Ketulusan Cinta Tuan Muda

Ketulusan Cinta Tuan Muda
Episode 11


__ADS_3

Sudah dua hari Qinta terbaring lemah di rumah sakit dengan keadaan koma .


Dan selama itu pula , Delva yang biasanya selalu terlihat ceria , kini malah menjadi gadis yang pendiam .


Seperti pagi ini , Delva berjalan dengan malas menuju kelasnya .


Bahkan wajah cantiknya terlihat di tekuk .


" Akhirnya si tuan putri masuk juga , gue kira lo gak akan sekolah lagi hari ini ." Ucap Gea saat melihat sahabatnya datang .


" Eh tunggu , lo kenapa , kok mukanya di tekuk begitu , lo masih sakit ???" Gea mencerca Delva dengan banyak pertanyaan . Bahkan Gea menyentuh kening Delva dengan punggung tangannya .


" Gak demam kok ." Ucap Gea heran .


" Ck apaan sih , gue gak sakit gue sehat wal 'afiyat ." Delva menyingkirkan tangan Gea dari keningnya .


" Lah... trus kenapa tuh muka di buat jelek begitu , dan ini lagi kenapa mata lo keliatan bengkak , lo habis nangis ???" Oceh Gea .


" Hadeh... Gea bisa gak sih kalo nanya tuh satu- satu , pusing gue ngejawabnya dari mana ."


" Hehehe... sorry , abisnya gue tuh heran sama lo , gak biasanya kan lo kayak gini ."


" Gue kemarin gak masuk sekolah karena gue pergi ke rumah sakit ."


" Katanya lo gak sakit , tapi kenapa lo pergi ke rumah sakit ."


" Ya ampun... mode Oon nya on lagi ." Gumam Delva sambil menepuk pelan jidatnya .


" Yang sakit itu bukan gue Ge , tapi Kak Qinta ." Jawab Delva mulai kesal .


" Owh... kenapa gak bilang dari tadi sih ."


" Gimana gue mau bilang , kalo dari tadi lo ngoceh mulu ."


" Trus gimana keadaan Kak Qinta sekarang ???"


" Kak Qinta kritis Ge , sekarang dia lagi koma ." Ucap Delva dengan mata yang sudah berkaca kaca .


" What... Kak Qinta koma ??? " Tanya Gea terkejut .


Delva hanya menganggukkan kepalanya , mengiakan pertanyaan Gea .


" Kok bisa ??? " Tanya Gea .


" Ya bisa lah , Kak Qinta kan mengidap penyakit kanker otak , dan kata dokter Fadli penyakitnya semakin parah .


" Ya ampun kasian banget sih Kak Qinta ."


" Lo yang sabar ya Del , gue yakin Kak Qinta pasti bisa ngelewatin masa komanya ,dan lo gak boleh patah semangat gini , katanya gadis kuat ,tapi kok cengeng , semangat donk , karena saat ini yang Kak Qinta butuhkan adalah do'a dan dukungan dari lo dan keluarga lo ."


" Ya... lo bener sih ."


" Senyum dong , jangan di tekuk gitu mukanya ."


" Sebenarnya gue juga lagi kesel banget sama bokap gue , masak gue mau jagain Kak Qinta di rumah sakit dia gak ngebolehin , malah nyuruh gue pergi ke sekolah ."


" Del... papa lo itu cuma gak mau lo bolos sekolah , kalau soal Kak Qinta kan udah ada Nyokap lo yang jagain , dan lo juga bisa pergi ke rumah sakit setelah lo pulang sekolah kan..."

__ADS_1


" Iya juga sih... "


-----


Saat Jam istirahat tiba , Delva memilih pergi ke tempat favorit nya , yaitu di atas atap gedung sekolah .


Delva duduk seorang diri , sedangkan Gea memilih pergi ke perpustakaan , karena ada buku yang ingin di carinya , jadi dengan berat hati dia membiarkan sahabatnya pergi seorang diri .


" Gue bener-bener gak sanggup kalo ngeliat Kak Qinta harus terbaring lemah di rumah sakit , tapi apa yang bisa gue lakuin ??? " Batin Delva .


Tiba-tiba ponselnya berdering , dengan cepat Delva merongoh ponsel yang dia simpan di saku bajunya .


" Ben , tumben dia nelpon gue di jam segini ." Tanya Delva saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya .


Dia pun mengangkatnya .


" Halo , ada apa Ben ??? " Tanya Delva dingin .


" Nona , barusan ada orang yang ingin melukai Nona Qinta ."


" Apa...??? " Delva sangat terkejut dan marah mendengar penuturan Ben .


Bahkan dia mengepalkan tangannya .


" Kurang ajar... beraninya dia ingin melukai Kak Qinta ." Umpat Delva dalam hati .


" Lalu bagaimana keadaan Kak Qinta sekarang , dia tidak apa-apa kan... ??? "


Tanya Delva khawatir .


" Nona Aurora tidak perlu khawatir , orang kita sudah menghabisi mereka sebelum mereka menyentuh , bahkan melihat Nona Qinta ."


" Baik Nona ."


" Kalau begitu , aku tutup dulu telponnya ." Delva langsung memutuskan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Ben .


" Hhh... kau sudah berani bermain api denganku tuan , jadi jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang tak di inginkan olehmu ." Batin Delva sambil tersenyum devil , bahkan terlihat jelas ada kilatan kemarahan di mata indahnya .


Delva beranjak dari duduknya dan saat dia berbalik tiba-tiba...


Dukkk...


" Awsh.... " Ringis Delva kesakitan , dia pun


mengusap pelan keningnya yang terasa sedikit nyeri , akibat menabrak dada bidang seorang pemuda tampan yang sebelumnya sudah berdiri di belakang Delva .


Delva mendongakkan kepalanya sehingga matanya bertemu dengan mata pemuda di depannya yang tak lain adalah Reza .


Deg


Jantung Reza berdetak dengan sangat cepat saat matanya bertemu dengan mata indah Delva .


" Mata yang indah... " Batin Reza .


" Lo... " Ucap Delva dengan mata melotot .


Dan membuat Reza tersadar dari lamunan nya .

__ADS_1


" Ngapain lo kesini ??? " Tanya Delva dingin .


" Seharusnya gue yang nanya kayak gitu sama lo , lo ngapain kesini sendirian ???"


" Bukan urusan lo , jadi tolong lo minggir , gue mau lewat ."


" Kalau gue gak mau , lo mau apa ??? "


" Jangan bikin kesabaran gue habis ya , atau lo mau gue lempar kebawah sana ." Ancam Delva .


Bukannya takut , Reza malah tersenyum mendengar ancaman Delva .


Bahkan dia semakin melangkah maju mendekati Delva .


" Minggir... gue mau lewat ." Bentak Delva sambil mendorong tubuh Reza hingga dia jatuh .


" Cemen banget sih lo , baru aja gue dorong pelan gitu , udah jatuh ,apalagi kalau lo gue hajar , paling langsung masuk rumah sakit ." Ejek Delva sambil tersenyum sinis .


" Sial... ternyata tenaga cewek ini kuat juga ." Batin Reza . Dia pun segera beranjak dari jatuhnya .


" Lo kenapa sih kok jutek banget banget sama gue , padahal kan gue cuma ingin temenan sama lo ." Ucap Reza .


" Sorry gue gak butuh temen seperti lo ." Ucap Delva .


Dia pun ingin pergi , namun dengan cepat Reza mencekal pergelangan tangannya .


" Lo apa-apaan sih , lepasin tangan gue ." Delva berusaha melepaskan pegangan Reza .


" Gak akan... sebelum lo mau jadi temen gue ."


" Lepasin... atau lo mau gue tendang tuh burung perkutut lo ." Ancam Delva .


Dan konyolnya Reza secara refleks langsung menutupi yang di bawah sana dengan kedua tangannya .


Bahkan wajahnya terlihat ketakutan .


Delva yang melihat tingkah konyol Reza langsung tertawa lepas .


" Ahahaha.... sumpah lo lucu banget tau gak ." Ucap Delva .


Sedangkan Reza malah asyik menatap wajah Delva yang terlihat semakin cantik saat tertawa lepas , seakan tak ada beban pada dirinya .


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


MOHON DUKUNGANNYA YA PARA READERS KU TERCINTA .


DENGAN LIKE , KOMEN , DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA .


SEKALIAN JADIKAN NOVEL INI SEBAGAI FAVORIT , JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITANYA .

__ADS_1


TERIMA KASIH...😊😊😊


__ADS_2