
Meski kadang dianggap tidak ada, tinggal
bersama mama adalah hal yang cukup
menyenangkan buat Magnolia. Dia tidak habis
pikir, dengan kecantikannya yang tiada tara,
sebenarnya mustahil bagi mama untuk tidak
membuat pria bertekuk lutut kepadanya. Tapi,
mama tetap memilih setia dengan papa dan
bergeming setiap ada yang menawarkan diri
untuk menjadi penggantinya.
Hal itu juga yang membuat Magnolia bertekad
akan menjadi wanita setia seperti mama yang
tetap kuat meski suaminya mendua. Walau dia
adalah hasil dari perbuatan papa dengan
wanita selain mama, Magnolia tidak pernah
menyesal dia dilahirkan seperti itu. Saat ini dia
berpikir dirinya belum paham alasan papa,
tapi nanti, dia akan mencari tahu setidaknya
tentang asal-usul keluarga ibunya.
Papa adalah anak tunggal. Kakek dan nenek
berpulang di usia yang amat muda, wafat
bersama saat menjalankan ibadah di tanah
suci meninggalkan seorang anak lelaki yang
kemudian menempa dirinya luar biasa keras
hingga menjadi seorang abdi negara. Mereka
juga memiliki nenek lain, saudara nenek
mereka saat ini. Tetapi Magnolia tidak terlalu
mengenal mereka. Lagipula keluarga tersebut
tinggal di suatu daerah terpencil di Jawa Barat,
dekat perbukitan yang tidak Magnolia ingat.
Setiap dia hendak bertanya kepada mama,
wanita itu selalu menghindarinya.
Tapi, pagi ini, Magnolia bertemu mama
sebelum wanita cantik tersebut berangkat
bekerja sebagai staf di salah satu gedung di
SCBD. Dandanannya pagi itu seperti biasa
hanya ulasan bedak dan lipstik tipis di wajah,
tapi, sudah membuat Magnolia tersenyum dan
membayangkan penampilannya sendiri bila
__ADS_1
mendapat riasan seperti itu.
"Ngapain lo liat-liat gue?" tanya mama ketus.
Magnolia baru keluar dari kamar mandi
belakang rumah dan hendak menjemur
pakaiannya yang baru dicuci. Dia belum tuntas
memeras baju kaosnya saat mama lewat dan
percikannya membasahi celana panjang
berwarna hitam milik mama yang pagi itu
sedang menjemur handuknya."Basah semua celana gue. Lo punya mata
nggak, sih?"
Mama mendorong tubuh Magnolia yang saat
itu tidak melihat kehadirannya. Hari memang
masih gelap, baru pukul lima lewat tiga puluh
dan tidak biasanya mama keluar ketika dia
sedang berada di pekarangan belakang.
"Maaf, Ma. Mana yang basah? Yaya bantu lap."
Magnolia baru saja mengambil handuk bersih
yang dia gantung di jemuran untuk
membersihan percikan air di celana mama
saat wanita berusia empat puluh tahun
Magnolia terjungkal ke arah samping.
"Jaga tangan lo. Udah bagus gue kasih tinggal
di sini."
Magnolia yang berusaha untuk membantu
mama hanya bisa menatap undakan anak
tangga menuju pintu belakang rumah dalam
diam. Dia mengangguk pelan sewaktu mama
tanpa menoleh lagi menutup pintu dengan
sebuah bantingan kasar yang membuatnya
memejamkan mata.
"Nggak Mama, nggak Abang, semuanya sensi
lihat gue. Apa mesti gue operasi plastik jadi
Beyonce atau Megan Fox gitu biar disayang
mereka?"
Magnolia bahkan belum beranjak dari tempat
dia terjungkal tadi dan hanya duduk beralas
tanah sambil mengelus betisnya yang
ditendang dengan boot kulit hitam mama yang
__ADS_1
dia tebak berharga mahal.
"Bakal biru, nih, kayaknya." Magnolia
menghela napas, "harusnya nggak usah
ditendang. Ngomong pelan aja udah pasti gue
geser. Tadi gue nggak lihat Mama datang."
Magnolia mengerjapkan kelopak matanya
berkali-kali, berusaha tetap kuat tapi nyatanya
matanya makin panas dan perih.
"Kayak apa, sih, disayang Mama kandung? Gue
iri banget lihat Mamas sama Keke dipeluk tiap
malam, diajak salat bareng. Emak gue ke mana,
Ya Allah?"Magnolia berusaha tersenyum walau kini
pandangannya mengabur. Dia seharusnya
memulai hari dengan wajah ceria tetapi
perbuatan mama barusan telah melukai
hatinya. Mama memang tidak menyiksa
fisiknya seperti ibu tiri dalam sinetron, tetapi
terkadang, diamnya wanita tersebut melukai
dirinya teramat dalam.
Diacuhkan, ditelantarkan, adalah siksaan
paling berat yang pernah dia terima dan setali
tiga uang, dia menyukai Malik yang punya sifat
hampir sama dengan ibu tirinya. Magnolia
sampai tidak habis pikir dengan isi otaknya
sendiri.
Bangun, Ya. Hari sudah mau siang. Lo masih
harus ke tempat nasi uduk Mak Karim. Hari ini
ada pesenan tiga puluh bungkus buat dibawa
ke sekolah, Magnolia menyemangati dirinya.
Dia harus segera berganti pakaian dan pergi
secepat mungkin. Hari ini adalah hari Jumat.
Sekolah pulang lebih cepat dan sepulang dari
sana, dia akan langsung ke pasar melanjutkan
berjualan lap seperti biasa. Setelahnya,
Magnolia akan menuju terminal untukberjualan kopi. Dia hampir tidak punya waktu
untuk bersedih. Air matanya harus segera dia
hapus dan yang lebih penting dari semua itu
adalah melunasi cicilan terakhir.
__ADS_1
***