
" Ahahahaha... sumpah lo lucu banget tau nggak ." Ucap Delva .
Sedangkan Reza malah asyik menatap wajah Delva yang terlihat semakin cantik saat tertawa lepas , seakan tak ada beban pada dirinya .
" Cantik.... " Ucapnya tanpa sadar .
Seketika Delva langsung menghentikan tawanya saat mendengar ucapan Reza , dan menyadari bahwa Reza tengah menatapnya kagum .
" Ngapain lo liatin gue kayak gitu , mau tuh mata gue congkel ." Ucap Delva ketus .
" Ah gak... siapa yang ngeliatin lo , gak usah ge er deh ." Elak Reza .
" Serah lo deh , dah ah gue mau balik ke kelas aja ." Delva pun pergi ke kelasnya .
" Hhh... benar-benar gadis yang menarik , gue pastikan lo akan jadi milik gue Delva ." Batin Reza .
πΊπΊπΊπΊπΊ
Sepulang sekolah Delva tidak langsung pulang ke rumahnya , akan tetapi dia pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat kondisi Qinta .
Namun dia tidak seorang diri , melainkan bersama Gea yang memang berniat untuk menjenguk Qinta .
Sesampainya di rumah sakit , Delva dan Gea langsung menuju ruang ICU .
" Kak Qinta...." Ucap Delva terkejut saat melihat sang kakak sudah sadar dan kini tengah asyik berbincang dengan mamanya .
" Del... Delva , kenapa kamu kesini ???" Tanya Qinta .
Namun bukannya menjawab Delva malah menghampiri Qinta dan memeluknya dengan erat .
" Kamu kenapa ???" Tanya Qinta heran dengan perlakuan adik kesayangannya .
" Terima kasih Kak.... terima kasih... " Ucap Delva dengan mata yang sudah berkaca kaca . Qinta menjauhkan tubuhnya dan menatap wajah Delva dengan lekat .
" Hei sayang , ada apa denganmu , dan kenapa kamu berterima kasih kepadaku ???" Tanya Qinta yang masih belum mengerti dengan sikap Delva .
" Terima kasih karena Kak Qinta sudah mau bangun dan tidak meninggalkanku ." Ucap Delva .
Qinta tersenyum mendengar ucapan Delva , dan dia pun mulai mengerti bahwa sang adik tidak mau kehilangannya .
" Dengarkan aku baik-baik , aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan akan selalu bersamamu , hingga suatu saat nanti ada pria yang bisa menggantikanku untuk menjagamu , jadi berhentilah menjadi gadis yang cengeng ." Ucap Qinta sambil membelai lembut kepala Delva .
" Janji ya... " Rengek Delva .
" Iya kakak janji ." Ucap Qinta sambil menarik Delva kembali ke dalam pelukannya .
" Ini pasti Gea kan... ???" Tanya Sherli pada gadis di depannya .
" Iya tante , ternyata tante masih ingat ya sama aku ." Ucap Gea sambil tersenyum manis .
" Tentu , kamu kan sahabat baik Delva ."
__ADS_1
" Owh ya , gimana keadaan Kak Qinta sekarang ???" Tanya Gea pada Qinta .
" Aku sudah lebih baik , dan mungkin besok sudah boleh pulang ."
" Syukurlah kalau begitu , semoga saja Kak Qinta cepat sembuh ya ."
" Aaamiiin... makasih ya Ge, doanya ."
" Sama-sama Kak ." Ucap Gea .
" Gea duduk sini sama tante ." Ucap Sherli sambil menepuk sofa di sampingnya .
Gea pun menurut dan duduk di samping Sherli .
" Kenapa Kak Qinta akan pulang secepat itu , Kak Qinta kan baru saja sadar ???"
Tanya Delva .
" Kamu tau sendiri kan , kalau aku ini tidak suka berlama lama berada di rumah sakit , lagian aku sudah merasa lebih baik kok , jadi untuk apa berlama lama disini ."
" Tapi Kak..."
" Kamu tidak perlu khawatir , aku pasti akan baik-baik saja , lagi pula besok adalah hari pernikahanku dengan Aldan kan ,jadi tidak mungkin aku tetap berada disini , kan gak lucu kalau harus menikah di rumah sakit ."
" Loh bukannya pernikahan Kak Qinta masih kurang beberapa hari lagi , kenapa jadi besok ???" Tanya Delva penasaran .
" Emmm.... aku sengaja meminta pernikahan ini semakin di majukan , karena aku takut waktuku tidak banyak ." Ucap Qinta sambil menundukkan kepalanya .
" Ya... semoga saja ." Ucap Qinta .
" Apa Kak Qinta yakin akan menikah dengan pria kulkas itu , aku khawatir Kak Qinta akan membeku jika berlama-lama berada di sampingnya ." Ledek Delva .
" Maksudmu Aldan ???" Tanya Qinta .
" Ya... siapa lagi , yang akan menikah dengan Kak Qinta kan dia , dan aku juga heran deh sama Kak Qinta , kenapa Kak Qinta bisa jatuh cinta dengannya , wajahnya yang datar dan sikapnya yang dingin , pria kaku seperti dia mana tau caranya bersikap romantis ." Oceh Delva .
Dan tanpa dia sadari orang yang tengah dia bicarakan sudah berdiri di belakangnya dan tentu saja semua orang di ruangan itu melihatnya , kecuali Delva .
" Hei... kenapa kalian menatapku sepeti itu , apa yang katakan memang benar kan ???" Tanya Delva saat dia merasa semua orang di ruangan itu menatapnya .
" Ekhemmm... Sepertinya ada yang sedang membicarakan ku ." Ucap Aldan .
Seketika Delva terkejut saat mendengar suara Aldan yang terdengar dekat dengannya .
" Mampus deh gue , kenapa pria kulkas ini bisa ada disini sih ." Batin Delva .
Dia pun membalikkan badannya
" Eh Kakak Ipar apa kabar ???" Ucap Delva sambil memaksakan senyumnya .
" Seperti yang kamu lihat , aku baik-baik saja ." Jawab Aldan dingin dan menatap Delva dengan tatapan yang sulit di artikan .
__ADS_1
" Duh... kenapa dia ngeliatin gue kayak gitu sih , gue kan jadi ngeri ngeliatnya ." Batin Delva .
" Owh... syukurlah , kalau begitu silahkan duduk Kakak Ipar ." Delva beranjak dari duduknya .
" Kamu mau kemana ???" Tanya Aldan .
" Mau duduk di sofa , jadi Kakak Ipar bisa duduk di samping Kak Qinta ."
" Boleh aku minta tolong??? ." Tanya Aldan masih dengan tatapan yang sulit di artikan .
" Mau minta tolong apa ya ???" Delva balik tanya .
" Aku mau kamu ikut denganku ke kantin , karena aku mau membelikan makan siang untuk Qinta dan mama , sekalian untuk kamu dan temanmu , kalian pasti belum makan siang juga kan...???"
" Gimana kalau gue aja yang beliin , Kakak Ipar tunggu disini aja , Kakak Ipar kan baru aja nyampe , jadi pasti capek banget dong..." Oceh Delva .
" Tidak , aku sama sekali tidak lelah , dan aku akan beli sendiri makanan untuk Qinta , karena aku harus memastikan sendiri apakah makanan disini layak atau tidak untuk di makan calon istriku ."
" Tapi..."
" Sudah ikut saja Del ." Ucap Qinta .
" Baiklah..." Ucap Delva pasrah .
Dia pun berjalan mengikuti Aldan dari belakang .
" Aduh... gimana nih , gue yakin... pasti pria kulkas ini mau bikin perhitungan sama gue , makannya dia sengaja ngajak gue pergi beli makanan ." Batin Delva sambil terus menunduk .
Dukkk...
" Awssh... " Ringis Delva saat keningnya tanpa sengaja menabrak sesuatu .
Ya... Delva tidak sengaja menabrak punggung Aldan yang berhenti secara tiba-tiba , karena sedari tadi Delva terus menunduk dan melamun tanpa memperhatikan jalan .
" Lo kalau mau berhenti bilang dong , jangan mendadak , gue kan jadi nabrak ." Oceh Delva sambil terus memegang keningnya yang terasa agak nyeri .
π
π
π
π
π
HAI PARA READERS KU...
TERUS DUKUNG KARYA KU DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE SEBANYAK BANYAKNYA ....
TERIMA KASIH...πππ
__ADS_1