
" Tuhan... jangan biarkan aku kembali kehilangan orang yang aku sayang , aku sudah kehilangan orang yang aku cintai , dan aku mohon... jangan biarkan aku kehilangan kakakku ." Batin Delva dengan air mata yang masih bercucuran .
" Di cariin ternyata kamu disini ." Ucap Aldan yang entah sejak kapan dia sudah berdiri di belakang Delva .
Delva yang mendengar suara Aldan , dengan cepat mengusap sisa air matanya , karena dia tidak mau memperlihatkan sisi lemahnya di depan orang lain .
" Buat apa lo nyari gue ??? " Tanya Delva dengan wajah jutex nya .
" Papa sama mama nanyain kamu ." Jawab Aldan dingin .
" Kenapa gak bilang dari tadi sih ." Gerutu Delva sembari beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja .
" Gadis itu masih sama seperti dulu , sangat jutek dan dingin ."Ucap Aldan .
Dia pun menyusul Delva menemui orang tuanya .
Sesampainya di sana , Delva melihat sang mama tengah cemas dan khawatir , bahkan sampai meneteskan air matanya .
" Mama..." Delva langsung memeluk sherli dengan begitu erat seakan memberikan kekuatan untuk sang mama .
" Mah... yakinlah , Kak Qinta pasti akan baik-baik saja , Kak Qinta kan gadis yang kuat , dia tidak akan menyerah untuk melawan penyakitnya , jadi mama tidak perlu khawatir ." Ucap Delva mencoba menghibur mamanya .
" Iya sayang , mama harap Kakak kamu baik-baik saja ." Ucap Sherli sedih .
" Mama jangan nangis lagi ya , kalau Kak Qinta tau mama sedih seperti ini , dia pasti juga akan ikut sedih ." Delva menghapus air mata Sherli .
" Yang di katakan Delva itu benar mah , tidak ada gunanya kita menangis , karena yang di butuhkan Qinta saat ini adalah doa , bukan air mata ." Jelas Angga .
" Air mata dalam doa gak apa-apa kali pah ." Ucap Delva .
" Iya sih... "
Ceklek
Pintu ruangan IGD terbuka , seorang dokter tampan yang masih muda dan diikuti dua orang suster keluar dari ruangan itu .
Melihat itu Sherli dan Angga langsung menghampiri dokter itu dan bertanya kepadanya tentang kondisi Qinta .
" Dok bagaimana dengan putriku , dia baik-baik saja kan... " Tanya Sherli khawatir .
" Maaf nyonya , tuan , sebaiknya akan saya jelaskan di ruangan saya , jadi mari ikut ke ruangan saya ." Ucap dokter Fadli .
" Kenapa tidak di bicarakan disini saja , kami semua kan keluarganya ???" Tanya Delva .
__ADS_1
" Sudah tidak apa , sebaiknya kita bicarakan di ruanganmu saja ." Ucap Angga .
" Mari tuan , nyonya ." Dokter Fadli berjalan ke ruangannya diikuti oleh Angga dan Sherli , sedangkan Delva dan Aldan di suruh menunggu di luar .
" Ih... sebel deh , masak gue gak boleh tau apa yang terjadi terhadap kakak gue sendiri ." Oceh Delva kesal .
" Gadis kecil sepertimu , tidak boleh ikut campur urusan orang tua ." Ucap Aldan .
" Apa matamu sudah rabun , gue udah gede ya , dan usia gue udah tujuh belas tahun ,jadi berhenti menganggap gue sebagai gadis kecil ." Oceh Delva tidak terima di bilang gadis kecil .
" Ya... kamu memang sudah gede , bahkan lebih gede dari raksasa , tapi bagiku kamu tetap hanya seorang gadis kecil ."
" Lo ngatain gue lebih gede dari raksasa , lo pikir gue anak rakasasa apa ." Ucap Delva emosi .
" Mungkin... " Ejek Aldan .
" Kamu bilang apa barusan ???" Tanya Angga yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Aldan .
" Sial... sepertinya gadis nakal ini menjebakku ." Batin Aldan sembari membalikkan badannya menghadap Angga .
" Eh Papa , gimana keadaan Qinta , dia baik-baik saja kan pah ??? " Aldan mencoba mengalihkan pembicaraan .
" Tidak usah mengalihkan pembicaraan , aku tanya sekali lagi ,apa yang kamu katakan barusan ." Ucap Angga dingin .
Aldan menelan ludah nya kasar , dia begitu takut melihat tatapan membunuh sang mertua terhadapnya .
Bahkan dia bergidik ngeri melihatnya .
Sedangkan Delva hanya tersenyum puas melihat Aldan yang ketakutan .
Bahkan sesekali dia menjulurkan lidahnya mengejek Aldan .
" Rasain tuh , siapa suruh bikin gue baad mood ." Batin Delva .
" E... aku hanya bilang Delva..." Belum selesai Aldan bicara tiba-tiba...
Bukkk...
Sherli datang dan berhambur ke pelukan Delva sambil menangis sesegukan .
" Ada apa mah , kenapa mama menangis ??? " Tanya Delva cemas .
" Qinta del , Qinta... " Ucap Sherli sedih .
__ADS_1
" Kak Qinta kenapa mah , Kak Qinta baik-baik aja kan... tolong katakan dengan jelas jangan membuatku takut ." Ucap Delva sambil menjauhkan tubuh Sherli dan menatapnya .
Seketika raut wajah Angga juga berubah , terlihat sedih dan penuh khawatir .
" Kata dokter Fardli Qinta kritis , dan sekarang dia sedang koma ." Ucap Sherli .
" Ap...apa ??? " Ucap Delva terbata-bata sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya .
Kali ini Delva tak dapat lagi membendung air matanya , tubuhnya terasa lemas tak bertenaga , bahkan dia hampir saja jatuh jika Aldan tidak segera menangkapnya .
" Kamu tidak apa-apa ? " Tanya Aldan .
Bukannya menjawab , Delva malah langsung mendorong tubuh Aldan dan masuk ke ruang ICU karena saat ini Qinta sedang kritis .
Delva menatap wajah pucat kakaknya , lagi-lagi air matanya jatuh begitu saja .
" Kak Qinta masih ingat tidak , dulu aku sering bertengkar dengan pria kulkas itu , bahkan dia sering membuatku di hukum oleh papa hanya karena aku mengerjainya , tapi aku tidak merasa sedih meski papa sering menghukumku , karena aku punya kakak yang hebat yang selalu menemaniku saat aku menjalani hukumanku , bahkan Kak Qinta rela ikut di kurung di gudang hanya karena Kak Qinta ingin menemaniku ." Delva mengoceh seorang diri , seakan Qinta adalah pendengar setianya .
" Dan aku juga ingat , saat itu Kak Qinta juga merelakan jatah makannya untukku , karena Kak Qinta bilang kalau Kak Qinta itu kuat , jadi Kak Qinta bisa menahan lapar , sedangkan aku masih kecil jadi harus makan yang banyak supaya aku bisa menjadi gadis yang kuat seperti Kak Qinta ."
" Kak Qinta tau , semenjak itulah aku berjanji untuk menjadi gadis yang kuat , dan tidak akan menjadi orang yang lemah yang mudah di tindas , dan aku juga berjanji tidak akan terlihat lemah di depan orang lain ."
" Kak Qinta gadis yang kuat kan... Kak Qinta tidak akan menyerah kan... bukankah Kak Qinta akan menikah dengan pria kulkas itu ,bukankah Kak Qinta sangat mencintai pria kulkas itu , jadi berjuanglah Kak... lawan rasa sakit ini , jangan biarkan penyakit ini membuat Kak Qinta kehilangan segalanya ."
" Aku yakin Kak Qinta pasti bisa , jadi ku mohon bangunlah Kak , jangan membuatku takut ." Kini tangis Delva pecah , dia menangis sesegukan , karena tidak sanggup melihat kakak kesayangannya hanya terbaring lemah dengan menunggu sebuah keajaiban agar dirinya sembuh .
" Jujur aku tidak sanggup Kak , bila aku harus kehilangan orang yang aku sayang untuk yang kedua kalinya , aku gak sanggup..."
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
ASSALAMU'ALAIKUM...
PARA READERS KU TERCINTA...
TOLONG TINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN LIKE , KOMEN DAN VOTE SEBANYAK BANYAKNYA .
__ADS_1
TERIMA KASIH...😆😆😆