Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian XVII


__ADS_3

Sabtu adalah hari saat siswa SMANSA JUARA


belajar hanya empat jam pelajaran. Sisanya


dimanfaatkan untuk kegiatan ekstra kurikuler.


Pada saat itu, seluruh anak ekskul voli


berkumpul untuk latihan bersama dan


Magnolia berada dalam kelompok tersebut.


Dia merasa amat senang menemukan teman


yang menganggapnya manusia. Kecuali Dimas,


Kezia, mama, dan Malik menganggapnya tidak


ada di dunia. Walau akhir-akhir ini dia mulai


berinteraksi dengan gebetannya, tapi, yang


terjadi murni karena kecelakaan dan Magnolia


yakin, jika mereka tidak bertabrakan, Malik


tidak bakal mendatanginya dan memberi


Sprite sebagai permintaan maaf.


Meski begitu, dia senang Malik dan Dimas


kembali satu kelas. Mamas jelas sempat


menggerutu karena bila berada di kelas yang


sama, dia sudah pasti hanya bisa mencapaiperingkat dua. Tapi, jika dia satu kelas dengan


Malik, nilai yang dia raih hanya berkelang satu


sampai lima poin dengan sahabatnya tersebut.


Beda halnya jika Malik menjadi siswa kelas


lain. Dia memang jadi juara satu, tapi


perbedaan nilai antara dirinya dan Malik bisa


mencapai dua puluh poin lebih.


Kesempatan tersebut kadang dimanfaatkan


Magnolia untuk "mengirim nasi" buat Dimas


dan kadang Malik setiap waktu istirahat tiba.


"Mamas." panggil Magnolia saat waktu


istirahat siang tiba. Dia tanpa malu berdiri di


depan kelas Dimas sambil melambai-lambai


penuh semangat, tidak peduli kakak kelasnya


berdeham-deham seolah tenggorokan mereka


gatal. Semua orang di kelas XII IPA A tahu


kalau si centil adik Dimas menyukai Malik.


Sejak hari pertama dia sudah menunjukkan


gelagat gila itu dan respon siswa kelas dua


belas tersebut hanyalah tawa yang tidak


berkesudahan. Bahkan, kepada saingannya,


Magnolia tidak ragu mengaku kalau dia adalah


penggemar berat Malik sejak kelas delapan.


"Apa lagi? Ngasih nasi lagi?" Dimas yang telah


mencapai pintu kelas menjitak kepala


Magnolia dan adiknya meringis sambil


menahan senyum sembari menyerahkan


kantong plastik hitam berisi dua bungkus nasi


uduk.


"Ya, nasi, lah. Ntar kalau jadi juragan, gue


kirimin lo burger."


Dimas menerima kantong pemberian


Magnolia sedang adiknya sendiri sibuk


jelalatan mencari Malik yang ternyata luput


dari pandangannya siang itu.


"Abang ke mana?"


"Lo nyari dia apa gue?" Dimas pura-pura


marah. Dicegah pun, Magnoliaa tetap pada


pemikirannya sendiri, tetap naksir Malik tidak

__ADS_1


peduli Dimas mengatakan kalau dia sebaiknya


mengutamakan belajar daripada mengurusi


soal percintaan.


"Dua-duanya. Kalau kata pepatah, sekali


merengkuh dayung, dua tiga pulau


terlampaui."Wajah Dimas berubah masam. Magnolia


kesayangannya sudah amat pandai bermain


pantun rupanya.


"Pulau apaan? Tadi belajar apa?"


Huh, Magnolia menghela napas melihat


kelakuan abang kandungnya itu. Sifatnya


benar-benar persis papa, selalu menanyakan


kegiatan Magnolia dari pagi hingga menutup


mata.


"Pak Jamal. Gue dikasih nilai 100 tadi. Katanya


pinter walau genit."


Ingus Dimas hampir muncrat begitu adiknya


menyebutkan kata genit.


"Lo genit-genitan sama Pak Jamal?"


"Idiih," suara Magnolia terdengar seperti dia


habis dikejar harimau, "enak aja sama Pak


Jamal."


"Pas habis gue bayar cicilan ke dua, nggak


sengaja nabrak Abang. Dipergokin sama PakJamal. Jadi dari situ gue digodain terus sama


beliau." Magnolia menjawab dengan wajah


dibuat sedatar mungkin. Akan tetapi, Dimas


tahu bahwa meski mengucapkan itu dengan


serius, lubang hidung Magnolia yang kembang


kempis tidak bisa membohonginya.


"Lo godain Malik di depan Pak Jamal?" tebak


tingkah walau kepalanya menggeleng.


"Nggak, lah. Nggak guna gue godain Abang.


Yang ada dia kali, godain gue." balas Magnolia


jemawa. Untuk kalimat terakhir, Dimas makin


tidak percaya dengan perkataan adiknya.


"Mana ada. Dasar tukang kibul!" Dimas


mencubit hidung mancung Magnolia hingga


adiknya menjerit.


"Jangan hidung gue!" tangkis Magnolia walau


gagal. Ibu jari dan telunjuk Dimas sudah


mampir di hidungnya.


"Udah dilempar bola voli, ditabrak Abang,


sekarang lo juga main cubit aja. Ntar gue nggak


dapet laki, lo mesti tanggung jawab. Mana ada


cowok yang mau ama cewek yang hidungnya


copot."


Obrolan mereka di depan pintu berlangsung


amat seru. Untung saja sudah pergantian jam


menuju kegiatan ekskul dan Magnolia


sebenarnya sedang bersiap turun ke lantai


satu menuju lapangan. Hanya saja, karena


kelas XII berada di lantai dua, dia sekalian


mampir ke sana.


"Abang? Kapan hidung lo ditabrak Malik?"


Magnolia memanggil Malik dengan panggilan


abang dan tanpa menyebut namanya, Dimas


langsung tahu kalau yang adiknya maksud

__ADS_1


adalah sahabatnya sendiri.


"Pas ketemu Pak Jamal itu." jelas Magnolia. Dia


senang pada akhirnya Dimas percaya. Dia, kan,


tidak berbohong.


"Kok bisa Pak Jamal bilang lo genit?" Dimas


memandangi adiknya dengan wajah curiga.


Meski tegas, guru matematikanya semasa


kelas sepuluh tersebut amat kebapakan


sehingga banyak siswa yang menggemarinya."Makanya. Lo, kan, tahu kalau gue anak baik.


Nggak pernah goda-goda cowok."


Sekali lagi, lubang hidung Magnolia


mengembang dan Dimas sempat yakin, adik


bungsunya tersebut punya hubungan dengan


Pinokio yang kalau berbohong hidungnya


langsung panjang.


"Ya, udah. Gue tanya langsung sama orangnya.


Apa bener lo genit sama dia atau nggak?"


Magnolia terkikik mendengar Dimas bakal


membuktikan ucapannya. Pemuda itu tidak


bakal berani bertanya pada Malik. Lagipula,


selama bertahun-tahun dia selalu menutup


mata kepada dinginnya sikap sahabatnya itu


kepada adiknya sendiri dan Magnolia juga


tidak bakal percaya bahwa suatu hari nanti


Dimas bakal menyetujui hubungannya dengan


anak Bude Laura tersebut.


Dia lebih yakin bahwa Dimas bakal setuju


Malik bersama Kezia yang jelita daripada


dirinya dan Magnolia yang berusaha mengerti


sudah menyiapkan diri dan mentalnya jauh


jauh hari, seperti ucapan mama yang


memupuk harapan bahwa dia akan berbesan


dengan Laura Hasjim.


Dia sadar diri. Kondisinya yang tidak


sempurna membuatnya memusnahkan semua


harapan tentang menikah dan semacamnya.


Tapi, menyukai Malik sebelum akhirnya dia


jadi milik orang lain tidak bakal membuat


mereka membencinya, kan?


"Kaga percaya amat. Udahlah, gue mau latihan


voli. Pulangnya gue langsung ke terminal,


nggak perlu jemput. Bang Jajang mampir ke


sana ntar malem. Mau main gaple sekalian


ngajak gue malem mingguan sambil makan aci


panggang."


Magnolia yang merasa dia membuang-buang


waktu berlama-lama ngobrol dengan Dimas


tanpa melihat Malik, akhirnya memilih


berbalik. Detik yang sama, Malik telah berdiri


di belakangnya sambil bersedekap dan


menatapnya dengan mata terpicing.


"Yang ada, dia malah teriak sama orang-orang


kalau gue ngasih pelet ke dia."Gawaaaat! Dia harus lari dari tempat itu


sebelum Dimas menggetok kepalanya dengan


kantong berisi nasi uduk.


"Haha… dadah Abang. Jangan lupa makan nasi


uduk sama Mamas, ya. Kaga ada pelet,

__ADS_1


sueeerrr."


***


__ADS_2