Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian VIII Jalanan agak becek saat Magnolia berjalan masjid.


__ADS_3

Jalanan agak becek saat Magnolia berjalan masjid. Suasana cukup sepi karena orang orang lebih memilih berada di dalam rumah daripada berjalan saat


gerimis seperti ini. Magnolia sebenarnya


sudah gatal hendak bertanya kenapa Malik


bisa menemukannya di masjid, padahal dia


yakin, tidak akan ada yang mengetahui tempat


persembunyiannya. Toh, tidak banyak orang


yang melarikan diri bakal mencari


perlindungan di tempat ibadah seperti yang


dirinya lakukan. Tapi, Magnolia sudah tidak


tahu lagi harus melangkah ke mana. Walau


saat ini dia masih menyimpan uang hasil


berjualan hari ini dan beberapa hari lalu, dia


tidak ingin ke mana-mana.


“Abang, kenapa lo tahu kalau gue ada di


masjid?”


Malik yang berjalan di depan Magnolia tidak


menjawab. Magnolia bahkan harus memarahi


dirinya sendiri kalau yang berada di


hadapannya saat ini adalah Malik Galih


Kencana yang tidak bakal mau bicara


kepadanya biar dunia meledak sekalipun.


Karena itu, dia memilih diam dan memandangi


sosok tampan itu sembari mengucap syukur,


pemuda itu yang menemukannya.


Malik saat itu masih memakai seragam


sekolah dan jaket yang dia pakai saat ini


sebelumnya dipakai Malik saat dia hendak


berangkat menjemput Dimas tadi. Apakah


Malik mencarinya sejak siang? Atau dia lebih


dahulu pergi ke tempat les dan saat


menemukan Dimas belum juga


menemukannya, Malik terpaksa membantu.


Magnolia tidak bisa mendapatkan jawabannya


sehingga dia memilih menundukkan kepala


dan memandangi kakinya yang kini dilindungi


oleh sandal milik Malik yang selama ini tidak


pernah dia bayangkan memakainya bahkan


dalam mimpi. Pandangannya lalu terarah pada


kaki Malik yang telanjang dan mengingat tadi


dia telah berjalan tanpa alas kaki ketika


matahari masih sangat terik, dia lalu menarik


bagian belakang seragam milik bocah tampan


itu tanpa sadar dan Malik berhenti melangkah


untuk menoleh kepadanya.


“Lo pake aja sandalnya lagi. Ntar kaki lo lecet.


Penggemar lo bisa marah-marah ke gue.”


Malik menghela napas melihat anak


perempuan menyebalkan di hadapannya saat


ini. Dia memilih menggeleng dan kemudian


kembali balik badan dan melanjutkan berjalan


menembus gerimis.


Kalau lo masih kayak gitu, harusnya nggak


usah nyariin gue, pikir Magnolia sambil


memajukan bibir, Lo gengsi jalan bareng gue,


kan?


“Nggak.”


Magnolia mengangkat kepala. Malik masih


berjalan di depannya dan tidak menoleh sama


sekali seperti tadi sehingga dia merasa kalau


tadi telinganya salah dengar.


Udah berapa lama gue nggak korek kuping?


Magnolia menggunakan kelingking kiri untuk


mengorek telinganya. Tapi, tidak terdapat


kotoran di sana dan dia yakin telinganya


bersih. Lagipula, dia tidak yakin yang barusan


adalah suara Malik. Dia, kan, sedang bicara


dengan dirinya sendiri.


“Harusnya lo nggak usah ikut nyari-nyari gue


hujan-hujan begini. Nanti ganteng lo luntur.”


Ish, ngomong apa, sih, dia ini? Si Malik tidak


bakal mendengarkan dan peduli sama sekali


dengan ucapannya. Pemuda itu hanya


menjemputnya karena tidak tega melihat


Dimas menderita.


“Jangan-jangan lo homo. Naksir sama Mamas.


Kayak dicocok hidung kalau sama dia. Lah,


kalau sama gue, lo bawaannya lari mulu.


Bukannya itu ciri-ciri manusia yang nggak


senang sama cewek? Ati-ati, Bang. Ntar kena


HIV AIDS. Lo kalau ketahuan *****-*****


Mamas, berantem sama gue, beneran. Kecil-


kecil gini, gue pernah menang lomba pukul


bantal se-RT.”


Malik menghela napas dan memejamkan mata


mendengar tuduhan dari Magnolia. Dia


menghentikan langkah secara tiba-tiba hingga


membuat si mungil berlesung pipi tersebut


nyaris terjungkal karena menabrak tubuhnya.


“Astaga. Lo ngapain, sih, berhenti?” Magnolia


memegangi hidungnya yang dia rasa pasti


patah. Entah terbuat dari apa punggung Malik,

__ADS_1


yang pasti mustahil anak kelas sebelas bisa


membuat hidungnya berdenyut-denyut.


Badannya tidak sebesar The Rock atau jangan-


jangan, tubuh Malik sebenarnya kurus kering


dengan banyak tulang menonjol sehingga


tulang-tulang itulah yang barusan


menghantam hidungnya.


“Bisa diam, nggak?”


Entah kenapa dia bisa naksir Malik. Selain


wajah dan prestasinya, tabiat, suara, serta


kadar kepekaan bocah itu nyaris nol menurut


Magnolia. Meski begitu, Malik kemudian


membantu mengambil kembali payung yang


tadi dijatuhkan Magnolia saat dia tidak sengaja


menabrak punggung Malik.


“Hidung lo nggak patah. Sekarang jalan lagi.


Hujan makin deras. Dimas pasti masih nyari


lo.”


Malik menarik tangannya dari hidung


Magnolia. Tangannya dingin dan Magnolia


merasa bersalah. Gara-gara dia, Malik mesti


memberikan jaket miliknya untuk dia pakai,


padahal, Magnolia sendiri sudah memakai


jaket tipis miliknya.


Ngomong-ngomong, jaket yang dia pakai


sudah terlalu lapuk. Dia membeli jaket


tersebut ketika mendapatkan uang hasil


berjualan kopi di terminal. Hanya tiga puluh


ribu dan Jajang yang memilihkan benda itu di


los baju bekas impor yang letaknya di


belakang pasar.


“Oi, ini bermerk.” seru Jajang waktu melihat


merk yang terjahit di bagian tengkuk jaket,


“Adidas.”


Magnolia yang sadar bahwa mereka


menemukan harta karun dengan harga jungkir


balik akhirnya langsung membayar jaket


tersebut tanpa menawar lagi. Kini, meski


sudah dua tahun lewat dan benda itu makin


pudar karena dia pakai setiap hari, Magnolia


tetap menyayanginya. Jaket tersebutlah benda


pertama yang dia beli dengan gaji pertamanya


untuk melindungi tubuhnya dari serangan


dingin di malam hari.


Seharusnya dia bisa memakai jaket bekas


milik papa. Tapi mama menyimpan semua


diizinkan masuk hanya untuk mengambil


sebuah kenang-kenangan ayah kandungnya,


bahkan sebuah kaos bekas untuk dia peluk


setiap malam.


Magnolia hanya punya sebuah sarung yang


sering papa pakai untuk salat. Itu juga hasil


pemberian Dimas yang tidak tega melihat


adiknya tidur tanpa selimut.


Magnolia tidak banyak protes saat Malik


menyuruhnya untuk terus berjalan. Tapi


setelah lima menit, dia merasa sedikit bingung


ketika mereka melewati sederetan ruko. Malik


sengaja berbelok ke apotek dan menyuruh


Magnolia menunggu di depan ruko sementara


dia masuk. Meski bingung, dia akhirnya


menurut dan supaya pemuda itu tidak marah


dia memandanginya terus-terusan, Magnolia


memilih untuk memandangi jalanan yang kini


dilewati beberapa mobil.


Sebuah nyamuk menggigit betis Magnolia dan


refleks dia menepuk betisnya sendiri. Dia tidak


memakai celana panjang melainkan jin sebetis


yang seperti jaket, dia beli di los baju bekas.


Dia hampir tidak pernah membeli pakaian


baru keluaran toko. Selain sayang dengan uang


yang mesti dia keluarkan, baju-baju di los


barang bekas biasanya masih memakai tag.


Tidak banyak orang tahu bahwa di sudut pasar


ada surga pakaian bermerk dan harganya


benar-benar miring.


Kecuali seragam sekolah dan pakaian dalam,


Magnolia adalah penggemar pakaian bekas


murah di los. Cukup beli cairan antiseptik dan


rendam semua baju-baju bekas tersebut


dengan deterjen, jemur dan setrika, maka dia


akan mendapatkan sebuah baju baru yang


tidak disangka-sangka dulunya adalah baju


bekas.


Entah kapan Malik keluar, Magnolia terkejut


karena tahu-tahu bocah itu menyodorkan


sebuah kantong dan beberapa blister obat


yang membuat alisnya naik tanda tidak


paham. Ada juga botol vitamin yang tidak dia


kenal tapi diserahkan oleh Malik kepadanya


sehingga dia memandangi gebetannya

__ADS_1


tersebut dengan pandangan bingung.


"Eh, apa, nih?"


Apakah Malik tuli? Kenapa pemuda itu malah


berjalan meninggalkannya sehingga kemudian


Magnolia mesti berjalan terburu-buru


menyusulnya dari belakang. Itu pun dia mesti


kembali lagi ke ruko karena dia meninggalkan


payung pemberian Malik untuknya. Gara-gara


itu juga, Malik yang kesal lantas menarik


resleting jaket miliknya yang dipakai


Magnolia, mengancingkannya hingga gadis itu


tersembunyi di dalamnya, serta menarik


hoodie yang tersembunyi di belakang rambut


kuncir kuda Magnolia dan memakaikannya


hingga seluruh rambut dan kepala adik


sahabatnya tersebut tertutup. Setelahnya, dia


berjalan kembali seolah jeda sebentar tadi


tidak pernah terjadi di dalam hidupnya


sementara Magnolia yang terlalu kaget hanya


memandanginya dengan alis naik.


Beliin gue obat, ngancingin jaket, bener-bener


lo takut gue lecet, biar Mamas nggak khawatir.


Gue kira lo yang begitu karena inisiatif sendiri.


Magnolia kemudian kembali menyusul


langkah Malik yang tergesa-gesa di depan.


"Cepetan, dong. Lo sengaja lama-lamain, kan?"


"Nggak bisa gue jalan cepat." Magnolia


membalas. Suaranya naik karena pada saat


yang sama sebuah mobil mengklakson dan


melaju dengan amat cepat. Percikan dari mobil


tersebut menyembur mengenai mereka


berdua sehingga membuat Magnolia


memejamkan mata, berharap dia tidak perlu


bertemu Malik dan berteriak saat lehernya


semakin sakit.


"Sandal lo kegedean. Kaki gue kelelep. Mesti


setengah mati jalan biar langkah lo bisa


kesusul."


Magnolia menunjuk ke arah sandal yang dia


pakai sehingga Malik dapat dengan jelas


melihat perbedaan kaki mereka. Magnolia


biasanya memakai ukuran kaki 35, sementara


dirinya, meski baru berusia tujuh belas tahun,


sudah memakai ukuran 43. Tidak heran,


tubuhnya memang menjulang tinggi. Bahkan,


Malik lebih tinggi dibandingkan Dimas.


"Lo jalan aja duluan. Gue nggak bisa jalan


cepat-cepat. Kaki gue lelet kayak bebek."


Magnolia merasa kini suaranya serak dan


berharap telinga Malik benar-benar tuli


sehingga tidak mendengar perbedaan


tersebut. Dia juga baru sadar telah seharian


tidak minum sehingga tidak heran,


tenggorokannya jadi seperti itu.


Tidak ada respon, tidak ada gerakan. Magnolia


juga terlalu takut untuk mendongak. Lagipula,


payung yang dipakainya cukup besar sehingga


dia tidak bisa melihat Malik dengan jelas. Usai


menghela napas entah untuk alasan apa, dia


kemudian melangkah kembali. Kali ini, agar


tidak ketinggalan lagi, Magnolia sengaja


melebarkan kaki.


"Makan dulu."


Suara Malik yang kembali berubah lembut,


membuat Magnolia berhenti melangkah. Di


hadapannya, pemuda itu menunjuk ke arah


gerobak soto mie yang ternyata membuka


lapak di bawah sebuah ruko, dekat apotek.


Magnolia bahkan tidak percaya dengan


pendengarannya sendiri dan kembali


meyakinkan diri kalau dia salah dengar.


"Ya ampun. Lo susah banget diomongin.


Pantas aja Dimas suka marah-marah.”


Malik mendekat ke arah Magnolia dan tiba-


tiba saja menarik tangan kirinya hingga


Magnolia nyaris terpekik kaget. Hingga


mereka akhirnya duduk berhadapan di meja


kayu beralas spanduk Teh Botol, Magnolia


tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun dan


hanya mampu memandangi Malik yang


sengaja berdiri untuk memesan makanan buat


mereka malam itu.


Ini tidak mungkin kenyataan. Dia pasti sedang


tidur dan sebentar lagi, dia akan bangun.


Magnolia cepat-cepat menampar pipinya


dengan kuat, sebelum Malik kembali ke kursi


mereka.


Aduh, sakit! ringisnya.


Masak, sih, ini bukan mimpi? Kayak nggak


masuk akal.


***

__ADS_1


__ADS_2