
" Lo mau apa ??? jangan macem-macem ya ." Ancam Delva sambil memundurkan langkahnya . Entah kenapa ketampanan Aldan saat ini malah terlihat angker di mata Delva .
Aldan terus saja melangkah maju mendekati Delva yang juga terus memundurkan langkahnya hingga membuat dia tersudut , karena di belakangnya terdapat mobilnya yang terparkir di depan toko kue .
Delva benar-benar merasa ketakutan sekaligus gugup . Bagaimana tidak ,jika saat ini wajah Aldan sudah berada tepat di depan wajah Delva , bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas Aldan yang terus menatapnya .
" Lo ma... mau... nga..ngapain ." Ucap Delva terbata - bata saking takutnya .
" Menurutmu... " Ucap Aldan sembari tersenyum devil .
Namun senyumnya tak bertahan lama saat dia merasakan sakit di bagian kakinya .
" Awwsh... " Aldan meringis kesakitan , karena Delva menginjak kakinya dengan kuat .
Delva tidak membuang kesempatan untuk kabur dari Aldan . Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan Aldan yang tengah mengaduh kesakitan akibat perbuatannya .
Sebelum mobilnya menjauh dari pandangan pria itu , Delva mengeluarkan tangannya ke luar jendela mobilnya , dan membalikkan jempolnya ke bawah .
Kira-kira seperti ini ya...👎
Seakan meremehkan Aldan .
Dan tentu saja hal itu membuat Aldan semakin marah terhadapnya , karena seakan gadis itu menghinanya .
" Kurang ajar... beraninya gadis kecil itu memperlakukan aku seperti ini ." Ucap Aldan kesal .
" Tunggu saja pembalasan dariku gadis kecil , tidak boleh ada satu orang pun yang boleh menghina seorang Aldan dan akan ku pastikan bahwa dirimu akan menyesal , karena telah berani berurusan denganku ." Gumam Aldan sembari tersenyum devil .
🍁🍁🍁
Kini Delva sudah sampai di kediaman keluarga Bramasta .
Dengan wajah kesal dia melangkah masuk ke dalam rumahnya .
" I am coming... " Teriaknya .
Dan tentu saja hal itu membuat sang mama merasa kesal dengan tingkah putri bungsunya yang selalu berteriak di setiap dia pulang .
" Aish... kau ini kebiasaan kalau pulang suka teriak-teriak ." Omel sang mama .
" Biar denger ma ." Ucap Delva sembari bergelayut manja di lengan mamanya .
" Kamu pikir semua orang yang ada di rumah ini budek apa ."
" Ah... mama gak asik , udah kayak om-om tua bangka itu , suka marah-marah dan bikin kesel ." Gerutu Delva sembari pergi ke kamarnya .
Sherli hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang terbilang bar bar dan keras kepala .
" Anak itu bener-bener ya ." Gerutu Sherli sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar .
Sesampainya di kamar , Delva langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang .
__ADS_1
" Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku , karena harus bertemu dengan om-om tua bangka yang ngeselin itu ." Oceh Delva .
" Menghela napas panjang . Mandi dulu kali ya , biar segar ." Ucap Delva .
Dia pun beranjak dari rebahannya dan bergegas pergi ke kamar mandi .
Namun sebelumnya dia tidak lupa untuk membawa baju ganti .
Setelah lima belas menit Delva pun selesai dengan ritual mandinya .
Kruk... kruk... kruk...
Lagi dan lagi perut Delva bernyanyi ria , karena dia belum makan siang , sehingga membuat perutnya keroncongan saking menahan rasa lapar yang ia rasakan sejak tadi sepulang sekolah , namun pertemuannya dengan Aldan membuat Delva males makan karena saking kesalnya dengan pria itu .
" Kasian juga nieh perut kalau di biarin kelaparan kayak gini , mendingan aku makan siang dulu deh ." Oceh Delva pada dirinya sendiri . Dia pun bergegas keluar kamar dan menuju ruang makan di lantai bawah .
Saat Delva menuruni tangga , dia melihat seseorang yang sangat di sayanginya baru saja masuk ke dalam rumahnya .
Yang tak lain adalah Qinta .
" Kak Qinta... " Panggil Delva agak berteriak . Dia pun berlari kecil menghampiri Kakak kesayangannya .
" Kak Qinta aku kangen... " Rengek Delva sembari bergelayut manja di lengan Qinta .
" Ah... kamu ini lebay banget sih , baru hanya beberapa jam saja kita tidak bertemu , tapi kamu sudah bilang kangen ." Oceh Qinta sembari mencubit gemas hidung adiknya .
" Awwshh... Sakit Kak ." Delva mengusap pelan hidungnya yang kini agak memerah akibat cubitan Qinta .
" Oh ya , Kak Qinta abis dari mana ??? " Tanya Delva penasaran .
" Abis ketemu temen ." Jawab Qinta .
" Temen nya perempuan apa laki-laki sih Kak ??? " Tanya Delva lagi .
" Kamu ini kepo banget sih , udah kayak wartawan aja ." Ucap Qinta .
" Ya... apa salahnya kalau aku kepo sama urusan Kak Qinta ."
" Masalahnya kamu ini masih kecil , jadi tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa ."
" Aku bukan anak kecil lagi Kak , aku udah gede ." Ucap Delva kesal . Dia tidak suka apabila Qinta masih menganggapnya anak kecil .
" Gak usah cemberut gitu , entar mukanya makin jelek tuh ." Goda Qinta .
" aku cantik begini malah di bilang jelek ." Ketus Delva .
" Trus Kak Qinta udah makan siang belum ??? " Tanya Delva .
" Belum ."Jawab Qinta .
" Ya udah kalau gitu kita bareng yuk ." Ajak Delva .
__ADS_1
" Nggak ah... aku lagi males makan ." Jawab Qinta .
" Kak Qinta kok gitu sih , kalau Kak Qinta gak makan entar Kak Qinta bisa sakit ."
" Tapi aku gak lapar sayang , kamu makan sendiri aja ya ."
" Gak mau , kalau Kak Qinta gak makan , aku juga gak makan ."
" Loh kok gitu ."
" Bodo... " Ucap Delva dengan wajah cemberut .
" Menghela napas panjang . Oke kita makan siang bareng ." Akhirnya Qinta mengalah , karena dia tidak mungkin membiarkan adik kesayangannya kelaparan .
" Nah gitu dong ." Ucap Delva tersenyum puas .
" Mama gak di ajak nih... " Ucap Sherli yang kini tengah berdiri di belakang mereka .
" Di ajak dong , ayo ." Ajak Delva .
Mereka pun pergi ke ruang makan untuk makan siang .
Setelah makan siang , Delva mengajak Qinta ke taman belakang .
Kini mereka tengah duduk di kursi panjang yang ada di taman itu .
" Apa Kak Qinta yakin untuk menikah dengan dia ." Tanya Delva .
Ya... Delva memang sudah tau mengenai perjodohan kakaknya denga Aldan , dan Delva juga tau kalau perjodohan itu terjadi juga karena atas permintaan Qinta . Bahkan Delva juga mengenal Aldan di waktu kecil , hanya saja mereka tidak pernah akur dan suka terlibat dalam pertengkaran , karena sifat mereka yang berbeda , sikap Aldan yang dingin dan datar jauh berbeda dengan sifat Delva yang ceria dan humoris .
Namun semenjak Delva pergi ke luar negeri dan tinggal di sana bersama opa dan oma nya , Delva tidak pernah lagi bertemu dengan Aldan , hingga sampai saat ini pun Delva tidak pernah tau seperti apa wajah dari calon kakak iparnya .
" Ya... aku yakin seratus persen ." Jawab Qinta sembari tersenyum .
" Lalu apa dia mau menerima perjodohan ini ??? " Tanya Delva lagi .
" Dia mau kok , baru saja kita bertemu dan membicarakan hal ini dan Aldan menyetujui perjodohan ini ."
" Hmm... Kak Qinta keceplosan nih , jadi Kak Qinta tadi habis ketemu sama dia ." Goda Delva .
-
-
-
-
-
**JANGAN LUPA DUKUNG TERUS KARYA AUTHOR DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE .
__ADS_1
TERIMA KASIH...😊😊😊**