Ketulusan Cinta Tuan Muda

Ketulusan Cinta Tuan Muda
Episode 01


__ADS_3

" Sekarang katakan apa alasanmu ingin menikah denganku ." Ucap Aldan dengan Pandangan lurus ke depan menatap indahnya danau yang ada di hadapan mereka .


" Atau kamu akan bilang kalau kamu mencintaiku ." Lanjut Aldan .


" Ya... kamu benar , kalau kamu sudah tau , kenapa kamu masih bertanya ? " Jawab Qinta sembari menatap pria tampan di sampingnya .


" Karena aku tidak percaya ." Jawab Aldan . Kini pandangan mereka bertemu , karena saat ini Aldan menatap balik ke arah Qinta , dan terlihat jelas kalau wajah gadis itu sangat pucat , namun tetap tak mengurangi kadar kecantikannya .


" Terserah kamu mau percaya atau tidak , tapi memanglah itu kenyataannya ."


" Nona Qinta , kamu pikir aku akan percaya dengan ucapanmu , kamu salah...


aku mengenalmu bukan hanya satu atau dua hari , tapi aku mengenalmu sejak kecil , jadi aku tau betul bagaimana sikapmu , bahkan aku tau siapa pria yang kamu cintai dalam diam ." Ucap Aldan .


" Jadi aku mohon... tolong kamu batalkan perjodohan ini , kamu tau sendiri kan kalau aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik , tidak lebih ."


" Maaf Al , aku tidak bisa , dan soal perasaanmu itu tidak masalah bagiku , tapi apa kamu tidak mau mengabulkan permintaan terakhirku , aku janji tidak akan meminta hal lebih darimu , aku hanya ingin kamu menikahiku itu saja , dan mungkin pernikahan ini tidak akan bertahan lama , karena kematianku kini hanya menunggu waktu ." Ucap Qinta sedih , dan air matanya jatuh begitu saja tanpa ia minta dan tanpa dia duga .


Melihat hal itu , tentu saja membuat hati Aldan menjadi iba terhadap gadis di sampingnya .


" Aku tau kamu menyembunyikan sesuatu dariku Qin , tapi aku tidak tau apa itu , karena aku tau ,apa pun yang kamu lakukan hanya untuk kebahagiaan orang lain , bukan untuk kebahagiaanmu ." Batin Aldan .


" Apa tidak ada cara lain , selain menikahimu ???" Tanya Aldan .


" Tidak ada Al , karena sebelum aku meninggal aku ingin menjadi istrimu , dan jika nanti aku sudah tiada , kamu boleh menikah dengan siapapun dan dengan gadis manapun yang kamu mau ."


" Cukup Qin , aku tidak suka kamu membahas tentang kematian di hadapanku , karena itu adalah hal yang di benci olehku ." Ucap Aldan .


" Al... aku mohon... kali ini saja , kamu mau mengabulkan permintaan terakhirku ." Ucap Qinta memohon .


" Semenjak Laura meninggal ,aku memang tidak dekat lagi dengan Qinta , tapi itu bukan berarti aku tidak menyayanginya , Aku sudah kehilangan Laura , bahkan aku masih belum sempat membahagiakannya , dan sekarang aku juga tidak mau kehilangan Qinta , tapi penyakit itu akan membuat ku kehilangannya , jadi mungkin lebih baik aku mengabulkan permintaan terakhirnya , setidaknya aku bisa membahagiakannya di saat -saat terakhirnya ." Batin Aldan .


" Menghela napas panjang . Baiklah , aku akan menikah denganmu , jadi berhentilah menangis , aku tidak suka ." Ucap Aldan sambil menghapus air mata Qinta .


" Terima kasih Al , kamu memang sahabat terbaikku ." Ucap Qinta . Dia pun berhambur ke pelukan Aldan .

__ADS_1


" Tapi kamu harus janji kalau kamu akan berjuang untuk melawan penyakit mu hingga kamu sembuh ." Ucap Aldan sembari membalas pelukan Qinta .


" Aku tidak bisa berjanji Al , tapi aku akan berusaha sebisaku ." Ucap Qinta .


-----


Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi . Delva segera memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas , beserta peralatan tulisnya . Delva segera keluar kelas dengan di ikuti Gea di belakangnya , mereka berjalan menuju parkiran .


Saat sampai di parkiran sekolah , Delva langsung menuju mobil mewahnya .


" Gue duluan ya Ge , soalnya gue masih ingin mampir ke toko kue ."


" Oke , lagian gue juga dah mau pulang ."


" Oke , bay... " Delva melajukan mobilnya meninggalkan parkiran sekolah .


Setelah dua puluh menit , Delva sudah sampai di toko kue langganan Kakaknya , karena memang jarak toko kue itu tidak terlalu jauh dengan sekolah Delva .


Dan Delva sengaja beli di toko itu , Karena dia ingin membeli kue kesukaan Kakaknya .


Keduanya terdiam untuk beberapa saat , karena saat ini mereka dalam mode terkejut .


Namun Delva yang mulai menyadari bahwa saat ini dia berada dalam pelukan seorang pria , dengan cepat dia melepaskan diri dari pelukan pria itu .


" Ya ampun... kue gue ." Ucap Delva sembari menatap kue yang baru saja di belinya kini sudah tergeletak di tanah bahkan kue itu sudah hancur tak berbentuk , karena saat Delva ingin jatuh dia tidak sengaja melepasnya dan akhirnya kue itu terpental ke atas sehingga hancur berantakan .


Delva menatap tajam pria di depannya , bahkan kini tangannya sudah mengepal , karena mencoba menahan emosinya .


" Ini semua gara-gara lo , jika saja lo gak nabrak gue , mungkin kue yang gue beli gak akan hancur kayak gini ." Ucap Delva marah .


" Apa aku gak salah dengar , yang nabrak itu kamu bukan aku , jadi seharusnya aku yang marah sama kamu , bukan kamu yang marah sama aku , dasar gadis kecil ."


Ketus Aldan . Dan baru kali ini seorang Aldan bicara sepanjang itu terhadap orang yang baru saja di kenalnya .


" Dasar Om-om tua bangka , udah salah tapi masih aja gak mau ngaku ." Umpat Delva kesal .

__ADS_1


" Kamu bilang apa tadi ???" Ucap Aldan sembari menatap tajam gadis cantik di depannya .


" lo tuli ya , gue bilang lo om-om tua bangka ." Ucap Delva menekankan di setiap perkataannya .


Mendengar itu Aldan langsung mengeraskan rahangnya , bahkan dia mengepalkan tangannya , menahan emosi yang kini sudah sampai di ubun-ubun .


Karena baru kali ini ada orang yang begitu berani mengatainya , dan lebih parahnya lagi ini adalah seorang gadis kecil .


" Kau... beraninya kau mengataiku om-om ." Ucap Aldan penuh amarah .


" Kenapa gue harus takut sama lo , dan dalam kamus gue gak ada kata takut , apa lagi cuma sama lo ." Ucap Delva dengan tatapan mengejek .


" Baru kali ini ada gadis yang begitu berani mengataiku , apalagi ini hanya seorang gadis kecil , tapi ini sangat menarik... aku ingin tau sebesar apa keberaniannya itu hingga dia begitu berani mengataiku ." Batin Aldan .


Dia pun menatap gadis itu dengan lekat sambil tersenyum devil , bahkan kini dia semakin melangkah maju mendekati Delva .


" Lo mau apa , jangan macem-macem ya ." Ancam Delva sambil memundurkan langkahnya . Entah kenapa ketampanan Aldan saat ini malah terlihat angker di mata Delva .


-


-


_


_


_


Hai semua...


Jangan lupa ya gays...


untuk meninggalkan jejak kalian


Dengan like , komen dan vote .

__ADS_1


Terima Kasih...😉😉😉


__ADS_2