Ketika Cinta Lewat Depan Rumah

Ketika Cinta Lewat Depan Rumah
Bagian V Kokok ayam dan suara sapu lidi


__ADS_3

Kokok ayam dan suara sapu lidi yang


bergesekan dengan tanah membuat Magnolia


membuka mata. Lampu tiga watt di dalam


kamar masih menyala dan dia bisa melihat


sinar matahari menembus dinding papan


kamarnya.


Jam berapa ini? Dia harus segera bangun. Ujian


IPA berlangsung pukul tujuh lewat tiga puluh.


Kepalanya terasa berat dan Magnolia ingat,


tadi malam Dimas sempat menyebutkan kalau


badannya panas.


Apakah dia demam? Magnolia tidak paham.


Tetapi, ketika dia berusaha bangun dari atas


kasur, pandangannya berputar-putar.


Magnolia kemudian menutup matanya dengan


lengan kiri.


“Gue mesti ke sekolah.” ucap Magnolia kepada


dirinya. Dikuatkannya diri untuk bangkit dari


atas kasur. Perasaannya tidak enak dan dia


memang merasa tidak sehat. Pandangannya


kemudian terarah pada jam kecil yang terletak


di atas rak buku kayu dekat kepalanya dan


saking terkejutnya dia menarik jam kecil


tersebut lalu mendekatkannya ke telinga


kanan.


“Ya Allah, jam setengah sembilan.”


Dia tidak sadar telah tertidur selama itu. Tiga


hari berturut-turut belajar hingga larut


dengan Dimas dan sepulang sekolah dia mesti


berjualan di pasar, membuat tubuhnya


ambruk. Tidak mungkin dia bakal diizinkan


masuk kelas. Lagipula dia mesti mandi dan


bersia-siap. Perjalanan ke sekolah cuma


sepuluh menit. Tetapi dia yakin, ketika tiba di


sana hari sudah pukul sembilan. Sehingga


daripada melompat ke kamar mandi untuk


bersiap-siap, yang dia lakukan adalah


mengembalikan jam ke tempatnya lalu


mengusap wajah dengan kedua tangan dan


memandangi kakinya yang terbalut selimut


dengan perasaan gamang.


“Mamas pasti marah kalau tahu gue nggak ikut


UN hari ini.”


Magnolia menghela napas. Dia sebenarnya


tidak terlalu semangat untuk ikut ujian dan


saat bangun kesiangan seperti ini dia tidak


merasa kehilangan sama sekali. Dari awal dia


telah merencanakan untuk tidak melanjutkan


sekolah ke jenjang SMA. selain tidak ada guna,


dia bingung harus membagi waktu antara


jualan dan menimba ilmu. Lagipula, dia sudah


tahu biaya masuk SMA 1 Jakarta Raya tidaklah


murah. Selain uang bangunan dan


pendaftaran, dia mesti mempersiapkan


sejumlah uang untuk pembelian seragam dan


buku pelajaran.


Bahkan kepalanya sudah sakit sebelum dia


sempat membayangkan berapa juta uang yang


mesti dikeluarkan hanya untuk menjadi siswa


sekolah paling bergengsi di ibukota.


“Duit gue nggak bisa beli gengsi apalagi


sekolah di sana.”


Magnolia kemudian mencoba untuk bangkit


dari kasur. Jika dia tidak ke sekolah hari ini,


berarti dia punya banyak waktu untuk


berjualan.

__ADS_1


“Tapi badan gue rasanya nggak sehat.”


Magnolia kembali duduk dan kini sekarang dia


memeluk lutut karena rasanya lebih nyaman


bila dia melakukan hal tersebut. Dia sudah


tidak mungkin lagi ke sekolah dan pikiran


berangkat ke pasar jauh lebih menggoda


dibanding tetap diam di dalam kamar. Tidak


ada orang di rumah saat ini. Kezia dan Dimas


sudah lebih dulu berangkat, begitu juga mama


yang harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali.


“Minum paracetamol aja, deh. Habis itu gue


mandi dan langsung ke pasar.”


Setelah meregangkan otot-otot tangannya,


Magnolia menghela napas lagi. Dia harus


segera bangun dan mandi. Kondisi pasar


sedang ramai-ramainya dan dia masih


memiliki sepuluh lusin lap untuk dijual hari


ini.


“Mandi, Ya. Jualan dulu hari ini. Biar aja nggak


usah ujian. Paling juga gue nggak lulus.”


Mengabaikan kepalanya yang masih berputar,


Magnolia menguatkan diri untuk bangkit dan


membuka pintu kamar. Dia tidak perlu


membuka jendela dan membiarkan angin


masuk. Papan-papan di warung sudah reot


dan kena angin sedikit saja udara langsung


masuk, begitu juga cahaya. Toh setelah mandi


dia tinggal memakai kaos dan jaket, lalu segera


pergi. Dia tidak perlu berdandan cantik seperti


Kezia, selain karena dia tidak memiliki


peralatan make up seperti milik Kezia, akan


sangat aneh berjualan di pasar dengan


dandanan yang mencolok.


Begitu membuka pintu kamar, Magnolia


melihat mama sedang berbicara dengan Laura


terpicing karena jarak antara kamar dan pagar


sekitar sepuluh meter. Di saat yang sama


mama telah selesai berbicara dengan


tetangganya dan ketika berbalik dia


menemukan putri tirinya membeku di depan


kamarnya sedang memegang handuk tipis dan


pakaian yang akan dia pakai nanti.


“Oh, Si Tuan Putri baru bangun. Enak banget,


ya. Udah numpang hidup, bangun siang lagi.”


Magnolia yakin, mama sebenarnya akan


memuntahkan banyak makian untuknya


selain yang dia katakan barusan. Tetapi mama


memilih meninggalkannya begitu saja dan


langsung menuju rumah. Meski begitu, walau


hanya bicara sebaris kalimat, kata-kata


barusan membuat perasaan Magnolia sedikit


sedih.


“Mama nggak kerja? Mama sakit?”


Mama tidak menjawab dan membalas gadis itu


dengan bantingan di pintu. Dia kentara sekali


amat anti mendengar atau membalas


perhatian dari anak tirinya. Tapi, dibanding


kata-kata sebelumnya, perbuatan mama yang


barusan membuat hatinya lebih sedih. Dia


cuma berusaha menanyakan kabar walau


responnya kurang menyenangkan.


Untung saja dia tidak pernah memasukkan


semua kata-kata dan sikap mama ke dalam


hati. Siapa yang bisa menahan perasaan


seperti yang dialami mama saat ini? Hidup


seatap dengan anak dari wanita lain

__ADS_1


sementara suaminya pergi meninggalkan


dirinya selamanya. Jika hal tersebut terjadi


dengan dirinya sendiri, dia sudah pasti tidak


bisa sekuat mama.


“Kayaknya mama sehat.” Magnolia bicara


dengan dirinya sendiri. Dia kemudian


menutup pintu kamar lalu bergegas menuju


kamar mandi. Pasar masih menunggu


kedatangannya dan dia tidak boleh menyia-


nyiakan diri lebih lama di rumah.


***


Hari sudah lewat pukul dua sewaktu Jajang


memanggil Magnolia yang sedang


memberikan uang kembalian kepada seorang


pembeli. Gadis itu menoleh ke arahnya dengan


mata terpicing menahan silau dan panas


matahari yang masih terik walau sudah lewat


tengah hari. Setelah pembeli barusan beranjak


pergi dan dia mengucapkan terima kasih,


barulah Magnolia membalas panggilan Jajang.


“Kenapa, Bang?”


Jajang memberi kode dengan telunjuk tangan


kanannya dan Magnolia mengikuti arah


tangan pria tersebut. Begitu dia menemukan


sosok Dimas dengan seragam SMANSA JUARA


kebanggaannya berjalan menuju pintu masuk


pasar, senyumnya mengembang.


Ada Mamas. Udah makan belum dia? Gue tadi


beliin mie ayam.


Magnolia yang girang melihat kedatangan


abangnya segera berlari-lari kecil untuk


menyongsongnya. Bila banyak kakak dan adik


bertengkar, tidak demikian dengan Magnolia


dan Dimas. Dia sangat menyayangi abangnya.


Tapi, tidak hanya kepada Dimas, Magnolia juga


amat sayang kepada mama dan Kezia


sekalipun mereka tidak pernah


menganggapnya sama seperti dia mencintai


mereka.


"Mamas, udah balik? Udah makan belum? Tadi


Yaya…"


Magnolia berhenti bicara begitu jarak mereka


tinggal lima puluh sentimeter lagi. Belum


pernah dilihatnya wajah Dimas seserius itu


seumur hidupnya, bahkan saat dia marah


sekalipun. Tatapan matanya tajam, seolah


hendak menelan adiknya bulat-bulat.


"Eh, kenapa?" Magnolia bingung melihat raut


muka sang abang. Belum sempat dia bertanya


lagi, Dimas sudah bersuara, dengan nada


dingin yang membuat Magnolia amat


ketakutan, "Pulang ke rumah sekarang!"


Magnolia tidak menjawab. Tangan kanannya


bahkan ditarik paksa oleh pemuda tampan


tersebut dan Dimas yang sudah tahu posisi


sepeda Magnolia menyeret adiknya tanpa


menoleh dan peduli sama sekali pada sekitar.


"Mamas, tangan Yaya sakit. Yaya bisa jalan


sendiri."


Dimas tetap tidak menjawab dan dia sama


sekali tidak peduli, bahwa saat itu tubuh


adiknya masih belum kuat, suhu badannya


masih tinggi, tapi, Magnolia tetap nekat


berjualan. Yang ada dalam pikirannya saat ini


hanya satu, adik bungsu kesayangannya telah


membuatnya kecewa.

__ADS_1


Amat sangat kecewa.


***


__ADS_2