
Kokok ayam dan suara sapu lidi yang
bergesekan dengan tanah membuat Magnolia
membuka mata. Lampu tiga watt di dalam
kamar masih menyala dan dia bisa melihat
sinar matahari menembus dinding papan
kamarnya.
Jam berapa ini? Dia harus segera bangun. Ujian
IPA berlangsung pukul tujuh lewat tiga puluh.
Kepalanya terasa berat dan Magnolia ingat,
tadi malam Dimas sempat menyebutkan kalau
badannya panas.
Apakah dia demam? Magnolia tidak paham.
Tetapi, ketika dia berusaha bangun dari atas
kasur, pandangannya berputar-putar.
Magnolia kemudian menutup matanya dengan
lengan kiri.
“Gue mesti ke sekolah.” ucap Magnolia kepada
dirinya. Dikuatkannya diri untuk bangkit dari
atas kasur. Perasaannya tidak enak dan dia
memang merasa tidak sehat. Pandangannya
kemudian terarah pada jam kecil yang terletak
di atas rak buku kayu dekat kepalanya dan
saking terkejutnya dia menarik jam kecil
tersebut lalu mendekatkannya ke telinga
kanan.
“Ya Allah, jam setengah sembilan.”
Dia tidak sadar telah tertidur selama itu. Tiga
hari berturut-turut belajar hingga larut
dengan Dimas dan sepulang sekolah dia mesti
berjualan di pasar, membuat tubuhnya
ambruk. Tidak mungkin dia bakal diizinkan
masuk kelas. Lagipula dia mesti mandi dan
bersia-siap. Perjalanan ke sekolah cuma
sepuluh menit. Tetapi dia yakin, ketika tiba di
sana hari sudah pukul sembilan. Sehingga
daripada melompat ke kamar mandi untuk
bersiap-siap, yang dia lakukan adalah
mengembalikan jam ke tempatnya lalu
mengusap wajah dengan kedua tangan dan
memandangi kakinya yang terbalut selimut
dengan perasaan gamang.
“Mamas pasti marah kalau tahu gue nggak ikut
UN hari ini.”
Magnolia menghela napas. Dia sebenarnya
tidak terlalu semangat untuk ikut ujian dan
saat bangun kesiangan seperti ini dia tidak
merasa kehilangan sama sekali. Dari awal dia
telah merencanakan untuk tidak melanjutkan
sekolah ke jenjang SMA. selain tidak ada guna,
dia bingung harus membagi waktu antara
jualan dan menimba ilmu. Lagipula, dia sudah
tahu biaya masuk SMA 1 Jakarta Raya tidaklah
murah. Selain uang bangunan dan
pendaftaran, dia mesti mempersiapkan
sejumlah uang untuk pembelian seragam dan
buku pelajaran.
Bahkan kepalanya sudah sakit sebelum dia
sempat membayangkan berapa juta uang yang
mesti dikeluarkan hanya untuk menjadi siswa
sekolah paling bergengsi di ibukota.
“Duit gue nggak bisa beli gengsi apalagi
sekolah di sana.”
Magnolia kemudian mencoba untuk bangkit
dari kasur. Jika dia tidak ke sekolah hari ini,
berarti dia punya banyak waktu untuk
berjualan.
__ADS_1
“Tapi badan gue rasanya nggak sehat.”
Magnolia kembali duduk dan kini sekarang dia
memeluk lutut karena rasanya lebih nyaman
bila dia melakukan hal tersebut. Dia sudah
tidak mungkin lagi ke sekolah dan pikiran
berangkat ke pasar jauh lebih menggoda
dibanding tetap diam di dalam kamar. Tidak
ada orang di rumah saat ini. Kezia dan Dimas
sudah lebih dulu berangkat, begitu juga mama
yang harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali.
“Minum paracetamol aja, deh. Habis itu gue
mandi dan langsung ke pasar.”
Setelah meregangkan otot-otot tangannya,
Magnolia menghela napas lagi. Dia harus
segera bangun dan mandi. Kondisi pasar
sedang ramai-ramainya dan dia masih
memiliki sepuluh lusin lap untuk dijual hari
ini.
“Mandi, Ya. Jualan dulu hari ini. Biar aja nggak
usah ujian. Paling juga gue nggak lulus.”
Mengabaikan kepalanya yang masih berputar,
Magnolia menguatkan diri untuk bangkit dan
membuka pintu kamar. Dia tidak perlu
membuka jendela dan membiarkan angin
masuk. Papan-papan di warung sudah reot
dan kena angin sedikit saja udara langsung
masuk, begitu juga cahaya. Toh setelah mandi
dia tinggal memakai kaos dan jaket, lalu segera
pergi. Dia tidak perlu berdandan cantik seperti
Kezia, selain karena dia tidak memiliki
peralatan make up seperti milik Kezia, akan
sangat aneh berjualan di pasar dengan
dandanan yang mencolok.
Begitu membuka pintu kamar, Magnolia
melihat mama sedang berbicara dengan Laura
terpicing karena jarak antara kamar dan pagar
sekitar sepuluh meter. Di saat yang sama
mama telah selesai berbicara dengan
tetangganya dan ketika berbalik dia
menemukan putri tirinya membeku di depan
kamarnya sedang memegang handuk tipis dan
pakaian yang akan dia pakai nanti.
“Oh, Si Tuan Putri baru bangun. Enak banget,
ya. Udah numpang hidup, bangun siang lagi.”
Magnolia yakin, mama sebenarnya akan
memuntahkan banyak makian untuknya
selain yang dia katakan barusan. Tetapi mama
memilih meninggalkannya begitu saja dan
langsung menuju rumah. Meski begitu, walau
hanya bicara sebaris kalimat, kata-kata
barusan membuat perasaan Magnolia sedikit
sedih.
“Mama nggak kerja? Mama sakit?”
Mama tidak menjawab dan membalas gadis itu
dengan bantingan di pintu. Dia kentara sekali
amat anti mendengar atau membalas
perhatian dari anak tirinya. Tapi, dibanding
kata-kata sebelumnya, perbuatan mama yang
barusan membuat hatinya lebih sedih. Dia
cuma berusaha menanyakan kabar walau
responnya kurang menyenangkan.
Untung saja dia tidak pernah memasukkan
semua kata-kata dan sikap mama ke dalam
hati. Siapa yang bisa menahan perasaan
seperti yang dialami mama saat ini? Hidup
seatap dengan anak dari wanita lain
__ADS_1
sementara suaminya pergi meninggalkan
dirinya selamanya. Jika hal tersebut terjadi
dengan dirinya sendiri, dia sudah pasti tidak
bisa sekuat mama.
“Kayaknya mama sehat.” Magnolia bicara
dengan dirinya sendiri. Dia kemudian
menutup pintu kamar lalu bergegas menuju
kamar mandi. Pasar masih menunggu
kedatangannya dan dia tidak boleh menyia-
nyiakan diri lebih lama di rumah.
***
Hari sudah lewat pukul dua sewaktu Jajang
memanggil Magnolia yang sedang
memberikan uang kembalian kepada seorang
pembeli. Gadis itu menoleh ke arahnya dengan
mata terpicing menahan silau dan panas
matahari yang masih terik walau sudah lewat
tengah hari. Setelah pembeli barusan beranjak
pergi dan dia mengucapkan terima kasih,
barulah Magnolia membalas panggilan Jajang.
“Kenapa, Bang?”
Jajang memberi kode dengan telunjuk tangan
kanannya dan Magnolia mengikuti arah
tangan pria tersebut. Begitu dia menemukan
sosok Dimas dengan seragam SMANSA JUARA
kebanggaannya berjalan menuju pintu masuk
pasar, senyumnya mengembang.
Ada Mamas. Udah makan belum dia? Gue tadi
beliin mie ayam.
Magnolia yang girang melihat kedatangan
abangnya segera berlari-lari kecil untuk
menyongsongnya. Bila banyak kakak dan adik
bertengkar, tidak demikian dengan Magnolia
dan Dimas. Dia sangat menyayangi abangnya.
Tapi, tidak hanya kepada Dimas, Magnolia juga
amat sayang kepada mama dan Kezia
sekalipun mereka tidak pernah
menganggapnya sama seperti dia mencintai
mereka.
"Mamas, udah balik? Udah makan belum? Tadi
Yaya…"
Magnolia berhenti bicara begitu jarak mereka
tinggal lima puluh sentimeter lagi. Belum
pernah dilihatnya wajah Dimas seserius itu
seumur hidupnya, bahkan saat dia marah
sekalipun. Tatapan matanya tajam, seolah
hendak menelan adiknya bulat-bulat.
"Eh, kenapa?" Magnolia bingung melihat raut
muka sang abang. Belum sempat dia bertanya
lagi, Dimas sudah bersuara, dengan nada
dingin yang membuat Magnolia amat
ketakutan, "Pulang ke rumah sekarang!"
Magnolia tidak menjawab. Tangan kanannya
bahkan ditarik paksa oleh pemuda tampan
tersebut dan Dimas yang sudah tahu posisi
sepeda Magnolia menyeret adiknya tanpa
menoleh dan peduli sama sekali pada sekitar.
"Mamas, tangan Yaya sakit. Yaya bisa jalan
sendiri."
Dimas tetap tidak menjawab dan dia sama
sekali tidak peduli, bahwa saat itu tubuh
adiknya masih belum kuat, suhu badannya
masih tinggi, tapi, Magnolia tetap nekat
berjualan. Yang ada dalam pikirannya saat ini
hanya satu, adik bungsu kesayangannya telah
membuatnya kecewa.
__ADS_1
Amat sangat kecewa.
***