
ke rumah tidak terlalu
ramai menjelang salat Magrib tiba. Perlahan,
Dimas Ahmad Hassan mengayuh pedal sepeda
sembari memperhatikan kiri kanannya.
Sepeda gunung dengan tambahan keranjang
yang kini sedang dia naiki usianya hampir
seumur Magnolia. Benda itu diberikan oleh
kolega papa saat tahu rekannya mendapat
bayi kembar. Padahal, aslinya, seperti ucapan
mama kepada dirinya dua tahun yang lalu,
baik Kezia dan Magnolia bukanlah anak
kembar. Usia mereka terpaut enam bulan.
Akan tetapi, demi kelancaran administrasi,
tanggal lahir Magnolia dibuat sama dengan
tanggal lahir Kezia.
Tapi, menurut mama, hal tersebut percuma
saja. Tetangga yang lebih senior, yang tahu
cerita saat mama hamil dan melahirkan,
menyaksikan sendiri mama kembali dari
rumah sakit menggendong seorang bayi.
Namun, enam bulan kemudian, secara ajaib,
hadir satu bayi perempuan lain di dalam
keluarga mereka. Bayi yang sama yang telah
membuat keluarga Hassan berubah drastis.
Mama jadi pendiam dan jarang bergaul,
sementara papa bersikap biasa saja, termasuk
kepada Bude Laura, rekan kerjanya saat
berada di departemen yang sama, sebagai abdi
negara.
Waktu itu mungkin papa berpikiran bahwa
kelengkapan administrasi Magnolia adalah
yang utama sehingga dia melupakan bahwa
sebenarnya mama tidak ikhlas dan hal ini
berlangsung hingga bertahun-tahun. Tidak
heran, di hari papa meninggal, mama
kemudian tanpa ragu mengungkapkan
semuanya kepada Magnolia seolah-olah hal itu
memang sudah dia tunggu-tunggu sejak
bertahun-tahun lalu.
"Kok bisa Abang nurut kata lo, Mas?" Magnolia
kembali buka suara setelah mereka melewati
lampu merah yang untungnya tidak terlalu
ramai.
"Dia temen gue. Sayang banget sama gue,
makanya dia selalu bantu."
Magnolia memperhatikan punggung Dimas
yang bergoyang sewaktu dia mengayuh
sepeda. Dirinya sendiri memeluk termos
berwarna pink berukuran besar yang cukup
untuk memberi minum sekitar 10-15 orang.
Benda itu dijaganya dengan amat kuat, seolah
takut jatuh karena buat Magnolia termos pink
berukuran dua liter inilah yang pertama kali
membantunya melewati malam-malam sepi
pada awal kematian papa.
"Sayang, lo nggak bisa bujuk dia buat naksir
gue."
Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal
dengan tangan kiri. Luar biasa adik bungsunya
yang satu ini. Dia selalu mencari kesempatan
untuk memasukkan Malik ke dalam obrolan
mereka.
"Belajar dulu, Dek." Dimas menghela napas,
"Lo masih kecil. Buat apa, sih, pacaran? Anak
SMP tahu apa?"
Memang dia anak SMP, pikir Magnolia. Tapi,
dia sudah giat mencari uang seolah-olah dia
sudah berusia dua puluh tahun. Lagipula, di
kampung Jajang banyak anak perempuan
menikah muda. Terutama yang terlahir dari
keluarga kurang mampu dan beranak banyak.
Menikah adalah salah satu jalan keluar agar
mulut yang diberi makan berkurang satu.
Setelah menikah, anak tersebut tetap
membantu orang tuanya dan mendapat
tambahan uang dari suaminya.
Anak-anak tersebut juga dipaksa dewasa oleh
keadaan, seperti yang sekarang dia alami. Dia
juga, kan, naksir Malik bukan buat minta
dinikahi. Magnolia sungguh sadar diri.
Statusnya bakal membuat malu keluarganya
dan dia bisa membayangkan betapa murkanya
mama bila dia nekat melakukan hal tersebut.
Dimas tidak sengaja melewati lubang besar
berisi kerikil yang tidak rata dan seketika,
sepeda berguncang keras hingga membuat
Magnolia terlonjak dari boncengan belakang.
"Aduh."
"Sori, Dek. Lo nggak apa-apa, kan?" Dimas
mencoba menoleh ke belakang. Tetapi,
Magnolia melarang.
"Udah. Jalan aja." suruh Magnolia. Dia
kemudian memegangi ujung kemeja kotak-
kotak yang dipakai oleh Dimas dan berharap
momen seperti ini berlangsung selamanya,
tidak ada mama yang selalu melotot
kepadanya atau juga Kezia yang bermuka
masam setiap melihat wajahnya.
"Anak haram, lo."
Anak haram juga manusia, Ke. Punya hati,
punya perasaan. Kalau dibolehin, gue bakal
minta sama Allah nggak lahir dari hubungan
haram. Tapi, nggak bisa. Siapalah gue?
Oh, iya, gue lupa.
Gue cuma anak haram.
"Hapalan lo sudah sampai mana?" suara Dimas
memecah keheningan setelah beberapa puluh
meter dia mengayuh dan saat ini hampir
mencapai kompleks perumahan Abdi
Sejahtera, tempat mereka tinggal.
"Nggak ngapal." balas Magnolia pelan. Dia
merasakan nyeri di paha, mungkin karena
benturan tadi atau karena dia terlalu lama
berdiri.
"Kok nggak hapal, sih? Lo ini selalu kayak gitu
kalau ulangan, pakai sistem SKS, Sistem Kebut
Semalam. Jangan gitu, dong. Katanya mau jadi
orang sukses."
Magnolia menyandarkan kepalanya di
pinggung Dimas. Dia tidak menjawab
pertanyaan sang abang dan lebih memilih
untuk memejamkan mata. Kepalanya baru
terasa pening setelah seharian lebih terjaga
dan malam ini dia akan melanjutkan belajar
dengan Dimas demi menyenangkan hatinya.
"Dedek, kalau nanti Papa pergi, kamu harus
menuruti kata-kata Mamas. Dia yang bakal
jaga kamu dari gangguan orang-orang jahat.
Mamas juga yang akan jadi walimu jika
menikah…"
Dia tidak tahu tentang masa depannya nanti.
Dia tidak mau membuat teman-teman dan
keluarganya malu bila suatu hari nanti mama
berteriak kalau dia bukan anak kandungnya
dan pernikahannya ternyata tidak sah.
Jangan mikir aneh-aneh. Lo jualan lap aja.
Kalau sudah laris dan modal terkumpul
banyak, ikut Bang Benie ngulak di pasar induk.
Kerjanya sampai subuh. Bisa langsung pulang
dan lanjut sekolah.
Tapi, badan gue rasanya remuk. Mesti belajar,
mesti cari duit sampai malam. Mamas mana
mau paham. Dia cuma tahu kalau gue mesti
belajar, belajar, belajar, sampai otak gue
nyamain otak dia dan Abang. Biar dia bangga
__ADS_1
sama gue. Padahal, mau diapain juga, otak gue
ya segini-segini aja, nggak bisa lebih.
"Ya? Lo dengerin gue nggak? Ntar abis Isya,
abis lo makan, kita belajar, ya. Di teras. Gue
sengaja nggak belajar sama Malik. Seminggu
ini gue sudah kasih tahu dia, mau ngajarin lo
supaya bisa dapet nilai bagus pas UN.
Makanya, lo jangan bikin malu gue.
Kredibilitas gue sebagai abang lo
dipertaruhkan."
Magnolia menggumam dan mengatakan kalau
dia mendengarkan kata-kata abangnya, akan
tetapi matanya masih terpejam dan dia
berharap jarak perjalanan menuju rumah
masih jauh. Matanya terasa makin berat dan
dia tidak sanggup lagi membuka mata.
"Kalau lo lulus dengan nilai gede, gue bakal
traktir makan bakso rusuk. Lo tahu, kan, Inggit
anaknya Tante Zuraida yang rumahnya dekat
gerbang kompleks? Sekarang gue ngajarin dia,
privat. Nggak banyak, sih, cuma dua ratus ribu
sebulan. Tapi kalau dibeliin bakso, dapet
banyak banget."
Suara Dimas berputar-putar di kepala
Magnolia. Apa kata abangnya tadi? Dia mesti
lulus dengan nilai bagus supaya bisa ditraktir
makan bakso? Magnolia ingin sekali tertawa
mendengarnya. Hampir setiap hari dia makan
nasi dengan bakso, walau kuahnya lebih
banyak dibanding pentol dan Magnolia selalu
menyiapkan nasi putih dalam kotak bekal
yang saat ini tersimpan di kresek hitam di
sebelah kantong lap, dalam keranjang
sepedanya. Dia selalu makan menu yang
hampir sama setiap harinya demi
mengumpulkan uang, supaya bisa jadi
berjualan seperti penjual sayur yang lain
dengan harga murah. Jajang telah memesan
satu lapak dekat parkiran, agak sedikit jauh
dari lapak Bang Beni supaya mereka tidak
berebut pembeli.
Tapi, dia mengucapkan terima kasih atas
tawaran Dimas. Tidak setiap saat abangnya
bisa mentraktir dan dia tahu, Magnolia tidak
akan suka makan uang pemberian mama
karena wanita tersebut sudah
mengharamkannya sejak beberapa tahun lalu.
"Sudah sampai. Ayo turun."
Magnolia mengangkat kepala. Mereka berdua
sudah berada di depan pagar dan dengan mata
terpicing karena tadi dia sempat tidur-tidur
ayam sambil memeluk abangnya, Magnolia
berusaha turun dengan berhati-hati, takut
termos kesayangannya jatuh.
"Ditungguin dari tadi, Mas. Taunya kamu
jemput tuan putri, ya? Ckckck."
Wajah kusut mama yang muncul di teras pada
akhirnya membuat Magnolia cepat-cepat
melepaskan pegangan tangannya di kemeja
Dimas. Wanita anggun itu sudah memakai
mukena, bersiap untuk salat Magrib. Dia
mengucap salam tapi mendapat angin lalu dari
ibu tirinya yang memutuskan untuk cepat-
cepat masuk. Karena itu juga, Magnolia
menoleh kepada Dimas yang nampak kikuk
waktu memarkirkan sepeda milik adiknya ke
pekarangan.
"Biar gue aja yang bawa ke samping." Magnolia
menunjuk bagian samping kamarnya, ada
jalan setapak kecil di pinggir semak yang
sengaja tidak dipotong supaya orang tidak
tahu, di dalam bekas warung, ada kamar anak
perempuan berusia lima belas tahun yang
"Dek, gue tunggu habis Isya, ya. Gue nanti
beliin lo nasi goreng."
Magnolia mengangguk. Dia mengurai senyum
tipis sembari mendorong sepedanya menjauh
dan membiarkan Dimas mengunci pagar.
Abangnya harus segera masuk. Mama biasa
salat Magrib bersama anak-anak kandungnya
dan Magnolia hanya bisa menahan iri dalam
hati karena dia tidak pernah diajak bergabung
oleh keluarganya tersebut.
Tidak apa-apa. Sendiri pun dia bisa berdoa,
berharap Allah melindungi dan mengampuni
papa di sana, sembari menyampaikan pesan,
dia masih baik-baik saja. Hatinya memang
sedang terluka, tapi dia, akan semakin kuat.
***
Suara ketukan di pintu kayu yang mulanya
samar menjadi lebih nyaring dan cepat
selewat dua menit. Magnolia yang merasa
kedua kelopak matanya menempel bagai
dilem dengan lem super setengah mati
membuka mata dan menemukan kalau pintu
kamarnya digedor seseorang. Cepat-cepat dia
bangkit dari atas sejadah dan dibukanya pintu
kamar seraya menjawab panggilan dari luar.
"Bentar dulu."
Pintu kamar Magnolia terbuka dan wajah
panik Dimas adalah hal pertama yang dia
temukan.
"Lama banget."
Dimas lalu mengunci bibirnya karena dia
melihat Magnolia masih memakai mukena dan
memegang sejadah di tangan kanannya.
"Ya, sori. Gue nggak tahu kalau sudah
waktunya."
Dimas mengangsurkan sebuah kantong kresek
yang menguarkan aroma harum. Perutnya
seketika keroncongan. Namun, Magnolia
berhasil menangkap wajah mama dari balik
pintu rumah sehingga tangannya yang tadinya
terjulur mendadak kembali ke lunglai.
"Lo tunggu aja. Gue mau salat."
"Bukannya lo abis salat?" Dimas memandangi
adiknya yang terbalut mukena. Sementara
Magnolia meletakkan sajadah kembali ke
lantai dan melepaskan mukenanya dengan
cepat.
"Ketiduran gue abis magrib tadi. Semalam gue
tidur jam dua. Abis ulangan, gue jualan di
pasar seharian." Magnolia berjalan menuju
keran air di samping warung alias kamarnya,
tempat dia selalu melakukan aktivitas cuci
muka, wudu, dan sejenisnya.
"Lah, siapa suruh lo jualan?"
Magnolia sedang membasuh tangannya saat
mendengar Dimas bicara demikian.
Ditatapnya wajah sang abang yang tampak
santai bicara dan seolah menyalahkan dirinya
karena lebih memilih berjualan daripada
belajar.
"Iya, maaf. Gue kalau nggak jualan nggak
makan."
Dimas seketika diam. Dia lalu memilih untuk
memandangi kamar mungil milik Magnolia
yang amat sederhana. Berbeda dengan
kamarnya dan kamar Kezia, kamar bekas
warung yang didiami oleh Magnolia hanya
berlantai acian semen kasar, sementara kamar
mereka menggunakan keramik. Supaya tidak
melukai kakinya, Magnolia menutup
permukaan semen kasar tesebut dengan
karpet pastik tipis yang dia beli di pasar
__ADS_1
seharga tiga puluh ribu perbuahnya.
Barang-barang di dalamnya juga tidak
istimewa. Hanya sebuah kasur busa tipis. Dua
buah rak plastik berwarna hijau dan pink
norak yang digunakan sebagai rak pakaian dan
rak keperluan Magnolia. Di bagian bawah rak
berwarna pink terdapat tumpukan mangkok,
cangkir, dan panci. Di atasnya terdapat plastik-
plastik bumbu dan beberapa bungkus mie
instan. Rak atas sekali terdapat cermin, bedak
bayi, minyak kayu putih, serta beberapa saset
sampo yang pastilah penggunaannya amat
dihemat oleh adiknya.
"Minggir." usir Magnolia ketika dia
menyelesaikan wudu dan hendak masuk
kamar. Dimas masih berdiri di depan kamar
Magnolia, memegang kantong berisi nasi
goreng untuk adiknya itu.
"Lo jangan lama-lama berdiri di depan kamar
gue, Mas. Gue nggak enak diliatin Mama dari
tadi. Lo tunggu aja di teras. Ntar gue ke sana."
Wajah basah Magnolia yang sedang
memegang mukena miliknya membuat Dimas
lagi-lagi tidak bisa berkutik. Dia memandangi
adiknya dalam diam sebelum akhirnya
menyerah dan menutup pintu kamar Magnolia
yang kayunya mulai lapuk.
Hatinya pedih membayangkan betapa malang
nasib si bungsu, bahkan sekadar untuk makan
saja dia mesti berhemat. Dimas mengerjapkan
mata karena dia selalu lemah setiap melihat isi
kamar adiknya yang amat sederhana. Tidak
ada lemari baju, tidak ada cermin rias cantik
serta gantungan yang berisi bermacam-
macam tas untuk nongkrong, sekolah, atau les
seperti yang dimiliki Kezia. Hanya ada satu
buah tas selempang yang dipakai Magnolia,
Yayanya tersayang, untuk melakukan semua
hal dan dia tidak pernah protes dengan
keadaannya yang seperti itu.
"Gue tunggu lo di teras, Ya." Dimas bicara lagi
sembari berusaha berdeham agar sesak yang
berkumpul di tenggorokannya bisa segera
hilang.
Tapi, berusaha sekeras apa pun, rasa itu tidak
pernah bisa hilang.
***
Magnolia datang ke teras tempat Dimas
menunggu sekitar pukul tujuh lewat empat
puluh lima menit. Dia sudah menguncir
rambut dan memakai kaos beserta celana
panjang supaya nyamuk tidak menembus
tubuhnya. Tapi, Dimas sudah memasang obat
nyamuk bakar supaya nyamuk yang datang
tidak terlalu banyak dan dia juga sudah
menutup pintu rumah supaya mama tidak
marah kalau-kalau bau asap obat nyamuk
masuk.
"Lampunya redup. Gue pasang lampu belajar
supaya mata lo nggak sakit." Dimas
menunjukkan lampu belajar yang sengaja dia
pasang dekat situ. Magnolia hanya membalas
dengan anggukan. Dia hendak melepaskan
sandal dan berjalan menuju teras ketika
dilihatnya ada sandal Malik di dekat keset
sabut kelapa yang bertuliskan welcome.
"Harusnya lo nggak usah begini. Mulut Mama
agak tajem kalau lo terlalu ngurusin gue.
Bukan apa-apa, lo juga punya Keke. Mama
sampai abis duit banyak ngelesin dia sama
Abang. Padahal ada lo."
Magnolia bicara dengan suara pelan sewaktu
dia duduk. Dibukanya buku tulis tipis yang
selalu dia gunakan untuk belajar bersama
Dimas. Dimas sering menyalinkan rumus-
rumus penting di situ khusus untuk Magnolia.
"Mama lebih yakin sama isi otak Malik
daripada gue. Tapi, gue senang waktu gue
bilang mau masuk kedokteran, Mama nggak
protes."
Magnolia tidak menjawab lagi. Dia tidak tahu
kata-kata apa yang bisa menghibur hati Dimas.
Secara tidak langsung, mama telah
merendahkan kemampuan anak sulungnya
karena lebih memilih Malik. Di sisi lain, Kezia
tidak bisa belajar dengan baik bila gurunya
adalah Dimas. Bocah yang baru berusia tujuh
belas itu tidak sesabar Malik dalam
menghadapi Kezia. Masih mending dia
mengajari Magnolia yang walau kena marah
seratus kali akan tetap menulis dan
mengerjakan soalnya.
"Lo pintar, wajar kalau jadi dokter. Tapi nanti,
kalau gue sakit, jangan lupain adek lo, ya."
Dimas yang saat itu sudah membuka buku
latihan soal-soal UN yang sengaja dia beli
untuk Magnolia menatap adiknya selama
beberapa detik sebelum dia tersenyum dan
mengusap puncak kepala adiknya.
"Pastilah. Ngapain gue belajar kayak orang gila
kalau pada akhirnya gue lebih milih orang lain
daripada lo."
Dimas merasakan hatinya menghangat saat
Magnolia yang jarang tersenyum kemudian
menyeringai amat lebar. Dia kemudian
memanjangkan leher, memeriksa penghuni di
dalam rumah kemudian berpaling kembali
kepada abangnya untuk berkata, "Tapi lo
mesti jadi orang nomor satu yang nyembuhin
sakit kaki mama, bukan orang lain. Karena,
kata temen-temen gue yang jualan di pasar,
nggak ada yang lebih bikin bahagia mereka
melainkan melihat anak berbakti yang
berhasil bikin mereka sehat dan semangat
menjalani hidup."
Lagi-lagi, Dimas berusaha menahan haru yang
terus meluap entah berapa banyak demi
melihat adiknya seperti ini. Tanpa dia suruh,
tentu dia akan berusaha berjuang membantu
mama mereka. Tapi, sepintar dan segiat apa
pun dia, tidak pernah jauh lebih hebat
dibandingkan Magnolia yang sengaja
memintanya datang ke pasar untuk
mengambil dua kantong penuh sayur, cabai,
bahkan ikan serta ayam yang dia beli dengan
uang hasil berjualan lalu minta Dimas
mengaku kepada mama bahwa dia baru
mendapat gaji hasil mengajar les privat yang
selama ini selalu dia bangga-banggakan
kepada sang mama.
"Harusnya lo yang kasih."
"Jangan, Bang. Mama nggak bakal nyentuh
pemberian gue. Daripada busuk dan terbuang
di tong sampah, mending lo yang ngaku. Gue
nggak tega lihat kulkas Mama kosong. Gue
kasihan. Tapi, kalau gue sok baik, dia bakal
ngamuk sama gue."
Bahkan, seperempat usahanya untuk
menyaingi cinta sang adik kepada mama yang
tidak pernah menganggap dia ada pun, Dimas
tidak pernah bisa menang.
"Pinta gue cuma satu, jangan kasih tahu Mama
kalau selama ini, gue yang kasih dia sayur dan
lauk. Lo harus janji, Mas."
***
__ADS_1