Ketulusan Cinta Tuan Muda

Ketulusan Cinta Tuan Muda
Episode 13


__ADS_3

Saat Delva mendongakkan kepalanya , maka di saat yang bersamaan Aldan membalikkan badannya dan menatap ke arahnya , sehingga tanpa sengaja pandangan mereka bertemu .


Untuk beberapa saat mereka terdiam , namun Delva yang menyadari posisi mereka yang terlihat sangat dekat dan saling menatap , segera mengalihkan pandangannya , bahkan mundur beberapa langkah .


" Kenapa lo berhenti secara tiba-tiba sih , jidat gue kan yang jadi korbannya ." Oceh Delva ketus .


Namun Aldan tak menggubris ocehannya , dia malah menatap Delva dengan tatapan yang sulit di artikan , bahkan dia semakin melangkah maju mendekati Delva .


" Lo mau ngapain sih , jangan deket-deket ya..." Ucap Delva sambil mundur beberapa langkah .


" Eh tunggu , gue ada dimana nih , kok sepertinya ini di lorong yang sepi ." Batin Delva saat mulai menyadari bahwa dirinya saat ini tengah berada di lorong rumah sakit yang sepi .


Karena sedari tadi dia terus menunduk sambil melamun , sehingga dia tidak memperhatikan jalan .


Sedangkan Aldan terus melangkah maju mendekati Delva , namun Delva terus mundur hingga dia tersudut , karena terdapat tembok di belakangnya , bahkan Aldan mengunci pergerakannya dengan kedua tangannya .


" Lo... jangan macem-macem ya , jangan lo pikir gue takut sama lo ." Ancam Delva .


" Oh ya , memangnya apa yang bisa di lakukan oleh gadis kecil sepertimu ??? " Tantang Aldan .


" Sial... pria kulkas ini menantangku , aku tidak mungkin menghajarnya karena walau bagaimana pun dia adalah pria yang di cintai oleh Kak Qinta , dan bukannya tidak mungkin jika pria kulkas ini tidak mencurigaiku jika dia tau kalau ternyata aku bisa bela diri ." Batin Delva .


" Kenapa hanya diam , apa kamu takut ???" Ledek Aldan .


" Hhh... tak ada kata takut dalam kamus seorang Delva ." Ucap Delva sambil tersenyum sinis .


Tiba-tiba...


Dor....


" Awas... "Teriak Aldan sambil menarik Delva agar menunduk karena tiba-tiba saja ada sekelompok orang bertubuh kekar dan memakai baju serba hitam menyerang mereka berdua .


" Kamu tidak apa-apa kan???" Tanya Aldan khawatir .


" Gu... gue gak papa kok ."Ucap Delva berpura pura terbata-bata .


" Tuan muda Kafindra , kamu harus mati ." Ucap pria yang berada di barisan paling depan , karena kemungkinan dia adalah ketua dari mereka .


" Oh ya , apa mungkin semut-semut tak berguna seperti kalian mampu membunuhku ." Ejek Aldan sambil tersenyum sinis .


" Kurang ajar... hajar mereka ..." perintahnya .


" Sebaiknya kamu mundur ." perintah Aldan pada Delva .


Dengan cepat Delva mundur beberapa langkah , dia memilih berpura-pura untuk menjadi gadis lemah di depan Aldan , karena dia takut Aldan curiga terhadapnya jika dia ikut membantunya .


Namun jika Aldan nanti kewalahan dan sekiranya tidak mampu melawan mereka , maka dengan terpaksa Delva turun tangan .


Aldan dengan sengaja menghindar dari serangan mereka , bahkan tidak berniat untuk membalas serangan mereka , karena dia masih ingin bersenang-senang terlebih dahulu , jika langsung membunuh mereka , itu tidak akan menyenangkan , pikir Aldan .


" Kenapa dia hanya menghindar , tidak mungkin kan , jika dia tidak bisa bela diri , di liat dari gerakannya yang begitu lihai dalam menghindar sudah bisa di pastikan jika dia sangat hebat dalam ilmu bela diri nya ." Ucap Delva .

__ADS_1


" Sepertinya sudah cukup bermain nya ." Batin Aldan .


Dia pun mengambil pistol nya yang selalu dia bawa kemana-mana , dan dia pun mulai menembak mereka secara beruntun .


Dor Dor Dor Dor...


Terdengar suara tembakan yang memekikan telinga dan tentu saja tembakan nya tepat mengenai jantung lawannya , bahkan tak ada satu pun tembakan nya yang meleset , hingga hanya dalam hitungan detik membuat musuh-musuhnya sudah terkapar tak bernyawa , dan hanya menyisakan ketua mereka yang kini sudah terlihat ketakutan , apalagi saat melihat Aldan berjalan dengan santainya menghampiri dirinya .


" Sekarang hanya tinggal kamu seorang , kamu pilih sendiri , mau pilih mati atau hidup tapi tidak memiliki tangan dan kaki ." Tawar Aldan sambil tersenyum menyeringai .


Dan tentu saja pertanyaan itu membuat pria itu semakin ketakutan .


" A...ak...aku... "


" Hais... baiklah , cepat katakan siapa yang telah menyuruhmu untuk membunuhku ??? " Tanya Aldan .


Pria itu tidak menjawab , dia hanya terdiam dengan keringat yang bercucuran .


" Cepat katakan..." Bentak Aldan .


Namun tetap saja orang itu tidak menjawab , sehingga membuat kesabaran Aldan habis .


" Kau..."


Dor...


Belum sempat Aldan meluncurkan peluru nya , pria itu sudah terkapar tak bernyawa , karena ada orang lain yang diam-diam menembaknya , setelah itu orang itu pun kabur .


Dia pun merongoh ponselnya , dan menelpon seseorang .


" Bereskan kekacauan ini , dan cari tau siapa yang melakukannya ." Perintah Aldan setelah panggilan nya tersambung , lalu mematikannya begitu saja .


Dia pun menghampiri gadis yang hanya diam mematung sejak tadi .


" Kau tidak apa ???" Tanya Aldan .


" Seharusnya gue yang nanya kayak gitu sama lo , yang melawan mereka kan lo , bukan gue ."


" Hhh... mereka hanya semut yang tak berguna , jadi mana mungkin bisa melukaiku ." Ucap Aldan dengan sombongnya .


" Cih... sombong sekali ." Ketus Delva .


" Tapi itu memang kenyataannya kan..."Ucap Aldan .


Delva pun pergi begitu saja , karena dia merasa malas untuk berdebat dengan Aldan , namun baru beberapa langkah dia melangkahkan kakinya , Aldan sudah menghentikannya dengan menarik pergelangan tangannya .


" Tunggu..." Ucapnya .


" Ada apa lagi sih ???" Tanya Delva ketus , saat dia sudah membalikkan badannya menatap pria di depannya .


" Aku..."

__ADS_1


" Aldan awasss..." Teriak Delva .


Bukkk...


" Akhh... " Pekik Delva kesakitan .


Karena saat Delva membalikkan badannya , dia melihat ada orang yang ingin memukul Aldan dari arah belakang , sehingga membuat Delva panik dan tanpa berpikir panjang dia langsung membalikkan posisinya dengan Aldan , sehingga dirinya lah yang terkena pukulan di bagian tengkuknya .


" Delva..." Ucap Aldan terkejut dengan apa yang di lihatnya .


Namun dengan cepat dia menangkap tubuh Delva sebelum jatuh ke lantai .


Sedangkan pria itu sudah kabur sebelum Aldan mengejarnya .


Namun sialnya dia malah tertangkap oleh Frans .


" Delva bangun..." Ucap Aldan panik .


Tanpa berpikir panjang , dia pun langsung mengangkat tubuh Delva , dan membawanya ke ruang IGD .


Sesampainya di ruang IGD , Delva langsung di tangani oleh dokter Fadli .


Sedangkan Aldan menunggunya di luar .


" Ah...sial , kenapa aku bisa seceroboh ini sih , kenapa aku bisa tidak menyadari kalau ada musuhku di belakangku ." Ucapnya kesal .


" Maafkan saya Tuan muda , karena tadi saya datang terlambat ." Ucap Frans yang entah kapan datangnya dan dari mana , tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri di depan Aldan .


" Tidak apa , ini bukan sepenuhnya salahmu , tapi juga salahku yang tidak menyadari keberadaan musuh ." Jawab Aldan sambil mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu di depan IGD .


" Oh ya , apa kamu sudah mengintrogasi pria itu ???" Tanya Aldan .


" Belum Tuan ."


" Bagus... karena aku sendiri yang akan mengintrogasi pria brengsek itu ." Ucapnya penuh amarah .


🌺


🌺


🌺


🌺


🌺


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE SEBANYAK MUNGKIN OKE...👍


**TERIMA KASIH...😆😆😆


SEE YOU**...

__ADS_1


__ADS_2