Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
pondok misteri


__ADS_3

saat sekolah, kegiatan Pramuka pasti memiliki agenda jurit malam.jurit malam sendiri bukan hanya ajang senior menakut-nakuti adik kelas, namun juga membantu agar siswa dapat membangun keberanian dari dirinya.


"Anton."panggil kok adanya yang baru saja tiba."tahu nggak kalau kelas 1 wajib ikut jurit malam?"


Anton mengangguk. "iya tadi udah lihat mading."


"kelas kita ke bagian hari apa?" tanya ku"


"Kamis, pas banget malam jumat."


"kalau Cindy?"


"Sabtu dia mah, nggak asik banget dipisah-pisah gini."jawab Anton lesu, sebab dari awal dia ingin satu tim bersama gebetannya ketika jurit malam.


hari Kamis pun tiba. ibu sudah menyiapkan berbagai macam keperluan yang aku butuhkan untuk menginap semalam di sekolah.


dari baju ganti, mie instan, obat nyamuk, hingga senter untuk kegiatan jurit malam.


awalnya aku tidak antusias saat tahu acara jurit malam hanya diadakan di sekolah, sebab sekolah memang tidak begitu luas, dan tidak ada kesan seramnya sama sekali ketika pagi hari.


namun ketika malam tiba dan lampu dipadamkan, aku seolah tidak mengenali lagi sekolahku.


"selamat malam semua." siapa kak ridho menyapa kami. kak ridho merupakan ketua OSIS, sekaligus bertugas menjadi pembimbing kami untuk malam ini. "hari ini kalian akan melakukan jurit malam, udah tahu belum aturannya?"


"belum kak." jawab anak kelas 1 bersamaan.


"emangnya kalian belum dapat bocoran dari anak kelas lain?" goda kak ridho.


kami tertawa.sebenarnya sudah banyak desas-desus beredar kalau acara jurit malam nanti para siswa diminta pergi berdua keliling sekolah tanpa penerangan apapun, dan diminta melakukan Lit ada hantu apa aja yang ditemukan dan di ruangan apa. hal ini dilakukan agar siswa benar-benar keliling.


"nah sekarang kalian cari satu teman untuk bekerjasama."lanjut kak ridho menjelaskan.


aku dan Anton langsung mengangkat tangan kami yang sudah bergandengan, agar menunjukkan bahwa kami rekan satu tim.


setelah 5 menit menunggu, akhirnya satu persatu kelompok diminta berjalan keliling.


"kita giliran ke berapa ton?"


"lima dari terakhir."jawab Anton


"ya ampun si alamat."balas ku tertawa. "1 kelompok 10 menit jadi kita baru start jalan jam 2 nih?"


Anton mengangguk. "iya, anjay banget dah !"


setelah beberapa jam jam ,akhirnya tiba giliranku dan Anton. kami diminta berjalan bersama, namun semua alat penerangan dan ponsel harus dititipkan ke kakak kelas.


saat masih berada di garis start, Aku ingin cepat-cepat memulai uji nyali ini titik ingin saja membuktikan kepada yang lain bahwa aku berani. namun ini tidak seperti sekolahku ketika siang hari, rasanya tangga menuju lantai dua menjadi cengkram seolah ada seseorang yang siap menyapa kami ketika tiba di ujung.


sebuah angin kecil melewati tengkuk leher ku begitu saja. aku masih terdiam, tidak ingin menunjukkan bahwa sebenarnya ada rasa takut mengganggu hatiku.


"sat."

__ADS_1


"kenapa ton?"


"kita harus ke mana dulu nih?"


"harus cek satu satu kan ruangan di lantai 2 ini."jawabku mengingatkan perintah dari kakak kelas. "suara kamu kenapa gemeteran gitu sih?"


"nggak enak aja perasaanku."


balas Anton tanpa menutupi rasa khawatirnya.


"aku juga sih, kayak banyak orang sedang melihat kita."


Anton mengangguk.


kami terus berjalan dan memasuki ruang demi ruang untuk mencari sosok hantu yang diperankan oleh kakak kelas. sebenarnya semua juga tahu bahwa hantu di sini adalah manusia namun suasana mencengkam di lorong membuat seluruh bulu kudukku berdiri.


"kelas 11 a." seru Anton ketika melihat papan petunjuk yang ada di atas pintu.


"masuk nggak?" tanyaku memastikan.


"yuk bareng."


"krieeet~


suara dari pintu menggema di seluruh ruang. aku menatap sekeliling, sebelum dikagetkan dengan pocong yang melompat ke depan wajahku


"Anji**''pekik Anton dan membuat kak Dinar yang menjadi pocong tertawa ngakak.


"kaget ya?"


"banget kak."jawab kuda nonton bersamaan.


"ya udah lanjut keliling lagi gih,jangan lupa catat yang ketemu hantu apa aja dan nomornya ."ingat kak binar.


aku dan Anton mengganggu bersama, kami pun segera keluar dan mencari di ruangan lain.


"Hhh." dengus ku lelah . "baru satu ruangan aja capek banget ya "


Anton mengangguk."lemas aku."


kami pun kembali berjalan melewati lorong yang gelap. setelah berkeliling dan memasuki satu per satu ruang ke rumah kami sudah mendapatkan total 5 hantu.


"dibilang semua ruangan di lantai 2 kan?" tanyaku memastikan


"ya sih, ya udah kamu aja deh sat capek aku."


"ih cemen." jawab ku tertawa.


Aku memberanikan diri berjalan mendekat kearah kamar mandi,letak ruangan ini berada di paling ujung dan membuatnya sama sekali tidak mendapatkan cahaya apa pun. gelap, pekat, dan pengap itu yang ku rasakan ketika memasuki kamar mandi


aku melihat kanan kiri, memastikan apakah aku harus berjalan maju atau tidak.

__ADS_1


"brak!..


pintu kamar mandi paling ujung terbuka dan seseorang berjalan keluar.


"kak?"panggil ku


hening.


aku ndak mendekat untuk mencari tahu nomor di bajunya, namun'dia' hanya terdiam dan membelakangiku.


entah kenapa hal ini membuatku tidak berani mendekat. aku memutuskan untuk berjalan keluar,Wahyu tidaknya grup kami mendapatkan informasi bahwa di kamar mandi ada kakak kelas yang menyamar jadi kuntilanak merah.


aku dan Anton sudah tiba kembali di garis finish. rasanya lega melihat lampu penerangan setelah 10 menit berada di kegelapan.


"gimana?"siapakah pelatih setelah melihat kami. "aman gak?"


"aman kak." sahut kami bersamaan.


"yuk kasih lits ya hantu apa aja yang kalian temukan."


"ruang kelas 11 a ada pocong nomor 73."


"ruang kelas 11 c ada Buto ijo nomor 44."


"ruang lab biologi dan kuntilanak putih, nomor 13."


"ruang komputer ada hantu satpam, nomor 54."


terakhir saya lihat di kamar mandi, ada kuntilanak merah tapi nomornya nggak kelihatan kak." lanjutku melengkapi list kami.


aku mengangguk


"kamar mandi?" tanya kak melati berusaha memastikan kembali


"iya kak."


"tapi kan kita enggak ada taruh hantu di sana Satria."


"ha?" kata aku bingung,sebab aku benar-benar melihat jelas seseorang keluar dari bilik terakhir dan berdiri membelakangiku. "tapi saya benar-benar lihat kak."


"kamu enggak lihat nomornya?"


aku menggeleng."enggak kak, karena dia diam saja yang jadi nggak berani mendekat."


"ya udah nggak usah kamu pikirkan lagi ya."


"tapi dia manusia kan kak?"tanyaku memastikan.


"udah malam, kakak harus urus anak-anak yang lain." jawabnya seolah enggan menjawab pertanyaanku.


sejak saat itu, Aku tidak berani ke kamar mandi di lantai 2 sekalipun sedang mengikuti kegiatan di sana. aku akan memilih ih turun ke lantai 1, dan menggunakan kamar mandi di dekat kantin.

__ADS_1


entah walau tidak ada yang menjelaskan padaku sosok tersebut hantu atau tidak, namun aku tahu bahwa 'DIA' bukan manusia, karena hanya aku yang melihatnya.


__ADS_2