
Saat Delva mendongakkan kepalanya , maka di saat yang bersamaan Aldan membalikkan badannya dan menatap ke arahnya , sehingga tanpa sengaja pandangan mereka bertemu .
Untuk beberapa saat mereka terdiam , namun Delva yang menyadari posisi mereka yang terlihat sangat dekat dan saling menatap , segera mengalihkan pandangannya , bahkan mundur beberapa langkah .
" Kenapa lo berhenti secara tiba-tiba sih , jidat gue kan yang jadi korbannya ." Oceh Delva ketus .
Namun Aldan tak menggubris ocehannya , dia malah menatap Delva dengan tatapan yang sulit di artikan , bahkan dia semakin melangkah maju mendekati Delva .
" Lo mau ngapain sih , jangan deket-deket ya..." Ucap Delva sambil mundur beberapa langkah .
" Eh tunggu , gue ada dimana nih , kok sepertinya ini di lorong yang sepi ." Batin Delva saat mulai menyadari bahwa dirinya saat ini tengah berada di lorong rumah sakit yang sepi .
Karena sedari tadi dia terus menunduk sambil melamun , sehingga dia tidak memperhatikan jalan .
Sedangkan Aldan terus melangkah maju mendekati Delva , namun Delva terus mundur hingga dia tersudut , karena terdapat tembok di belakangnya , bahkan Aldan mengunci pergerakannya dengan kedua tangannya .
" Lo... jangan macem-macem ya , jangan lo pikir gue takut sama lo ." Ancam Delva .
" Oh ya , memangnya apa yang bisa di lakukan oleh gadis kecil sepertimu ??? " Tantang Aldan .
" Sial... pria kulkas ini menantangku , aku tidak mungkin menghajarnya karena walau bagaimana pun dia adalah pria yang di cintai oleh Kak Qinta , dan bukannya tidak mungkin jika pria kulkas ini tidak mencurigaiku jika dia tau kalau ternyata aku bisa bela diri ." Batin Delva .
" Kenapa hanya diam , apa kamu takut ???" Ledek Aldan .
" Hhh... tak ada kata takut dalam kamus seorang Delva ." Ucap Delva sambil tersenyum sinis .
Tiba-tiba...
Dor....
" Awas... "Teriak Aldan sambil menarik Delva agar menunduk karena tiba-tiba saja ada sekelompok orang bertubuh kekar dan memakai baju serba hitam menyerang mereka berdua .
" Kamu tidak apa-apa kan???" Tanya Aldan khawatir .
" Gu... gue gak papa kok ."Ucap Delva berpura pura terbata-bata .
" Tuan muda Kafindra , kamu harus mati ." Ucap pria yang berada di barisan paling depan , karena kemungkinan dia adalah ketua dari mereka .
" Oh ya , apa mungkin semut-semut tak berguna seperti kalian mampu membunuhku ." Ejek Aldan sambil tersenyum sinis .
" Kurang ajar... hajar mereka ..." perintahnya .
" Sebaiknya kamu mundur ." perintah Aldan pada Delva .
Dengan cepat Delva mundur beberapa langkah , dia memilih berpura-pura untuk menjadi gadis lemah di depan Aldan , karena dia takut Aldan curiga terhadapnya jika dia ikut membantunya .
Namun jika Aldan nanti kewalahan dan sekiranya tidak mampu melawan mereka , maka dengan terpaksa Delva turun tangan .
Aldan dengan sengaja menghindar dari serangan mereka , bahkan tidak berniat untuk membalas serangan mereka , karena dia masih ingin bersenang-senang terlebih dahulu , jika langsung membunuh mereka , itu tidak akan menyenangkan , pikir Aldan .
" Kenapa dia hanya menghindar , tidak mungkin kan , jika dia tidak bisa bela diri , di liat dari gerakannya yang begitu lihai dalam menghindar sudah bisa di pastikan jika dia sangat hebat dalam ilmu bela diri nya ." Ucap Delva .
__ADS_1
" Sepertinya sudah cukup bermain nya ." Batin Aldan .
Dia pun mengambil pistol nya yang selalu dia bawa kemana-mana , dan dia pun mulai menembak mereka secara beruntun .
Dor Dor Dor Dor...
Terdengar suara tembakan yang memekikan telinga dan tentu saja tembakan nya tepat mengenai jantung lawannya , bahkan tak ada satu pun tembakan nya yang meleset , hingga hanya dalam hitungan detik membuat musuh-musuhnya sudah terkapar tak bernyawa , dan hanya menyisakan ketua mereka yang kini sudah terlihat ketakutan , apalagi saat melihat Aldan berjalan dengan santainya menghampiri dirinya .
" Sekarang hanya tinggal kamu seorang , kamu pilih sendiri , mau pilih mati atau hidup tapi tidak memiliki tangan dan kaki ." Tawar Aldan sambil tersenyum menyeringai .
Dan tentu saja pertanyaan itu membuat pria itu semakin ketakutan .
" A...ak...aku... "
" Hais... baiklah , cepat katakan siapa yang telah menyuruhmu untuk membunuhku ??? " Tanya Aldan .
Pria itu tidak menjawab , dia hanya terdiam dengan keringat yang bercucuran .
" Cepat katakan..." Bentak Aldan .
Namun tetap saja orang itu tidak menjawab , sehingga membuat kesabaran Aldan habis .
" Kau..."
Dor...
Belum sempat Aldan meluncurkan peluru nya , pria itu sudah terkapar tak bernyawa , karena ada orang lain yang diam-diam menembaknya , setelah itu orang itu pun kabur .
Dia pun merongoh ponselnya , dan menelpon seseorang .
" Bereskan kekacauan ini , dan cari tau siapa yang melakukannya ." Perintah Aldan setelah panggilan nya tersambung , lalu mematikannya begitu saja .
Dia pun menghampiri gadis yang hanya diam mematung sejak tadi .
" Kau tidak apa ???" Tanya Aldan .
" Seharusnya gue yang nanya kayak gitu sama lo , yang melawan mereka kan lo , bukan gue ."
" Hhh... mereka hanya semut yang tak berguna , jadi mana mungkin bisa melukaiku ." Ucap Aldan dengan sombongnya .
" Cih... sombong sekali ." Ketus Delva .
" Tapi itu memang kenyataannya kan..."Ucap Aldan .
Delva pun pergi begitu saja , karena dia merasa malas untuk berdebat dengan Aldan , namun baru beberapa langkah dia melangkahkan kakinya , Aldan sudah menghentikannya dengan menarik pergelangan tangannya .
" Tunggu..." Ucapnya .
" Ada apa lagi sih ???" Tanya Delva ketus , saat dia sudah membalikkan badannya menatap pria di depannya .
" Aku..."
__ADS_1
" Aldan awasss..." Teriak Delva .
Bukkk...
" Akhh... " Pekik Delva kesakitan .
Karena saat Delva membalikkan badannya , dia melihat ada orang yang ingin memukul Aldan dari arah belakang , sehingga membuat Delva panik dan tanpa berpikir panjang dia langsung membalikkan posisinya dengan Aldan , sehingga dirinya lah yang terkena pukulan di bagian tengkuknya .
" Delva..." Ucap Aldan terkejut dengan apa yang di lihatnya .
Namun dengan cepat dia menangkap tubuh Delva sebelum jatuh ke lantai .
Sedangkan pria itu sudah kabur sebelum Aldan mengejarnya .
Namun sialnya dia malah tertangkap oleh Frans .
" Delva bangun..." Ucap Aldan panik .
Tanpa berpikir panjang , dia pun langsung mengangkat tubuh Delva , dan membawanya ke ruang IGD .
Sesampainya di ruang IGD , Delva langsung di tangani oleh dokter Fadli .
Sedangkan Aldan menunggunya di luar .
" Ah...sial , kenapa aku bisa seceroboh ini sih , kenapa aku bisa tidak menyadari kalau ada musuhku di belakangku ." Ucapnya kesal .
" Maafkan saya Tuan muda , karena tadi saya datang terlambat ." Ucap Frans yang entah kapan datangnya dan dari mana , tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri di depan Aldan .
" Tidak apa , ini bukan sepenuhnya salahmu , tapi juga salahku yang tidak menyadari keberadaan musuh ." Jawab Aldan sambil mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu di depan IGD .
" Oh ya , apa kamu sudah mengintrogasi pria itu ???" Tanya Aldan .
" Belum Tuan ."
" Bagus... karena aku sendiri yang akan mengintrogasi pria brengsek itu ." Ucapnya penuh amarah .
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE SEBANYAK MUNGKIN OKE...👍
**TERIMA KASIH...😆😆😆
SEE YOU**...
__ADS_1