
Semenjak itulah Delva dekat dengan Ervin , bahkan sejak itu Ervin sering membawa Delva ke markasnya di London , juga mengajari Delva berbagai ilmu bela diri dan berbagai macam senjata tajam dan api , dan tentu saja tanpa sepengetahuan kakek nya . Hingga tanpa mereka sadari kedekatan mereka menumbuhkan benih-benih cinta di hati keduanya , hanya saja Ervin tidak pernah mengungkapkan perasaannya terhadap Delva , begitu pun dengan Delva , karena saat itu dia masih berusia lima belas tahun .
Awalnya Ervin memang pria yang humoris , namun kematian kedua orang tuanya telah merubah semuanya , dia menjadi pria yang kejam dan dingin .
Apalagi dia harus menjadi pemimpin dari geng mafia yang terkenal dengan kekejamannya hingga di takuti oleh orang orang , termasuk geng mafia lainnya .
" Andai waktu itu kamu tidak datang untuk menyelamatkanku , mungkin sampai detik ini kamu pasti masih hidup ." Ucap Delva sedih .
Kematian Ervin mengharuskan Delva untuk menggantikan Ervin menjadi ketua dari Dragon Fire , karena itulah permintaan terakhir dari Ervin . Bahkan saat Ervin masih hidup , dia sempat membuat mansion mewah di indonesia untuk di jadikan markasnya , karena dia tau suatu saat nanti gadis yang di cintainya itu akan kembali ke indonesia .
Delva yang memang sudah mengusai berbagai ilmu bela diri dan berbagai macam senjata tajam dan api sama sekali tidak keberatan dengan permintaan terakhir Ervin , karena dia sudah bertekad untuk membalaskan dendamnya atas kematian Ervin dan kedua orang tuanya .
" Nggak , gue gak boleh jadi gadis yang lemah , apa lagi cengeng , gue harus kuat supaya gue bisa balas dendam pada pria bajingan itu ." Ucap Delva sambil menghapus sisa air matanya dengan kasar .
Dia pun beranjak dan keluar dari ruangan itu , dia berjalan ke ruang tengah untuk menemui Ben yang tengah menunggunya disana .
" Maaf Ben membuatmu menunggu lama ." Ucap Delva .
" Tidak apa nona ." Jawab Ben sambil menatap Delva , dan terlihat jelas kalau Delva baru saja habis menangis .
" Nona baik-baik saja kan ." Tanya Ben khawatir melihat mata Delva yang sembab .
" Kamu tidak perlu khawatir , aku baik-baik saja ." Jawab Delva datar .
" Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan ." Tanya Delva serius .
" Begini nona , sebenarnya Black Wolf menyerang nona bukan karena mereka mengetahui kalau Nona Aurora yang menggantikan Tuan muda menjadi ketua Dragon Fire , akan tetapi dia menyerang Nona Aurora karena ketua dari mereka memiliki dendam terhadap keluarga Bramasta ." Jelas Ben .
" Baik aku mengerti Ben , jadi dia memang mengincar nyawaku sebagai Delva , bukan sebagai Aurora si gadis bertopeng yang menjadi ketua Dragon Fire ." Ucap Delva .
" Benar nona , dan saya berharap nona lebih berhati-hati , karena mereka juga lawan yang tak bisa diremehkan ."
" Kamu tidak perlu khawatir , aku tidak selemah itu , yang aku khawatirkan saat ini adalah keluargaku , terlebih lagi kakakku ." Ucap Delva .
" Ben , kirim beberapa anak buah kita untuk menjaga Kak Qinta secara diam-diam dan pastikan bahwa Kak Qinta tidak mengetahui hal ini ." Sambung Delva .
" Baik Nona ." Jawab Ben tegas .
" Apa masih ada hal lain yang ingin kamu bicarakan ??? " Tanya Delva .
" Tidak ada nona ."
" Baiklah kalau begitu aku ke kamar dulu ." Pamit Delva .
" Silahkan nona ."
__ADS_1
Delva bergegas pergi ke kamarnya , karena sebelum Ervin meninggal , Ervin sering membawa Delva ke mansion itu , dan membuatkan kamar khusus untuk Delva .
Sesampainya di kamar , Delva melempar tas nya asal , dan berjalan menuju lemari besar di ruangan itu , Delva menakan tombol yang berada di samping lemari besar itu , maka bergeserlah lemari itu hingga terlihat sebuah pintu di baliknya .
Dan pintu itu adalah jalan menuju ruang rahasia yang dijadikan tempat penyimpanan berbagai senjata tajam dan api khusus milik Ervin dan Delva .
Sekaligus penyimpanan barang-barang berharga milik mereka berdua .
Saat Delva masuk , pandangan Delva langsung tertuju pada topeng yang terletak di tempat penyimpanan barang-barang berharga .
Dia pun melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan itu .
Delva terus menatap kedua topeng itu , topeng yang biasa di kenakan Ervin dan Delva saat menjalankan misi .
Lagi-lagi Delva tak dapat membendung air matanya .
Dia kembali teringat masa-masa indah yang pernah dia lalui bersama Ervin .
" Sudah saatnya topeng ini aku pakai kembali ." Ucap Delva sambil mengusap air matanya . Dia pun topeng itu dan membawanya ke kamarnya untuk dia simpan di dalam tas miliknya .
Sesampainya di kamar , Delva langsung menyimpan topeng itu di dalam tas nya .
🍁🍁🍁
Di lain tempat , dua insan yang akan menikah itu tengah sibuk mencoba baju pengantinnya .
Qinta tidak hanya memesan gaun pengantin untuknya , akan tetapi dia juga memesan gaun pengantin untuk adiknya .
Entah apa alasannya hanya dia yang tau , bahkan gaun pengantin yang dia pesan untuk Delva jauh lebih indah dari gaun pengantin miliknya .
Dan tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan keluarganya dan Aldan .
" Bagaimana Al , apa gaun ini cocok denganku ." Tanya Qinta memperlihatkan gaun pengantin yang saat ini tengah di kenakannya .
" Cantik ." Puji Aldan , namun dengan wajah datarnya .
" Yang cantik itu gaun nya atau orang nya ???." Tanya Qinta .
" Dua- duanya ." Jawab Aldan , namun masih tetap dengan wajah datarnya .
" Terima kasih... "Ucap Qinta sambil tersenyum .
" Kamu tidak berubah Al , tetap saja bersikap dingin kepadaku ." Batin Qinta .
__ADS_1
" Hemmm ." Aldan hanya berdehem .
Setelah selesai fitting baju , mereka tidak langsung pulang , mereka masih mampir ke cafe untuk makan siang .
Sesampainya di cafe , Qinta melihat seseorang yang di kenalnya tengah duduk seorang diri .
" Al , kita duduk di sana aja ya ." Ajak Qinta . Aldan langsung mengangguk setuju tanpa melihat ke arah yang di tunjukkan Qinta .
" Hai... boleh kita gabung gak ??? " Tanya Qinta pada gadis yang tengah duduk di depannya, hingga membuat gadis itu mendongakkan kepalanya menatap ke arah Qinta .
" Kak Qinta ." Ucap gadis itu yang tak lain adalah Delva .
Ya... setelah Delva bangun dari tidur lelapnya , dia langsung bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya , setelah selesai dengan semuanya , dia langsung pulang , namun sayangnya saat dalam perjalanan pulang dia merasa kelaparan , jadi dia memutuskan untuk mampir di cafe terlebih dahulu .
" Gimana boleh gak nih ." Tanya Qinta kembali , karena Delva masih belum juga menjawab pertanyaannya .
" Oh tentu saja boleh ." Jawab Delva .
Dia melirik ke arah Aldan yang juga duduk bersama mereka .
" Kak Qinta habis dari mana ." Tanya Delva .
" Aku dari butik , untuk fitting baju pengantin ." Jawab Qinta .
Sedangkan Aldan hanya diam saja tanpa memperdulikan mereka berdua .
" Kamu sudah pesan makanan belum ." Tanya Qinta .
Dengan cepat Delva menggelengkan kepalanya .
" Ya sudah kalau gitu kita pesan makanan dulu ." Setelah itu Qinta memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka bertiga .
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA .
TERIMA KASIH...😉😉😉
__ADS_1