
Sabtu adalah hari saat siswa SMANSA JUARA
belajar hanya empat jam pelajaran. Sisanya
dimanfaatkan untuk kegiatan ekstra kurikuler.
Pada saat itu, seluruh anak ekskul voli
berkumpul untuk latihan bersama dan
Magnolia berada dalam kelompok tersebut.
Dia merasa amat senang menemukan teman
yang menganggapnya manusia. Kecuali Dimas,
Kezia, mama, dan Malik menganggapnya tidak
ada di dunia. Walau akhir-akhir ini dia mulai
berinteraksi dengan gebetannya, tapi, yang
terjadi murni karena kecelakaan dan Magnolia
yakin, jika mereka tidak bertabrakan, Malik
tidak bakal mendatanginya dan memberi
Sprite sebagai permintaan maaf.
Meski begitu, dia senang Malik dan Dimas
kembali satu kelas. Mamas jelas sempat
menggerutu karena bila berada di kelas yang
sama, dia sudah pasti hanya bisa mencapaiperingkat dua. Tapi, jika dia satu kelas dengan
Malik, nilai yang dia raih hanya berkelang satu
sampai lima poin dengan sahabatnya tersebut.
Beda halnya jika Malik menjadi siswa kelas
lain. Dia memang jadi juara satu, tapi
perbedaan nilai antara dirinya dan Malik bisa
mencapai dua puluh poin lebih.
Kesempatan tersebut kadang dimanfaatkan
Magnolia untuk "mengirim nasi" buat Dimas
dan kadang Malik setiap waktu istirahat tiba.
"Mamas." panggil Magnolia saat waktu
istirahat siang tiba. Dia tanpa malu berdiri di
depan kelas Dimas sambil melambai-lambai
penuh semangat, tidak peduli kakak kelasnya
berdeham-deham seolah tenggorokan mereka
gatal. Semua orang di kelas XII IPA A tahu
kalau si centil adik Dimas menyukai Malik.
Sejak hari pertama dia sudah menunjukkan
gelagat gila itu dan respon siswa kelas dua
belas tersebut hanyalah tawa yang tidak
berkesudahan. Bahkan, kepada saingannya,
Magnolia tidak ragu mengaku kalau dia adalah
penggemar berat Malik sejak kelas delapan.
"Apa lagi? Ngasih nasi lagi?" Dimas yang telah
mencapai pintu kelas menjitak kepala
Magnolia dan adiknya meringis sambil
menahan senyum sembari menyerahkan
kantong plastik hitam berisi dua bungkus nasi
uduk.
"Ya, nasi, lah. Ntar kalau jadi juragan, gue
kirimin lo burger."
Dimas menerima kantong pemberian
Magnolia sedang adiknya sendiri sibuk
jelalatan mencari Malik yang ternyata luput
dari pandangannya siang itu.
"Abang ke mana?"
"Lo nyari dia apa gue?" Dimas pura-pura
marah. Dicegah pun, Magnoliaa tetap pada
pemikirannya sendiri, tetap naksir Malik tidak
__ADS_1
peduli Dimas mengatakan kalau dia sebaiknya
mengutamakan belajar daripada mengurusi
soal percintaan.
"Dua-duanya. Kalau kata pepatah, sekali
merengkuh dayung, dua tiga pulau
terlampaui."Wajah Dimas berubah masam. Magnolia
kesayangannya sudah amat pandai bermain
pantun rupanya.
"Pulau apaan? Tadi belajar apa?"
Huh, Magnolia menghela napas melihat
kelakuan abang kandungnya itu. Sifatnya
benar-benar persis papa, selalu menanyakan
kegiatan Magnolia dari pagi hingga menutup
mata.
"Pak Jamal. Gue dikasih nilai 100 tadi. Katanya
pinter walau genit."
Ingus Dimas hampir muncrat begitu adiknya
menyebutkan kata genit.
"Lo genit-genitan sama Pak Jamal?"
"Idiih," suara Magnolia terdengar seperti dia
habis dikejar harimau, "enak aja sama Pak
Jamal."
"Pas habis gue bayar cicilan ke dua, nggak
sengaja nabrak Abang. Dipergokin sama PakJamal. Jadi dari situ gue digodain terus sama
beliau." Magnolia menjawab dengan wajah
dibuat sedatar mungkin. Akan tetapi, Dimas
tahu bahwa meski mengucapkan itu dengan
serius, lubang hidung Magnolia yang kembang
kempis tidak bisa membohonginya.
"Lo godain Malik di depan Pak Jamal?" tebak
tingkah walau kepalanya menggeleng.
"Nggak, lah. Nggak guna gue godain Abang.
Yang ada dia kali, godain gue." balas Magnolia
jemawa. Untuk kalimat terakhir, Dimas makin
tidak percaya dengan perkataan adiknya.
"Mana ada. Dasar tukang kibul!" Dimas
mencubit hidung mancung Magnolia hingga
adiknya menjerit.
"Jangan hidung gue!" tangkis Magnolia walau
gagal. Ibu jari dan telunjuk Dimas sudah
mampir di hidungnya.
"Udah dilempar bola voli, ditabrak Abang,
sekarang lo juga main cubit aja. Ntar gue nggak
dapet laki, lo mesti tanggung jawab. Mana ada
cowok yang mau ama cewek yang hidungnya
copot."
Obrolan mereka di depan pintu berlangsung
amat seru. Untung saja sudah pergantian jam
menuju kegiatan ekskul dan Magnolia
sebenarnya sedang bersiap turun ke lantai
satu menuju lapangan. Hanya saja, karena
kelas XII berada di lantai dua, dia sekalian
mampir ke sana.
"Abang? Kapan hidung lo ditabrak Malik?"
Magnolia memanggil Malik dengan panggilan
abang dan tanpa menyebut namanya, Dimas
langsung tahu kalau yang adiknya maksud
__ADS_1
adalah sahabatnya sendiri.
"Pas ketemu Pak Jamal itu." jelas Magnolia. Dia
senang pada akhirnya Dimas percaya. Dia, kan,
tidak berbohong.
"Kok bisa Pak Jamal bilang lo genit?" Dimas
memandangi adiknya dengan wajah curiga.
Meski tegas, guru matematikanya semasa
kelas sepuluh tersebut amat kebapakan
sehingga banyak siswa yang menggemarinya."Makanya. Lo, kan, tahu kalau gue anak baik.
Nggak pernah goda-goda cowok."
Sekali lagi, lubang hidung Magnolia
mengembang dan Dimas sempat yakin, adik
bungsunya tersebut punya hubungan dengan
Pinokio yang kalau berbohong hidungnya
langsung panjang.
"Ya, udah. Gue tanya langsung sama orangnya.
Apa bener lo genit sama dia atau nggak?"
Magnolia terkikik mendengar Dimas bakal
membuktikan ucapannya. Pemuda itu tidak
bakal berani bertanya pada Malik. Lagipula,
selama bertahun-tahun dia selalu menutup
mata kepada dinginnya sikap sahabatnya itu
kepada adiknya sendiri dan Magnolia juga
tidak bakal percaya bahwa suatu hari nanti
Dimas bakal menyetujui hubungannya dengan
anak Bude Laura tersebut.
Dia lebih yakin bahwa Dimas bakal setuju
Malik bersama Kezia yang jelita daripada
dirinya dan Magnolia yang berusaha mengerti
sudah menyiapkan diri dan mentalnya jauh
jauh hari, seperti ucapan mama yang
memupuk harapan bahwa dia akan berbesan
dengan Laura Hasjim.
Dia sadar diri. Kondisinya yang tidak
sempurna membuatnya memusnahkan semua
harapan tentang menikah dan semacamnya.
Tapi, menyukai Malik sebelum akhirnya dia
jadi milik orang lain tidak bakal membuat
mereka membencinya, kan?
"Kaga percaya amat. Udahlah, gue mau latihan
voli. Pulangnya gue langsung ke terminal,
nggak perlu jemput. Bang Jajang mampir ke
sana ntar malem. Mau main gaple sekalian
ngajak gue malem mingguan sambil makan aci
panggang."
Magnolia yang merasa dia membuang-buang
waktu berlama-lama ngobrol dengan Dimas
tanpa melihat Malik, akhirnya memilih
berbalik. Detik yang sama, Malik telah berdiri
di belakangnya sambil bersedekap dan
menatapnya dengan mata terpicing.
"Yang ada, dia malah teriak sama orang-orang
kalau gue ngasih pelet ke dia."Gawaaaat! Dia harus lari dari tempat itu
sebelum Dimas menggetok kepalanya dengan
kantong berisi nasi uduk.
"Haha… dadah Abang. Jangan lupa makan nasi
uduk sama Mamas, ya. Kaga ada pelet,
__ADS_1
sueeerrr."
***