Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian XVI


__ADS_3

Meski kadang dianggap tidak ada, tinggal


bersama mama adalah hal yang cukup


menyenangkan buat Magnolia. Dia tidak habis


pikir, dengan kecantikannya yang tiada tara,


sebenarnya mustahil bagi mama untuk tidak


membuat pria bertekuk lutut kepadanya. Tapi,


mama tetap memilih setia dengan papa dan


bergeming setiap ada yang menawarkan diri


untuk menjadi penggantinya.


Hal itu juga yang membuat Magnolia bertekad


akan menjadi wanita setia seperti mama yang


tetap kuat meski suaminya mendua. Walau dia


adalah hasil dari perbuatan papa dengan


wanita selain mama, Magnolia tidak pernah


menyesal dia dilahirkan seperti itu. Saat ini dia


berpikir dirinya belum paham alasan papa,


tapi nanti, dia akan mencari tahu setidaknya


tentang asal-usul keluarga ibunya.


Papa adalah anak tunggal. Kakek dan nenek


berpulang di usia yang amat muda, wafat


bersama saat menjalankan ibadah di tanah


suci meninggalkan seorang anak lelaki yang


kemudian menempa dirinya luar biasa keras


hingga menjadi seorang abdi negara. Mereka


juga memiliki nenek lain, saudara nenek


mereka saat ini. Tetapi Magnolia tidak terlalu


mengenal mereka. Lagipula keluarga tersebut


tinggal di suatu daerah terpencil di Jawa Barat,


dekat perbukitan yang tidak Magnolia ingat.


Setiap dia hendak bertanya kepada mama,


wanita itu selalu menghindarinya.


Tapi, pagi ini, Magnolia bertemu mama


sebelum wanita cantik tersebut berangkat


bekerja sebagai staf di salah satu gedung di


SCBD. Dandanannya pagi itu seperti biasa


hanya ulasan bedak dan lipstik tipis di wajah,


tapi, sudah membuat Magnolia tersenyum dan


membayangkan penampilannya sendiri bila

__ADS_1


mendapat riasan seperti itu.


"Ngapain lo liat-liat gue?" tanya mama ketus.


Magnolia baru keluar dari kamar mandi


belakang rumah dan hendak menjemur


pakaiannya yang baru dicuci. Dia belum tuntas


memeras baju kaosnya saat mama lewat dan


percikannya membasahi celana panjang


berwarna hitam milik mama yang pagi itu


sedang menjemur handuknya."Basah semua celana gue. Lo punya mata


nggak, sih?"


Mama mendorong tubuh Magnolia yang saat


itu tidak melihat kehadirannya. Hari memang


masih gelap, baru pukul lima lewat tiga puluh


dan tidak biasanya mama keluar ketika dia


sedang berada di pekarangan belakang.


"Maaf, Ma. Mana yang basah? Yaya bantu lap."


Magnolia baru saja mengambil handuk bersih


yang dia gantung di jemuran untuk


membersihan percikan air di celana mama


saat wanita berusia empat puluh tahun


Magnolia terjungkal ke arah samping.


"Jaga tangan lo. Udah bagus gue kasih tinggal


di sini."


Magnolia yang berusaha untuk membantu


mama hanya bisa menatap undakan anak


tangga menuju pintu belakang rumah dalam


diam. Dia mengangguk pelan sewaktu mama


tanpa menoleh lagi menutup pintu dengan


sebuah bantingan kasar yang membuatnya


memejamkan mata.


"Nggak Mama, nggak Abang, semuanya sensi


lihat gue. Apa mesti gue operasi plastik jadi


Beyonce atau Megan Fox gitu biar disayang


mereka?"


Magnolia bahkan belum beranjak dari tempat


dia terjungkal tadi dan hanya duduk beralas


tanah sambil mengelus betisnya yang


ditendang dengan boot kulit hitam mama yang

__ADS_1


dia tebak berharga mahal.


"Bakal biru, nih, kayaknya." Magnolia


menghela napas, "harusnya nggak usah


ditendang. Ngomong pelan aja udah pasti gue


geser. Tadi gue nggak lihat Mama datang."


Magnolia mengerjapkan kelopak matanya


berkali-kali, berusaha tetap kuat tapi nyatanya


matanya makin panas dan perih.


"Kayak apa, sih, disayang Mama kandung? Gue


iri banget lihat Mamas sama Keke dipeluk tiap


malam, diajak salat bareng. Emak gue ke mana,


Ya Allah?"Magnolia berusaha tersenyum walau kini


pandangannya mengabur. Dia seharusnya


memulai hari dengan wajah ceria tetapi


perbuatan mama barusan telah melukai


hatinya. Mama memang tidak menyiksa


fisiknya seperti ibu tiri dalam sinetron, tetapi


terkadang, diamnya wanita tersebut melukai


dirinya teramat dalam.


Diacuhkan, ditelantarkan, adalah siksaan


paling berat yang pernah dia terima dan setali


tiga uang, dia menyukai Malik yang punya sifat


hampir sama dengan ibu tirinya. Magnolia


sampai tidak habis pikir dengan isi otaknya


sendiri.


Bangun, Ya. Hari sudah mau siang. Lo masih


harus ke tempat nasi uduk Mak Karim. Hari ini


ada pesenan tiga puluh bungkus buat dibawa


ke sekolah, Magnolia menyemangati dirinya.


Dia harus segera berganti pakaian dan pergi


secepat mungkin. Hari ini adalah hari Jumat.


Sekolah pulang lebih cepat dan sepulang dari


sana, dia akan langsung ke pasar melanjutkan


berjualan lap seperti biasa. Setelahnya,


Magnolia akan menuju terminal untukberjualan kopi. Dia hampir tidak punya waktu


untuk bersedih. Air matanya harus segera dia


hapus dan yang lebih penting dari semua itu


adalah melunasi cicilan terakhir.

__ADS_1


***


__ADS_2