
Biasanya rumah kosong di depan tempat tinggalku selalu bising kalau malam. Sekumpulan remaja memanfaatkannya sebagai tempat kumpul-kumpul.
Namun beberapa hari ini tak terlihat lagi mereka berkumpul. Entahlah, aku sendiri enggan mencari tahu. Yang jelas ada perasaan nyaman sekarang, karena tak perlu mendengar segala suara ribut yang selama ini cukup menjengkelkan.
Sebenarnya pernah aku menegur mereka, tapi dasar tabiat yang bandel, saat di tegur mereka diam dan mengangguk, dilain waktu, kembali mereka berkumpul dan membuat segala suara bising dari mulut ataupun permainan gitar yang tak keruan.
Yang paling menyebalkan pada waktu bulan ramadhan kemarin. Bulan yang seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk khusyuk beribadah, eh ini malah tercampur sebel karena ulah para remaja itu, karena mereka hampir sepanjang malam genjrang genjreng dengan permainan gitar ditambah nyanyian sumbang yang sepertinya keras-keraskan oleh mereka.
Siang itu sepulang kerja sambil duduk santai menikmati kopi hangat, isteriku turutduduk di sampingku.
"Capek Mas?" Sapanya lembut sembari memijit lenganku perlahan.
"Yah sedikit," sahutku. Kuambil koran yang tergeletak di atas meja dan membolak baliknya.
"Eh Mas, tahu enggak kenapa rumah depan sekarang sepi nggak ada yang pada kumpul-kumpul lagi?"
Aku menoleh ke arah isteriku, "Mana kutahu? Dari beberapa hari kemarin kuperhatikan memang sudah tak kulihat lagi para remaja bandel itu, syukur juga kalau memang mereka tidak bermarkas disitu, suasana jadi tenang sekarang."
Isteriku sesaat memandangku, seolah ada yang ingin disampaikannya tapi ia ragu. Dahiku berkerut. "Memang kau tahu penyebabnya?" Tanyaku akhirnya.
Isteriku mengangguk pelan.
"Apa?" Tanyaku lagi.
"Anu Mas, ini katanya lho, kata Mbak Iyah yang tinggal di samping rumah kosong itu..." Lama ia tak melanjutkan ucapannya.
"Eh? Katakanlah, kau membuatku tak sabaran," ujarku.
Mata isteriku melirik ke pintu. Dan saat pandangnya kembali kearahku, mulutnya berbisik lirih, "Anak-anak itu ketakutan Mas... Katanya mereka melihat hantu di rumah itu..."
__ADS_1
Tak terasa aku menelan ludah mendengar jawaban isteriku. "Hantu? Hantu apa..?" Kini aku yang besuara lirih.
"Hantu... Hantu pocong Mas..."
Hiii! Tak terasa bergidik bulu tengkukku, walau cuma mendengar dari mulutnya rasa khawatir menyeruak di dadaku. Hantu pocong!? Di depan rumah pula. Waduh kalau benar begitu serem juga kalau keluar malam-malam.
***
Malamnya ada undangan pengajian. Dirumah Pak Dullah, agak jauh dari rumah, untung barengan dengan Mas Cipto, suami dari Mbak Iyah.
Pukul setengah sepuluh kami baru pulang dari tempat Pak Dullah. Suasana gelap, karena langit tersaput mega. Agak kupercepat langkahku agar cepat sampai dirumah.
Rupanya Mas Cipto yang bertubuh lebih pendek dariku merasa kewalahan.
"Buru-buru amat Mas? Kakiku pegal semua ini," ucapnya.
"Takut apa Mas?" Tanya Mas Cipto.
Aku yang hampir keceplosan tak melanjutkan ucapanku. "Oh tidak, saya cuma takut nanti turun hujan," jawabku.
Lelaki paruh baya itu tersenyum. "Takut kehujanan atau takut yang lain?"
"Ya kehujanan Mas, memang takut apa lagi selain itu?" Balasku.
"Bukan takut sama yang putih-putih meloncat-loncat?" Apa yang keluar dari mulut Mas Cipto sungguh mengejutkanku. Kontan kuhentikan langkah, mataku liar memandang kanan dan kiri.
"Aduhh Mas.. baiknya soal itu jangan di bahas."
"Ha ha ha..." Lelaki itu malah tiba-tiba tertawa, seakan menertawakan ketakutanku.
__ADS_1
"Yaelah, malah ketawa gitu Mas, udah ah, ayo kita pulang, iya deh, saya memang takut kalo sampek ketemu sama makhluk itu Mas.."
Lelaki di sampingku hentikan tawanya, "Bukan Mas.. bukan.. saya bukan mentertawakan ketakutan sampean, saya cuma nggak menyangka akting hantu gadungan itu bakal membuat Mas juga ikut takut," ucapnya.
Aku bingung. Hantu gadungan? Ku tatap wajahnya lekat coba meminta penjelasan.
"Hei, jangan terlalu terlalu serius begitu, baiklah-baiklah, akan saya jelaskan soal hantu gadungan yang saya maksud, ayolah sambil berjalan pulang..."
Kemudian sambil kembali meneruskan langkah, Mas Cipto menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Menurutnya, awalnya tak ada kepikiran untuk berbuat iseng, tapi sungguh, suara-suara berisik yang di timbulkan oleh para remaja yang mangkal di rumah kosong begitu meresahkannya, dan makin gusar pula ia saat ditegur baik-baik masih pula tak di gubris.
Ide lalu muncul begitu saja waktu dilihat isterinya tengah sholat mengenakan mukena berwarna putih. Akan diberinya pelajaran anak-anak itu dengan berpura-pura menjadi hantu.
Dan rencananyapun di jalankan. Kala malam tengah larut, ia ambil mukena isterinya dan dengan perlahan menuju rumah kosong tersebut, setelah dikenakan mukena yang ia bawa, lantas saja ia tongolkan tubuhnya di depan pintu.
Ia berhasil, walau tak lama ia tunjukkan tubuhnya dan kembali beringsut keluar, namun sudah cukup membuat geger para pemuda yang ada di dalam, mereka histeris dan berserabutan lari keluar setelah melihat penampakan makhluk berwarna putih-putih.
Siangnya berita sudah heboh, anak-anak remaja itu sudah bercerita kemana-mana pengalaman seram yang mereka alami.
Aku ternganga mendengar penuturan Mas Cipto. "Astaga!? Jadi itu ulah pean tho Mas? Bener-bener nggak nyangka. Lha isteri Mas tahu kejadian sebenarnya?"
Ia menggeleng, "Tidak, cuma pean yang tahu, kalau kuceritakan kejadian sebenarnya, aku takut para remaja bandel itu bakal balik ke rumah kosong lagi," jelasnya.
"Benar juga mas.." kataku sembari mengangguk. Perasaan takutpun kontan lenyap tak kurasakan lagi selepas apa yang telah diceritakan Mas Cipto.
Dan sampai saat ini rumah kosong tetap kosong, para remaja tak berani lagi injakkan kaki disana. Rahasia tentang hantu tetap menjadi rahasia antara aku dan Mas Cipto, karena akupun tak ingin rumah kosong itu kembali menjadi pangkalan anak-anak remaja untuk mengisi waktu dengan suara-suara yang gaduh.
Sekian.
__ADS_1