
Langit sudah gelap ketika Magnolia batuk
entah ke berapa kali. Kepalanya pening dan
pikirannya kusut. Tapi perasaannya saat ini
yang paling kacau. Entah sudah jam berapa
saat ini. Yang dia tahu, azan Isya sudah selesai
berkumandang sejak tadi dan dia masih saja
duduk di pinggir masjid dengan pandangan
kosong. Tubuhnya menggigil, kakinya
telanjang, tapi anehnya dia tidak merasa lapar
sama sekali sekalipun dia tidak makan sejak
pagi.
Andai paracetamol bisa disebut makanan,
mungkin dia bisa mengaku sudah makan.
Namun, dia tidak ingat sudah menelan selain
benda tersebut. Sejak Dimas memukulnya dan
dia melarikan diri dari rumah, hujan telah
turun dengan sangat deras. Dia yang tidak tahu
arah tujuannya siang tadi pada akhirnya
memilih untuk duduk di masjid dan menangis
sepuasnya saat salat.
Awalnya Magnolia tidak merasakan kesakitan
seperti yang sekarang dia rasakan. Mungkin
alasannya karena dia terlalu sedih dan kecewa
akibat perlakuan Dimas yang tidak pernah dia
sangka begitu terobsesi untuk memaksanya
lulus sekolah dan harus masuk sekolah yang
sama dengan dirinya. Padahal bukan satu atau
dua kali Magnolia menegaskan kalau tubuh
dan otaknya tidak lagi mampu menyerap
pelajaran dengan baik. Dia harus tetap
berjualan agar bisa melanjutkan hidup. Tetapi,
Dimas sepertinya belum paham.
Kini, setelah dia lelah menangis dan air
matanya sudah tidak bisa diajak berkompromi
lagi,dia membiarkan saja bulir-bulir itu terus
turun tanpa bisa dia cegah lagi. Dia sudah
terlalu capek meminta air matanya untuk
tidak terus turun lagi. Dadanya bahkan terasa
sesak dan nyeri. Tapi seperti tangisnya,
dibiarkannya saja nyeri-nyeri itu datang.
Sudah lama dia tidak menangis sehingga bisa
mengeluarkan air mata di saat seperti ini
seperti meluapkan semua kesedihan sejak
ditinggal papa.
“Papa, Adek sedih.” Magnolia menggigit bibir.
Dia tidak akan kembali ke rumah itu. Mama
dan Kezia bahkan menertawai saat Dimas
menghajarnya tadi. Jika Malik tidak menahan
badan Dimas, dia mungkin sudah mati.
Entahlah, dia tidak yakin Dimas sanggup
melakukannya. Tapi, kejadian siang tadi sudah
membuka matanya lebar-lebar bahwa belum
tentu Dimas bakal melindunginya hingga dia
dewasa nanti. Saat ini saja dia sudah mampu
memaksa Magnolia menuruti kemauannya
dan jika menolak dia bakal kena siksa.
Magnolia memeluk tubuhnya kuat-kuat. Hawa
dingin hujan mulai merasuk hingga tulang
belulangnya. Jaket tipis yang dipakainya tidak
mampu menangkal angin yang membawa
titik-titik air. Dia tidak mau kembali duduk di
dalam masjid. Selain karena waktu salat sudah
usai, dia tidak mau mengotori tempat suci ini
dengan tubuhnya yang kotor.
Magnolia menyandarkan kepala di salah satu
tiang masjid dan air matanya turun lagi ketika
secara tidak sadar dia menyebut tubuhnya
kotor. Apakah nasib anak haram lain sama
seperti dia? Tidak diinginkan oleh siapa pun
juga? Lantas, ke mana anak-anak itu
menyelamatkan diri? Adakah keluarga yang
menjaga dia? Atau mereka harus
menggelandang demi bisa tetap hidup esok
hari?
“Pulang.”
__ADS_1
Sebuah suara, dalam dan teduh, namun amat
familiar telah berhasil membuat Magnolia
mengangkat kepala. Air matanya masih
menggenang di pelupuk mata dan begitu
melihat sosok yang saat ini menjulurkan
payung di atas kepalanya, dia cepat-cepat
menghapus matanya yang basah dengan
punggung tangan.
“Ngapain lo ke sini?”
Magnolia menarik jaketnya semakin erat. Dia
tidak percaya, setelah berhasil
menyembunyikan diri selama berjam-jam,
bocah di hadapannya tahu posisinya saat ini.
“Dimas kayak orang gila nyariin lo dari tadi.”
Magnolia menggigit bibir. Jika bukan karena
Dimas, dia tidak akan sudi datang ke tempat
ini dan menyuruhnya pulang. Coba saja Dimas
memilih tidur di rumah, sudah pasti dia tidak
akan ketahuan sedang duduk di sini seperti
anak yatim yang menanti sumbangan dari
jamaah yang lewat.
“Biar aja dia nyariin gue. Lo juga, kenapa sok
ikut-ikutan nyari.”
Dia seharusnya bahagia karena Malik dengann
sukarela menyusulnya hingga ke tempat ini.
Tapi, karena dia mendengar dengan
telinganya sendiri bahwa dia tidak tega
melihat sahabatnya begitu terluka, dia
terpaksa ikut mencari Magnolia.
“Lo balik sana. Susuin abang gue. Gue nggak
butuh dia, nggak butuh belas kasihan kalian
semua.”
Air mata sialannya malah kembali meleleh.
Selama ini dia merasa kuat dan rundungan
dari siapa saja bisa dia terima. Meski begitu,
ketika melihat pemuda yang selama ini hampir
tidak pernah bicara dengannya malah berdiri
memayunginya di bawah atap masjid,
membuatnya tidak kuat lagi. Magnolia bahkan
lutut dan berusaha menahan isak tangis yang
dari tadi menolak berhenti.
“Dimas panik. Dia seharusnya pulang cepat
tadi karena guru kami rapat di sekolah. Tapi,
dia memilih buat nungguin lo. Jadi dia
langsung ke SMP dan menyuruh gue balik
duluan.”
Suara Malik terdengar amat lembut. Suara
inilah yang selalu dia dengar saat pemuda
tersebut mengajari Kezia. Dia kira, tidak bakal
pernah mendengar Malik bicara seperti ini
kepadanya sampai kapan pun.
“Tapi kata teman-teman lo, lo nggak masuk.”
Malik masih berdiri sembari memayungi
Magnolia sedangkan gadis itu masih
menundukkan wajah seolah tidak sanggup
mendengar kalimat yang keluar dari bibir
Malik. Dia memang menunggu saat-saat
pemuda tampan itu berbicara. Tapi tidak
seperti ini, tidak saat yang ada dalam pikiran
Malik hanyalah Dimas seorang, sahabat yang
paling dia sayang.
Seperti Dimas, Malik tetap bakal
menganggapnya salah juga. Yang paling
penting bagi abangnya adalah dia bisa
menyamai otaknya, masuk ke SMANSA, dan
tidak perlu memalukan keluarga. Bagaimana
bisa dia tidak membuat malu sedangkan dia
lahir ke dunia saja adalah hasil perbuatan
memalukan? Mama berkali-kali bilang kalau
dia adalah anak haram dan Kezia mendukung
ucapan mama. Sekarang dia mesti kembali ke
tempat itu setelah Dimas tidak
menganggapnya lagi seorang adik yang
menurut kepadanya?
“Gue nggak mau lagi sekolah.” Magnolia
__ADS_1
kembali mengangkat kepala dan saat ini Malik
sudah berjongkok di hadapannya, masih
sambil memegang payung untuk melindungi
kepala Magnolia dan kepalanya sendiri.
“Dia kira sekolah mudah? Otak gue nggak lagi
sama kayak kalian. Gue lebih mikirin gimana
caranya bisa makan, gimana bisa keluar dari
rumah itu, gimana supaya gue nggak dianggap
numpang hidup.”
Magnolia menarik napas sebelum dia kembali
bicara, “Gue mesti akting di depan semua
orang kalau gue kuat…”
Magnolia kembali menyembunyikan wajah,
“Dia mana tahu perasaan gue yang terbangun
tengah malam, sakit perut saat mens dan
berharap mama mau peluk gue sekali aja. Gue
berusaha nggak mau inget kalau gue bukan
anaknya, tapi nggak bisa. Seumur hidup gue,
gue cuma tahu kalau dia ibu gue.”
Dadanya sakit dan sesak ketika bicara dan
Magnolia tidak tahu siapa yang menggerakkan
hatinya untuk bicara seperti itu di depan Malik
padahal selama ini mereka hampir tidak
pernah bicara. Selama ini selalu dirinya dan
Malik akan menjadi tuli.
Magnolia berusaha tersenyum lalu
menertawakan dirinya sendiri telah
melakukan tindakan bodoh. Malik pasti cuma
menunggunya untuk kembali dan tidak bakal
repot-repot mendengar curhat bodohnya itu.
“Pakai ini.”
Lagi-lagi suara Malik membuatnya
mengangkat kepala dan entah kenapa bocah
itu mengangsurkan jaket hitam miliknya
kepada Magnolia.
“Pakai, terus kita pulang. Gue sudah kasih tahu
Dimas kalau lo masih bisa ikut UN susulan
minggu depan. Dia sekarang nungguin lo
dengan cemas.”
Malik bahkan melepaskan sendal miliknya
untuk dipakai Magnolia hingga gadis itu mesti
menampar pipinya sendiri dan meyakinkan
diri kalau semua ini bukan mimpi.
“Abang, lo masih waras, kan?”
Malik tidak menjawab. Dia lebih memilih
berdiri dan menunggu Magnolia memakai
sandal dan jaketnya. Karena itu juga, Magnolia
yang gugup kemudian buru-buru memakai
jaket dan sandal Malik sampai mengabaikan
kalau beberapa menit yang lalu dia merasa
begitu merana.
“Pegang sendiri payung lo. Buruan jalan. Gue
nggak enak dilihat dua-duaan di masjid kayak
gini.”
Magnolia yang sadar kemudian menoleh ke
arah sekeliling dan dia juga merasa malu
kepada dirinya saat ini. Karena itu juga, dia
segera menerima payung pemberian Malik
lalu berlari-lari kecil demi mengejar dan
menyejajari langkah Malik yang telah berjalan
lebih dulu.
Dia kira, semuanya telah usai hari ini. Tapi
Malik telah menemukannya, bocah tetangga
depan rumah yang telah membuatnya
bertahan hingga detik ini. Bocah yang sama
yang tadi mengangsurkan jaket, sandal, serta
payung untuknya bahkan membiarkan dirinya
sendiri bertelanjang kaki menyusuri jalan
basah dan dingin di malam ini. Saat ini dia
pasti telah bermimpi, pikir Magnolia. Tapi,
entah kenapa, meski dia tahu Malik melakukan
semua ini demi Dimas, dia tidak bisa menepis
perasaan senang dalam hatinya.
Cuma itu saja sudah cukup membuatnya
bahagia kembali.
__ADS_1
***