Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian VII


__ADS_3

Langit sudah gelap ketika Magnolia batuk


entah ke berapa kali. Kepalanya pening dan


pikirannya kusut. Tapi perasaannya saat ini


yang paling kacau. Entah sudah jam berapa


saat ini. Yang dia tahu, azan Isya sudah selesai


berkumandang sejak tadi dan dia masih saja


duduk di pinggir masjid dengan pandangan


kosong. Tubuhnya menggigil, kakinya


telanjang, tapi anehnya dia tidak merasa lapar


sama sekali sekalipun dia tidak makan sejak


pagi.


Andai paracetamol bisa disebut makanan,


mungkin dia bisa mengaku sudah makan.


Namun, dia tidak ingat sudah menelan selain


benda tersebut. Sejak Dimas memukulnya dan


dia melarikan diri dari rumah, hujan telah


turun dengan sangat deras. Dia yang tidak tahu


arah tujuannya siang tadi pada akhirnya


memilih untuk duduk di masjid dan menangis


sepuasnya saat salat.


Awalnya Magnolia tidak merasakan kesakitan


seperti yang sekarang dia rasakan. Mungkin


alasannya karena dia terlalu sedih dan kecewa


akibat perlakuan Dimas yang tidak pernah dia


sangka begitu terobsesi untuk memaksanya


lulus sekolah dan harus masuk sekolah yang


sama dengan dirinya. Padahal bukan satu atau


dua kali Magnolia menegaskan kalau tubuh


dan otaknya tidak lagi mampu menyerap


pelajaran dengan baik. Dia harus tetap


berjualan agar bisa melanjutkan hidup. Tetapi,


Dimas sepertinya belum paham.


Kini, setelah dia lelah menangis dan air


matanya sudah tidak bisa diajak berkompromi


lagi,dia membiarkan saja bulir-bulir itu terus


turun tanpa bisa dia cegah lagi. Dia sudah


terlalu capek meminta air matanya untuk


tidak terus turun lagi. Dadanya bahkan terasa


sesak dan nyeri. Tapi seperti tangisnya,


dibiarkannya saja nyeri-nyeri itu datang.


Sudah lama dia tidak menangis sehingga bisa


mengeluarkan air mata di saat seperti ini


seperti meluapkan semua kesedihan sejak


ditinggal papa.


“Papa, Adek sedih.” Magnolia menggigit bibir.


Dia tidak akan kembali ke rumah itu. Mama


dan Kezia bahkan menertawai saat Dimas


menghajarnya tadi. Jika Malik tidak menahan


badan Dimas, dia mungkin sudah mati.


Entahlah, dia tidak yakin Dimas sanggup


melakukannya. Tapi, kejadian siang tadi sudah


membuka matanya lebar-lebar bahwa belum


tentu Dimas bakal melindunginya hingga dia


dewasa nanti. Saat ini saja dia sudah mampu


memaksa Magnolia menuruti kemauannya


dan jika menolak dia bakal kena siksa.


Magnolia memeluk tubuhnya kuat-kuat. Hawa


dingin hujan mulai merasuk hingga tulang


belulangnya. Jaket tipis yang dipakainya tidak


mampu menangkal angin yang membawa


titik-titik air. Dia tidak mau kembali duduk di


dalam masjid. Selain karena waktu salat sudah


usai, dia tidak mau mengotori tempat suci ini


dengan tubuhnya yang kotor.


Magnolia menyandarkan kepala di salah satu


tiang masjid dan air matanya turun lagi ketika


secara tidak sadar dia menyebut tubuhnya


kotor. Apakah nasib anak haram lain sama


seperti dia? Tidak diinginkan oleh siapa pun


juga? Lantas, ke mana anak-anak itu


menyelamatkan diri? Adakah keluarga yang


menjaga dia? Atau mereka harus


menggelandang demi bisa tetap hidup esok


hari?


“Pulang.”

__ADS_1


Sebuah suara, dalam dan teduh, namun amat


familiar telah berhasil membuat Magnolia


mengangkat kepala. Air matanya masih


menggenang di pelupuk mata dan begitu


melihat sosok yang saat ini menjulurkan


payung di atas kepalanya, dia cepat-cepat


menghapus matanya yang basah dengan


punggung tangan.


“Ngapain lo ke sini?”


Magnolia menarik jaketnya semakin erat. Dia


tidak percaya, setelah berhasil


menyembunyikan diri selama berjam-jam,


bocah di hadapannya tahu posisinya saat ini.


“Dimas kayak orang gila nyariin lo dari tadi.”


Magnolia menggigit bibir. Jika bukan karena


Dimas, dia tidak akan sudi datang ke tempat


ini dan menyuruhnya pulang. Coba saja Dimas


memilih tidur di rumah, sudah pasti dia tidak


akan ketahuan sedang duduk di sini seperti


anak yatim yang menanti sumbangan dari


jamaah yang lewat.


“Biar aja dia nyariin gue. Lo juga, kenapa sok


ikut-ikutan nyari.”


Dia seharusnya bahagia karena Malik dengann


sukarela menyusulnya hingga ke tempat ini.


Tapi, karena dia mendengar dengan


telinganya sendiri bahwa dia tidak tega


melihat sahabatnya begitu terluka, dia


terpaksa ikut mencari Magnolia.


“Lo balik sana. Susuin abang gue. Gue nggak


butuh dia, nggak butuh belas kasihan kalian


semua.”


Air mata sialannya malah kembali meleleh.


Selama ini dia merasa kuat dan rundungan


dari siapa saja bisa dia terima. Meski begitu,


ketika melihat pemuda yang selama ini hampir


tidak pernah bicara dengannya malah berdiri


memayunginya di bawah atap masjid,


membuatnya tidak kuat lagi. Magnolia bahkan


lutut dan berusaha menahan isak tangis yang


dari tadi menolak berhenti.


“Dimas panik. Dia seharusnya pulang cepat


tadi karena guru kami rapat di sekolah. Tapi,


dia memilih buat nungguin lo. Jadi dia


langsung ke SMP dan menyuruh gue balik


duluan.”


Suara Malik terdengar amat lembut. Suara


inilah yang selalu dia dengar saat pemuda


tersebut mengajari Kezia. Dia kira, tidak bakal


pernah mendengar Malik bicara seperti ini


kepadanya sampai kapan pun.


“Tapi kata teman-teman lo, lo nggak masuk.”


Malik masih berdiri sembari memayungi


Magnolia sedangkan gadis itu masih


menundukkan wajah seolah tidak sanggup


mendengar kalimat yang keluar dari bibir


Malik. Dia memang menunggu saat-saat


pemuda tampan itu berbicara. Tapi tidak


seperti ini, tidak saat yang ada dalam pikiran


Malik hanyalah Dimas seorang, sahabat yang


paling dia sayang.


Seperti Dimas, Malik tetap bakal


menganggapnya salah juga. Yang paling


penting bagi abangnya adalah dia bisa


menyamai otaknya, masuk ke SMANSA, dan


tidak perlu memalukan keluarga. Bagaimana


bisa dia tidak membuat malu sedangkan dia


lahir ke dunia saja adalah hasil perbuatan


memalukan? Mama berkali-kali bilang kalau


dia adalah anak haram dan Kezia mendukung


ucapan mama. Sekarang dia mesti kembali ke


tempat itu setelah Dimas tidak


menganggapnya lagi seorang adik yang


menurut kepadanya?


“Gue nggak mau lagi sekolah.” Magnolia

__ADS_1


kembali mengangkat kepala dan saat ini Malik


sudah berjongkok di hadapannya, masih


sambil memegang payung untuk melindungi


kepala Magnolia dan kepalanya sendiri.


“Dia kira sekolah mudah? Otak gue nggak lagi


sama kayak kalian. Gue lebih mikirin gimana


caranya bisa makan, gimana bisa keluar dari


rumah itu, gimana supaya gue nggak dianggap


numpang hidup.”


Magnolia menarik napas sebelum dia kembali


bicara, “Gue mesti akting di depan semua


orang kalau gue kuat…”


Magnolia kembali menyembunyikan wajah,


“Dia mana tahu perasaan gue yang terbangun


tengah malam, sakit perut saat mens dan


berharap mama mau peluk gue sekali aja. Gue


berusaha nggak mau inget kalau gue bukan


anaknya, tapi nggak bisa. Seumur hidup gue,


gue cuma tahu kalau dia ibu gue.”


Dadanya sakit dan sesak ketika bicara dan


Magnolia tidak tahu siapa yang menggerakkan


hatinya untuk bicara seperti itu di depan Malik


padahal selama ini mereka hampir tidak


pernah bicara. Selama ini selalu dirinya dan


Malik akan menjadi tuli.


Magnolia berusaha tersenyum lalu


menertawakan dirinya sendiri telah


melakukan tindakan bodoh. Malik pasti cuma


menunggunya untuk kembali dan tidak bakal


repot-repot mendengar curhat bodohnya itu.


“Pakai ini.”


Lagi-lagi suara Malik membuatnya


mengangkat kepala dan entah kenapa bocah


itu mengangsurkan jaket hitam miliknya


kepada Magnolia.


“Pakai, terus kita pulang. Gue sudah kasih tahu


Dimas kalau lo masih bisa ikut UN susulan


minggu depan. Dia sekarang nungguin lo


dengan cemas.”


Malik bahkan melepaskan sendal miliknya


untuk dipakai Magnolia hingga gadis itu mesti


menampar pipinya sendiri dan meyakinkan


diri kalau semua ini bukan mimpi.


“Abang, lo masih waras, kan?”


Malik tidak menjawab. Dia lebih memilih


berdiri dan menunggu Magnolia memakai


sandal dan jaketnya. Karena itu juga, Magnolia


yang gugup kemudian buru-buru memakai


jaket dan sandal Malik sampai mengabaikan


kalau beberapa menit yang lalu dia merasa


begitu merana.


“Pegang sendiri payung lo. Buruan jalan. Gue


nggak enak dilihat dua-duaan di masjid kayak


gini.”


Magnolia yang sadar kemudian menoleh ke


arah sekeliling dan dia juga merasa malu


kepada dirinya saat ini. Karena itu juga, dia


segera menerima payung pemberian Malik


lalu berlari-lari kecil demi mengejar dan


menyejajari langkah Malik yang telah berjalan


lebih dulu.


Dia kira, semuanya telah usai hari ini. Tapi


Malik telah menemukannya, bocah tetangga


depan rumah yang telah membuatnya


bertahan hingga detik ini. Bocah yang sama


yang tadi mengangsurkan jaket, sandal, serta


payung untuknya bahkan membiarkan dirinya


sendiri bertelanjang kaki menyusuri jalan


basah dan dingin di malam ini. Saat ini dia


pasti telah bermimpi, pikir Magnolia. Tapi,


entah kenapa, meski dia tahu Malik melakukan


semua ini demi Dimas, dia tidak bisa menepis


perasaan senang dalam hatinya.


Cuma itu saja sudah cukup membuatnya


bahagia kembali.

__ADS_1


***


__ADS_2