
Magnolia Rayya Hassan tidak tahu pukul
berapa saat ini. Hujan masih turun walau tidak
sederas tadi. Di hadapannya tersaji dua
mangkuk soto mie hangat. Uap panas
mengepul-ngepul dan dia memperhatikan
Malik yang saat ini memanggil seorang
pelayan untuk minta dibuatkan dua gelas teh
manis hangat.
Matanya pasti salah lihat. Di hadapannya saat
ini pastilah Dimas atau Jajang. Malik Galih
Kencana tidak pernah seperti ini, pikir
Magnolia. Membalas ucapannya saja hampir
tidak pernah, bagaimana bisa saat ini pemuda
itu malah duduk dan memesan menu yang
sama untuknya, si anak tetangga, tukang lap
kotak-kotak yang punya status anak haram di
rumah keluarga Hassan?
Magnolia mendekatkan hidungnya ke arah
mangkuk soto mie yang dia tebak adalah jatah
yang diberikan malik untuknya. Cuma ada
mereka berdua saat ini, mustahil Malik sengaja
membeli untuk Dimas.
Huh, lagi-lagi dia teringat Mamas. Apakah
abangnya sudah menyantap mie ayam
pembeliannya tadi? Karena jika tidak, akan
sangat sayang sekali. Dia harus mengorbankan
tiga buah lap untuk bisa membeli seporsi mie
ayam lengkap dengan ceker dan tiga pentol
bakso. Dimas mendapat porsi spesial padahal
kalau dirinya, biasa membeli porsi setengah.
Selain hemat, dia suka mencampur semua
makanan dengan nasi supaya kenyang hingga
dia tidak perlu lagi makan malam.
Buat diri sendiri pelit, tapi kalau beliin Mamas,
nggak mikir duit.
Sayang, ternyata Dimas malu menerima hasil
pemberiannya. Ternyata bagi Dimas lap kotak-
kotak yang selama ini membantunya
menyambung hidup adalah hal tidak berguna
dan membuatnya malu. Apakah gara-gara itu
juga, Malik enggan menegurnya selama ini?
“Makan. Jangan diliatin doang.”
Magnolia tidak mendengar kata-kata Malik,
bahkan dia tidak memperhatikan pelayan
yang datang dan meletakkan dua gelas teh
manis hangat ke hadapan mereka. Gadis itu
hanya memandangi mangkuk dengan bibir
melengkung ke bawah membayangkan
abangnya yang tersayang saat ini mungkin
belum makan karena malu memakan uang
hasil dia berjualan selama berjam-jam.
Tahu-tahu saja, Malik menarik tangan kanan
Magnolia dan mengarahkannya kepada
sendok dalam mangkuk di depan gadis
tersebut sehingga Magnolia tergagap.
“Makan. Habis ini minum obat. Dimas pasti
sedih lihat lo masih demam kayak gini.”
Dimas lagi. Pikir Magnolia sedih. Dia
seharusnya mencurigai pemuda di
hadapannya saat ini. Dia begitu
mengkhawatirkan Dimas hingga mau-mau
saja mengurusi Magnolia yang selama ini tidak
pernah masuk dalam radarnya. Selain Dimas,
Kezia juga jadi salah satu orang yang sering dia
perhatikan. Tidak jarang, saat dia mengintip
Malik sedang memberi les kepada Kezia, bocah
tampan itu memandangi saudari Magnolia
tersebut dengan tatapan amat lembut, tidak
seperti kepadanya, terutama seperti saat ini.
Alis Malik naik, matanya memicing seolah
hendak menusuk Magnolia dan mengirimnya
ke akhirat.
Magnolia memutuskan untuk mengangguk
dan tidak banyak bicara. Dengan sendok yang
tadi diberikan Malik untuknya, dia mulai
menyuapkan soto mie ke mulut. Namun
sebelum itu, dia mengucapkan terima kasih
atas kemurahatian Malik yang tidak pernah
dia sangka-sangka.
Malik seperti biasa tetap menulikan telinga
dan Magnolia yang sudah terlalu maklum
akhirnya menyerah.
Inget, Ya, dia semata-mata melakukan ini demi
Abang. Jadi berhenti GR dan menyangka kalau
__ADS_1
dia punya perasaan. Dia cuma terpaksa. Titik.
Magnolia dan Malik menghabiskan waktu
sekitar sepuluh menit menghabiskan makan
malam mereka. Saat Malik hendak membayar,
Magnolia sudah lebih dulu merogoh jaketnya
dan mengangsurkan beberapa lembar uang
seribuan lusuh yang dia gumpal-gumpalkan
dalam kantong jaket. Agak susah meraih uang
uang kertas tersebut karena Malik mengunci
jaketnya dengan erat. Tapi, Magnolia tidak
habis akal, ditariknya saja bagian bawah jaket
Malik dan dia bisa memasukkan tangannya ke
kantong jaket miliknya lalu asal mengambil
beberapa lembar sebagai pembayaran.
“Ini bagian gue.”
Malik hanya melihat sekilas tangan Magnolia
yang terulur kepadanya dan dia
memperhatikan lembaran-lembaran seribuan
tersebut dalam diam sebelum melengos dan
berjalan ke arah tukang soto mie. Magnolia
kemudian memandangi uangnya sendiri lalu
meneguk air ludah. Apakah uang yang akan dia
serahkan ini terlalu jelek sehingga Malik tidak
mau menerima? Tapi, kan, dia mendapatkan
uang tersebut dengan susah payah setelah
berdiri nyaris setengah hari di bawah terik
mentari dan respon pemuda itu hanyalah
kerlingan datar dan dia ditinggalkan seorang
diri dengan menanggung perasaan malu
karena merasa uangnya tidak cukup layak
sebagai alat pembayaran.
Baiklah, dia akan membayar sendiri, pikir
Magnolia. Gadis itu lantas bangkit dan berjalan
menuju gerobak soto mie. Tapi, belum sempat
mendekat, Malik yang sudah selesai
membayar memanggilnya, “Ngapain lo ke
sana? Mau bungkus?”
Magnolia menggeleng. Dia menunjukkan uang
ribuan di tangannya sebagai tanda kalau dia
juga mau membayar. Tapi, Malik mengatakan
kalau dia sudah membayar semuanya dan
mereka hanya tinggal keluar dari bawah
tenda. Malik bahkan sudah memegang payung
Magnolia dan menyerahkannya begitu gadis
arahnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Magnolia menerima
payung pemberian Malik dan mereka berdua
berjalan dalam diam menuju ke kompleks
perumahan tempat mereka tinggal.
Nggak boleh banyak ngomong. Nggak boleh
banyak tanya. Gue nggak tahu kenapa bisa
jadiin lo gebetan. Otak gue mungkin kepentok
waktu milih lo, Magnolia menertawakan
dirinya dalam hati mengenang semua
kebodohan yang dia buat karena nekat naksir
Malik. Benar kata Dimas, dia seharusnya
belajar saja bukan naksir anak tetangga yang
tidak pernah menoleh kepadanya.
Lima menit berjalan, Malik sekalipun tidak
mengajaknya bicara. Karena itu juga, Magnolia
yang sudah menyerah, memilih memandangi
rumah-rumah tetangga blok sebelah yang
setiap hari dia lewati dalam perjalanan ke
pasar. Hampir semua orang yang tinggal di
kompleks adalah pegawai negeri, termasuk
papa yang sempat bertugas jadi pegawai dinas
pertanahan. Dulu, saat dia masih kecil, papa
sering melakukan perjalanan dinas dan akan
kembali dalam beberapa hari sambil
membawa oleh-oleh dari tempat yang
dikunjunginya meski Magnolia tidak meminta.
"Nggak usah bawa oleh-oleh. Yaya lebih suka
Papa di rumah dan nggak perlu dinas luar."
Dia tidak tahu bahwa dulu papa adalah
petugas lapangan dan melakukan survey ke
berbagai daerah adalah pekerjaannya,
berbeda dengan Tante Laura, ibu kandung
Malik yang lebih banyak bekerja di dalam
ruangan.
"Yaya. Yaya.”
Sebuah suara terdengar di telinga Magnolia
saat dia sedang memandangi kakinya yang
kini memakai sandal kebesaran milik Malik.
Dia mengangkat kepala dan menemukan
__ADS_1
Dimas berlari menyongsongnya dengan
tergopoh-gopoh. Badan bocah tujuh belas
tahun itu basah karena air hujan dan matanya
masih memerah. Begitu dia berhadapan
dengan Magnolia yang masih memegang
payung dan memakai jaket milik Malik yang
kebesaran, Dimas tanpa ragu memeluk
adiknya dengan amat erat.
"Adekku sayang. Maafin gue. Gue salah, gue
mesti dihukum. Tapi lo jangan lari dari rumah.
Jangan tinggalin gue. Gue sudah janji sama
Papa buat jaga lo."
Magnolia berusaha melepaskan diri dari
pelukan Dimas yang kini menciumi puncak
kepalanya berkali-kali. Air mata pemuda
tampan yang wajahnya begitu mirip dengan
wajahnya sendiri itu mengucur deras dan dia
mengusap dahi serta pipi adiknya dengan
penuh kasih sayang.
"Lo masih demam, jalan ujan-ujanan gini.
Semua gara-gara gue bodoh."
"Lo apa-apaan, sih?" Magnolia mendorong
wajah Dimas agar menjauh dari pipi dan
kepalanya. Dia tahu abangnya cemas, tapi,
Dimas tidak perlu bersikap berlebihan di
depan Malik.
"Obatnya sudah gue beliin.”
Malik menunjukkan plastik obat yang kini
berada dalam genggamannya. Hal tersebut
membuat Magnolia sedikit kaget. Dia benar-
benar melupakan benda tersebut sejak selesai
makan tadi. Wajah Malik yang tampak masam
saat memamerkan obat yang dia beli untuk
Magnolia, kepada Dimas adalah bukti kalau dia
rela melakukan hal tersebut demi sahabatnya.
"Makasih banyak, Bro. Kalau nggak ada lo, gue
nggak tahu bisa melewati malam ini atau
nggak.”
Magnolia ingin sekali muntah. Bukan karena
dia tidak suka dengan ucapan Dimas,
melainkan membayangkan abangnya dengan
penuh kasih sayang mengucapkan terima
kasih atas kebaikan hati Malik, seolah-olah
pemuda itu diciptakan Tuhan untuk selalu
membantunya.
"Pulang, ya, Dek. Mandi air hangat. Gue yang
masak. Abis itu makan… "
"Dia sudah makan tadi." Malik memotong.
Wajah Dimas terlihat kalau dia ingin berterima
kasih kembali kepada Malik walau kemudian
Malik menambahkan, "tapi nggak abis."
"Nggak apa-apa. Yang penting Yaya sudah
makan, sudah pulang. Besok istirahat. Mamas
yang bakal jualan di pasar gantiin lo.”
Dimas memegangi bahu Magnolia. Wajahnya
terlihat amat menyesal dan dia akan
melakukan apa saja asal adiknya kembali.
Dimas bahkan tidak melepaskan tautan tangan
mereka setelah ketiganya akhirnya berjalan
menuju rumah yang letaknya tinggal satu blok
lagi.
"Dia baik banget." Dimas tersenyum kepada
Magnolia yang masih memandangi punggung
Malik yang berjalan lebih dulu dari pada
dirinya. Pujian yang dia dengar bertubi-tubi
dari mulut Dimas membuat telinganya
berdenging.
"Diem, Mas. Lama-lama lo naksir dia beneran."
Magnolia menggelengkan kepala. Kepalanya
sampai sakit karena berusaha tidak
memikirkan betapa eratnya hubungan Malik
dan Dimas hingga membuat sesuatu di dalam
dadanya seolah terluka tapi tidak berdarah.
"Ngomong apa, sih, Dek?" Dimas mencoba
tertawa, akan tetapi Magnolia hanya
membeku dan berusaha untuk bernapas
dengan benar saat dia menyadari udara dingin
menyergap tubuhnya dengan tiba-tiba.
"Dek. Dek. Yaya…"
Malik yang mendengar teriakan Dimas
menoleh dan melempar payungnya, lalu
berlari dengan cepat karena pada detik yang
sama, Dimas hampir terjungkal karena
menahan tubuh Magnolia yang tiba-tiba tidak
__ADS_1
sadarkan diri.
***