Ketulusan Cinta Tuan Muda

Ketulusan Cinta Tuan Muda
Episode 14


__ADS_3

Aldan yang melihat dokter Fadli keluar dari ruangan IGD , ia segera menghampirinya .


" Bagaimana keadaan dia ???"Tanya Aldan khawatir .


" Tuan tenang saja , tidak ada luka yang serius dengan tubuhnya , hanya saja tengkuk nya sedikit memar , mungkin akibat pukulan ." Jelas dokter Fadli .


" Apa kamu yakin...???" Tanya Aldan .


" Iya tuan ."


" Baiklah...terima kasih ."


" Sama-sama tuan , kalau begitu saya permisi ." Pamit dokter Fadli .


" Hemmm..."


Setelah kepergian dokter Fadli , Aldan bergegas masuk ke ruang IGD .


Saat dia masuk , terlihat Delva masih belum sadarkan diri .


Aldan pun barjalan mendekatinya dan menatap lekat wajah Delva .


" Dasar gadis bodoh... kenapa kamu mengorbankan dirimu hanya untuk melindungiku ." Umpat Aldan .


" Kamu ini hanya gadis kecil , tapi kamu sudah seperti pahlawan saja , namun walau bagaimana pun aku harus berterima kasih terhadapmu , karena kamu sudah melindungiku ." Sambung Aldan .


Tiba-tiba Frans datang menghampiri sang tuan muda .


" Ada apa Frans ???" Tanya Aldan , saat melihat Frans sudah berdiri tak jauh darinya .


" Maaf tuan , ada hal penting yang saya ingin sampaikan kepada tuan ." Ucap Frans .


Mendengar itu , Aldan langsung menatap ke arah Frans .


" Katakan saja ."Ucapnya dingin .


" Tuan...tadi saya mendapat kabar dari Josh , bahwa kemarin Arjun telah mengirim beberapa anak buahnya untuk menculik Nona Qinta ."


" Apa.... ??? jadi kemaren dia sempat mengirim anak buahnya untuk melukai Qinta ???"


" Benar tuan , tapi ada sedikit keanehan disini ."


" Maksud nya ???" Tanya Aldan tak mengerti .


" Saat Josh dan yang lainnya ingin menangkap mereka , tiba-tiba saja ada sekelompok orang yang terlebih dahulu menyerang mereka , bahkan menghabisi mereka tanpa ampun , dan setelah mereka menghabisi anak buah Arjun , mereka pergi begitu saja ." Jelas Frans .


" Apa kamu sudah mencari tau siapa mereka , dan apa motif mereka menghambisi anak buah Arjun ??? "


" Sudah tuan , mereka dari organisasi Dragon Fire , mereka di kirim oleh ketua mereka untuk melindungi Nona Qinta , dan saya dengar ketua mereka adalah wanita yang sangat hebat dalam ilmu bela diri dan juga sangat kejam terhadap lawannya , namun setiap kali dia menjalankan misinya , dia selalu memakai topeng , karena dia tidak ingin orang-orang mengetahui identitasnya ."


" Dragon Fire , bukankah ketua mereka seorang pria ???"

__ADS_1


" Benar tuan , awalnya ketua mereka seorang pria yang tak lain adalah Ervin Putra Prayoga , putra tunggal dari Erlad Prayoga , Tuan Ervin menggantikan sang ayah untuk menjadi penerus nya sebagai ketua mafia yang sangat terkenal dengan kekejamannya , yaitu Dragon Fire , tapi sayangnya dia meninggal di usianya yang masih sangat muda , dan pada akhirnya Dragon Fire di pimpin oleh seorang wanita yang tak lain Nona Aurora ,namun tidak ada satu pun yang tau siapa Nona Aurora , tapi yang saya dengar dia tidak memiliki hubungan darah dengan Tuan Ervin ." Jelas Frans panjang kali lebar .


" Seorang wanita menjadi ketua mafia...


sungguh menarik , aku jadi penasaran seperti wajah di balik topeng nya itu ." Batin Aldan .


Tanpa mereka sadari bahwa gadis yang tengah terbaring di atas brangkar itu sudah mendengar semua percakapan mereka , karena sebenarnya Delva tidak benar-benar pingsan , dia hanya berpura pura pingsan supaya Aldan menganggap dia gadis yang lemah sehingga Aldan tidak curiga terhadapnya , lagian mana mungkin seorang ketua mafia akan pingsan hanya pukulan yang tak seberapa bagi Delva , pikirnya .


" Sialan... tadi pria kulkas itu berani mengumpatku , sekarang dia berani membicarakan ku , andai saja kalian tau bahwa wanita yang kalian bicarakan itu tengah berada di ruangan yang sama dengan kalian , dan jika saja kau bukan calon kakak iparku sudah aku cincang - cincang tubuhmu sekarang ." Oceh Delva dalam hati .


Tanpa sadar Delva mengepalkan tangan nya karena menahan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun .


Aldan yang melihat Delva mengepalkan tangannya segera menyuruh Frans untuk pergi .


" Baiklah , sekarang kau boleh pergi ." Ucap Aldan .


" Baik tuan ." Jawab Frans .


Namun belum sampai dia di daun pintu , Aldan kembali memanggilnya .


" Tunggu..." Ucap Aldan .


" Ada apa tuan ???" Tanya Frans saat sudah membalikkan badannya .


" Belikan aku dan Delva makan siang , sekalian untuk Mama dan Qinta , tapi jangan sampai mereka tau soal kejadian yang menimpa Delva , karena aku tidak mau membuat mereka khawatir ."


" Jika mereka menanyakan kita , kamu bilang saja kalau kita sudah pulang ." Sambung Aldan .


Plap


Dengan pelan Delva membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya .


" Gue dimana ???" Tanya Delva sambil berusaha mendudukkan tubuhnya .


" Di rumah sakit ." Jawab Aldan dingin .


Dia pun menatap Delva dengan lekat bahkan kini dia mendudukkan tubuhnya di kursi dekat brangkar .


" Sepertinya kamu sudah mendengar semua percakapanku dengan Frans ." Ucap Aldan .


" Percakapan apa , memangnya Frans ada disini tadi ???" Delva pura-pura tidak mengerti .


" Hhh... kau tidak pandai bersandiwara , jadi berhenti berlagak bodoh , atau kau mau aku hukum ."


" Lo ngomong apa sih , gak jelas banget tau nggak ." Ucap Delva sambil memalingkan wajahnya dari Aldan .


"Waduh... gawat nih , jangan - jangan dia tau lagi kalau sebenarnya Aurora itu gue ." Batin Delva .


" Kamu mau jujur atau kamu mau aku hukum ." Bisik Aldan yang entah sejak kapan wajahnya sudah berada tepat di depan wajah Delva .


" Jujur soal apa ???"

__ADS_1


" Kamu sudah mendengar semua yang aku bicarakan dengan Frans kan ??? "


" E...gu...gue..." Delva semakin gugup saat wajah Aldan semakin mendekat .


" Katakan... atau kau ku cium ." Ancam Aldan .


Mendengar itu refleks saja Delva menutup mulutnya dengan kedua tangannya , dia begitu takut jika Aldan benar-benar akan melakukan itu terhadapnya , karena dia tau betul bagaimana sifat pria di depannya yang tidak pernah main-main dengan ucapannya .


Sedangkan Aldan hanya tersenyum melihat tingkah konyol Delva .


" I...iya gu..gue tidak sengaja mendengarnya ." Jawab Delva terbata-bata .


" Kenapa kau menutup mulutmu seperti itu , apa kau pikir aku akan mencium bibirmu ." Goda Aldan .


" Ti...tidak kok ." Elak Delva , padahal sebenarnya iya .


" Yakin..." Goda Aldan .


" Iya lah masak nggak ." Ketus Delva .


" Jika kamu mendengar semuanya , itu berarti kamu sudah tau siapa aku sebenarnya ."


" Maksudnya ???" Tanya Delva pura-pura tidak mengerti .


" Sepertinya gadis ini terlalu polos , makannya dia tidak mengerti dengan apa yang aku dan Frans bicarakan ."Batin Aldan .


" Lupakan saja ..." Ucapnya sambil membenarkan posisinya .


" Huh... selamat... untung dia tidak curiga ." Batin Delva bernafas lega .


" Oh ya , bagaimana keadaanmu , apa masih ada yang sakit ???" Tanya Aldan .


" Tidak , hanya sedikit pusing saja ."


" Mungkin itu akibat tengkuk mu yang memar ."


" Mungkin saja ."


" Gue pusing bukan karena tengkuk gue yang memar , tapi karena gue kelaparan , gak peka banget sih jadi cowok ." Gerutu Delva dalam hati .


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE .

__ADS_1


TERIMA KASIH...😊😊😊


__ADS_2