
Rasa hangat yang di rasakan Sarah membuatnya terasa nyaman. Sarah membuka kelopak matanya secara perlahan. Ia pun terpaku memandang wajah tampan Ilham saat tertidur. Sarah merasakan pipinya panas saat menyadari Ilham tidur dengan bertelanjang dada.
Sarah berusaha melepaskan tangan Ilham yang ada di pinggangnya secara perlahan. Sarah berjalan mengambil handuk lalu mandi.
Selesai dengan urusan mandi dan seragam nya sarah tak lupa memakai sedikit bedak tipis dan liptint supaya tidak terlihat pucat. Sarah melakukan semua kegiatan pagi rutin nya seperti biasa. Akhirnya semua pun selesai. Masak sudah. Mencuci pun sudah. Tinggal membangunkan komandan aja sekarang begitu pikirnya.
"Ham bangun yuk, udah jam enam. Sekarang kan kita sekolah." ucap sarah sambil berjalan membuka gorden.
Matahari sudah agak sedikit terlihat dan memancarkan cahayanya. Ilham yang merasa terganggu akibat cahaya terang itu pun perlahan membuka kelopak matanya.
"Pagi sar. Kamu udah mandi?" sapa ilham dengan suara khas bangun tidurnya. sambil berjalan mengambil handuk
"Udah dongg. Sekarang giliran kamu yang mandi abis itu kita sarapan." sarah melipat selimut dan merapikan tempat tidur. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Sarah pun berjalan menyiapkan seragam sekolah untuk ilham lalu berlalu ke arah dapur membuat teh hangat untuk ilham.
La la la la
Sarah membuat teh sambil bersenandung kecil. Sarah tak menyadari jika ilham sudah selesai dan sekarang sedang memperhatikannya.
Begitu ilham keluar kamar ia melihat sang istri sedang membuatkan teh untuknya sambil bersenandung. Ilham menjadi tersenyum karenanya.
__ADS_1
"Sar.."pangggil ilham lalu duduk di kursi makan. Sarah yang merasa terpanggil pun berbalik badan dan berjalan menuju meja makan sambil membawa secangkir teh hanggat untuk ilham.
Ilham duduk sambil menatap ngiler makanan yang ada di depannya ini. Sungguh menggoda lidahh kalo di lihat dari tampilannya membuat menjadi tambah lapar.
Sarah yang melihat suaminya menatap makanam seperti itu terkekeh pelan.
"Mau pake lauk yang mana ham?" tanya sarah sambil mengambilkan nasi di piring Ilham.
Ilham pun menunjuk Ayam goreng, tumis kangkung, sambal terasi, dan kubis mantah sebagai lalapan. Sarah senang melihat sang suami begitu bernafsu memakan masakannya.
"Gimana ham enak?" tanya sarah hari hati.
"Ahaha telen dulu ham." jawab sarah sambil tertawa melihat ilham.
Selesai sarapan ilham dan sarah masih menyiapkan buku mereka.
"Ham nanti aku bareng kamu ya? Hari ini aja plissa" pinta sarah dengan puppy eyesnya dan suara di imut imut kan seperti anak kecil. Sambil dudul di pinggir kasur.
"Ga usah di minta pokoknya setiap hari kamu harus bareng aku gak cuman hari ini aja pokoknya setiap hari dan ga boleh nolakk." ucap Ilham dengan nada tegas dan tak ingin di bantah.
__ADS_1
"Tapi ham." belum selesai perkataan sarah ilham sudah mengecup bibirnya yang membuat sarah mematung dengan pipi bersemu merah.
"Kamu pake blush on sar? Kok pipinya merag?" tanya ilham menggoda Sarah. Sarah yang di goda jadi malu dan langsung menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Ilham terkekeh melihatnya.
"Udah ayok berangkat jadi bareng nggak?" tanya ilham sambil berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sarah.
Sarah berlari mengejar ilham yang telah keluar apart duluan.
Diperjalanan.
"Nanti aku turun di halte ya ham. Dan maaf nanti aku mohon supaya kita lo gue an di sekolah."
Ilham mengerutkan kening mendengar perkataan sang istri.
"Loh kenapa?" tanya nya heran.
"Ga papa cuman belajar dari pengalaman aja. Waktu aku sama kamu belum kayak gini aja waktu aku berangkat bareng sama kamu yang ngeliatin aja udah kayak gitu. Sementara ini kita kayak biasa aja dulu ya ham kayak nggak saling kenal kaya biasanya. Kalo mau aku kamuan kamu harus pdkt in aku dulu lalu jadian di depan mereka:v jadikan hubungan kita jelas di mata mereka kalau kita pacaran. Pacaran halal maksudnya hihi" ucap Sarah menjelaskan secara rinci maksud dia. Dan memberi kode pada ilham supaya menembaknya seperti remaja biasanya.
Ilham yang paham akan maksud sang istri pun tersenyum toh ini untuk kebaikan sarah juga.
__ADS_1