Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Misteri Cakar Naga


__ADS_3

Mata Setyoko tertuju pada sebuah benda yang tersembul di atas tanah tempat ia sedang asyik mencabut rumput. Benda itu berwarna putih gading dengan bagian runcing mencuat keatas. Dahinya mengerut, tangannya menarik benda runcing itu. Cakar!? Kini di dua jari telunjuk dan ibu jari tampak sebuah benda serupa cakar.


Dahi Setyoko makin mengerut. Bukan karena heran dengan cakar yang berukuran cukup besar, tapi karena ia teringat dengan benda yang tersimpan di dalam lemari rumahnya, sebuah benda yang diperolehmya waktu bepergian ke pantai beberapa bulan silam. Dan benda itu sama persis dengan yang kini ditemukannya.


"Itu cakar Naga Taksaka, ada tiga, bila berjodoh seseorang memiliki ketiganya, akan ada keajaiban muncul, itu cerita yang pernah kudengar" ucap Ki Pradipa guru spiritualnya waktu ia tunjukkan benda berupa cakar yang ditemukannya di pantai.


Dengan penasaran, Setyoko bangkit dan meninggalkan pekerjaan mencabut rumputnya, di bawanya benda itu ke dalam rumah, dan lamgkahnya langsung menuju kamar, ditujunya sebuah lemari kayu, diambilnya sebuah benda dari dalamnya. Dibandingkan benda itu dengan cakar yang ditemukannya. Sama persis!


Jadi ia sudah memiliki dua cakar naga!? Jantungnya berdetak, ada desir halus yang menyelimuti dadanya. Setyoko berpikir, apakah ia berjodoh dengan cakar naga itu? Sehingga kini tanpa usaha mencari ditemukannya satu cakar lagi?


Setyoko merenung lama, akankah ia temukan cakar yang ketiga? Dan apa yang terjadi bila tiga cakar menjadi miliknya? Berbagai pikiran berkecamuk di otaknya, setelah lama tak menemukan jawaban pasti, akhirnya Setyoko menyimpan dua cakar itu dalam lemari.


Pagi esoknya, Setyoko bangun agak telat. Bergegas lelaki berumur empat puluh tahun itu menuju kebelakang untuk mandi. Di dapur terlihat isterinya tengah memasak.


"Bun, kesiangan ayah, kenapa tak bangunkan tadi." ucapnya sembari tersenyum.


Isterinya menoleh, wajah perempuan itu terlihat pucat. "Akupun kesiangan Yah, ini belum lama bangun."


"Eh, kenapa wajahmu? Terlihat pucat seperti kurang tidur?" tanya Setyoko.


"Semalam heran, ayah tidurnya lelap sekali, kubangunkan tak jua bangun."


Setyoko heran, "Memang kenapa kau bangunkan aku Bun?"


"Suara gaduh yah, seram sekali."


Makin heran Setyoko, "Suara gaduh? Kenapa ayah tak dengar ya?"

__ADS_1


"Entahlah Yah, yang jelas semalam ada suara gaduh, dan juga kudengat seperti raungan menakutkan, kucoba pukul-pukul badan ayah, tapi tetap tak bangun."


Setyoko gelengkan kepala, ia benar-benar dibuat bingung dengan ucapan isterinya, selama ini tak pernah sang isteri bercerira hal yang aneh-aneh seperti kali ini. Dan juga bagaimana ia bisa begitu lelap tak mendengar apa yang di dengar isterinya.


"Karena itu wajahmu pucat seperti kurang tidur ya Bun?" ucap Setyoko akhirnya.


Si isteri manggut pelan.


"Darimana kau dengar suara itu?"


"Begitu dekat, seakan di dalam kamar kita Yah, namun herannya tak terlihat apapun yang menyebabkan suara gaduh itu."


Pikiran Setyoko di penuhi berbagai hal. Selesai mandi ia masuk ke kamar membuka lemari. Dua cakar naga masih ditempatnya. Kecurigaan lelaki itu akan peristiwa yang dialami isterinya tak lain adalah dua cakar itu. Apakah ada kekuatan mistis dari cakar-cakar yang ditemukannya?


Dalam gundah Setyoko siangnya menemui Sang guru spiritual Ki Pradipa. Ditunjukkannya dua cakar yang dimilikinya itu.


"Apakah menurut guru dua cakar ini sama?"


"Benar, tak salah lagi, dua cakar ini dua cakar naga Taksaka. Darimana kau peroleh satunya?"


Setyoko menjelaskan hal ikhwal ditemukanmya satu cakar naga itu. Tak lupa iapun menuturkan peristiwa yang dialami isterinya.


"Menurut Aki apakah dua cakar ini penyebabnya?" tanyanya kemudian.


Ki Pradipa tak menjawab. Ia menggenggam dua cakar, matanya terpejam, berselang sepinuman teh baru membuka mata kembali. Terdengar batuk kecil dari mulutnya.


"Kuat, sangat kuat energi gaib dari benda ini Setyo, tampaknya memang dua cakar ini yang membuat gaduh semalam, ia ingin menunjukkan kekuatannya." jelas Ki Pradipa.

__ADS_1


"Oh, lantas apa yang harus saya lakukan Ki?" tanya Setyoko dengan nada khawatir.


"Hemm.. sebaiknya kau tinggalkan dua cakar ini padaku, energi hitam kurasa menghimpit dada saat kucoba mendeteksi dua benda ini, aku takut rumahmu takkan tenang bila benda ini kau simpan." kata Ki Pradipa memutuskan.


"Baik Ki, kurasa memang itu yang terbaik." balas Setyoko.


Sambil mengangguk Ki Pradipa kembali buka mulut, "Ya, kurasa cerita tentang cakar naga Taksaka yang kudengar tak sesuai dengan harapan, benda ini sangat berbahaya dengan energi hitamnya, biar nanti ku lakukan ritual untuk melarungnya agar semua aman."


Setelah bercakap cukup lama, Setyokopun pamit.


Hari mulai sore saat lelaki itu pulang menuju ke rumahnya mengendarai motor. Belum lagi separuh jalan, tiba-tiba ia merasa ban depan motornya terantuk sesuatu. Segera Setyoko menghentikan laju kendaran. Oh sial! Ban belakangnya terlihat kempes.


Di standarkannya motor itu, dan deperiksanya penyebab bannya kempes.


Matanya langsung menemukan sebuah benda pipih yang tertanam di roda motor belakangnya. Ditarikmya benda itu dengan susah payah. Setelah berhasil menarik benda, matanya terpegun memandangi apa yang kini dipegangnya. Cakar!? Sama persis dengan yang belum lama tadi diserahkan ke Ki Pradipa!


Ingatan Setyoko kembali kepercakapan terakhir sebelum ia pamit tadi.


"Semoga tak kau temukan lagi cakar yang ketiga Setyoko."


"Memang kenapa guru?"


"Bahaya! Hasil renunganku tadi, seandainya tiga cakar ini disatukan oleh orang yang berjodoh dengannya, maka roh naga Taksaka akan muncul dan bersatu dengan manusia yang berjodoh dengannya."


"Memang apakah bahayanya naga Taksaka ini guru?"


" Kau tahu... sisi gelap akan menyelemuti, dan hawa membunuh mencari korban jiwa, itulah yang kurasa..."

__ADS_1


Jantung Setyoko berdebar-debar, bola matanya memandang lekat pada cakar di tangannya.


Selesai.


__ADS_2