
Wajah adiknya berjalan dengan wajah amat ceria menuju ke arahnya. Dia tahu jelas alasan adiknya jadi seperti itu. Kehadiran Malik yang
kini sedang duduk memegang stang motor
matik berwarna biru tua miliknya telah
membuat si gadis penjual lap dapur menjadi
amat ceria. Magnolia bahkan tidak malu sama
sekali walau saat ini, di bahu kanan dan kirinya
tersampir beberapa lap kotak-kotak bergaris
biru, hijau, merah, dan hitam, yang memang
menjadi dagangannya hari itu.
"Abang kangen, ya, ama Yaya makanya
mampir?"
Dimas yang sudah berdiri di samping motor
segera menjitak kepala adiknya,
"Sembarangan aja kalau ngomong. Gue yang
minta tolong sama Malik buat nganterin gue ke
sini, mastiin lo udah balik. Taunya masih
jualan. Ayo balik."
Magnolia mengusap pelipis kanannya. Walau
Dimas cuma main-main, jitakannya tetap saja
kuat, "Males, ah, balik. Mau lanjut ke terminal
abis ini. Lo nggak usah jemput, gue bawa
sepeda."
Magnolia menunjuk ke arah batang pohon
tempat dia memarkirkan sepedanya. Karena
itu juga pandangan Dimas tertuju ke arah
sepeda adiknya dan dia menghela napas
sebelum bicara lagi dengan menahan sedikit
kesal, "Dek, lo besok masih UN."
Memang selama beberapa hari ini dia harus
mengikuti UN, Ujian Nasional yang harus
dilewati setiap anak SMP agar bisa lulus dan
melanjutkan ke SMA yang mereka mau. Tapi,
seperti ucapan Magnolia kepada Jajang, dia
tidak tahu fungsi melanjutkan sekolah bila
saat ini saja dia sudah bisa mendapatkan uang
tanpa perlu belajar.
"Iya, sih. Tapi sayang, Mas. Di terminal, kalau
habis Magriban, banyak yang suka ngopi-
ngopi dulu."
Magnolia tahu, meski saat ini dia bicara
dengan suara cukup keras supaya Malik bisa
mendengarnya, bocah tampan itu memilih
untuk pura-pura tuli. Pandangan matanya
sejak tadi hanya lurus ke arah jalan dan dia
sama sekali tidak memedulikan Magnolia.
Tujuan Malik datang ke tempat itu sejak
semula sudah jelas sekali, mengantarkan
Dimas.
"Sudahlah. UN cuma empat hari, lho, Dek. Ini
sudah hari ketiga. Besok pelajaran IPA. Mau
masuk SMANSA, kan? Biar bisa sama-sama
gue."
Magnolia ingin menjawab tidak, karena dia
tahu, lulus atau tidak lulus hanya akan
membuat hidupnya tambah sulit. Tetapi,
tawaran Dimas tentang mereka tetap
bersama-sama di sekolah yang sama setelah
dua tahun terpisah, sedikit membuatnya
tertarik. Meski begitu, ketika menemukan
Malik tetap tidak memberikan sedikit
perhatian sama sekali pada obrolan mereka,
Magnolia merasa tidak bersemangat.
"Ketemu lo tiap hari di rumah juga gue bisa."
Jawaban Magnolia membuat Dimas
__ADS_1
menggelengkan kepala, "Yang benar aja!
Rumah sama sekolah itu beda." Dimas lalu
memajukan kepalanya ke arah Magnolia dan
bicara sambil berbisik, "Bukannya lo senang
sama Malik? Di SMA bisa lihat dia sampai
puas."
Magnolia melirik Malik yang kini menguap
tanda bosan. Dia sebenarnya senang melihat
bocah tampan itu masih mau menemani Dimas
ke pasar demi menemui adiknya. Tapi,
Magnolia yakin, tidak sedikit pun Malik setuju
untuk sekadar ngobrol atau membalas
sapaannya seperti tadi.
Apalagi dia tahu, di SMANSA JUARA tempat
Malik dan Dimas bersekolah saat ini, Dimas
dinobatkan sebagai murid paling pintar dan
tampan. Sudah pasti penggemarnya bakal
meningkat dan penggemar goblok dan
berwajah rata-rata macam dirinya hanya akan
dianggap jigong oleh Malik, seperti biasa.
Standar manusia yang bisa diajak ngobrol
dengan bocah itu selain Dimas, paling banter
hanya Kezia. Magnolia, si anak haram, tidak
pernah masuk hitungan.
"Ntar, habis jualan gue pulang. Jam sembilan,
deh. Biasanya, kan, gue balik jam sepuluh."
Dimas menggeleng. Dia lantas memanggil
Malik yang masih bengong di motor. Si tampan
tersebut menoleh. Selama seperkian detik,
Magnolia merasa kalau Malik sempat
memperhatikannya. Tapi, anggapan itu buyar
sewaktu Malik menjawab panggilan abangnya,
"Yes, bro?"
Sumpah, Magnolia merasakan sedikit
kesedihan waktu Malik sama sekali tidak
menolak. Dia memilih mengangguk lalu melaju
dengan motornya, meninggalkan Magnolia
yang masih berharap sedikit saja bakal disapa.
Kenyataannya, Malik hanya melambai kepada
sahabatnya dan tidak kepada dia.
Sedih banget, yaelah. Apa gara-gara gue
nenteng lap jadi dia nggak mau negor?
"Kita ke sepeda lo. Biar gue yang bonceng
pulang. Besok aja lo jualan. Ulangan IPA
banyak hitung-hitungannya, lho, Dek. Bahaya
kalau lo nggak bisa jawab."
Dimas mengambil setumpuk lap dari
pegangan Magnolia, berikut beberapa lap yang
tersampir di bahu adiknya. Setelah itu, dia
menenteng lap tersebut dengan tangan kiri,
sementara tangan kanannya dia gunakan
untuk menggenggam tangan Magnolia. Jika
tidak begitu, gadis kelas sembilan ini bakal
kabur atau menolak diajak pulang.
"Tinggal buletin A, B, C, atau D. Apa susahnya?"
Terdengar helaan napas dari sang abang dan
Magnolia tidak merasa heran. Dia sempat
melambai pada Jajang yang kelihatan amat
puas pada karena akhirnya Magnolia
menyerah dan ikut abangnya pulang. Tapi,
setelahnya, Magnolia merasa telinganya
berdenging mendengar wejangan Dimas yang
tidak pernah selesai.
"Iya, tinggal dibulatkan. Tapi apa jawabannya
__ADS_1
benar? Adek bungsu gue mesti masuk
SMANSA. Lo nggak tahu betapa bangganya gue
kalau nanti kita bertiga sekolah di sekolah
yang sama lagi."
Entah mengapa, Magnolia tidak terlalu senang
mendengarnya. Bila dia kembali bersekolah di
sekolah yang sama dengan Kezia, kakak tirinya
itu bakal benci sekali kepadanya.
"Lo kenapa ngebet banget ngajarin gue? Sama
Keke lo nggak begini-begini amat, sih.
Harusnya lo lebih sayang sama dia, adek
kandung lo."
Magnolia merasa kalau Dimas meremas
tangannya lebih kencang dan dia sedikit
meringis. Kenapa Dimas harus tidak setuju?
Ucapannya, kan, memang benar.
"Lo juga adik kandung gue, Ya." Dimas
mengusap pelipis kirinya dengan ujung buku
jari telunjuk sementara dia mengepit lap
Magnolia di ketiak.
"Keke sudah dikasih fasilitas terbaik sama
Mama. Dia dibantu guru privat. Wajar kalau
dia bisa lulus UN dan masuk SMANSA dengan
mudah. Gue juga nggak kalah, kok, sama guru
privat pilihan Mama. Nilai kami nggak jauh
beda. Malik juara satu di kelasnya, gue juga.
Masak, gue nggak bisa bantu si bontot sukses
juga. Dulu, bocah ini pinter, kok. Sering
menang lomba."
Dulu, pikir Magnolia. Semasa papa masih
hidup dan dia tidak perlu memikirkan cara
mencari uang supaya bisa makan besok atau
bisa membiayai hidupnya beberapa hari ke
depan. Sekarang, dia tidak bisa lagi seperti
dulu dan bisa menyentuh buku selagi dia sibuk
berteriak "Lap murah tiga sepuluh" sepanjang
waktu, adalah hal luar biasa.
"Kalau gue lulus dan masuk SMANSA, lo mau
kasih hadiah apa? Jangan lo kira perjuangan
gue buat belajar itu nggak ada bonusnya, ya,
Mas. Rambut gue rontok, mata gue sakit,
aduh…"
Magnolia mengusap rambutnya yang acak-
acakan karena Dimas memukul kepalanya
menggunakan satu pak lap yang plastiknya
belum dibuka. Tidak sakit, tapi cukup untuk
membuatnya berhenti mengoceh.
"Gue izinin lo ngecengin Malik sampai kita
berdua lulus."
Dimas tertawa, lalu dia berjalan lebih cepat
menuju parkiran sepeda, mengabaikan bibir
Magnolia yang maju dua sentimeter karena
mendengar jawaban barusan.
"Gue nggak perlu izin lo buat begituan."
Dimas mana mau mendengar. Padahal, yang
paling Magnolia inginkan adalah Malik mau
sekali saja membalas sapaannya setiap hari.
Jika hal tersebut benar-benar terjadi, dia
bakalan mau bergadang kembali malam ini
dan menjawab semua soal UN IPA dengan
benar.
Tapi, Magnolia tidak yakin, baik Dimas
ataupun Tuhan akan mengabulkan doanya.
***
__ADS_1