
Setelah satu minggu menjadi siswi SMANSA
JUARA, Magnolia merasa dia tidak terlalu
bodoh ketika menerima materi. Alasan
utamanya karena setiap guru yang mengajar
mampu menjelaskan materi dengan amat baik.
Tetapi, dia kemudian berpikir bahwa hal
tersebut terjadi karena mereka baru satu
minggu menjadi siswa di sana sehingga wajar
pelajaran apa pun masih terasa belum sulit.
Pelajaran yang paling dia sukai tentu saja
adalah olahraga. Dia akan jadi murid pertama
yang datang ke lapangan, menjadi pemimpinsaat guru meminta mereka melakukan
pemanasan dan yang paling dicari oleh guru
olahraga ketika mereka butuh seseorang yang
bisa memperagakan suatu gerakan.
Ketika ada kompetisi bermain voli, Magnolia
tanpa ragu mendaftar untuk menjadi salah
satu pemain inti dan ketika namanya masuk
dalam daftar, Dimaslah yang pertama kali
bersorak atas keberhasilan adiknya.
“Nah, masuk SMANSA nggak jelek, kan? Lo bisa
balik lagi konsentrasi ke olahraga kayak dulu.”
Magnolia sebenarnya ingin menghabiskan
waktu lebih lama di sekolah daripada di
rumah, seperti kebiasaannya saat SMP.
Biasanya dia langsung pergi ke terminal untuk
berjualan kopi. Tetapi ternyata di sekolah,
pada saat yang sama, Dimas dan Malik juga
mengikuti les tambahan untuk kelas 12
sebagai persiapan masuk universitas. Hal yang
paling Magnolia suka adalah kelas tempat
Malik dan Dimas belajar tidak jauh dari
lapangan voli, sehingga sesekali dia bisa
mengintip aktivitas di dalam kelas meskipun
harus memicingkan mata demi melihat apa
yang sedang gebetannya lakukan.
“Yaya, awas.”
Sebuah smash super kuat yang dilayangkan
Anita kepada grup Magnolia tidak sempat
dihindari oleh gadis lima belas tahun itu.
Matanya terlalu fokus melirik kelas Malik
padahal dia masih harus berkonsentrasi tinggi
karena kelompok mereka sedang berlatih
memukul bola voli. Akibatnya Magnolia
langsung terjungkal terkena pukulan bola.
Begitu teman-temannya mendekat, dia sedang
menutupi hidungnya yang mengeluarkan
darah.
“Idung gue masih ada, nggak?” tanya Magnolia
saat dia berjongkok. Teman-teman satu
timnya mulai mengerubungi. Beberapa panik
tapi ada juga yang berlari mencari handuk
basah dan es batu.
"Nggak tahu, lo tutup pake tangan kayak gitu."
seru Anita, si kapten tim grup lawan. Dia yang
melakukan pukulan tadi, tetapi tidakmenyangka kalau Magnolia lengah. Tidak
biasanya gadis itu lalai menyambut bola.
"Ada darah, tuh." Ria, rekan satu tim Magnolia
yang ikut berjongkok, membantu memeriksa
bekas pukulan di hidung Magnolia.
"Copot hidung gue." Magnolia menahan tangis,
"ntar nggak bisa napas."
Sumpah. Untuk pertama kali dalam hidup,
tidak pernah Magnolia merasa secemas ini.
***
Beberapa rekan latihan Magnolia saat itu
menjadi amat panik. Mereka yang sudah
berhasil menemukan handuk bersih dan tisu
segera melakukan pertolongan pertama
sementara Ria telah lebih dulu membalas saat
Magnolia menjauhkan tangan dari hidung.
"Nggak mungkinlah copot. Kalau gepeng, iya."
Wajah panik Magnolia tidak bisa ditutupi lagi
terutama setelah pelatih mereka datang dan
memeriksa keadaan anak asuhnya.
"Kenapa ini?"
"Yaya kena bola gara-gara meleng, Coach."
Balas Utari, teman sekelas Magnolia. Coach
mereka yang bernama Nanda lantas menoleh
ke arah belakang lapangan voli, di mana ada
jam tambahan untuk kelas dua belas. Begitu
tahu siapa yang baru keluar dari kelas, Nanda
menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kirain kamu nggak tergoda pesona Malik
Galih Kencana." Nanda ikut berjongkok lalumenarik tangan Magnolia yang menolak lepas
dari hidungnya, "Sini lihat dulu. Jangan-jangan
batangnya copot. Anita, kan, jago banget
smashing-nya."
Hidung Magnolia sebenarnya baik-baik saja.
Hanya saja, benturan tadi membuatnya sedikit
memar dan mimisan. Nanda kemudian
meminta Magnolia untuk mendongak sedang
__ADS_1
dirinya mengelap sisa darah lalu memasukkan
kapas ke lubang hidung anak asuhnya
tersebut.
"Pesona apaan, sih, Coach? Nggak sengaja
meleng tadi." elak Magnolia dengan suara
sengau dan mendapat sorak riuh dari rekan-
rekannya.
"Alah, ngaku. Lo emang sering lirik-lirik Kak
Malik. Tadi juga yang nyuruh latihan di depan
kelas ini, lo, kan?" suara Anita yang lantang
membuat semua tim voli tertawa.
"Memang lapangan voli di sini, kok. Lo mau
main di mana lagi? Lapangan bola?"
Wajah teman-teman Magnolia jelas
mengisyaratkan kalau mereka tidak percaya.
Lagipula sejak hari pertama sekolah, dia sudah
menunjukkan antusias teramat besar pada si
tampan yang memang sudah jadi idola
sebagian besar jelita jomlo di SMANSA JUARA.
Meski begitu, karena tahu saingannya ternyata
amat sangat banyak, Magnolia memilih untuk
bungkam dan menyimpan perasaannya dalam
hati saja.
Lagipula, semua saingannya tersebut tidak
mempunyai kelebihan seperti yang dia miliki.
Adanya Dimas di dekat Malik memberi
kesempatan pada Magnolia untuk bisa dengan
puas jelalatan memandangi gebetannya
tersebut.
Walau kemudian, ketika Kezia dengan
santainya muncul dan mendekati Malik sama
artinya dengan dia harus menjauh dari mereka
sesegera mungkin.
"Lo nggak mau, kan, gue bikin malu dengan
cara kasih pengumuman ke semua orang,
kalau lo, bukan saudara gue melainkan anakharam dari selingkuhan Papa? Ntar Mamas
malah ikutan malu punya adek kayak lo."
Gara-gara Kezia juga, dia akhirnya hanya
berani memandangi Malik dari kejauhan dan
seperti yang barusan dia lakukan. Sayang,
ujung-ujungnya malah berbuah petaka.
"Udah, abis ini langsung ke klinik, ya. Yang
depan sekolah aja. Biasanya sekarang ada
dokternya. Ada yang mau nemenin? Sisanya
yang tinggal masih lanjut latihan, ya."
Magnolia sempat menolak dan mengatakan
kalau dia tidak perlu ke klinik ketika di saat
bubar dari pelajaran tambahan dan secara
refleks dia menyembunyikan diri di belakang
Anita tepat saat Dimas menjulurkan kepala
demi mencari adiknya.
"Kak Dimas, nyari Yaya?"
Magnolia mendorong tubuh Anita sebagai
tanda kalau dia tidak perlu bersikap seperti
itu. Apalagi saat ini di dekatnya ada Malik yang
berjalan dengan santai.
"Ada Yaya di situ?"
Dimas yang sifatnya memang jauh berbanding
terbalik dengan Malik yang menolak banyak
bicara dengan anak-anak perempuan,
membalas sapaan Anita. Dengan cepat Anita
mengangguk dan menarik lengan Magnolia
yang masih berjongkok di hadapannya.
"Ini, nih. Sembunyi. Malu dilihat ama Kak
Malik. Hidung Yaya bocor, kena smash tadi."
Magnolia menggelengkan kepala dan
memejamkan mata. Ingin rasanya dia
melempar bola voli ke wajah Anita, tapi sayang
bola tersebut kini sudah berada di tangan
coach mereka. Sang pelatih sedang memberi
instruksi kepada anggota regu yang tidak
mengantarkan Magnolia ke klinik sementara
Anita, karena dia yang bertanggung jawab
mengantarkan Magnolia, kini sibuk
memanggil nama dua kakak tingkatnya
tersebut.
Anita yang tahu walau tidak ada pengumuman
dari bibir Magnolia, bahwa pemilik lesung pipi tersebut menyukai Malik, tambah semangat
menggodanya.
"Hidungnya bocor?"
Bukan Dimas namanya kalau tidak cemas. Dia
segera meninggalkan Malik dan bergerak
mendekati adiknya yang masih
menyembunyikan wajah.
"Hidungnya sakit? Kita berobat dulu."
"Nggak apa-apa." balas Magnolia dengan suara
sengau. Dia tidak ingin Malik melihatnya
dalam kondisi seperti ini. Walau Malik tidak
senang kepadanya, dia sangat menghindari
dilihat dengan keadaan super jelek dan
menyedihkan. Sudah cukup pemuda itu sering
melihatnya dengan dandanan ala tukang lap
__ADS_1
dan penjual cabai. Jangan sampai Malik juga
melihatnya dengan hidung memar dan darah
menetes hingga ke kaos olahraganya.
"Sini Mamas lihat."
Magnolia menggeleng. Tangan kanannya yang
tadi berada dalam pegangan Anita dia tarikkembali lalu dia gunakan untuk menutup
wajahnya.
"Nggak apa-apa. Yaya nggak luka. Mamas
pulang duluan aja."
Anita yang masih berdiri di sebelah Magnolia
memandang bingung. Tapi, begitu melihat
Malik ikut mendekat dan Magnolia semakin
panik, dia tidak bisa menahan tawa.
"Ya, coach ngeliatin kita. Hayuklah buru ke
klinik. Biar diperiksa ama dokter hidung lo
masih utuh atau tulangnya patah semua."
Ingin rasanya Magnolia mencekik Anita. Bisa-
bisanya dia bicara seperti itu tepat saat Malik
bertanya kepada Dimas tentang apa yang
sedang terjadi. Terpaksa dia menggeleng
supaya tidak ada yang cemas dengan
kondisinya saat ini.
"Ayo, sini gue lihat."
Dimas terlihat khawatir. Tapi, Magnolia lebih
khawatir lagi bila Kezia yang sedang ikut
ekskul menari memperhatikan mereka.
Jantungnya bahkan seolah mengajak dirinya
berlari kencang.
"Nggak usah, Mas. Yaya nanti sama Anita jalan
ke klinik."
Percuma menolak di depan abang kandungnya
sendiri. Magnolia bahkan tidak berdaya saat
mata Dimas sudah melotot dan dia menarik
jari tangan kanan adiknya supaya bisa
memeriksa kondisi hidung Magnolia. Begitu
matanya bertemu dengan hidung mancung
Magnolia yang tampak memar, Dimas
mengucapkan istighfar.
"Ya ampun, Dek. Hari ini hidung bocor.
Kemarin dengkul luka sampai biru-biru
semua. Baru seminggu, loh."
Maksud Dimas adalah baru satu minggu
menjadi siswi SMANSA. Walau dia sudah
didapuk jadi tim inti, seharusnya Magnolia
tidak perlu mengorbankan tubuhnya seperti
ini."Nggak apa-apa. Udah biasa kalau main, sih."
balas Magnolia sekenanya. Dimas yang tidak
setuju segera menjitak kepala adiknya.
"Kita berobat sekarang. Lo latihan aja. Yaya
sama gue." Dimas bicara pada Anita dan
akhirnya, Dimas juga yang menyuruh
Magnolia untuk ikut dibawa ke klinik dekat
sekolah sementara Malik yang berdiri dalam
diam, memandangi mereka semua dengan
tatapan bosan.
"Gue nganter Yaya ke klinik dulu. Lo mau
langsung pulang?"
Baru saja Malik hendak membuka mulut, dari
seberang lapangan voli, tampak Kezia
melambai-lambai lalu berlari ke arah mereka.
Hal tersebut langsung membuat Magnolia
gelisah dan kembali menyembunyikan
badannya di belakang badan Dimas.
Ancaman Kezia tidak pernah main-main dan
daripada melawan saudarinya tersebut,
Magnolia lebih mencemaskan malu yang akan
ditanggung Dimas bila adiknya bertengkar di
sekolah demi memperebutkan Malik.
"Yaya ambil tas dulu." kilah Magnolia sebelum
Kezia mendekat ke arah mereka. Dimas yang
tidak sadar akan perubahan raut wajah
Magnolia kemudian membiarkan saja adiknya
berlalu dan menyambut Kezia yang terlihat
amat bersemangat sore itu.
"Abang mau pulang? Keke ikut, ya? Pliss."
"Hei genit." Dimas mencubit pipi Kezia,
namun, adik pertamanya tersebut hanya
menjulurkan lidah, "Disuruh Mama pulang
cepat. Mau diajak arisan."
Malik belum sempat menjawab. Tangannya
sudah ditarik oleh Kezia menuju parkiran
motor dan si cantik tersebut melambai girang
kepada Dimas yang tidak percaya bahwa Kezia
bahkan tidak sekalipun peduli pada Magnolia,
adik mereka yang baru saja mendapatkan
cedera.
"Kapan lo sayang sama Yaya kayak gue sayang
sama dia, Ke? Ibu kita memang berbeda, tapi,
dia tetap adik lo. Bukan musuh. Asal lo tahu,
Yaya sayang banget sama lo dan jadi orangyang pertama ngasih lo kado setiap ultah, tapi
lo sama sekali nggak mau peduli ke dia."
***
__ADS_1