Ketulusan Cinta Tuan Muda

Ketulusan Cinta Tuan Muda
Episode 02


__ADS_3

" Lo mau apa ??? jangan macem-macem ya ." Ancam Delva sambil memundurkan langkahnya . Entah kenapa ketampanan Aldan saat ini malah terlihat angker di mata Delva .


Aldan terus saja melangkah maju mendekati Delva yang juga terus memundurkan langkahnya hingga membuat dia tersudut , karena di belakangnya terdapat mobilnya yang terparkir di depan toko kue .


Delva benar-benar merasa ketakutan sekaligus gugup . Bagaimana tidak ,jika saat ini wajah Aldan sudah berada tepat di depan wajah Delva , bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas Aldan yang terus menatapnya .


" Lo ma... mau... nga..ngapain ." Ucap Delva terbata - bata saking takutnya .


" Menurutmu... " Ucap Aldan sembari tersenyum devil .


Namun senyumnya tak bertahan lama saat dia merasakan sakit di bagian kakinya .


" Awwsh... " Aldan meringis kesakitan , karena Delva menginjak kakinya dengan kuat .


Delva tidak membuang kesempatan untuk kabur dari Aldan . Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan Aldan yang tengah mengaduh kesakitan akibat perbuatannya .


Sebelum mobilnya menjauh dari pandangan pria itu , Delva mengeluarkan tangannya ke luar jendela mobilnya , dan membalikkan jempolnya ke bawah .


Kira-kira seperti ini ya...👎


Seakan meremehkan Aldan .


Dan tentu saja hal itu membuat Aldan semakin marah terhadapnya , karena seakan gadis itu menghinanya .


" Kurang ajar... beraninya gadis kecil itu memperlakukan aku seperti ini ." Ucap Aldan kesal .


" Tunggu saja pembalasan dariku gadis kecil , tidak boleh ada satu orang pun yang boleh menghina seorang Aldan dan akan ku pastikan bahwa dirimu akan menyesal , karena telah berani berurusan denganku ." Gumam Aldan sembari tersenyum devil .


🍁🍁🍁


Kini Delva sudah sampai di kediaman keluarga Bramasta .


Dengan wajah kesal dia melangkah masuk ke dalam rumahnya .


" I am coming... " Teriaknya .


Dan tentu saja hal itu membuat sang mama merasa kesal dengan tingkah putri bungsunya yang selalu berteriak di setiap dia pulang .


" Aish... kau ini kebiasaan kalau pulang suka teriak-teriak ." Omel sang mama .


" Biar denger ma ." Ucap Delva sembari bergelayut manja di lengan mamanya .


" Kamu pikir semua orang yang ada di rumah ini budek apa ."


" Ah... mama gak asik , udah kayak om-om tua bangka itu , suka marah-marah dan bikin kesel ." Gerutu Delva sembari pergi ke kamarnya .


Sherli hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang terbilang bar bar dan keras kepala .


" Anak itu bener-bener ya ." Gerutu Sherli sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar .


Sesampainya di kamar , Delva langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang .

__ADS_1


" Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku , karena harus bertemu dengan om-om tua bangka yang ngeselin itu ." Oceh Delva .


" Menghela napas panjang . Mandi dulu kali ya , biar segar ." Ucap Delva .


Dia pun beranjak dari rebahannya dan bergegas pergi ke kamar mandi .


Namun sebelumnya dia tidak lupa untuk membawa baju ganti .


Setelah lima belas menit Delva pun selesai dengan ritual mandinya .


Kruk... kruk... kruk...


Lagi dan lagi perut Delva bernyanyi ria , karena dia belum makan siang , sehingga membuat perutnya keroncongan saking menahan rasa lapar yang ia rasakan sejak tadi sepulang sekolah , namun pertemuannya dengan Aldan membuat Delva males makan karena saking kesalnya dengan pria itu .


" Kasian juga nieh perut kalau di biarin kelaparan kayak gini , mendingan aku makan siang dulu deh ." Oceh Delva pada dirinya sendiri . Dia pun bergegas keluar kamar dan menuju ruang makan di lantai bawah .


Saat Delva menuruni tangga , dia melihat seseorang yang sangat di sayanginya baru saja masuk ke dalam rumahnya .


Yang tak lain adalah Qinta .


" Kak Qinta... " Panggil Delva agak berteriak . Dia pun berlari kecil menghampiri Kakak kesayangannya .


" Kak Qinta aku kangen... " Rengek Delva sembari bergelayut manja di lengan Qinta .


" Ah... kamu ini lebay banget sih , baru hanya beberapa jam saja kita tidak bertemu , tapi kamu sudah bilang kangen ." Oceh Qinta sembari mencubit gemas hidung adiknya .


" Awwshh... Sakit Kak ." Delva mengusap pelan hidungnya yang kini agak memerah akibat cubitan Qinta .


" Oh ya , Kak Qinta abis dari mana ??? " Tanya Delva penasaran .


" Abis ketemu temen ." Jawab Qinta .


" Temen nya perempuan apa laki-laki sih Kak ??? " Tanya Delva lagi .


" Kamu ini kepo banget sih , udah kayak wartawan aja ." Ucap Qinta .


" Ya... apa salahnya kalau aku kepo sama urusan Kak Qinta ."


" Masalahnya kamu ini masih kecil , jadi tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa ."


" Aku bukan anak kecil lagi Kak , aku udah gede ." Ucap Delva kesal . Dia tidak suka apabila Qinta masih menganggapnya anak kecil .


" Gak usah cemberut gitu , entar mukanya makin jelek tuh ." Goda Qinta .


" aku cantik begini malah di bilang jelek ." Ketus Delva .


" Trus Kak Qinta udah makan siang belum ??? " Tanya Delva .


" Belum ."Jawab Qinta .


" Ya udah kalau gitu kita bareng yuk ." Ajak Delva .

__ADS_1


" Nggak ah... aku lagi males makan ." Jawab Qinta .


" Kak Qinta kok gitu sih , kalau Kak Qinta gak makan entar Kak Qinta bisa sakit ."


" Tapi aku gak lapar sayang , kamu makan sendiri aja ya ."


" Gak mau , kalau Kak Qinta gak makan , aku juga gak makan ."


" Loh kok gitu ."


" Bodo... " Ucap Delva dengan wajah cemberut .


" Menghela napas panjang . Oke kita makan siang bareng ." Akhirnya Qinta mengalah , karena dia tidak mungkin membiarkan adik kesayangannya kelaparan .


" Nah gitu dong ." Ucap Delva tersenyum puas .


" Mama gak di ajak nih... " Ucap Sherli yang kini tengah berdiri di belakang mereka .


" Di ajak dong , ayo ." Ajak Delva .


Mereka pun pergi ke ruang makan untuk makan siang .


Setelah makan siang , Delva mengajak Qinta ke taman belakang .


Kini mereka tengah duduk di kursi panjang yang ada di taman itu .


" Apa Kak Qinta yakin untuk menikah dengan dia ." Tanya Delva .


Ya... Delva memang sudah tau mengenai perjodohan kakaknya denga Aldan , dan Delva juga tau kalau perjodohan itu terjadi juga karena atas permintaan Qinta . Bahkan Delva juga mengenal Aldan di waktu kecil , hanya saja mereka tidak pernah akur dan suka terlibat dalam pertengkaran , karena sifat mereka yang berbeda , sikap Aldan yang dingin dan datar jauh berbeda dengan sifat Delva yang ceria dan humoris .


Namun semenjak Delva pergi ke luar negeri dan tinggal di sana bersama opa dan oma nya , Delva tidak pernah lagi bertemu dengan Aldan , hingga sampai saat ini pun Delva tidak pernah tau seperti apa wajah dari calon kakak iparnya .


" Ya... aku yakin seratus persen ." Jawab Qinta sembari tersenyum .


" Lalu apa dia mau menerima perjodohan ini ??? " Tanya Delva lagi .


" Dia mau kok , baru saja kita bertemu dan membicarakan hal ini dan Aldan menyetujui perjodohan ini ."


" Hmm... Kak Qinta keceplosan nih , jadi Kak Qinta tadi habis ketemu sama dia ." Goda Delva .


-


-


-


-


-


**JANGAN LUPA DUKUNG TERUS KARYA AUTHOR DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE .

__ADS_1


TERIMA KASIH...😊😊😊**


__ADS_2