Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Rahasia Gambar Ular


__ADS_3

Ku gendong anakku yang berusia tiga tahun berkeliling seputar rumah, dia agak rewel dan ibunya lagi sibuk nyuci.


Dari dapur ku ajak ke depan, dari depan kemudian balik ke ruang tengah, lalu kakiku melangkah lagi masuk ke kamar tidur.


Sampai di kamar, tangan anakku menunjuk ke satu gambar. "Apa itu ayah?" Tanyanya.


"Itu gambar ular dedek.." jawabku, sambil memandang sebuah ukiran dari kulit berbentuk ular yang kutempel di bagian atas lemari pakaian.


"Dedek takut ulal ayah, ulal galak.." celotehnya.


"Janganlah takut, kan ada ayah, nti kalo ularnya nakal, ayah pentung pake kayu," kataku sambil menggerak-gerakkan tangan keatas kebawah seolah-olah betulan lagi memukul sesuatu.


Anakku tertawa, "Dedek gak takut ayah, ulal pukul ayah..."


Aku tersenyum melihat kelucuan anakku. Mataku kembali memperhatikan gambar yang kutempel, sebuah gambar yang memang terbuat dari kulit, dengan motif ukiran khas wayang. Berbentuk gambar seekor ular naga, berwarna keemasan. Aku memesannya dari seorang pengrajin kulit pada waktu berkunjung di tempat saudara yang bermukim di daerah Jawa Tengah.


Bukan tanpa alasan aku menempel gambar ukir tersebut. Gambar itu sendiri sebagai penanda peristiwa yang pernah kualami di masa lampau.


***


Aku putra pertama dari lima bersaudara, ayah sudah pergi meninggalkan kami saat usiaku baru dua belas tahun. Ibuku sendiri kuakui sebagai wanita yang tabah, ia sungguh tegar mengurus kami berlima. Tak pernah dipikirkannya lagi untuk kembali berkeluarga selain memikirkan penghidupan untuk anak-anaknya.


Beranjak dewasa, mulailah aku berpikir. Orang-orang di lingkungan kami tampaknya memandang remeh ibu yang hanya seorang janda, apalagi perekonomian kami yang dibawah garis kemiskinan. Makin dipikir makin besar kegaulan hatiku, mewujud satu keinginanku, ingin mengangkat derajat keluarga menjadi orang yang di segani. Tapi bagaimana caranya?


Maka dari itu, mulailah aku bertanya-tanya pada orang-orang tua, sesepuh-sesepuh desa, sosok yang kuanggap bisa memberi wejangan bagaimana dapat mengangkat derajat kehidupan keluarga.


Waktu itu di masyarakat lingkungan tempatku tumbuh berkembang masih kental kepercayaan akan hal-hal berbau klenik. Banyak yang meyakini, untuk menjadi orang besar kita harus ikhtiar, harus banyak berpuasa dan menepikan diri mencari wangsit di tempat-tempat yang sepi.

__ADS_1


Dari beberapa orang tua yang kutemui dan kumintakan wejangan, menasihatkan; "Manusia yang tangguh haruslah kuat raga dan batin, caranya dengan menggembleng diri dengan ritual-ritual tertentu, agar tumbuh kewibawaan dalam diri."


Oleh karena itulah aku mulai membiasakan diri berpuasa, puasa mutih, ngrowot, bahkan ngebleng. Setelahnya sering pula aku keluar masuk hutan untuk mencari tempat yang winingit untuk bersemedi atau bermeditasi. Mencari wangsit, kata mereka.


Satu hari saat aku membetulkan kandang ayam, adikku berlari masuk rumahbsembari menangis.


"Kenapa kau Tam?" tanyaku pada adikku ysng bernama Rustam.


"Aku di pukul si Imron kak," jawabnya.


"Kenapa kau sampai dipukul? Diakan jauh lebih tua dan besar darimu, apa kau berkelahi?"


"Dia meledekku kak," jawabnya lagi.


"Memang apa yang di ucapkannya?"


"Dia bilang aku anak janda tua jelek miskin.. aku sebal kak, maka kulempar ia dengan batu, terus dibalasnya aku dengan pukulan bertubi-tubi," jelasnya sambil tersengguk.


Lantas saja aku bergegas keluar rumah, tekadku satu, kucari Imron dan memberinya pelajaran. Tak lama kutemui jua anak bengal itu, tanpa basa basi langsung kuhajar ia. Karena tubuhku yang terbiasa kerja kasar, dengan mudah kubuat Imron babak belur, ia pulang menangis sambil mengancam.


Sorenya keluarga Imron datang kerumah, ayahnya marah besar, dan menuntut aku untuk dihukum. Ibu hanya menangis tanpa daya. Dan akupun mendapat hukuman dengan pukulan rotan oleh ayah si Imron berulang-ulang.


Semenjak itu, hatiku makin kuat untuk berikhtiar. Sampai seorang yang kuanggap guru menyarankan untuk bermeditasi di sebuah hutan yang di anggap mampu menjadikan aku manusia yang kuat dalam kebatinan.


"Hutan ini banyak yang takut mendatangi, tempat angker kata mereka. Tapi abaikan semua ketakutan, ingat! keyakinan dan kebulatan tekad harus kuat, dengan itu semua rintangan dapat kau lalui Ngger," ujarnya menyemangatiku.


"Baik guru, tapi bagaimana bukti saya akan menjadi manusia yang memiliki kelebihan?"

__ADS_1


"Bisikan gaib, itu yang akan kau dapat, ia akan menunjukkanmu menjadi apa yang kau inginkan, dan biasanya kau juga akan mendapatkan piyandel atau sesuatu yang dapat kau jadikan pegangan," jelasnya.


Akhirnya aku menurut, dan bersiap-siap untuk mendatangi hutan yang dimaksud guru.


Disinilah masa aku berjumpa dengan makhluk itu. Hutan yang dimaksud guru sangatlah lebat, banyak pepohonan yang menjulang tinggi, dan semak di kanan kiri begitu lebat. Pada saat masuk, masih kutemui jalan setapak, namun begitu agak kedalam, patutlah aku menyibak semak-semak yang rimbun, untuk mencari jalan menembus hutan.


Beberapa hari berbekal buntalan berisi stok makanan dan minuman, kujelajahi hutan tersebut. Aku belum memutuskan tempat untuk bermeditasi, masih kucari tempat yang cocok, kalau bisa semacam cekungan gua, hingga dapat melindungi bila saat meditasi hujan turun.


Beruntung tak kujumpai hewan buas, tapi dimasa sekarang hewan buas sudahlah langka, jadi tak perlu ku khawatirkan.


Suatu ketika, terhitung hari ke empat di dalam hutan. Saat aku kembali melanjutkan menjelajah hutan, aku dikejutkan sesuatu.


Dijalan tempatku hendak melintas, melingkar sang makhluk. Seekor ular berkulit keemasan. Memiliki lingkar tubuh sebesar paha orang dewasa. Panjangngya? Entahlah, yang jelas dengan tubuh sebesar itu pasti cukup panjang.


Ular apakah itu? Baru kali ini kujumpai ular dengan warna sedemikian dan memiliki ukuran tubuh juga begitu besar.


Ular besar itu mendongakkan kepalanya melihat kearahku. Lidahnya keluar dan ia mulai mendesis. Matanya yang tajam tak henti mengawasi.


Dadaku berdegup kencang, tak ada satupun senjata kubawa, dengan ukuran sebesar itu, sekali libat pasti remuklah tulang-tulang tubuhku.


Seharusnya aku mundur dan lari, tapi tak tahu kenapa, kakiku tetap diam seakan terpantek dimana aku berpijak.


Hanya mata kami yang saling bertatapan cukup lama, dan tak tahu karena apa, ular itu menurunkan kepalanya kemudian menjalar ke arah semak-semak pepohonan menjauh jalan yang akan kulintasi.


Seiring dengan berlalunya makhluk itu, kakiku mulai bisa digerakkan, perlahan aku mundur, dan berbalik. Semenjak pertemuan dengan ular tadi, lenyap sudah keinginanku untuk mencari tempat menepi.


Karena percaya tidak percaya, pada saat mataku dan mata ular itu bertemu, tak ada suara tak ada kata, hanya rasa yang meresap begitu saja, agar aku menghentikan usahaku, dan sudah cukuplah ikhtiarku.

__ADS_1


Demikianlah kisah tentang ukiran ular itu. Aku lebih memilih menjalani hidup sewajarnya ketimbang menggunakan cara yabg tak wajar. Karena pada dasarnya kita sudah diberi bekal lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan. Dan yang penting dalam hidup ini seperti yang pernah di sampaikan almarhumah ibuku, yakni slanam, slunum, slamet.


Sekian.


__ADS_2