
Saat mereka tengah asyik mengobrol, Tiba-tiba saja ponsel Delva berdering, membuat sang empunya mengalihkan pandangannya pada pria di depannya.
Delva meraih ponselnya .
" Siapa...??? " Tanya Aldan penasaran, pasalnya Delva hanya memandangi ponselnya yang sedari tadi terus berdering.
" Kak Qinta... " Jawab Delva sembari memperlihatkan layar ponselnya.
" Terus kenapa gak di angkat...??? " Tanya Aldan keheranan.
" Nanti kalau dia nanya gue ada dimana gimana... gak mungkin kan kalau gue jawab apa yang sebenarnya terjadi sama kita, yang ada nanti Kak Qinta malah khawatir, dan gue gak mau hal itu terjadi. " Jelas Delva.
Tanpa menjawab, Aldan langsung mengambil alih ponsel Delva dari tangannya, lalu mengangkatnya.
" Halo... " Ucap Aldan.
" Aldan... kok kamu yang angkat telponnya, Delva mana... dia baik_baik aja kan...??? " Tanya Qinta yang terdengar cemas.
" Delva baik_baik saja, dan dia sekarang lagi ketiduran di dalam mobil, makannya telponnya aku yang angkat setelah aku tau kalau yang menelponnya itu adalah kamu, jadi kamu gak perlu khawatir. " Ucap Aldan berbohong.
Membuat gadis yang tengah duduk di depannya menatap kesal ke arahnya.
" Dih... ternyata dia pembohong yang handal." Batin Delva.
" Owh... syukurlah kalau Delva baik_baik saja, tapi kenapa kalian tiba-tiba pulang...??? " Tanya Qinta.
" Aku ada urusan mendadak di kantor , sedangkan Delva , tadi aku liat wajah dia terlihat sangat pucat, jadi aku mengajaknya untuk pulang, karena sepertinya badan dia sedang tidak dalam keadaan fit, emang sih awalnya dia menolak, tapi setelah aku sedikit memaksa, barulah dia mau pulang. " Jelas Aldan yang lagi_lagi berbohong.
" Terus gimana keadannya sekarang, kenapa kamu gak bawa dia ke dokter aja...??? "
" Kamu gak perlu mengkhawatirkan nya, di rumah kamu kan dia tidak sendirian, ada pelayan juga yang bisa menjaganya, dia hanya kelelahan jadi kamu tidak perlu khawatir, oke...??? "
" Baiklah... makasih ya karena udah nganterin dia pulang ke rumah. "
" Sama_sama, udah dulu ya... aku lagi di jalan nih. "
" Oke... hati_hati."
" Hmmm... " Aldan pun mengakhiri telponnya dengan Qinta.
" Gak ada akhlak banget sih lo, main nyambar ponsel orang begitu saja. "Kesal Delva sembari mengambil ponsel nya dari tangan Aldan.
" MAKASIH... seharusnya itu yang kamu katakan, bukan malah marah_marah gak jelas. " Ketus Aldan.
" Dih... najis, gue kayak gini kan gara_gara lo, ya... jadi udah sewajarnya lo bantuin gue. " Ucap Delva tak kalah ketus.
" Siapa yang meminta bantuanmu, badan lemah aja sok jadi pahlawan, jadi begini kan... "
" Sumpah... gue nyesel nyelametin lo tadi, lagian kalau bukan demi Kak Qinta, mana sudi gue nyelametin lo. " Kesal Delva.
" Andai lo tau siapa gue sebenarnya, mana mungkin lo ngatain gue gadis lemah, hah... kalau bukan demi kebaikan keluarga gue, gak mungkin gue menutupi kenyataan ini. " Batin Delva.
Tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka, dan tampaklah Frans berjalan ke arah mereka dengan membawa paper bag yang berisi dua kotak makanan di tangannya.
" Ini pesanan yang Tuan Muda minta. " Ucap Frans sembari memberikan paper bag itu pada Tuan Muda nya .
" Hmmm... " Aldan hanya berdehem.
__ADS_1
Frans pun pergi dari ruangan itu.
" Nih makan... " Ucap Aldan memberikan satu kotak makanan pada Delva.
" Gue gak laper. " Ketus Delva.
" Makan sendiri atau aku paksa. " Ancam Aldan.
" Kenapa sih... lo suka banget maksa orang. " Kesal Delva.
Dengan kesal dia pun mengambil kotak makanan itu lalu membukanya.
🌹🌹🌹
Delva tengah rebahan sembari menatap langit-langit kamarnya.
" Besok Kak Qinta akan menjadi seorang istri dari si pria kulkas itu, masih gak nyangka gue kalau Kak Qinta mau aja nikah sama dia, tapi ya... namanya jodoh kali ya. " Batin Delva.
" Dan gue harap ini menjadi awal dari kebahagiaan Kak. Qinta. " Ucap Delva sembari memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Delva sudah siap dengan dress cantik yang tadi malam di kirim oleh sang mama untuknya.
" Gila... kenapa gue di suruh pake dress secantik ini sih... gue kan jadi makin cantik " Oceh nya sambil terkekeh pelan.
Dia pun menatap pantulan dirinya di cermin.
" Perfect. " Ucapnya pelan sembari tersenyum manis.
Dia pun langsung bergegas pergi ke kamar kakaknya, untuk melihat Qinta.
Delva membuka pintu kamar kakaknya tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.
Ya... Qinta sudah pulang dari rumah sakit semenjak jam lima pagi.
Delva mendapati sang kakak tengah duduk di depan meja rias nya.
" Wah... Kakak siapa ini kok cantik banget...??? " Ledek Delva pada Qinta yang tengah menoleh ke arahnya.
" Kamu bisa aja. " Ucap Qinta sembari tersenyum.
" Beruntung banget ya si pria kulkas, bisa punya istri secantik kakakku ini. " Oceh Delva.
Qinta menggenggam tangan Delva dan mengusapnya lembut.
" Berhenti menyebut Aldan dengan seperti itu, karena walau bagaimana pun sebentar lagi dia akan menjadi kakak iparmu. " Ucap Qinta.
" Baiklah... apapun demi kakak tersayang ku. " Ucap Delva sembari tersenyum manis.
" Bahagia selalu ya kak... bilang sama aku kalau si pria... eh maksudku Aldan berani nyakitin Kak Qinta. " Ucap Delva .
" Iya... " Ucap Qinta sembari tersenyum.
Tak lama kemudian pintu kamar Qinta kembali terbuka, dan tampak lah Sherli yang tengah berdiri di ambang pintu.
" Delva... tolong bawa kakakmu ke bawah, karena pengantin pria nya sudah datang, dan akad nikah akan segera di mulai. " Ucap Sherli.
__ADS_1
" Iya mah..." Jawab Delva.
Setelag mengatakan itu, Sherli kembali pergi menuju ruang tengah, dimana tempat di adakannya akad nikah .
" Ayo kak... " Delva menggandeng lengan sang kakak.
" Tunggu Del... " Ucap Qinta menghentikan langkahnya.
" Kenapa...??? " Tanya Delva keheranan.
" Aku gugup. " Jujur Qinta.
" Gak usah gugup kak... rileks aja, kan ada aku, aku akan dampingin Kak Qinta terus sampai Kak Qinta duduk di samping Aldan. " Ucap Delva.
" Terimakasih... "
" Sama_sama... ayok ah... nanti yang lain nunggu. " Qinta mengangguk.
Mereka pun pergi menuju ruang tengah.
Di ruang tengah...
Terlihat semua orang tengah menunggu sang pengantin wanita , tak terkecuali Aldan yang sudah gagah dengan setelan jas yang di kenakannya.
Tak lama kemudian tampaklah dua gadis cantik namun beda usia, tengah berjalan menuruni tangga.
Kini semua tatapan semua orang yang ada di ruangan itu menatap ke arah keduanya.
Saat sampai di depan mereka, Delva langsung mendudukkan kakaknya di samping Aldan .
" Bisa kita mulai ijab qobul nya...??? " Tanya sang penghulu.
" Bisa pak... " Jawab Angga sebagai wali dari Qinta.
" Baiklah... mari kita mulai. " Ucap penghulu.
" Bismillahirrahmanirrahim... "
Tiba-tiba...
Brukkk...
" Kak Qinta... " Pekik Delva terkejut saat melihat Qinta jatuh pingsan, namun untungnya dengan sigap Aldan langsung menangkapnya.
Bersambung....
Assalamu'alaikum semuanya....
Aku kembali loh...
Maaf... baru balik...
Aku gak jadi pindah platform...
soalnya aku baru sadar... ternyata disini banyak yang dukung aku, jadi aku mutusin untuk tetap ngelanjutin novel ini disini.
Ingat ya...
__ADS_1
kasih like... komen... dan vote nya...
TERIMA KASIH... 😁