
Jalanan agak becek saat Magnolia berjalan masjid. Suasana cukup sepi karena orang orang lebih memilih berada di dalam rumah daripada berjalan saat
gerimis seperti ini. Magnolia sebenarnya
sudah gatal hendak bertanya kenapa Malik
bisa menemukannya di masjid, padahal dia
yakin, tidak akan ada yang mengetahui tempat
persembunyiannya. Toh, tidak banyak orang
yang melarikan diri bakal mencari
perlindungan di tempat ibadah seperti yang
dirinya lakukan. Tapi, Magnolia sudah tidak
tahu lagi harus melangkah ke mana. Walau
saat ini dia masih menyimpan uang hasil
berjualan hari ini dan beberapa hari lalu, dia
tidak ingin ke mana-mana.
“Abang, kenapa lo tahu kalau gue ada di
masjid?”
Malik yang berjalan di depan Magnolia tidak
menjawab. Magnolia bahkan harus memarahi
dirinya sendiri kalau yang berada di
hadapannya saat ini adalah Malik Galih
Kencana yang tidak bakal mau bicara
kepadanya biar dunia meledak sekalipun.
Karena itu, dia memilih diam dan memandangi
sosok tampan itu sembari mengucap syukur,
pemuda itu yang menemukannya.
Malik saat itu masih memakai seragam
sekolah dan jaket yang dia pakai saat ini
sebelumnya dipakai Malik saat dia hendak
berangkat menjemput Dimas tadi. Apakah
Malik mencarinya sejak siang? Atau dia lebih
dahulu pergi ke tempat les dan saat
menemukan Dimas belum juga
menemukannya, Malik terpaksa membantu.
Magnolia tidak bisa mendapatkan jawabannya
sehingga dia memilih menundukkan kepala
dan memandangi kakinya yang kini dilindungi
oleh sandal milik Malik yang selama ini tidak
pernah dia bayangkan memakainya bahkan
dalam mimpi. Pandangannya lalu terarah pada
kaki Malik yang telanjang dan mengingat tadi
dia telah berjalan tanpa alas kaki ketika
matahari masih sangat terik, dia lalu menarik
bagian belakang seragam milik bocah tampan
itu tanpa sadar dan Malik berhenti melangkah
untuk menoleh kepadanya.
“Lo pake aja sandalnya lagi. Ntar kaki lo lecet.
Penggemar lo bisa marah-marah ke gue.”
Malik menghela napas melihat anak
perempuan menyebalkan di hadapannya saat
ini. Dia memilih menggeleng dan kemudian
kembali balik badan dan melanjutkan berjalan
menembus gerimis.
Kalau lo masih kayak gitu, harusnya nggak
usah nyariin gue, pikir Magnolia sambil
memajukan bibir, Lo gengsi jalan bareng gue,
kan?
“Nggak.”
Magnolia mengangkat kepala. Malik masih
berjalan di depannya dan tidak menoleh sama
sekali seperti tadi sehingga dia merasa kalau
tadi telinganya salah dengar.
Udah berapa lama gue nggak korek kuping?
Magnolia menggunakan kelingking kiri untuk
mengorek telinganya. Tapi, tidak terdapat
kotoran di sana dan dia yakin telinganya
bersih. Lagipula, dia tidak yakin yang barusan
adalah suara Malik. Dia, kan, sedang bicara
dengan dirinya sendiri.
“Harusnya lo nggak usah ikut nyari-nyari gue
hujan-hujan begini. Nanti ganteng lo luntur.”
Ish, ngomong apa, sih, dia ini? Si Malik tidak
bakal mendengarkan dan peduli sama sekali
dengan ucapannya. Pemuda itu hanya
menjemputnya karena tidak tega melihat
Dimas menderita.
“Jangan-jangan lo homo. Naksir sama Mamas.
Kayak dicocok hidung kalau sama dia. Lah,
kalau sama gue, lo bawaannya lari mulu.
Bukannya itu ciri-ciri manusia yang nggak
senang sama cewek? Ati-ati, Bang. Ntar kena
HIV AIDS. Lo kalau ketahuan *****-*****
Mamas, berantem sama gue, beneran. Kecil-
kecil gini, gue pernah menang lomba pukul
bantal se-RT.”
Malik menghela napas dan memejamkan mata
mendengar tuduhan dari Magnolia. Dia
menghentikan langkah secara tiba-tiba hingga
membuat si mungil berlesung pipi tersebut
nyaris terjungkal karena menabrak tubuhnya.
“Astaga. Lo ngapain, sih, berhenti?” Magnolia
memegangi hidungnya yang dia rasa pasti
patah. Entah terbuat dari apa punggung Malik,
__ADS_1
yang pasti mustahil anak kelas sebelas bisa
membuat hidungnya berdenyut-denyut.
Badannya tidak sebesar The Rock atau jangan-
jangan, tubuh Malik sebenarnya kurus kering
dengan banyak tulang menonjol sehingga
tulang-tulang itulah yang barusan
menghantam hidungnya.
“Bisa diam, nggak?”
Entah kenapa dia bisa naksir Malik. Selain
wajah dan prestasinya, tabiat, suara, serta
kadar kepekaan bocah itu nyaris nol menurut
Magnolia. Meski begitu, Malik kemudian
membantu mengambil kembali payung yang
tadi dijatuhkan Magnolia saat dia tidak sengaja
menabrak punggung Malik.
“Hidung lo nggak patah. Sekarang jalan lagi.
Hujan makin deras. Dimas pasti masih nyari
lo.”
Malik menarik tangannya dari hidung
Magnolia. Tangannya dingin dan Magnolia
merasa bersalah. Gara-gara dia, Malik mesti
memberikan jaket miliknya untuk dia pakai,
padahal, Magnolia sendiri sudah memakai
jaket tipis miliknya.
Ngomong-ngomong, jaket yang dia pakai
sudah terlalu lapuk. Dia membeli jaket
tersebut ketika mendapatkan uang hasil
berjualan kopi di terminal. Hanya tiga puluh
ribu dan Jajang yang memilihkan benda itu di
los baju bekas impor yang letaknya di
belakang pasar.
“Oi, ini bermerk.” seru Jajang waktu melihat
merk yang terjahit di bagian tengkuk jaket,
“Adidas.”
Magnolia yang sadar bahwa mereka
menemukan harta karun dengan harga jungkir
balik akhirnya langsung membayar jaket
tersebut tanpa menawar lagi. Kini, meski
sudah dua tahun lewat dan benda itu makin
pudar karena dia pakai setiap hari, Magnolia
tetap menyayanginya. Jaket tersebutlah benda
pertama yang dia beli dengan gaji pertamanya
untuk melindungi tubuhnya dari serangan
dingin di malam hari.
Seharusnya dia bisa memakai jaket bekas
milik papa. Tapi mama menyimpan semua
diizinkan masuk hanya untuk mengambil
sebuah kenang-kenangan ayah kandungnya,
bahkan sebuah kaos bekas untuk dia peluk
setiap malam.
Magnolia hanya punya sebuah sarung yang
sering papa pakai untuk salat. Itu juga hasil
pemberian Dimas yang tidak tega melihat
adiknya tidur tanpa selimut.
Magnolia tidak banyak protes saat Malik
menyuruhnya untuk terus berjalan. Tapi
setelah lima menit, dia merasa sedikit bingung
ketika mereka melewati sederetan ruko. Malik
sengaja berbelok ke apotek dan menyuruh
Magnolia menunggu di depan ruko sementara
dia masuk. Meski bingung, dia akhirnya
menurut dan supaya pemuda itu tidak marah
dia memandanginya terus-terusan, Magnolia
memilih untuk memandangi jalanan yang kini
dilewati beberapa mobil.
Sebuah nyamuk menggigit betis Magnolia dan
refleks dia menepuk betisnya sendiri. Dia tidak
memakai celana panjang melainkan jin sebetis
yang seperti jaket, dia beli di los baju bekas.
Dia hampir tidak pernah membeli pakaian
baru keluaran toko. Selain sayang dengan uang
yang mesti dia keluarkan, baju-baju di los
barang bekas biasanya masih memakai tag.
Tidak banyak orang tahu bahwa di sudut pasar
ada surga pakaian bermerk dan harganya
benar-benar miring.
Kecuali seragam sekolah dan pakaian dalam,
Magnolia adalah penggemar pakaian bekas
murah di los. Cukup beli cairan antiseptik dan
rendam semua baju-baju bekas tersebut
dengan deterjen, jemur dan setrika, maka dia
akan mendapatkan sebuah baju baru yang
tidak disangka-sangka dulunya adalah baju
bekas.
Entah kapan Malik keluar, Magnolia terkejut
karena tahu-tahu bocah itu menyodorkan
sebuah kantong dan beberapa blister obat
yang membuat alisnya naik tanda tidak
paham. Ada juga botol vitamin yang tidak dia
kenal tapi diserahkan oleh Malik kepadanya
sehingga dia memandangi gebetannya
__ADS_1
tersebut dengan pandangan bingung.
"Eh, apa, nih?"
Apakah Malik tuli? Kenapa pemuda itu malah
berjalan meninggalkannya sehingga kemudian
Magnolia mesti berjalan terburu-buru
menyusulnya dari belakang. Itu pun dia mesti
kembali lagi ke ruko karena dia meninggalkan
payung pemberian Malik untuknya. Gara-gara
itu juga, Malik yang kesal lantas menarik
resleting jaket miliknya yang dipakai
Magnolia, mengancingkannya hingga gadis itu
tersembunyi di dalamnya, serta menarik
hoodie yang tersembunyi di belakang rambut
kuncir kuda Magnolia dan memakaikannya
hingga seluruh rambut dan kepala adik
sahabatnya tersebut tertutup. Setelahnya, dia
berjalan kembali seolah jeda sebentar tadi
tidak pernah terjadi di dalam hidupnya
sementara Magnolia yang terlalu kaget hanya
memandanginya dengan alis naik.
Beliin gue obat, ngancingin jaket, bener-bener
lo takut gue lecet, biar Mamas nggak khawatir.
Gue kira lo yang begitu karena inisiatif sendiri.
Magnolia kemudian kembali menyusul
langkah Malik yang tergesa-gesa di depan.
"Cepetan, dong. Lo sengaja lama-lamain, kan?"
"Nggak bisa gue jalan cepat." Magnolia
membalas. Suaranya naik karena pada saat
yang sama sebuah mobil mengklakson dan
melaju dengan amat cepat. Percikan dari mobil
tersebut menyembur mengenai mereka
berdua sehingga membuat Magnolia
memejamkan mata, berharap dia tidak perlu
bertemu Malik dan berteriak saat lehernya
semakin sakit.
"Sandal lo kegedean. Kaki gue kelelep. Mesti
setengah mati jalan biar langkah lo bisa
kesusul."
Magnolia menunjuk ke arah sandal yang dia
pakai sehingga Malik dapat dengan jelas
melihat perbedaan kaki mereka. Magnolia
biasanya memakai ukuran kaki 35, sementara
dirinya, meski baru berusia tujuh belas tahun,
sudah memakai ukuran 43. Tidak heran,
tubuhnya memang menjulang tinggi. Bahkan,
Malik lebih tinggi dibandingkan Dimas.
"Lo jalan aja duluan. Gue nggak bisa jalan
cepat-cepat. Kaki gue lelet kayak bebek."
Magnolia merasa kini suaranya serak dan
berharap telinga Malik benar-benar tuli
sehingga tidak mendengar perbedaan
tersebut. Dia juga baru sadar telah seharian
tidak minum sehingga tidak heran,
tenggorokannya jadi seperti itu.
Tidak ada respon, tidak ada gerakan. Magnolia
juga terlalu takut untuk mendongak. Lagipula,
payung yang dipakainya cukup besar sehingga
dia tidak bisa melihat Malik dengan jelas. Usai
menghela napas entah untuk alasan apa, dia
kemudian melangkah kembali. Kali ini, agar
tidak ketinggalan lagi, Magnolia sengaja
melebarkan kaki.
"Makan dulu."
Suara Malik yang kembali berubah lembut,
membuat Magnolia berhenti melangkah. Di
hadapannya, pemuda itu menunjuk ke arah
gerobak soto mie yang ternyata membuka
lapak di bawah sebuah ruko, dekat apotek.
Magnolia bahkan tidak percaya dengan
pendengarannya sendiri dan kembali
meyakinkan diri kalau dia salah dengar.
"Ya ampun. Lo susah banget diomongin.
Pantas aja Dimas suka marah-marah.”
Malik mendekat ke arah Magnolia dan tiba-
tiba saja menarik tangan kirinya hingga
Magnolia nyaris terpekik kaget. Hingga
mereka akhirnya duduk berhadapan di meja
kayu beralas spanduk Teh Botol, Magnolia
tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun dan
hanya mampu memandangi Malik yang
sengaja berdiri untuk memesan makanan buat
mereka malam itu.
Ini tidak mungkin kenyataan. Dia pasti sedang
tidur dan sebentar lagi, dia akan bangun.
Magnolia cepat-cepat menampar pipinya
dengan kuat, sebelum Malik kembali ke kursi
mereka.
Aduh, sakit! ringisnya.
Masak, sih, ini bukan mimpi? Kayak nggak
masuk akal.
***
__ADS_1