya dengan punggung


tangan.


“Masih kecil udah cari duit sampe sakit begini.


Kalau jadi anak gue, nggak gue biari lo jemur-


jemuran di bawah panas matahari, kena ujan.”


Wajah Mak Surti nampak sedih dan Dimas


sempat melihat seorang pria yang dikenalnya


dengan nama Beni, sedang menyiram bekas


muntah yang berada tidak jauh dari mereka.


Tadi Mak Surti menyebut tentang muntah.


Apakah adiknya juga muntah?


“Eh, ada Dimas.”


Suara Beni yang sudah selesai membersihkan


sisa-sisa muntahan Magnolia membuat dua


wanita yang kini duduk di bawah meja jualan,


beralas terpal bekas menjual bawang merah,


serempak menoleh ke arahnya. Dimas


otomatis tersenyum walau dia merasa kikuk.


Bekas kerokan di punggung Magnolia seolah


menyayat hati dan jantungnya hingga


terbelah-belah. Dia tidak tahu bahkan setelah


berhari-hari, kondisi adik bungsunya belum


juga pulih.3


Padahal tadi malam mereka masih belajar


bersama meskipun tidak seperti sebelumnya,


Dimas menyudahi sesi belajar mereka pada


pukul sebelas malam dan menyuruh Magnolia


beristirahat.


“Yaya sakit?”


Dimas mencoba berjongkok di dekat adiknya.


Tapi, Magnolia kemudian menyuruhnya


menjauh, “Sanaan, Mas. Di sini bau balsem.”


Adiknya kentara sekali tampak tidak nyaman,


tetapi Dimas tidak terpikir untuk menjauh.


Mak Surti masih ngotot untuk menyelesaikan


pekerjaannya sementara Magnolia sudah


meringis tanda tidak tahan.


“Masuk angin.” Mak Surti memberitahu Dimas,


“Badannya dingin banget, tadi. Untung aja


udah muntah. Keluar semua sakitnya.”


Dimas mengulurkan tangan kanannya untuk


menyentuh dahi Magnolia. Tapi, cuma satu

__ADS_1


detik karena gadis itu segera menepis tanda


malu.


“Mas, ah, sanaan. Jangan lihat Yaya nggak


pakai baju.”


Magnolia sempat menggeliat dan


memejamkan mata saat ujung koin yang


digerakkan Mak Surti menggores kulit


punggungnya cukup dalam.


“Abis ini langsung minum Tolak Angin. Terus


tidur. Besok nggak usah jualan dulu. Nekat


banget cari duit padahal lagi sakit.”


Magnolia terlalu sibuk mengernyit menahan


sakit sehingga dia tidak lagi memedulikan


wejangan Mak Surti yang kemudian secara


otomatis menitahkan semuanya kepada


Dimas.


“Jangan kasih keluar malem dulu, Mas. ini


kasihan si Yaya sampe gemetaran badannya.


Kurung kalau perlu. Gue kasihan banget sama


dia. Udah nggak ada bapak mesti cari duit


sendiri, dia bilang mau masuk SMANSA. Kalau


gue ada duit, udah gue kasih. Mana anaknya


penurut… “


Dimas mengangguk. Dipandanginya wajah


Magnolia yang bahkan seolah tidak peduli


sama sekali dengan wejangan Mak Surti.


Bibirnya malah membalas, “Nanti nggak


makan.” yang membuat bocah tersebut


berusaha menahan tangis. Perseteruan


mereka kemarin bermuara pada masalah yang


sama dan dia yang merasa Magnolia tetap


diurus oleh mama, merasa amat tertampar


dengan keadaan ini. Bagi mama, Magnolia


adalah anak tiri yang tidak berhak mendapat


apa-apa.


“Sudah selesai?” suara Malik yang tiba-tiba


muncul di belakang Dimas membuat Magnolia


yang tidak menyangka akan kehadirannya


meminta Mak Surti untuk berhenti. Dia


seketika menjadi amat gelisah dan berusaha


menutupi tubuh bagian belakangnya yang


terbuka.


“Bentar, Dek. Dikit lagi. Ntar lo sakit lagi. Di


rumah nggak ada yang bantu ngerok.”


Malik sempat terdiam sejenak saat matanya


menangkap garis-garis merah kehitaman di


punggung Magnolia yang kurus. Tetapi,


secepat kilat dia menolah kembali kepada


Dimas dan berusaha tersenyum seolah tidak


melihat apa-apa, termasuk betapa merah


wajah Magnolia karena menahan nyeri.


“Udah, Mak. Yaya udah baikan.”


Mak Surti akhirnya menyerah. Dirapikannya


sisa kerokan di tubuh Magnolia dan


dibersihkannya sisa minyak dengan kain lap


entah dari mana. Setelah satu pijatan di


tengkuk Magnolia, akhirnya dia menyimpan


wadah balsem dan membantu Magnolia


memperbaiki pakaian dalam dan kaus yang


dipakainya.


“Jangan keluyuran. Langsung pulang dan


istirahat.” pesan Mak Surti.


"Iya, Mak." Dimas yang lebih dulu menjawab.


Dia tidak peduli pada saat itu Magnolia tidak


setuju dengan ucapannya. Tapi, Dimas tidak


ambil pusing. Setelah mengambil semua


barang dagangan Magnolia yang sudah berada


di dalam sebuah tas kain, dia lalu


menggandeng tangan adiknya dan pamit


dengan Mak Surti.


"Pulang, ya, Mak. Bang Beni, Yaya pulang."


Beni si tukang cabai melambai sembari


menyulut rokok kretek di bibirnya, sementara


Mak Surti bangkit dari tempatnya saat ini


duduk untuk kembali ke lapak jualan bawang


dan kentang miliknya. Magnolia sendiri,


berjalan menundukkan kepala begitu dia


melewati Malik yang seperti biasa membisu


dan tidak memberi respon sama sekali. Dia


hanya memperhatikan tangannya yang saat ini


bertaut dengan jemari Dimas. Sesekali sang


abang mengusap jemari kurus kering milik


adiknya dan pada saat itu, Magnolia sesekali


memejamkan mata dan mengingat kembali,


perlakuan Dimas kepadanya begitu mirip


dengan yang selalu dilakukan papa untuknya.


Andai waktu bisa kembali, dia ingin sekali


papa bangun supaya dia bisa mengatakan


kalau Magnolia amat merindukannya.

__ADS_1


***


__ADS_2