
Kini Qinta terbaring lemah di kamarnya, karena saat dia ingin di larikan ke rumah sakit, gadis itu tersadar dari pingsannya, dan menolak untuk di bawa ke rumah sakit.
" Kak... kita ke rumah sakit ya..." Rengek Delva .
Qinta hanya menggeleng lemah, wajah cantiknya kini terlihat sangat pucat, dan terlihat jelas bahwa Qinta tengah dalam keadaan tidak baik_baik saja.
" Gak usah Del, kakak udah gak kuat lagi . " Ucapnya lemah.
" Nggak... Kak Qinta gak boleh nyerah, Kak Qinta pasti sembuh, bukannya Kak Qinta akan menikah hari ini, apa Kak Qinta tidak ingin bersanding dengan pria yang Kak Qinta cintai. " Ucap Delva dengan mata yang berkaca_kaca, gadis itu tidak tega melihat kakaknya dalam keadaan seperti ini.
" Sayang... benar apa yang di katakan oleh adikmu, kamu harus kuat nak... " Ucap Sherli dengan mata yang berkaca_kaca.
" Mah... " Panggil Qinta lirih.
" Iya sayang... " Sherli menatap putri nya dengan mata yang berkaca_kaca.
" Boleh tinggalin kita berdua sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengan Delva, boleh kan...??? Tanya Qinta penuh harap .
" Baiklah... " Sherli pun Keluar dari kamar Qinta.
Dan kini hanya tinggal lah mereka berdua.
Qinta menatap adiknya dengan lekat, bahkan tangannya menggenggam erat tangan Delva yang tengah duduk di pinggir ranjang nya.
" Del... kamu sayang nggak sama aku...??? " Tanya Qinta lirih.
" Pertanyaan macam apa itu kak, tentu saja aku menyayangi Kak Qinta, bahkan sangat_sangat menyayangimu. " Ucap Delva.
" Kalau gitu kamu mau kan mengabulkan permintaan terakhir aku...??? " Qinta kembali bertanya.
" Apapun keinginan Kak Qinta aku pasti akan mengabulkannya selama aku mampu melakukannya, tapi tolong jangan bilang ini permintaan terakhir Kak Qinta, karena aku yakin kalau Kak Qinta aka sembuh. " Ucap Delva.
" Beneran kamu mau mengabulkan permintaan aku...??? " Tanya Qinta memastikan.
" Ya... tentu saja. " Delva memaksakan senyumnya.
Untuk sejenak Qinta memejamkan matanya.
" Kak Qinta gak apa_apa...??? " Tanya Delva khawatir.
" Aku baik_baik aja sayang... " Ucapnya sembari tersenyum tulus.
" Memangnya apa yang Kak Qinta inginkan...??? " Tanya Delva penasaran.
__ADS_1
" Tapi kamu harus janji, kalau kamu akan mengabulkannya."
" Aku janji... " Ucap Delva mantap.
" Menghela napas panjang, Aku mau kamu menggantikan aku untuk menikah dengan Aldan. " Ucap Qinta .
Deg.
Seketika jantung Delva terasa berhenti berdetak, nafasnya seakan terasa sesak.
" Permintaan macam apa ini...??? " Batinnya.
Mana mungkin dirinya akan menikah dengan orang yang di cintai kakaknya sendiri, dan juga orang yang paling dirinya benci, jangankan untuk menikah dengannya, menjadi adik iparnya saja Delva seakan tidak rela.
" Kamu mau kan sayang...??? " Tanya Qinta penuh harap.
" Maaf... aku gak bisa Kak, bukankah Kak Qinta tau sendiri kalau aku tidak menyukai nya, begitu pun sebaliknya, lagian orang yang dicintai Aldan itu bukan aku, melainkan Kak Qinta, kalian saling mencintai kan." Ucap Delva rak percaya dengan keinginan Qinta.
Qinta menggeleng pelan.
" Aldan tidak mencintai ku, dia hanya menganggapku sebagai saudaranya, tidak lebih dari itu." Jelas Qinta lirih.
" Lalu kenapa Kak Qinta ingin menikah dengannya...??? " Tanya Delva keheranan.
" Dan satu-satunya orang yang aku percaya untuk bisa melakukan semua itu hanya kamu Delva, jadi aku mohon menikahlah dengannya. " Sinta menggenggam erat tangan sang adik.
" Kenapa harus aku kak , masih banyak wanita baik yang bisa melakukan itu terhadapnya , dia bukan anak kecil lagi, dia sudah dewasa kak... dia bisa menentukan pilihan nya." Ucap Delva.
" Aku mohon Del... apa perlu aku bersujud di depanmu agar kamu mau menikah dengannya. "Ucap Qinta sembari terisak.
" Tidak perlu kak, aku..."
" Aku mohon... ini permintaan terakhirku Del, aku sudah gak kuat lagi, aku hanya ingin pergi dengan tenang, dan sebelum aku pergi aku bisa melihat orang-orang yang ku sayangi bahagia. " Qinta terus memohon.
" Apa yang harus gue lakuin, gue gak mungkin nikah sama pria kulkas itu, tapi gue juga gak tega liat Kak Qinta yang terus memohon seperti ini . " Batinnya.
" Plis... kamu udah janji kan... mau mengabulkan apapun permintaan aku. "
Delva menatap wajah pucat Qinta.
" Apa ini akan membuat Kak Qinta bahagia...??? " Tanya Delva dengan airata yang tak dapat di bendung nya lagi.
" Tentu... aku akan sangat sangat bahagia jika kamu menikah dengan nya. " Ucap Qinta.
__ADS_1
Dengan berat hati Delva menganggukkan kepalanya.
" Baiklah... jika itu membuat Kak Qinta bahagia, aku akan melakukannya. " Ucapnya dengan air mata yang terus berjatuhan.
" Makasih sayang..." Qinta menarik Delva ke dalam pelukannya.
Tiba-tiba pelukan Qinta melemah, dengan perlahan tangannya terlepas dari tubuh Delva.
Delva yang merasakan pelukan Qinta yang semakin mengendur, seketika melerai pelukannya dan menatap wajah Qinta.
" Kak Qinta kenapa... Kak Qinta bangun...jangan seperti ini Kak... jangan membuatku takut." Ucap Delva dengan wajah paniknya.
Dengan tangan gemetar ia mencoba mengecek denyut nadi Qinta, namun ternyata harapan tak sesuai kenyataan, Qinta sudah benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.
Delva yang masih belum mempercayai itu, juga mendekatkan jari telunjuk nya ke hidung Qinta, namun seperti nya Qinta tak lagi bernafas.
" Nggak... nggak mungkin... Kak Qinta.... " Teriak Delva histeris sembari memeluk erat jasad Qinta.
Sedangkan Wisya yang sedari tadi memang sudah berdiri di ambang pintu, karena sebelumnya Wisya ingin menemui Qinta, namun dia mengurungkan niatnya saat mendengar permintaan Qinta terhadap Delva, Wisya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya,dirinya yang shok dengan kematian Qinta hanya bisa meneteskan air matanya, apalagi saat mengingat keinginan Qinta untuk membuat putra nya berubah dengan meminta Delva untuk menjadi pengganti dari pengantin wanita nya.
🌹🌹🌹
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk Qinta, kini malah menjadi hari terakhir ia menatap dunia, karena gadis itu meninggal dunia.
" Qinta bangun sayang... jangan tinggalin mama. " Sherlock menangis histeris di pelukan Angga.
" Ma... ikhlaskan kepergian Qinta, dia sudah bahagia di alam sana, dia sudah tidak lagi merasa kesakitan karena penyakitnya. " Hibur Angga .
Sejujurnya pria paruh baya itu juga tengah di landa kesedihan, namun ia tidak mau menunjukkan kesedihan nya di depan istrinya, karena saat ini sang istri tengah membutuhkan dirinya.
Sedangkan Delva hanya duduk terdiam di samping jasad Qinta dengan pandangan kosong , karena rasa sedih yang mendalam membuatnya tak dapat lagi mengeluarkan air matanya.
Aldan yang melihat itu merasa tidak tega, walaupun gadis itu sering membuatnya marah, tapi tetap saja dia merasa kasihan melihat keterpurukan Delva.
Bersambung...
Hai...
Jangan lupa ya...
Kasih like, komen dan vote.
Eh... eh... jangan lupa kasih setangkai bunga atau paling nggak kopi... 😁
__ADS_1
Terima kasih...