Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian II wajah Dimas agak sedikit cemas melihat?.


__ADS_3

Wajah adiknya berjalan dengan wajah amat ceria menuju ke arahnya. Dia tahu jelas alasan adiknya jadi seperti itu. Kehadiran Malik yang


kini sedang duduk memegang stang motor


matik berwarna biru tua miliknya telah


membuat si gadis penjual lap dapur menjadi


amat ceria. Magnolia bahkan tidak malu sama


sekali walau saat ini, di bahu kanan dan kirinya


tersampir beberapa lap kotak-kotak bergaris


biru, hijau, merah, dan hitam, yang memang


menjadi dagangannya hari itu.


"Abang kangen, ya, ama Yaya makanya


mampir?"


Dimas yang sudah berdiri di samping motor


segera menjitak kepala adiknya,


"Sembarangan aja kalau ngomong. Gue yang


minta tolong sama Malik buat nganterin gue ke


sini, mastiin lo udah balik. Taunya masih


jualan. Ayo balik."


Magnolia mengusap pelipis kanannya. Walau


Dimas cuma main-main, jitakannya tetap saja


kuat, "Males, ah, balik. Mau lanjut ke terminal


abis ini. Lo nggak usah jemput, gue bawa


sepeda."


Magnolia menunjuk ke arah batang pohon


tempat dia memarkirkan sepedanya. Karena


itu juga pandangan Dimas tertuju ke arah


sepeda adiknya dan dia menghela napas


sebelum bicara lagi dengan menahan sedikit


kesal, "Dek, lo besok masih UN."


Memang selama beberapa hari ini dia harus


mengikuti UN, Ujian Nasional yang harus


dilewati setiap anak SMP agar bisa lulus dan


melanjutkan ke SMA yang mereka mau. Tapi,


seperti ucapan Magnolia kepada Jajang, dia


tidak tahu fungsi melanjutkan sekolah bila


saat ini saja dia sudah bisa mendapatkan uang


tanpa perlu belajar.


"Iya, sih. Tapi sayang, Mas. Di terminal, kalau


habis Magriban, banyak yang suka ngopi-


ngopi dulu."


Magnolia tahu, meski saat ini dia bicara


dengan suara cukup keras supaya Malik bisa


mendengarnya, bocah tampan itu memilih


untuk pura-pura tuli. Pandangan matanya


sejak tadi hanya lurus ke arah jalan dan dia


sama sekali tidak memedulikan Magnolia.


Tujuan Malik datang ke tempat itu sejak


semula sudah jelas sekali, mengantarkan


Dimas.


"Sudahlah. UN cuma empat hari, lho, Dek. Ini


sudah hari ketiga. Besok pelajaran IPA. Mau


masuk SMANSA, kan? Biar bisa sama-sama


gue."


Magnolia ingin menjawab tidak, karena dia


tahu, lulus atau tidak lulus hanya akan


membuat hidupnya tambah sulit. Tetapi,


tawaran Dimas tentang mereka tetap


bersama-sama di sekolah yang sama setelah


dua tahun terpisah, sedikit membuatnya


tertarik. Meski begitu, ketika menemukan


Malik tetap tidak memberikan sedikit


perhatian sama sekali pada obrolan mereka,


Magnolia merasa tidak bersemangat.


"Ketemu lo tiap hari di rumah juga gue bisa."


Jawaban Magnolia membuat Dimas

__ADS_1


menggelengkan kepala, "Yang benar aja!


Rumah sama sekolah itu beda." Dimas lalu


memajukan kepalanya ke arah Magnolia dan


bicara sambil berbisik, "Bukannya lo senang


sama Malik? Di SMA bisa lihat dia sampai


puas."


Magnolia melirik Malik yang kini menguap


tanda bosan. Dia sebenarnya senang melihat


bocah tampan itu masih mau menemani Dimas


ke pasar demi menemui adiknya. Tapi,


Magnolia yakin, tidak sedikit pun Malik setuju


untuk sekadar ngobrol atau membalas


sapaannya seperti tadi.


Apalagi dia tahu, di SMANSA JUARA tempat


Malik dan Dimas bersekolah saat ini, Dimas


dinobatkan sebagai murid paling pintar dan


tampan. Sudah pasti penggemarnya bakal


meningkat dan penggemar goblok dan


berwajah rata-rata macam dirinya hanya akan


dianggap jigong oleh Malik, seperti biasa.


Standar manusia yang bisa diajak ngobrol


dengan bocah itu selain Dimas, paling banter


hanya Kezia. Magnolia, si anak haram, tidak


pernah masuk hitungan.


"Ntar, habis jualan gue pulang. Jam sembilan,


deh. Biasanya, kan, gue balik jam sepuluh."


Dimas menggeleng. Dia lantas memanggil


Malik yang masih bengong di motor. Si tampan


tersebut menoleh. Selama seperkian detik,


Magnolia merasa kalau Malik sempat


memperhatikannya. Tapi, anggapan itu buyar


sewaktu Malik menjawab panggilan abangnya,


"Yes, bro?"


Sumpah, Magnolia merasakan sedikit


kesedihan waktu Malik sama sekali tidak


menolak. Dia memilih mengangguk lalu melaju


dengan motornya, meninggalkan Magnolia


yang masih berharap sedikit saja bakal disapa.


Kenyataannya, Malik hanya melambai kepada


sahabatnya dan tidak kepada dia.


Sedih banget, yaelah. Apa gara-gara gue


nenteng lap jadi dia nggak mau negor?


"Kita ke sepeda lo. Biar gue yang bonceng


pulang. Besok aja lo jualan. Ulangan IPA


banyak hitung-hitungannya, lho, Dek. Bahaya


kalau lo nggak bisa jawab."


Dimas mengambil setumpuk lap dari


pegangan Magnolia, berikut beberapa lap yang


tersampir di bahu adiknya. Setelah itu, dia


menenteng lap tersebut dengan tangan kiri,


sementara tangan kanannya dia gunakan


untuk menggenggam tangan Magnolia. Jika


tidak begitu, gadis kelas sembilan ini bakal


kabur atau menolak diajak pulang.


"Tinggal buletin A, B, C, atau D. Apa susahnya?"


Terdengar helaan napas dari sang abang dan


Magnolia tidak merasa heran. Dia sempat


melambai pada Jajang yang kelihatan amat


puas pada karena akhirnya Magnolia


menyerah dan ikut abangnya pulang. Tapi,


setelahnya, Magnolia merasa telinganya


berdenging mendengar wejangan Dimas yang


tidak pernah selesai.


"Iya, tinggal dibulatkan. Tapi apa jawabannya

__ADS_1


benar? Adek bungsu gue mesti masuk


SMANSA. Lo nggak tahu betapa bangganya gue


kalau nanti kita bertiga sekolah di sekolah


yang sama lagi."


Entah mengapa, Magnolia tidak terlalu senang


mendengarnya. Bila dia kembali bersekolah di


sekolah yang sama dengan Kezia, kakak tirinya


itu bakal benci sekali kepadanya.


"Lo kenapa ngebet banget ngajarin gue? Sama


Keke lo nggak begini-begini amat, sih.


Harusnya lo lebih sayang sama dia, adek


kandung lo."


Magnolia merasa kalau Dimas meremas


tangannya lebih kencang dan dia sedikit


meringis. Kenapa Dimas harus tidak setuju?


Ucapannya, kan, memang benar.


"Lo juga adik kandung gue, Ya." Dimas


mengusap pelipis kirinya dengan ujung buku


jari telunjuk sementara dia mengepit lap


Magnolia di ketiak.


"Keke sudah dikasih fasilitas terbaik sama


Mama. Dia dibantu guru privat. Wajar kalau


dia bisa lulus UN dan masuk SMANSA dengan


mudah. Gue juga nggak kalah, kok, sama guru


privat pilihan Mama. Nilai kami nggak jauh


beda. Malik juara satu di kelasnya, gue juga.


Masak, gue nggak bisa bantu si bontot sukses


juga. Dulu, bocah ini pinter, kok. Sering


menang lomba."


Dulu, pikir Magnolia. Semasa papa masih


hidup dan dia tidak perlu memikirkan cara


mencari uang supaya bisa makan besok atau


bisa membiayai hidupnya beberapa hari ke


depan. Sekarang, dia tidak bisa lagi seperti


dulu dan bisa menyentuh buku selagi dia sibuk


berteriak "Lap murah tiga sepuluh" sepanjang


waktu, adalah hal luar biasa.


"Kalau gue lulus dan masuk SMANSA, lo mau


kasih hadiah apa? Jangan lo kira perjuangan


gue buat belajar itu nggak ada bonusnya, ya,


Mas. Rambut gue rontok, mata gue sakit,


aduh…"


Magnolia mengusap rambutnya yang acak-


acakan karena Dimas memukul kepalanya


menggunakan satu pak lap yang plastiknya


belum dibuka. Tidak sakit, tapi cukup untuk


membuatnya berhenti mengoceh.


"Gue izinin lo ngecengin Malik sampai kita


berdua lulus."


Dimas tertawa, lalu dia berjalan lebih cepat


menuju parkiran sepeda, mengabaikan bibir


Magnolia yang maju dua sentimeter karena


mendengar jawaban barusan.


"Gue nggak perlu izin lo buat begituan."


Dimas mana mau mendengar. Padahal, yang


paling Magnolia inginkan adalah Malik mau


sekali saja membalas sapaannya setiap hari.


Jika hal tersebut benar-benar terjadi, dia


bakalan mau bergadang kembali malam ini


dan menjawab semua soal UN IPA dengan


benar.


Tapi, Magnolia tidak yakin, baik Dimas


ataupun Tuhan akan mengabulkan doanya.


***

__ADS_1


__ADS_2