Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian IX Magnolia Rayya Hassan tidak tahu pukul berapa saat ini


__ADS_3

Magnolia Rayya Hassan tidak tahu pukul


berapa saat ini. Hujan masih turun walau tidak


sederas tadi. Di hadapannya tersaji dua


mangkuk soto mie hangat. Uap panas


mengepul-ngepul dan dia memperhatikan


Malik yang saat ini memanggil seorang


pelayan untuk minta dibuatkan dua gelas teh


manis hangat.


Matanya pasti salah lihat. Di hadapannya saat


ini pastilah Dimas atau Jajang. Malik Galih


Kencana tidak pernah seperti ini, pikir


Magnolia. Membalas ucapannya saja hampir


tidak pernah, bagaimana bisa saat ini pemuda


itu malah duduk dan memesan menu yang


sama untuknya, si anak tetangga, tukang lap


kotak-kotak yang punya status anak haram di


rumah keluarga Hassan?


Magnolia mendekatkan hidungnya ke arah


mangkuk soto mie yang dia tebak adalah jatah


yang diberikan malik untuknya. Cuma ada


mereka berdua saat ini, mustahil Malik sengaja


membeli untuk Dimas.


Huh, lagi-lagi dia teringat Mamas. Apakah


abangnya sudah menyantap mie ayam


pembeliannya tadi? Karena jika tidak, akan


sangat sayang sekali. Dia harus mengorbankan


tiga buah lap untuk bisa membeli seporsi mie


ayam lengkap dengan ceker dan tiga pentol


bakso. Dimas mendapat porsi spesial padahal


kalau dirinya, biasa membeli porsi setengah.


Selain hemat, dia suka mencampur semua


makanan dengan nasi supaya kenyang hingga


dia tidak perlu lagi makan malam.


Buat diri sendiri pelit, tapi kalau beliin Mamas,


nggak mikir duit.


Sayang, ternyata Dimas malu menerima hasil


pemberiannya. Ternyata bagi Dimas lap kotak-


kotak yang selama ini membantunya


menyambung hidup adalah hal tidak berguna


dan membuatnya malu. Apakah gara-gara itu


juga, Malik enggan menegurnya selama ini?


“Makan. Jangan diliatin doang.”


Magnolia tidak mendengar kata-kata Malik,


bahkan dia tidak memperhatikan pelayan


yang datang dan meletakkan dua gelas teh


manis hangat ke hadapan mereka. Gadis itu


hanya memandangi mangkuk dengan bibir


melengkung ke bawah membayangkan


abangnya yang tersayang saat ini mungkin


belum makan karena malu memakan uang


hasil dia berjualan selama berjam-jam.


Tahu-tahu saja, Malik menarik tangan kanan


Magnolia dan mengarahkannya kepada


sendok dalam mangkuk di depan gadis


tersebut sehingga Magnolia tergagap.


“Makan. Habis ini minum obat. Dimas pasti


sedih lihat lo masih demam kayak gini.”


Dimas lagi. Pikir Magnolia sedih. Dia


seharusnya mencurigai pemuda di


hadapannya saat ini. Dia begitu


mengkhawatirkan Dimas hingga mau-mau


saja mengurusi Magnolia yang selama ini tidak


pernah masuk dalam radarnya. Selain Dimas,


Kezia juga jadi salah satu orang yang sering dia


perhatikan. Tidak jarang, saat dia mengintip


Malik sedang memberi les kepada Kezia, bocah


tampan itu memandangi saudari Magnolia


tersebut dengan tatapan amat lembut, tidak


seperti kepadanya, terutama seperti saat ini.


Alis Malik naik, matanya memicing seolah


hendak menusuk Magnolia dan mengirimnya


ke akhirat.


Magnolia memutuskan untuk mengangguk


dan tidak banyak bicara. Dengan sendok yang


tadi diberikan Malik untuknya, dia mulai


menyuapkan soto mie ke mulut. Namun


sebelum itu, dia mengucapkan terima kasih


atas kemurahatian Malik yang tidak pernah


dia sangka-sangka.


Malik seperti biasa tetap menulikan telinga


dan Magnolia yang sudah terlalu maklum


akhirnya menyerah.


Inget, Ya, dia semata-mata melakukan ini demi


Abang. Jadi berhenti GR dan menyangka kalau

__ADS_1


dia punya perasaan. Dia cuma terpaksa. Titik.


Magnolia dan Malik menghabiskan waktu


sekitar sepuluh menit menghabiskan makan


malam mereka. Saat Malik hendak membayar,


Magnolia sudah lebih dulu merogoh jaketnya


dan mengangsurkan beberapa lembar uang


seribuan lusuh yang dia gumpal-gumpalkan


dalam kantong jaket. Agak susah meraih uang


uang kertas tersebut karena Malik mengunci


jaketnya dengan erat. Tapi, Magnolia tidak


habis akal, ditariknya saja bagian bawah jaket


Malik dan dia bisa memasukkan tangannya ke


kantong jaket miliknya lalu asal mengambil


beberapa lembar sebagai pembayaran.


“Ini bagian gue.”


Malik hanya melihat sekilas tangan Magnolia


yang terulur kepadanya dan dia


memperhatikan lembaran-lembaran seribuan


tersebut dalam diam sebelum melengos dan


berjalan ke arah tukang soto mie. Magnolia


kemudian memandangi uangnya sendiri lalu


meneguk air ludah. Apakah uang yang akan dia


serahkan ini terlalu jelek sehingga Malik tidak


mau menerima? Tapi, kan, dia mendapatkan


uang tersebut dengan susah payah setelah


berdiri nyaris setengah hari di bawah terik


mentari dan respon pemuda itu hanyalah


kerlingan datar dan dia ditinggalkan seorang


diri dengan menanggung perasaan malu


karena merasa uangnya tidak cukup layak


sebagai alat pembayaran.


Baiklah, dia akan membayar sendiri, pikir


Magnolia. Gadis itu lantas bangkit dan berjalan


menuju gerobak soto mie. Tapi, belum sempat


mendekat, Malik yang sudah selesai


membayar memanggilnya, “Ngapain lo ke


sana? Mau bungkus?”


Magnolia menggeleng. Dia menunjukkan uang


ribuan di tangannya sebagai tanda kalau dia


juga mau membayar. Tapi, Malik mengatakan


kalau dia sudah membayar semuanya dan


mereka hanya tinggal keluar dari bawah


tenda. Malik bahkan sudah memegang payung


Magnolia dan menyerahkannya begitu gadis


arahnya.


Tanpa banyak bicara lagi, Magnolia menerima


payung pemberian Malik dan mereka berdua


berjalan dalam diam menuju ke kompleks


perumahan tempat mereka tinggal.


Nggak boleh banyak ngomong. Nggak boleh


banyak tanya. Gue nggak tahu kenapa bisa


jadiin lo gebetan. Otak gue mungkin kepentok


waktu milih lo, Magnolia menertawakan


dirinya dalam hati mengenang semua


kebodohan yang dia buat karena nekat naksir


Malik. Benar kata Dimas, dia seharusnya


belajar saja bukan naksir anak tetangga yang


tidak pernah menoleh kepadanya.


Lima menit berjalan, Malik sekalipun tidak


mengajaknya bicara. Karena itu juga, Magnolia


yang sudah menyerah, memilih memandangi


rumah-rumah tetangga blok sebelah yang


setiap hari dia lewati dalam perjalanan ke


pasar. Hampir semua orang yang tinggal di


kompleks adalah pegawai negeri, termasuk


papa yang sempat bertugas jadi pegawai dinas


pertanahan. Dulu, saat dia masih kecil, papa


sering melakukan perjalanan dinas dan akan


kembali dalam beberapa hari sambil


membawa oleh-oleh dari tempat yang


dikunjunginya meski Magnolia tidak meminta.


"Nggak usah bawa oleh-oleh. Yaya lebih suka


Papa di rumah dan nggak perlu dinas luar."


Dia tidak tahu bahwa dulu papa adalah


petugas lapangan dan melakukan survey ke


berbagai daerah adalah pekerjaannya,


berbeda dengan Tante Laura, ibu kandung


Malik yang lebih banyak bekerja di dalam


ruangan.


"Yaya. Yaya.”


Sebuah suara terdengar di telinga Magnolia


saat dia sedang memandangi kakinya yang


kini memakai sandal kebesaran milik Malik.


Dia mengangkat kepala dan menemukan

__ADS_1


Dimas berlari menyongsongnya dengan


tergopoh-gopoh. Badan bocah tujuh belas


tahun itu basah karena air hujan dan matanya


masih memerah. Begitu dia berhadapan


dengan Magnolia yang masih memegang


payung dan memakai jaket milik Malik yang


kebesaran, Dimas tanpa ragu memeluk


adiknya dengan amat erat.


"Adekku sayang. Maafin gue. Gue salah, gue


mesti dihukum. Tapi lo jangan lari dari rumah.


Jangan tinggalin gue. Gue sudah janji sama


Papa buat jaga lo."


Magnolia berusaha melepaskan diri dari


pelukan Dimas yang kini menciumi puncak


kepalanya berkali-kali. Air mata pemuda


tampan yang wajahnya begitu mirip dengan


wajahnya sendiri itu mengucur deras dan dia


mengusap dahi serta pipi adiknya dengan


penuh kasih sayang.


"Lo masih demam, jalan ujan-ujanan gini.


Semua gara-gara gue bodoh."


"Lo apa-apaan, sih?" Magnolia mendorong


wajah Dimas agar menjauh dari pipi dan


kepalanya. Dia tahu abangnya cemas, tapi,


Dimas tidak perlu bersikap berlebihan di


depan Malik.


"Obatnya sudah gue beliin.”


Malik menunjukkan plastik obat yang kini


berada dalam genggamannya. Hal tersebut


membuat Magnolia sedikit kaget. Dia benar-


benar melupakan benda tersebut sejak selesai


makan tadi. Wajah Malik yang tampak masam


saat memamerkan obat yang dia beli untuk


Magnolia, kepada Dimas adalah bukti kalau dia


rela melakukan hal tersebut demi sahabatnya.


"Makasih banyak, Bro. Kalau nggak ada lo, gue


nggak tahu bisa melewati malam ini atau


nggak.”


Magnolia ingin sekali muntah. Bukan karena


dia tidak suka dengan ucapan Dimas,


melainkan membayangkan abangnya dengan


penuh kasih sayang mengucapkan terima


kasih atas kebaikan hati Malik, seolah-olah


pemuda itu diciptakan Tuhan untuk selalu


membantunya.


"Pulang, ya, Dek. Mandi air hangat. Gue yang


masak. Abis itu makan… "


"Dia sudah makan tadi." Malik memotong.


Wajah Dimas terlihat kalau dia ingin berterima


kasih kembali kepada Malik walau kemudian


Malik menambahkan, "tapi nggak abis."


"Nggak apa-apa. Yang penting Yaya sudah


makan, sudah pulang. Besok istirahat. Mamas


yang bakal jualan di pasar gantiin lo.”


Dimas memegangi bahu Magnolia. Wajahnya


terlihat amat menyesal dan dia akan


melakukan apa saja asal adiknya kembali.


Dimas bahkan tidak melepaskan tautan tangan


mereka setelah ketiganya akhirnya berjalan


menuju rumah yang letaknya tinggal satu blok


lagi.


"Dia baik banget." Dimas tersenyum kepada


Magnolia yang masih memandangi punggung


Malik yang berjalan lebih dulu dari pada


dirinya. Pujian yang dia dengar bertubi-tubi


dari mulut Dimas membuat telinganya


berdenging.


"Diem, Mas. Lama-lama lo naksir dia beneran."


Magnolia menggelengkan kepala. Kepalanya


sampai sakit karena berusaha tidak


memikirkan betapa eratnya hubungan Malik


dan Dimas hingga membuat sesuatu di dalam


dadanya seolah terluka tapi tidak berdarah.


"Ngomong apa, sih, Dek?" Dimas mencoba


tertawa, akan tetapi Magnolia hanya


membeku dan berusaha untuk bernapas


dengan benar saat dia menyadari udara dingin


menyergap tubuhnya dengan tiba-tiba.


"Dek. Dek. Yaya…"


Malik yang mendengar teriakan Dimas


menoleh dan melempar payungnya, lalu


berlari dengan cepat karena pada detik yang


sama, Dimas hampir terjungkal karena


menahan tubuh Magnolia yang tiba-tiba tidak

__ADS_1


sadarkan diri.


***


__ADS_2