Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian III Jalan menuju pulang


__ADS_3

ke rumah tidak terlalu


ramai menjelang salat Magrib tiba. Perlahan,


Dimas Ahmad Hassan mengayuh pedal sepeda


sembari memperhatikan kiri kanannya.


Sepeda gunung dengan tambahan keranjang


yang kini sedang dia naiki usianya hampir


seumur Magnolia. Benda itu diberikan oleh


kolega papa saat tahu rekannya mendapat


bayi kembar. Padahal, aslinya, seperti ucapan


mama kepada dirinya dua tahun yang lalu,


baik Kezia dan Magnolia bukanlah anak


kembar. Usia mereka terpaut enam bulan.


Akan tetapi, demi kelancaran administrasi,


tanggal lahir Magnolia dibuat sama dengan


tanggal lahir Kezia.


Tapi, menurut mama, hal tersebut percuma


saja. Tetangga yang lebih senior, yang tahu


cerita saat mama hamil dan melahirkan,


menyaksikan sendiri mama kembali dari


rumah sakit menggendong seorang bayi.


Namun, enam bulan kemudian, secara ajaib,


hadir satu bayi perempuan lain di dalam


keluarga mereka. Bayi yang sama yang telah


membuat keluarga Hassan berubah drastis.


Mama jadi pendiam dan jarang bergaul,


sementara papa bersikap biasa saja, termasuk


kepada Bude Laura, rekan kerjanya saat


berada di departemen yang sama, sebagai abdi


negara.


Waktu itu mungkin papa berpikiran bahwa


kelengkapan administrasi Magnolia adalah


yang utama sehingga dia melupakan bahwa


sebenarnya mama tidak ikhlas dan hal ini


berlangsung hingga bertahun-tahun. Tidak


heran, di hari papa meninggal, mama


kemudian tanpa ragu mengungkapkan


semuanya kepada Magnolia seolah-olah hal itu


memang sudah dia tunggu-tunggu sejak


bertahun-tahun lalu.


"Kok bisa Abang nurut kata lo, Mas?" Magnolia


kembali buka suara setelah mereka melewati


lampu merah yang untungnya tidak terlalu


ramai.


"Dia temen gue. Sayang banget sama gue,


makanya dia selalu bantu."


Magnolia memperhatikan punggung Dimas


yang bergoyang sewaktu dia mengayuh


sepeda. Dirinya sendiri memeluk termos


berwarna pink berukuran besar yang cukup


untuk memberi minum sekitar 10-15 orang.


Benda itu dijaganya dengan amat kuat, seolah


takut jatuh karena buat Magnolia termos pink


berukuran dua liter inilah yang pertama kali


membantunya melewati malam-malam sepi


pada awal kematian papa.


"Sayang, lo nggak bisa bujuk dia buat naksir


gue."


Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal


dengan tangan kiri. Luar biasa adik bungsunya


yang satu ini. Dia selalu mencari kesempatan


untuk memasukkan Malik ke dalam obrolan


mereka.


"Belajar dulu, Dek." Dimas menghela napas,


"Lo masih kecil. Buat apa, sih, pacaran? Anak


SMP tahu apa?"


Memang dia anak SMP, pikir Magnolia. Tapi,


dia sudah giat mencari uang seolah-olah dia


sudah berusia dua puluh tahun. Lagipula, di


kampung Jajang banyak anak perempuan


menikah muda. Terutama yang terlahir dari


keluarga kurang mampu dan beranak banyak.


Menikah adalah salah satu jalan keluar agar


mulut yang diberi makan berkurang satu.


Setelah menikah, anak tersebut tetap


membantu orang tuanya dan mendapat


tambahan uang dari suaminya.


Anak-anak tersebut juga dipaksa dewasa oleh


keadaan, seperti yang sekarang dia alami. Dia


juga, kan, naksir Malik bukan buat minta


dinikahi. Magnolia sungguh sadar diri.


Statusnya bakal membuat malu keluarganya


dan dia bisa membayangkan betapa murkanya


mama bila dia nekat melakukan hal tersebut.


Dimas tidak sengaja melewati lubang besar


berisi kerikil yang tidak rata dan seketika,


sepeda berguncang keras hingga membuat


Magnolia terlonjak dari boncengan belakang.


"Aduh."


"Sori, Dek. Lo nggak apa-apa, kan?" Dimas


mencoba menoleh ke belakang. Tetapi,


Magnolia melarang.


"Udah. Jalan aja." suruh Magnolia. Dia


kemudian memegangi ujung kemeja kotak-


kotak yang dipakai oleh Dimas dan berharap


momen seperti ini berlangsung selamanya,


tidak ada mama yang selalu melotot


kepadanya atau juga Kezia yang bermuka


masam setiap melihat wajahnya.


"Anak haram, lo."


Anak haram juga manusia, Ke. Punya hati,


punya perasaan. Kalau dibolehin, gue bakal


minta sama Allah nggak lahir dari hubungan


haram. Tapi, nggak bisa. Siapalah gue?


Oh, iya, gue lupa.


Gue cuma anak haram.


"Hapalan lo sudah sampai mana?" suara Dimas


memecah keheningan setelah beberapa puluh


meter dia mengayuh dan saat ini hampir


mencapai kompleks perumahan Abdi


Sejahtera, tempat mereka tinggal.


"Nggak ngapal." balas Magnolia pelan. Dia


merasakan nyeri di paha, mungkin karena


benturan tadi atau karena dia terlalu lama


berdiri.


"Kok nggak hapal, sih? Lo ini selalu kayak gitu


kalau ulangan, pakai sistem SKS, Sistem Kebut


Semalam. Jangan gitu, dong. Katanya mau jadi


orang sukses."


Magnolia menyandarkan kepalanya di


pinggung Dimas. Dia tidak menjawab


pertanyaan sang abang dan lebih memilih


untuk memejamkan mata. Kepalanya baru


terasa pening setelah seharian lebih terjaga


dan malam ini dia akan melanjutkan belajar


dengan Dimas demi menyenangkan hatinya.


"Dedek, kalau nanti Papa pergi, kamu harus


menuruti kata-kata Mamas. Dia yang bakal


jaga kamu dari gangguan orang-orang jahat.


Mamas juga yang akan jadi walimu jika


menikah…"


Dia tidak tahu tentang masa depannya nanti.


Dia tidak mau membuat teman-teman dan


keluarganya malu bila suatu hari nanti mama


berteriak kalau dia bukan anak kandungnya


dan pernikahannya ternyata tidak sah.


Jangan mikir aneh-aneh. Lo jualan lap aja.


Kalau sudah laris dan modal terkumpul


banyak, ikut Bang Benie ngulak di pasar induk.


Kerjanya sampai subuh. Bisa langsung pulang


dan lanjut sekolah.


Tapi, badan gue rasanya remuk. Mesti belajar,


mesti cari duit sampai malam. Mamas mana


mau paham. Dia cuma tahu kalau gue mesti


belajar, belajar, belajar, sampai otak gue


nyamain otak dia dan Abang. Biar dia bangga

__ADS_1


sama gue. Padahal, mau diapain juga, otak gue


ya segini-segini aja, nggak bisa lebih.


"Ya? Lo dengerin gue nggak? Ntar abis Isya,


abis lo makan, kita belajar, ya. Di teras. Gue


sengaja nggak belajar sama Malik. Seminggu


ini gue sudah kasih tahu dia, mau ngajarin lo


supaya bisa dapet nilai bagus pas UN.


Makanya, lo jangan bikin malu gue.


Kredibilitas gue sebagai abang lo


dipertaruhkan."


Magnolia menggumam dan mengatakan kalau


dia mendengarkan kata-kata abangnya, akan


tetapi matanya masih terpejam dan dia


berharap jarak perjalanan menuju rumah


masih jauh. Matanya terasa makin berat dan


dia tidak sanggup lagi membuka mata.


"Kalau lo lulus dengan nilai gede, gue bakal


traktir makan bakso rusuk. Lo tahu, kan, Inggit


anaknya Tante Zuraida yang rumahnya dekat


gerbang kompleks? Sekarang gue ngajarin dia,


privat. Nggak banyak, sih, cuma dua ratus ribu


sebulan. Tapi kalau dibeliin bakso, dapet


banyak banget."


Suara Dimas berputar-putar di kepala


Magnolia. Apa kata abangnya tadi? Dia mesti


lulus dengan nilai bagus supaya bisa ditraktir


makan bakso? Magnolia ingin sekali tertawa


mendengarnya. Hampir setiap hari dia makan


nasi dengan bakso, walau kuahnya lebih


banyak dibanding pentol dan Magnolia selalu


menyiapkan nasi putih dalam kotak bekal


yang saat ini tersimpan di kresek hitam di


sebelah kantong lap, dalam keranjang


sepedanya. Dia selalu makan menu yang


hampir sama setiap harinya demi


mengumpulkan uang, supaya bisa jadi


berjualan seperti penjual sayur yang lain


dengan harga murah. Jajang telah memesan


satu lapak dekat parkiran, agak sedikit jauh


dari lapak Bang Beni supaya mereka tidak


berebut pembeli.


Tapi, dia mengucapkan terima kasih atas


tawaran Dimas. Tidak setiap saat abangnya


bisa mentraktir dan dia tahu, Magnolia tidak


akan suka makan uang pemberian mama


karena wanita tersebut sudah


mengharamkannya sejak beberapa tahun lalu.


"Sudah sampai. Ayo turun."


Magnolia mengangkat kepala. Mereka berdua


sudah berada di depan pagar dan dengan mata


terpicing karena tadi dia sempat tidur-tidur


ayam sambil memeluk abangnya, Magnolia


berusaha turun dengan berhati-hati, takut


termos kesayangannya jatuh.


"Ditungguin dari tadi, Mas. Taunya kamu


jemput tuan putri, ya? Ckckck."


Wajah kusut mama yang muncul di teras pada


akhirnya membuat Magnolia cepat-cepat


melepaskan pegangan tangannya di kemeja


Dimas. Wanita anggun itu sudah memakai


mukena, bersiap untuk salat Magrib. Dia


mengucap salam tapi mendapat angin lalu dari


ibu tirinya yang memutuskan untuk cepat-


cepat masuk. Karena itu juga, Magnolia


menoleh kepada Dimas yang nampak kikuk


waktu memarkirkan sepeda milik adiknya ke


pekarangan.


"Biar gue aja yang bawa ke samping." Magnolia


menunjuk bagian samping kamarnya, ada


jalan setapak kecil di pinggir semak yang


sengaja tidak dipotong supaya orang tidak


tahu, di dalam bekas warung, ada kamar anak


perempuan berusia lima belas tahun yang


"Dek, gue tunggu habis Isya, ya. Gue nanti


beliin lo nasi goreng."


Magnolia mengangguk. Dia mengurai senyum


tipis sembari mendorong sepedanya menjauh


dan membiarkan Dimas mengunci pagar.


Abangnya harus segera masuk. Mama biasa


salat Magrib bersama anak-anak kandungnya


dan Magnolia hanya bisa menahan iri dalam


hati karena dia tidak pernah diajak bergabung


oleh keluarganya tersebut.


Tidak apa-apa. Sendiri pun dia bisa berdoa,


berharap Allah melindungi dan mengampuni


papa di sana, sembari menyampaikan pesan,


dia masih baik-baik saja. Hatinya memang


sedang terluka, tapi dia, akan semakin kuat.


***


Suara ketukan di pintu kayu yang mulanya


samar menjadi lebih nyaring dan cepat


selewat dua menit. Magnolia yang merasa


kedua kelopak matanya menempel bagai


dilem dengan lem super setengah mati


membuka mata dan menemukan kalau pintu


kamarnya digedor seseorang. Cepat-cepat dia


bangkit dari atas sejadah dan dibukanya pintu


kamar seraya menjawab panggilan dari luar.


"Bentar dulu."


Pintu kamar Magnolia terbuka dan wajah


panik Dimas adalah hal pertama yang dia


temukan.


"Lama banget."


Dimas lalu mengunci bibirnya karena dia


melihat Magnolia masih memakai mukena dan


memegang sejadah di tangan kanannya.


"Ya, sori. Gue nggak tahu kalau sudah


waktunya."


Dimas mengangsurkan sebuah kantong kresek


yang menguarkan aroma harum. Perutnya


seketika keroncongan. Namun, Magnolia


berhasil menangkap wajah mama dari balik


pintu rumah sehingga tangannya yang tadinya


terjulur mendadak kembali ke lunglai.


"Lo tunggu aja. Gue mau salat."


"Bukannya lo abis salat?" Dimas memandangi


adiknya yang terbalut mukena. Sementara


Magnolia meletakkan sajadah kembali ke


lantai dan melepaskan mukenanya dengan


cepat.


"Ketiduran gue abis magrib tadi. Semalam gue


tidur jam dua. Abis ulangan, gue jualan di


pasar seharian." Magnolia berjalan menuju


keran air di samping warung alias kamarnya,


tempat dia selalu melakukan aktivitas cuci


muka, wudu, dan sejenisnya.


"Lah, siapa suruh lo jualan?"


Magnolia sedang membasuh tangannya saat


mendengar Dimas bicara demikian.


Ditatapnya wajah sang abang yang tampak


santai bicara dan seolah menyalahkan dirinya


karena lebih memilih berjualan daripada


belajar.


"Iya, maaf. Gue kalau nggak jualan nggak


makan."


Dimas seketika diam. Dia lalu memilih untuk


memandangi kamar mungil milik Magnolia


yang amat sederhana. Berbeda dengan


kamarnya dan kamar Kezia, kamar bekas


warung yang didiami oleh Magnolia hanya


berlantai acian semen kasar, sementara kamar


mereka menggunakan keramik. Supaya tidak


melukai kakinya, Magnolia menutup


permukaan semen kasar tesebut dengan


karpet pastik tipis yang dia beli di pasar

__ADS_1


seharga tiga puluh ribu perbuahnya.


Barang-barang di dalamnya juga tidak


istimewa. Hanya sebuah kasur busa tipis. Dua


buah rak plastik berwarna hijau dan pink


norak yang digunakan sebagai rak pakaian dan


rak keperluan Magnolia. Di bagian bawah rak


berwarna pink terdapat tumpukan mangkok,


cangkir, dan panci. Di atasnya terdapat plastik-


plastik bumbu dan beberapa bungkus mie


instan. Rak atas sekali terdapat cermin, bedak


bayi, minyak kayu putih, serta beberapa saset


sampo yang pastilah penggunaannya amat


dihemat oleh adiknya.


"Minggir." usir Magnolia ketika dia


menyelesaikan wudu dan hendak masuk


kamar. Dimas masih berdiri di depan kamar


Magnolia, memegang kantong berisi nasi


goreng untuk adiknya itu.


"Lo jangan lama-lama berdiri di depan kamar


gue, Mas. Gue nggak enak diliatin Mama dari


tadi. Lo tunggu aja di teras. Ntar gue ke sana."


Wajah basah Magnolia yang sedang


memegang mukena miliknya membuat Dimas


lagi-lagi tidak bisa berkutik. Dia memandangi


adiknya dalam diam sebelum akhirnya


menyerah dan menutup pintu kamar Magnolia


yang kayunya mulai lapuk.


Hatinya pedih membayangkan betapa malang


nasib si bungsu, bahkan sekadar untuk makan


saja dia mesti berhemat. Dimas mengerjapkan


mata karena dia selalu lemah setiap melihat isi


kamar adiknya yang amat sederhana. Tidak


ada lemari baju, tidak ada cermin rias cantik


serta gantungan yang berisi bermacam-


macam tas untuk nongkrong, sekolah, atau les


seperti yang dimiliki Kezia. Hanya ada satu


buah tas selempang yang dipakai Magnolia,


Yayanya tersayang, untuk melakukan semua


hal dan dia tidak pernah protes dengan


keadaannya yang seperti itu.


"Gue tunggu lo di teras, Ya." Dimas bicara lagi


sembari berusaha berdeham agar sesak yang


berkumpul di tenggorokannya bisa segera


hilang.


Tapi, berusaha sekeras apa pun, rasa itu tidak


pernah bisa hilang.


***


Magnolia datang ke teras tempat Dimas


menunggu sekitar pukul tujuh lewat empat


puluh lima menit. Dia sudah menguncir


rambut dan memakai kaos beserta celana


panjang supaya nyamuk tidak menembus


tubuhnya. Tapi, Dimas sudah memasang obat


nyamuk bakar supaya nyamuk yang datang


tidak terlalu banyak dan dia juga sudah


menutup pintu rumah supaya mama tidak


marah kalau-kalau bau asap obat nyamuk


masuk.


"Lampunya redup. Gue pasang lampu belajar


supaya mata lo nggak sakit." Dimas


menunjukkan lampu belajar yang sengaja dia


pasang dekat situ. Magnolia hanya membalas


dengan anggukan. Dia hendak melepaskan


sandal dan berjalan menuju teras ketika


dilihatnya ada sandal Malik di dekat keset


sabut kelapa yang bertuliskan welcome.


"Harusnya lo nggak usah begini. Mulut Mama


agak tajem kalau lo terlalu ngurusin gue.


Bukan apa-apa, lo juga punya Keke. Mama


sampai abis duit banyak ngelesin dia sama


Abang. Padahal ada lo."


Magnolia bicara dengan suara pelan sewaktu


dia duduk. Dibukanya buku tulis tipis yang


selalu dia gunakan untuk belajar bersama


Dimas. Dimas sering menyalinkan rumus-


rumus penting di situ khusus untuk Magnolia.


"Mama lebih yakin sama isi otak Malik


daripada gue. Tapi, gue senang waktu gue


bilang mau masuk kedokteran, Mama nggak


protes."


Magnolia tidak menjawab lagi. Dia tidak tahu


kata-kata apa yang bisa menghibur hati Dimas.


Secara tidak langsung, mama telah


merendahkan kemampuan anak sulungnya


karena lebih memilih Malik. Di sisi lain, Kezia


tidak bisa belajar dengan baik bila gurunya


adalah Dimas. Bocah yang baru berusia tujuh


belas itu tidak sesabar Malik dalam


menghadapi Kezia. Masih mending dia


mengajari Magnolia yang walau kena marah


seratus kali akan tetap menulis dan


mengerjakan soalnya.


"Lo pintar, wajar kalau jadi dokter. Tapi nanti,


kalau gue sakit, jangan lupain adek lo, ya."


Dimas yang saat itu sudah membuka buku


latihan soal-soal UN yang sengaja dia beli


untuk Magnolia menatap adiknya selama


beberapa detik sebelum dia tersenyum dan


mengusap puncak kepala adiknya.


"Pastilah. Ngapain gue belajar kayak orang gila


kalau pada akhirnya gue lebih milih orang lain


daripada lo."


Dimas merasakan hatinya menghangat saat


Magnolia yang jarang tersenyum kemudian


menyeringai amat lebar. Dia kemudian


memanjangkan leher, memeriksa penghuni di


dalam rumah kemudian berpaling kembali


kepada abangnya untuk berkata, "Tapi lo


mesti jadi orang nomor satu yang nyembuhin


sakit kaki mama, bukan orang lain. Karena,


kata temen-temen gue yang jualan di pasar,


nggak ada yang lebih bikin bahagia mereka


melainkan melihat anak berbakti yang


berhasil bikin mereka sehat dan semangat


menjalani hidup."


Lagi-lagi, Dimas berusaha menahan haru yang


terus meluap entah berapa banyak demi


melihat adiknya seperti ini. Tanpa dia suruh,


tentu dia akan berusaha berjuang membantu


mama mereka. Tapi, sepintar dan segiat apa


pun dia, tidak pernah jauh lebih hebat


dibandingkan Magnolia yang sengaja


memintanya datang ke pasar untuk


mengambil dua kantong penuh sayur, cabai,


bahkan ikan serta ayam yang dia beli dengan


uang hasil berjualan lalu minta Dimas


mengaku kepada mama bahwa dia baru


mendapat gaji hasil mengajar les privat yang


selama ini selalu dia bangga-banggakan


kepada sang mama.


"Harusnya lo yang kasih."


"Jangan, Bang. Mama nggak bakal nyentuh


pemberian gue. Daripada busuk dan terbuang


di tong sampah, mending lo yang ngaku. Gue


nggak tega lihat kulkas Mama kosong. Gue


kasihan. Tapi, kalau gue sok baik, dia bakal


ngamuk sama gue."


Bahkan, seperempat usahanya untuk


menyaingi cinta sang adik kepada mama yang


tidak pernah menganggap dia ada pun, Dimas


tidak pernah bisa menang.


"Pinta gue cuma satu, jangan kasih tahu Mama


kalau selama ini, gue yang kasih dia sayur dan


lauk. Lo harus janji, Mas."


***

__ADS_1


__ADS_2