Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian XIV Setelah satu minggu menjadi siswi SMANSA


__ADS_3

Setelah satu minggu menjadi siswi SMANSA


JUARA, Magnolia merasa dia tidak terlalu


bodoh ketika menerima materi. Alasan


utamanya karena setiap guru yang mengajar


mampu menjelaskan materi dengan amat baik.


Tetapi, dia kemudian berpikir bahwa hal


tersebut terjadi karena mereka baru satu


minggu menjadi siswa di sana sehingga wajar


pelajaran apa pun masih terasa belum sulit.


Pelajaran yang paling dia sukai tentu saja


adalah olahraga. Dia akan jadi murid pertama


yang datang ke lapangan, menjadi pemimpinsaat guru meminta mereka melakukan


pemanasan dan yang paling dicari oleh guru


olahraga ketika mereka butuh seseorang yang


bisa memperagakan suatu gerakan.


Ketika ada kompetisi bermain voli, Magnolia


tanpa ragu mendaftar untuk menjadi salah


satu pemain inti dan ketika namanya masuk


dalam daftar, Dimaslah yang pertama kali


bersorak atas keberhasilan adiknya.


“Nah, masuk SMANSA nggak jelek, kan? Lo bisa


balik lagi konsentrasi ke olahraga kayak dulu.”


Magnolia sebenarnya ingin menghabiskan


waktu lebih lama di sekolah daripada di


rumah, seperti kebiasaannya saat SMP.


Biasanya dia langsung pergi ke terminal untuk


berjualan kopi. Tetapi ternyata di sekolah,


pada saat yang sama, Dimas dan Malik juga


mengikuti les tambahan untuk kelas 12


sebagai persiapan masuk universitas. Hal yang


paling Magnolia suka adalah kelas tempat


Malik dan Dimas belajar tidak jauh dari


lapangan voli, sehingga sesekali dia bisa


mengintip aktivitas di dalam kelas meskipun


harus memicingkan mata demi melihat apa


yang sedang gebetannya lakukan.


“Yaya, awas.”


Sebuah smash super kuat yang dilayangkan


Anita kepada grup Magnolia tidak sempat


dihindari oleh gadis lima belas tahun itu.


Matanya terlalu fokus melirik kelas Malik


padahal dia masih harus berkonsentrasi tinggi


karena kelompok mereka sedang berlatih


memukul bola voli. Akibatnya Magnolia


langsung terjungkal terkena pukulan bola.


Begitu teman-temannya mendekat, dia sedang


menutupi hidungnya yang mengeluarkan


darah.


“Idung gue masih ada, nggak?” tanya Magnolia


saat dia berjongkok. Teman-teman satu


timnya mulai mengerubungi. Beberapa panik


tapi ada juga yang berlari mencari handuk


basah dan es batu.


"Nggak tahu, lo tutup pake tangan kayak gitu."


seru Anita, si kapten tim grup lawan. Dia yang


melakukan pukulan tadi, tetapi tidakmenyangka kalau Magnolia lengah. Tidak


biasanya gadis itu lalai menyambut bola.


"Ada darah, tuh." Ria, rekan satu tim Magnolia


yang ikut berjongkok, membantu memeriksa


bekas pukulan di hidung Magnolia.


"Copot hidung gue." Magnolia menahan tangis,


"ntar nggak bisa napas."


Sumpah. Untuk pertama kali dalam hidup,


tidak pernah Magnolia merasa secemas ini.


***


Beberapa rekan latihan Magnolia saat itu


menjadi amat panik. Mereka yang sudah


berhasil menemukan handuk bersih dan tisu


segera melakukan pertolongan pertama


sementara Ria telah lebih dulu membalas saat


Magnolia menjauhkan tangan dari hidung.


"Nggak mungkinlah copot. Kalau gepeng, iya."


Wajah panik Magnolia tidak bisa ditutupi lagi


terutama setelah pelatih mereka datang dan


memeriksa keadaan anak asuhnya.


"Kenapa ini?"


"Yaya kena bola gara-gara meleng, Coach."


Balas Utari, teman sekelas Magnolia. Coach


mereka yang bernama Nanda lantas menoleh


ke arah belakang lapangan voli, di mana ada


jam tambahan untuk kelas dua belas. Begitu


tahu siapa yang baru keluar dari kelas, Nanda


menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kirain kamu nggak tergoda pesona Malik


Galih Kencana." Nanda ikut berjongkok lalumenarik tangan Magnolia yang menolak lepas


dari hidungnya, "Sini lihat dulu. Jangan-jangan


batangnya copot. Anita, kan, jago banget


smashing-nya."


Hidung Magnolia sebenarnya baik-baik saja.


Hanya saja, benturan tadi membuatnya sedikit


memar dan mimisan. Nanda kemudian


meminta Magnolia untuk mendongak sedang

__ADS_1


dirinya mengelap sisa darah lalu memasukkan


kapas ke lubang hidung anak asuhnya


tersebut.


"Pesona apaan, sih, Coach? Nggak sengaja


meleng tadi." elak Magnolia dengan suara


sengau dan mendapat sorak riuh dari rekan-


rekannya.


"Alah, ngaku. Lo emang sering lirik-lirik Kak


Malik. Tadi juga yang nyuruh latihan di depan


kelas ini, lo, kan?" suara Anita yang lantang


membuat semua tim voli tertawa.


"Memang lapangan voli di sini, kok. Lo mau


main di mana lagi? Lapangan bola?"


Wajah teman-teman Magnolia jelas


mengisyaratkan kalau mereka tidak percaya.


Lagipula sejak hari pertama sekolah, dia sudah


menunjukkan antusias teramat besar pada si


tampan yang memang sudah jadi idola


sebagian besar jelita jomlo di SMANSA JUARA.


Meski begitu, karena tahu saingannya ternyata


amat sangat banyak, Magnolia memilih untuk


bungkam dan menyimpan perasaannya dalam


hati saja.


Lagipula, semua saingannya tersebut tidak


mempunyai kelebihan seperti yang dia miliki.


Adanya Dimas di dekat Malik memberi


kesempatan pada Magnolia untuk bisa dengan


puas jelalatan memandangi gebetannya


tersebut.


Walau kemudian, ketika Kezia dengan


santainya muncul dan mendekati Malik sama


artinya dengan dia harus menjauh dari mereka


sesegera mungkin.


"Lo nggak mau, kan, gue bikin malu dengan


cara kasih pengumuman ke semua orang,


kalau lo, bukan saudara gue melainkan anakharam dari selingkuhan Papa? Ntar Mamas


malah ikutan malu punya adek kayak lo."


Gara-gara Kezia juga, dia akhirnya hanya


berani memandangi Malik dari kejauhan dan


seperti yang barusan dia lakukan. Sayang,


ujung-ujungnya malah berbuah petaka.


"Udah, abis ini langsung ke klinik, ya. Yang


depan sekolah aja. Biasanya sekarang ada


dokternya. Ada yang mau nemenin? Sisanya


yang tinggal masih lanjut latihan, ya."


Magnolia sempat menolak dan mengatakan


kalau dia tidak perlu ke klinik ketika di saat


bubar dari pelajaran tambahan dan secara


refleks dia menyembunyikan diri di belakang


Anita tepat saat Dimas menjulurkan kepala


demi mencari adiknya.


"Kak Dimas, nyari Yaya?"


Magnolia mendorong tubuh Anita sebagai


tanda kalau dia tidak perlu bersikap seperti


itu. Apalagi saat ini di dekatnya ada Malik yang


berjalan dengan santai.


"Ada Yaya di situ?"


Dimas yang sifatnya memang jauh berbanding


terbalik dengan Malik yang menolak banyak


bicara dengan anak-anak perempuan,


membalas sapaan Anita. Dengan cepat Anita


mengangguk dan menarik lengan Magnolia


yang masih berjongkok di hadapannya.


"Ini, nih. Sembunyi. Malu dilihat ama Kak


Malik. Hidung Yaya bocor, kena smash tadi."


Magnolia menggelengkan kepala dan


memejamkan mata. Ingin rasanya dia


melempar bola voli ke wajah Anita, tapi sayang


bola tersebut kini sudah berada di tangan


coach mereka. Sang pelatih sedang memberi


instruksi kepada anggota regu yang tidak


mengantarkan Magnolia ke klinik sementara


Anita, karena dia yang bertanggung jawab


mengantarkan Magnolia, kini sibuk


memanggil nama dua kakak tingkatnya


tersebut.


Anita yang tahu walau tidak ada pengumuman


dari bibir Magnolia, bahwa pemilik lesung pipi tersebut menyukai Malik, tambah semangat


menggodanya.


"Hidungnya bocor?"


Bukan Dimas namanya kalau tidak cemas. Dia


segera meninggalkan Malik dan bergerak


mendekati adiknya yang masih


menyembunyikan wajah.


"Hidungnya sakit? Kita berobat dulu."


"Nggak apa-apa." balas Magnolia dengan suara


sengau. Dia tidak ingin Malik melihatnya


dalam kondisi seperti ini. Walau Malik tidak


senang kepadanya, dia sangat menghindari


dilihat dengan keadaan super jelek dan


menyedihkan. Sudah cukup pemuda itu sering


melihatnya dengan dandanan ala tukang lap

__ADS_1


dan penjual cabai. Jangan sampai Malik juga


melihatnya dengan hidung memar dan darah


menetes hingga ke kaos olahraganya.


"Sini Mamas lihat."


Magnolia menggeleng. Tangan kanannya yang


tadi berada dalam pegangan Anita dia tarikkembali lalu dia gunakan untuk menutup


wajahnya.


"Nggak apa-apa. Yaya nggak luka. Mamas


pulang duluan aja."


Anita yang masih berdiri di sebelah Magnolia


memandang bingung. Tapi, begitu melihat


Malik ikut mendekat dan Magnolia semakin


panik, dia tidak bisa menahan tawa.


"Ya, coach ngeliatin kita. Hayuklah buru ke


klinik. Biar diperiksa ama dokter hidung lo


masih utuh atau tulangnya patah semua."


Ingin rasanya Magnolia mencekik Anita. Bisa-


bisanya dia bicara seperti itu tepat saat Malik


bertanya kepada Dimas tentang apa yang


sedang terjadi. Terpaksa dia menggeleng


supaya tidak ada yang cemas dengan


kondisinya saat ini.


"Ayo, sini gue lihat."


Dimas terlihat khawatir. Tapi, Magnolia lebih


khawatir lagi bila Kezia yang sedang ikut


ekskul menari memperhatikan mereka.


Jantungnya bahkan seolah mengajak dirinya


berlari kencang.


"Nggak usah, Mas. Yaya nanti sama Anita jalan


ke klinik."


Percuma menolak di depan abang kandungnya


sendiri. Magnolia bahkan tidak berdaya saat


mata Dimas sudah melotot dan dia menarik


jari tangan kanan adiknya supaya bisa


memeriksa kondisi hidung Magnolia. Begitu


matanya bertemu dengan hidung mancung


Magnolia yang tampak memar, Dimas


mengucapkan istighfar.


"Ya ampun, Dek. Hari ini hidung bocor.


Kemarin dengkul luka sampai biru-biru


semua. Baru seminggu, loh."


Maksud Dimas adalah baru satu minggu


menjadi siswi SMANSA. Walau dia sudah


didapuk jadi tim inti, seharusnya Magnolia


tidak perlu mengorbankan tubuhnya seperti


ini."Nggak apa-apa. Udah biasa kalau main, sih."


balas Magnolia sekenanya. Dimas yang tidak


setuju segera menjitak kepala adiknya.


"Kita berobat sekarang. Lo latihan aja. Yaya


sama gue." Dimas bicara pada Anita dan


akhirnya, Dimas juga yang menyuruh


Magnolia untuk ikut dibawa ke klinik dekat


sekolah sementara Malik yang berdiri dalam


diam, memandangi mereka semua dengan


tatapan bosan.


"Gue nganter Yaya ke klinik dulu. Lo mau


langsung pulang?"


Baru saja Malik hendak membuka mulut, dari


seberang lapangan voli, tampak Kezia


melambai-lambai lalu berlari ke arah mereka.


Hal tersebut langsung membuat Magnolia


gelisah dan kembali menyembunyikan


badannya di belakang badan Dimas.


Ancaman Kezia tidak pernah main-main dan


daripada melawan saudarinya tersebut,


Magnolia lebih mencemaskan malu yang akan


ditanggung Dimas bila adiknya bertengkar di


sekolah demi memperebutkan Malik.


"Yaya ambil tas dulu." kilah Magnolia sebelum


Kezia mendekat ke arah mereka. Dimas yang


tidak sadar akan perubahan raut wajah


Magnolia kemudian membiarkan saja adiknya


berlalu dan menyambut Kezia yang terlihat


amat bersemangat sore itu.


"Abang mau pulang? Keke ikut, ya? Pliss."


"Hei genit." Dimas mencubit pipi Kezia,


namun, adik pertamanya tersebut hanya


menjulurkan lidah, "Disuruh Mama pulang


cepat. Mau diajak arisan."


Malik belum sempat menjawab. Tangannya


sudah ditarik oleh Kezia menuju parkiran


motor dan si cantik tersebut melambai girang


kepada Dimas yang tidak percaya bahwa Kezia


bahkan tidak sekalipun peduli pada Magnolia,


adik mereka yang baru saja mendapatkan


cedera.


"Kapan lo sayang sama Yaya kayak gue sayang


sama dia, Ke? Ibu kita memang berbeda, tapi,


dia tetap adik lo. Bukan musuh. Asal lo tahu,


Yaya sayang banget sama lo dan jadi orangyang pertama ngasih lo kado setiap ultah, tapi


lo sama sekali nggak mau peduli ke dia."


***

__ADS_1


__ADS_2