
Sekitar pukul empat sore, Dimas yang baru
kembali dari tempat les meminta bantuan
Malik untuk mengantarnya ke pasar, tempat
Magnolia biasa berjualan. Hari itu adalah hari
ulangan susulan IPA dan Magnolia telah
berjanji untuk ikut ujian kepada abangnya.
Akan tetapi, saat Dimas menjemputnya, gadis
itu sudah tidak berada di sekolah. Meski
begitu, hatinya merasa lega setelah mendapat
info dari salah satu guru bila Magnolia sudah
menyelesaikan semua ujian dan langsung
pulang.
Tapi, dia tahu adiknya tidak akan pulang ke
rumah. Magnolia biasa menyimpan baju kaos
di dalam tas dan dia berganti pakaian di WC
umum dalam pasar lalu kemudian berjualan.
Sepeda Magnolia juga tidak ada di rumah.
Artinya sejak pagi dia sudah membawa
sepedanya supaya bisa ke pasar dengan
mudah tanpa perlu menaiki angkutan umum.
"Yaya? Ada tadi." jawab Jajang begitu Dimas
kesulitan menemukan adiknya. Pasar sudah
lumayan sepi walau masih ada beberapa
penjual yang menggelar dagangannya. Lapak
mereka biasanya berada di dekat jalan
sehingga muda dicapai oleh pejalan kaki yang
kebetulan lewat.
"Nggak kelihatan. Sepedanya masih di sana."
Dimas menunjuk ke arah batang pohon seri
alias kersen. Sepeda Magnolia memang
terparkir di sana, tanda bahwa gadis tersebut
belum pulang.
"Kalau nggak ada di luar, berarti dia nawarin
barang sampai ke dalam. Lo masuk aja, deh.
Jam segini masih ada yang jualan di los."
Jajang menunjuk ke arah los di belakang
mereka. Baris pertama walau sudah agak sepi,
masih terdapat beberapa penjual sayur. Dimas
yang beberapa kali diminta oleh Magnolia
untuk mampir ke tempat pedagang sayur
tersebut mengenal beberapa penjualnya.
"Oke, makasih, Bang." Dimas tersenyum. Dia
lalu menoleh kepada Malik yang masih berada
di motornya. Sahabatnya tersebut masih
memakai helm dan jaket yang sama yang
sebelumnya dipinjam oleh Magnolia. Dua hari
setelah pingsan di dekat rumah mereka,
Magnolia mengembalikan jaket dan sandal
Malik. Khusus jaket, dia sengaja mencuci dan
menyemprotkan banyak pengharum pakaian
agar Malik tidak marah.
"Makasih jaketnya. Udah gue cuci pake Dettol,
Molto. Nyetrikanya pake Rapika. Pokoknya
udah nggak ada kuman lagi. Sandalnya juga
udah gue sikat.”
Saat itu Malik bahkan belum sempat membuka
mulut. Akan tetapi, Magnolia sudah kabur
secepat kilat dan menolak menatap wajahnya
lebih dari satu menit.
Setelahnya, Malik tidak lagi melihat batang
hidung Magnolia hingga Dimas meminta
bantuannya kembali untuk menemani
pemuda itu mencari adiknya hingga ke pasar.
"Yaya mungkin masih di dalam. Gue mau
masuk dulu cari dia. Lo mau nunggu atau
balik?"
Malik sepertinya sedang menimbang-nimbang
ketika pada detik yang sama ponselnya
bergetar dan dia mendapat panggilan dari
sang ibu.
"Ya, Bun? Aku lagi di pasar. Nemenin Dimas
nyari Yaya."
Malik memanggil ibunya, Laura Hasjim dengan
panggilan Bunda dan wanita itu ketika
mendengar nama Magnolia disebutkan oleh
putranya, jadi amat bersemangat.
"Ketemu Yaya?"
"Belum, Bun. Baru sampe. Dimas yang mau
cari. Aku rencananya mau langsung pulang."
"Hei, jangan pulang dulu." potong Laura,
"Bunda nitip beliin kecap asin, minyak wijen,
sama daun bawang beli lima ribu. Pakai duit
kamu dulu. Pulangnya Bunda ganti. Mau
masak nasi Hainan.”
Malik bahkan belum sempat menjawab karena
Laura segera memutuskan sambungan.
Dengan begitu, dia tidak bisa lagi menolak
ketika dimintai melakukan sesuatu. Laura
hapal benar tabiat putranya yang satu itu.
__ADS_1
Karena itu juga, dia kembali menoleh kepada
Dimas yang masih menunggu jawaban
darinya.
"Gue ikut masuk. Disuruh Bunda belanja."
Dimas mengangguk tepat saat Malik berkata
kalau dia akan memarkirkan motor di dekat
pohon kersen, tak jauh dari sepeda Magnolia
berada. Baru kemudian si tampan idaman
banyak gadis di sekolah tersebut bergegas
menyusul Dimas yang sudah lebih dulu
berjalan masuk los.
Seperti dugaan Dimas sebelumnya, pasar
sudah agak sepi. Tapi, sejauh matanya
memandang, tidak ada wajah adiknya di mana
pun. Malik di belakangnya sudah bergegas ke
toko manisan sehingga kemudian, Dimas
memutuskan untuk berjalan melewati penjual
sayur. Di sana, dia akan bertanya kepada
penjual yang akrab dengan adiknya, siapa tahu
mereka tahu keberadaan Magnolia. 2
Di dekat lapak bawang merah, milik Mak Surti,
Dimas mendengar suara seorang perempuan
paruh baya sedang mengomel diiringi suara
tangisan yang amat dia kenal milik siapa.
Karena itu juga, Dimas mempercepat langkah
ke arah sumber suara dan begitu tiba, dia tidak
bisa menahan rasa terkejut.
“Jangan gerak, Neng. Item semua. Sakit emang.
Tapi, kalau nggak dikerok, nggak sembuh.”
ujar Mak Surti dengan suara penuh nada
prihatin, “Ya Allah, kasihan banget lo sampe
kayak gini.
“Sakit, Mak. Yaya nggak pernah dikerok.”
Mak Surti memotong ucapan Magnolia, “Kalau
lo nggak muntah-muntah kayak tadi, nggak
bakal gue kerok. Kasihan banget dah, ah. Mana
badan kurus kering begini. Untung lo putih
cakep.”
Dimas yang sudah melangkah menuju sumber
suara dengan perlahan pada akhirnya tidak
kuasa menahan rasa pilu sewaktu menemukan
adiknya duduk dengan separuh tubuh bagian
belakangnya terbuka. Mak Surti dengan
semangat mengerok punggungnya
menggunakan koin lima ratusan warna
kuning. Bau balsem yang khas merasuk ke
memejamkan mata ketika melihat Magnolia
mengusap air matanya dengan punggung
tangan.
“Masih kecil udah cari duit sampe sakit begini.
Kalau jadi anak gue, nggak gue biari lo jemur-
jemuran di bawah panas matahari, kena ujan.”
Wajah Mak Surti nampak sedih dan Dimas
sempat melihat seorang pria yang dikenalnya
dengan nama Beni, sedang menyiram bekas
muntah yang berada tidak jauh dari mereka.
Tadi Mak Surti menyebut tentang muntah.
Apakah adiknya juga muntah?
“Eh, ada Dimas.”
Suara Beni yang sudah selesai membersihkan
sisa-sisa muntahan Magnolia membuat dua
wanita yang kini duduk di bawah meja jualan,
beralas terpal bekas menjual bawang merah,
serempak menoleh ke arahnya. Dimas
otomatis tersenyum walau dia merasa kikuk.
Bekas kerokan di punggung Magnolia seolah
menyayat hati dan jantungnya hingga
terbelah-belah. Dia tidak tahu bahkan setelah
berhari-hari, kondisi adik bungsunya belum
juga pulih.3
Padahal tadi malam mereka masih belajar
bersama meskipun tidak seperti sebelumnya,
Dimas menyudahi sesi belajar mereka pada
pukul sebelas malam dan menyuruh Magnolia
beristirahat.
“Yaya sakit?”
Dimas mencoba berjongkok di dekat adiknya.
Tapi, Magnolia kemudian menyuruhnya
menjauh, “Sanaan, Mas. Di sini bau balsem.”
Adiknya kentara sekali tampak tidak nyaman,
tetapi Dimas tidak terpikir untuk menjauh.
Mak Surti masih ngotot untuk menyelesaikan
pekerjaannya sementara Magnolia sudah
meringis tanda tidak tahan.
“Masuk angin.” Mak Surti memberitahu Dimas,
“Badannya dingin banget, tadi. Untung aja
udah muntah. Keluar semua sakitnya.”
Dimas mengulurkan tangan kanannya untuk
menyentuh dahi Magnolia. Tapi, cuma satu
__ADS_1
detik karena gadis itu segera menepis tanda
malu.
“Mas, ah, sanaan. Jangan lihat Yaya nggak
pakai baju.”
Magnolia sempat menggeliat dan
memejamkan mata saat ujung koin yang
digerakkan Mak Surti menggores kulit
punggungnya cukup dalam.
“Abis ini langsung minum Tolak Angin. Terus
tidur. Besok nggak usah jualan dulu. Nekat
banget cari duit padahal lagi sakit.”
Magnolia terlalu sibuk mengernyit menahan
sakit sehingga dia tidak lagi memedulikan
wejangan Mak Surti yang kemudian secara
otomatis menitahkan semuanya kepada
Dimas.
“Jangan kasih keluar malem dulu, Mas. ini
kasihan si Yaya sampe gemetaran badannya.
Kurung kalau perlu. Gue kasihan banget sama
dia. Udah nggak ada bapak mesti cari duit
sendiri, dia bilang mau masuk SMANSA. Kalau
gue ada duit, udah gue kasih. Mana anaknya
penurut… “
Dimas mengangguk. Dipandanginya wajah
Magnolia yang bahkan seolah tidak peduli
sama sekali dengan wejangan Mak Surti.
Bibirnya malah membalas, “Nanti nggak
makan.” yang membuat bocah tersebut
berusaha menahan tangis. Perseteruan
mereka kemarin bermuara pada masalah yang
sama dan dia yang merasa Magnolia tetap
diurus oleh mama, merasa amat tertampar
dengan keadaan ini. Bagi mama, Magnolia
adalah anak tiri yang tidak berhak mendapat
apa-apa.
“Sudah selesai?” suara Malik yang tiba-tiba
muncul di belakang Dimas membuat Magnolia
yang tidak menyangka akan kehadirannya
meminta Mak Surti untuk berhenti. Dia
seketika menjadi amat gelisah dan berusaha
menutupi tubuh bagian belakangnya yang
terbuka.
“Bentar, Dek. Dikit lagi. Ntar lo sakit lagi. Di
rumah nggak ada yang bantu ngerok.”
Malik sempat terdiam sejenak saat matanya
menangkap garis-garis merah kehitaman di
punggung Magnolia yang kurus. Tetapi,
secepat kilat dia menolah kembali kepada
Dimas dan berusaha tersenyum seolah tidak
melihat apa-apa, termasuk betapa merah
wajah Magnolia karena menahan nyeri.
“Udah, Mak. Yaya udah baikan.”
Mak Surti akhirnya menyerah. Dirapikannya
sisa kerokan di tubuh Magnolia dan
dibersihkannya sisa minyak dengan kain lap
entah dari mana. Setelah satu pijatan di
tengkuk Magnolia, akhirnya dia menyimpan
wadah balsem dan membantu Magnolia
memperbaiki pakaian dalam dan kaus yang
dipakainya.
“Jangan keluyuran. Langsung pulang dan
istirahat.” pesan Mak Surti.
"Iya, Mak." Dimas yang lebih dulu menjawab.
Dia tidak peduli pada saat itu Magnolia tidak
setuju dengan ucapannya. Tapi, Dimas tidak
ambil pusing. Setelah mengambil semua
barang dagangan Magnolia yang sudah berada
di dalam sebuah tas kain, dia lalu
menggandeng tangan adiknya dan pamit
dengan Mak Surti.
"Pulang, ya, Mak. Bang Beni, Yaya pulang."
Beni si tukang cabai melambai sembari
menyulut rokok kretek di bibirnya, sementara
Mak Surti bangkit dari tempatnya saat ini
duduk untuk kembali ke lapak jualan bawang
dan kentang miliknya. Magnolia sendiri,
berjalan menundukkan kepala begitu dia
melewati Malik yang seperti biasa membisu
dan tidak memberi respon sama sekali. Dia
hanya memperhatikan tangannya yang saat ini
bertaut dengan jemari Dimas. Sesekali sang
abang mengusap jemari kurus kering milik
adiknya dan pada saat itu, Magnolia sesekali
memejamkan mata dan mengingat kembali,
perlakuan Dimas kepadanya begitu mirip
dengan yang selalu dilakukan papa untuknya.
Andai waktu bisa kembali, dia ingin sekali
papa bangun supaya dia bisa mengatakan
kalau Magnolia amat merindukannya.
__ADS_1
***