Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Di Bedakin


__ADS_3

(Bukan Buat yang Penakut)


Hujan deras turun sejak menjelang maghrib, Huntoro sebenarnya berharap kalau bisa hujan turun sampai pagi, tapi sekitar pukul 10 malam, ternyata hujan berhenti. Ah, apes. Dengan enggan Huntoro yang sudah merasa nyaman meringkuk di balik sarungnya, terpaksa harus bangkit. Di kenakannya celana jeans, jaket, dan tangannya tak lupa meraih senter yang tergeletak di meja. Ia buka pintu kamar, suasana sepi. Ibunya sudah tidur rupanya. Televisi di ruang tengah tampak sudah di matikan. Setelah memakai sandal, perlahan di bukanya pintu ruang depan. Udara dingin berhembus masuk, terasa amat meresap hingga ke tulang. Kegelapan di luar seakan pertanda bagi Huntoro untuk mengurungkan niatnya. Sejenak Huntoro terdiam. Dinyalakan senternya. Dan kemudian di langkahkan kakinya.


Sudah beberapa tahun ia dan ibunya tinggal di perumahan sebuah sekolah dasar, karena permasalahan ekonomi membuat keluarganya harus menjual rumah warisan almarhum ayahnya. Beruntung kakaknya di perbantukan sebagai karyawan honorer, bermodalkan reputasi baik kakaknya, ia dan ibunya diperbolehkan menempati sebuah rumah yang berada di area sekolah. Sedang kakaknya tinggal bersama isteri di rumah mertuanya. Dan Huntoro sekali lagi harus merasa bersyukur, karena jasa kakaknya pulalah ia kini dipekerjakan sebagai penjaga sekolah.


Sebab itulah, mengapa ia malam-malam begini keluyuran di area sekolah. Sudah jadi tanggung jawabnya, setidaknya dua kali dalam satu malam ia perlu memeriksa keadaan di sekitar lingkungan sekolah, demi keamanan, siapa tahu ada tangan-tangan jahil yang coba-coba menyatroni sekolah.


Lamunan Huntoro terhenti, hidungnya terganggu dengan aroma bunga kemboja, senternya sekilas di sorotkan ke utara. Sebuah pohon kemboja tampak berdiri dengan angker. Huntoro sebenarnya tak habis pikir, kebijakan siapa menanam pohon kemboja di area sekolah. Bukankah pohon kemboja itu harusnya di tanam di pekuburan? Tak sadar Huntoro bergidik saat membayangkan kuburan. Hiii... Cepat-cepat Huntoro mengalihkan langkahnya, mengarahkan kakinya menuju ruang-ruang kelas. Dengan sambil lalu di periksanya ruang-ruang kelas, terkadang menarik gagang pintunya, memastikan sudah dalam keadaan terkunci, ruang-ruang guru, perpustakan, ruang UKS, dan Lab. Komputer-pun tak luput di periksanya, bahkan WC siswa juga sempat di tengoknya walau barang sekejap.


Kurang lebih setengah jam Huntoro berjalan menyusuri area sekolah, kini kakinya di langkahkan menuju dapur sekolah, yang terletak agak dibelakang. Sebelum kembali kerumah, ia hendak minum kopi dulu sambil melepas lelah, mungkin sembari melamun, dan atau berpikir, siapa tahu ada ilham baik ia peroleh.


Yang di sebut dapur itu sebenarnya bukan sebuah ruangan tersendiri, tapi bagian samping dari gudang perlengkapan alat-alat sekolah. Di tempat itu ada meja untuk menaruh gula dan kopi, rak piring, tempat cucian piring, meja kecil untuk menaruh kompor, dan di belakang tempat cucian piring ada kamar mandi. Sebuah tempat yang nyaman untuk bersantai.

__ADS_1


Sesampai di dapur, ditekannya saklar lampu. Suasana seketika terang. Huntoro menaruh senternya meja, dilepasnya jaket, digantungkannya pada sebuah paku yang tertancap samping rak, ia ambil air dari kran cucian piring, ditampungnya di sebuah panci kecil yang ia ambil dari rak. Dimatikan kran. Ditaruhnya panci diatas kompor. Di tutupnya panci. Dan dinyalakan kompor itu. Huntoro mengambil bangku yang terletak di samping rak. Di gesernya kearah kayu tiang dapur. Dekat penyangga toren air. Ia lihat langit tak lagi mendung. Rembulan mulai tampak di balik mega. Alangkah nikmat minum kopi sambil memandang rembulan malam, pikirnya.


Tak lama air mendidih. Huntoro lekas mematikan kompor. Di takarnya gula dan kopi, dan di tuangnya dengan air yang baru di masaknya. Selagi ia ambil sendok untuk mengaduk. Telinga Huntoro terusik. Di dengarnya suara air mengalir dari kran, kepalanya berpaling. Kran di tempat cucian piring tak mengalirkan air. Suara air dari mana? Kakinya melangkah mendekati kamar mandi. Dihidupkannya saklar lampu. Ia tengok ke dalam kamr mandi. Dilihatnya kran kamar mandi mengucurkan air. Aneh. Huntoro masuk ke kamar mandi. Di matikannya kran air. Ah, mungkin krannya sudah mulai rusak, makanya mengalir sendiri airnya, sangka Huntoro. Ia berbalik. Matanya mengerjap. Sekilas ia lihat barusan seperti ada bayangan melintas. Lekas ia ambil senter diatas meja. Ia hidupkan. Diarahkannya di sekitar dapur. Tak ada apa-apa. Mungkin kucing.


Huntoro mematikan senternya, ia taruh kembali di atas meja. Teringat akan kopi. Buru-buru di aduknya kopi yang tadi di seduhnya. Selesai di aduk, Huntoro beranjak ke bangku yang tadi disiapkannya. Dan asyik menyruput kopi.


Alam pikiran Huntoro mengembara, ia teringat akan pengalaman asmaranya. Harusnya ia sudah memiliki pendamping hidup sekarang. Belum lama berselang, ia punya seorang kekasih. Seorang gadis yang menurutnya cantik dan sangat di cintainya. Cukup lama ia menjalin hubungan dengan gadis itu. Bahkan di putuskan untuk dipersuntingnya. Ya, ia merengek kepada ibunya supaya cepat melamarkan si gadis untuknya. Walau ibunya terkesan kurang setuju setelah melihat gadis pujaan hatinya. Tapi cinta memang buta. Huntoro tetap menginginkan gadis itu. Dan akhirnya ibunya meluluskan keinginannya. Maka keluarganya-pun melamar. Tak di sangka selanjutnya. Ternyata gadis yang dicintainya seorang yang materialistis. Belum lagi dinikahinya. Permintaannya sudah bermacam-macam, di luar kemampuannya. Bahkan ia memergoki gadis itu jalan pula berduaan dengan lelaki lain. Sakit hatinya waktu itu. Tak ingin rumah tangganya nanti tak bahagia, dengan berat hati Huntoro membatalkan lamarannya.


Hi hi hi hi hi hi... !!


Sayup-sayup terdengar tembang Lingsir Wengi...


Lingsir wengi sliramu tumeking sirno

__ADS_1


Ojo Tangi nggonmu guling


awas jo ngetoro


aku lagi bang wingo wingo


jin setan kang tak utusi


jin setan kang tak utusi


dadyo sebarang


Wojo lelayu sebet

__ADS_1


__ADS_2