
Setelah selesai makan siang mereka memilih pulang .
" Del kamu gak mau pulang sama Kak Qinta aja ." Tawar Qinta pada Delva .
" Gak Kak , aku kan bawa mobil sendiri ." Jawab Delva .
" Owh ya udah , tapi kamu hati-hati ya ."
" Siap Kak ." Jawab Delva sambil tersenyum .
Setelah itu Aldan langsung melajukan mobilnya meninggalkan Delva yang masih berdiri menatap kepergian kakaknya .
" Kak Qinta kok mau ya sama pria dingin seperti dia , buktinya aja saat kita makan di cafe pria kulkas itu hanya diam saja tanpa ikut nimbrung dengan percakapan kita ." Oceh Delva seorang diri .
" Tau ah , masak bodo mendingan gue cabut aja ." Ucapnya lagi .
🌹🌹🌹
Keesokan harinya , Delva sudah bersiap untuk berangkat ke sekolahnya .
Dengan santai dia berjalan menuju ruang makan dengan menggendong tas ranselnya .
Di ruang makan...
" Kok sepi pada kemana semua ???" Tanya Delva pada Bi Tuti yang tengah menata sarapan di atas meja .
" Pagi-pagi sekali tuan sudah berangkat ke kantor , karena pagi ini ada temu janji dengan klien nya yang dari luar negeri ." Jelas Bi Tuti .
" Trus mama kemana ???" Tanya Delva .
" Kalau nyonya saya tidak tau pergi kemana , tapi yang jelas pagi-pagi buta nyonya juga pergi , katanya ada urusan penting ." Jawab Bi Tuti .
" Kayaknya hari ini papa sama mama lagi sibuk banget , sampai-sampai mereka tidak sarapan di rumah ." Batin Delva .
" Kalau Kak Qinta kemana Bi , dia gak pergi juga kan...??? " Tanya Delva pada Bi Tuti .
" Mungkin Nona Qinta masih ada di kamarnya Non , soalnya sedari tadi bibi gak liat Nona Qinta keluar dari kamarnya ." Jelas Bi Tuti .
" Tumben jam segini Kak Qinta belum juga keluar kamar , biasanya kan jam segini dia udah sarapan ." Ucap Delva .
" Bibi juga gak tau Non ." Jawab nya .
" Apa dia masih belum bangun kali ya , tapi gak biasanya dia bangun kesiangan ." Batin Delva .
Delva beranjak dari duduknya dan bergegas pergi ke kamar Qinta .
Tok... tok... tok...
Delva mengetuk pintu kamar Qinta .
" Kak Qinta... , kakak udah bangun belum ." Tanya Delva dengan suara agak berteriak .
Namun sayangnya masih belum ada jawaban .
__ADS_1
" Kak Qinta... bangun... ini udah hampir jam tujuh lho ." Ucap Delva lagi .
Namun lagi-lagi tak ada jawaban .
" Kok gak ada respon ya , apa mungkin dia masih tidur , atau dia masih di kamar mandi kali ya ." Ucap Delva bicara sendiri .
Rasa khawatir mulai menghantuinya , karena tidak biasanya Qinta tidak bangun di jam seperti ini .
" Kak Qinta... aku masuk ya ." Ucap Delva .
Karena masih tak ada jawaban Delva langsung memutar kenop pintu kamar Qinta dengan pelan .
Ceklek...
" Kak Qinta... " Pekik Delva terkejut melihat sang kakak sudah tergelatak tak berdaya di atas lantai .
Dia pun segera berlari menghampiri Qinta .
" Kak Qinta bangun Kak..." Ucap Delva sangat panik sambil merangkul tubuh kakaknya .
" Kak Qinta... ku mohon bangun kak ,jangan membuatku takut ." Ucap Delva yang terus menepuk nepuk pelan pipi kakaknya .
" Halo... Qinta kamu baik-baik saja kan..." Tanya seseorang di seberang sana .
Delva yang mendengar suara itu pun menoleh ke arah benda pipih yang masih berada dalam genggaman kakaknya .
Tanpa pikir panjang , ia pun langsung mengambilnya dan melihat siapa yang baru saja menelpon Qinta .
" Qinta... kamu mendengarku kan... " Ucap Aldan di seberang sana .
" Halo om ini gue Delva ." Ucap Delva .
" Dimana Qinta , dia baik-baik saja kan , dia tidak apa-apa kan...???" Tanya Aldan khawatir .
" Kak Qinta sedang tidak baik-baik saja , saat ini Kak Qinta tengah tidak sadarkan diri ." Ucap Delva .
" Ap...apa...??? baiklah aku akan segera naik ke atas ." Ucap Aldan lalu mematikan sambungan telponnya dan bergegas pergi ke kamar Qinta .
Karena sebelumnya dia sudah membuat janji dengan Qinta untuk pergi ke suatu tempat , sehingga pagi-pagi dia menjemput Qinta dan menelponnya saat dia sudah berada di depan rumah Qinta , namun saat Qinta mengangkat telpon darinya , tiba-tiba terdengar suara dia yang meringis kesakitan lalu setelahnya tak terdengar lagi suara Qinta , sehingga membuat Aldan panik dan tetap tak menutup telponnya .
" Kak Qinta... harus kuat , kakak harus bisa melawan penyakit ini ." Ucap Delva sedih , dan sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak jatuh .
" Qinta... " Ucap Aldan yang kini menghampiri mereka .
" Apa yang terjadi dengannya , kenapa dia sampai pingsan begini ??? " Tanya Aldan .
" Gue juga gak tau , saat gue masuk ke sini , gue udah menemukan Kak Qinta dalam keadaan seperti ini ." Jelas Delva .
Tanpa berpikir panjang Aldan langsung mengangkat tubuh Qinta dan membawanya keluar .
" Hei tunggu... lo mau bawa kemana Kakak gue ??? " Tanya Delva sambil mengikuti Aldan dari belakang .
" Ke rumah sakit ." Jawab Aldan dingin .
__ADS_1
" Gue ikut... " Ucap Delva langsung masuk kedalam mobil Aldan .
Di rumah sakit...
Sesampainya di sana Qinta langsung di bawa ke IGD dan di tangani oleh dokter pribadi keluarga Kafindra , karena kebetulan rumah sakit itu adalah milik keluarga Kafindra .
Delva yang merasa khawatir dengan keadaan Qinta hanya mondar mandir kesana kemari sambil sesekali mengigit kuku jari jempolnya karena itulah kebiasaannya , jika dia tengah khawatir dan gelisah maka ia akan mengigit kuku jari jempolnya .
Dan tentu saja hal itu membuat Aldan yang sedari hanya duduk di kursi tunggu depan IGD merasa jengah melihat tingkahnya .
" Apa kamu tidak merasa lelah sedari tadi hanya mondar mandir kesana kemari , membuat mataku terasa sakit melihatnya ." Oceh Aldan kesal .
" Terserah gue lah , mau gue mondar mandir kek , mau gue lompat-lompat kek , itu bukan urusan lo , jadi lo gak usah liat kalau membuat mata lo sakit , gitu aja kok repot ." Ketus Delva .
" Gak tau apa kalo gue lagi khawatir setengah mati sama Kak Qinta ." Sambung Delva .
" Khawatir sih khawatir... tapi gak harus mondar mandir juga kan , aku jadi pusing tau nggak ngeliat kamu ."
" Gue kan udah bilang... gak usah di liatin ." Ucap Delva kesal .
" Dasar gadis ngeselin ." Gumam Aldan pelan . namun masih dapat di dengar oleh Delva .
" Bisa diem gak sih lo ." Bentak Delva .
" Hemmm..." Jawab Aldan cuek .
" Ah... bikin gue makin baad mood deh ." Batin Delva .
Dia pun memilih pergi ke taman rumah sakit .
Sesampainya di taman , Delva duduk di kursi panjang yang ada di taman itu .
Dan seketika dia menumpahkan air matanya di sana .
Rasa takut akan kehilangan orang yang dia sayang , kembali menghantui dirinya .
" Tuhan... jangan biarkan aku kembali kehilangan orang yang aku sayang , aku sudah kehilangan orang yang aku cintai , dan ku mohon jangan biarkan aku juga kehilangan kakakku ." Batin Delva masih dengan air mata yang bercucuran .
🌹
🌹
🌹
🌹
🌹
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE SEBANYAK BANYAK...
OK 👍
TERIMA KASIH...
__ADS_1