Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Kamar yang Terkunci


__ADS_3

Kurang lebih setengah jam Pak Khaidir berada di dalam kamar adikku, lampu kamar yang semula padam tampak kembali di nyalakan dari dalam, pintu terbuka, Pak Khaidir keluar dari kamar dengan dahi berpeluh, ia membetulkan posisi kopiahnya beberapa saat.


Langkahnya perlahan menuju kearah kami yang menunggu di ruang tengah, beberapa saat ia berhenti dan terlihat tangan kirinya yang memegang tasbih mengebut beberapa kali, seperti tengah mengusir sesuatu.


Ketika Pak Khaidir pada akhirnya menghenyakkan pantatnya di kursi tempat kami berada, Ia menggeleng-geleng kepala sambil memutar tasbih. Ibu segera menyuguhkan gelas berisi air teh yang sedari tadi memang sudah dibuat, "Silahkan Pak, diminum airnya," ucap Ibu. Pak Khaidir mengangguk pelan dan mengambil gelas teh, ia meminum isinya sampai tandas, seperti merasa begitu kehausan. Setelahnya kemudian ditaruhnya kembali gelas yang telah kosong di atas meja.


Tangannya kini sibuk membenarkan posisi kain yang diselempangkan diatas pundaknya. Aku yang akhirnya tak sabar, tak kuasa untuk menahan tanya, "Bagaimana hasilnya Pak..?"


Ia memandang wajahku. Agak lama sampai mulutnya menjawab, "Wujud-wujud kecil..."


Satu rangkaian kata singkat yang keluar dari mulut Pak Khaidir cukup membuat aku dan Ibu saling berpandangan, tanpa kumaui bulu tengkukku meremang.


***


Pak Khaidir adalah Ketua Pengurus di Masjid lingkungan kami, banyak yang bilang kalau ia punya kelebihan, bisa mengobati orang sakit, dan melihat hal-hal gaib. Nah, untuk kemampuan yang kedua itulah aku mengundangnya kerumah, atas perintah Ibuku.


Kejadiannya bermula dua hari sebelumnya. Karena banyak kerjaan di tempat kerja, agak malam aku sampai di rumah. Sekitar pukul delapan malam.


Sesampai di rumah ibu terlihat didepan menunggui warung sembako milik keluarga kami. Aku lantas mengucap salam dan langsung masuk Sepasang sepatu kutenteng, pikirku hendak mandi dan berganti pakaian.


Kuambil handuk di kamar. Kulihat kamar yang berhadap-hadapan dengan kamar tidurku tertutup. Berarti adikku menginap di tempat Ibu malam ini, batinku.


Selesai mandi aku kembali masuk kekamar, terlihat pintu kamar adikku masih tertutup, tumben ia sudah istirahat padahal belum lagi jam sembilan malam. Kudorong pintunya, niatku ingin mengambil terminal listrik yang ada di kamarnya. Ternyata terkunci, hendak kupanggil ia, tapi kuurungkan, takut mengganggu.


Setelah berganti pakaian aku kedepan, ibu tengah sibuk menimbang-nimbang gula.


"Bu, apa Jati nginep sini?" Tanyaku pada ibuku. Jati adalah adikku, dia sudah menikah, dan tinggal di rumah mertuanya, terkadang seringpula mampir kerumah sekedar istirahat, atau menjenguk kami. Sedang aku sendiri masih membujang, belum bertemu dengan jodohku.


"Enggak, memangnya kenapa?" jawabnya dan balik tanya.


"Lha itu, kamar tidurnya kok terkunci?"


Biar dah tinggal di rumah orang tuanya, satu kamar di tempat kami memang dibiarkan kosong. Kamar itu adalah kamar si Jati, bila sewaktu-sewaktu ia mampir atau menginap.


"Ah, yang bener? Dari siang dia nggak kemari kok?" jawab Ibu keheranan.

__ADS_1


"Kalau gak percaya coba ibu tengok sendiri, tadi aku mo ngambil terminal di kamar itu, tapi kudorong kok gak bisa," ujarku.


Penasaran ibu yang lagi menimbang gula beranjak bangun, dan menuju kamar yang kumaksud, kuikuti ia dari belakang.


Sampai di depan kamar, ia dekati pintu, "Inikan tadi cuma ibu tutup aja, tinggal dorong gini aja kebuka," ujarnya sambil mendorong pintu.


"Lho kok gak bisa ini?" Dicobanya di dorong sekali lagi, dan hasilnya sama.


Akupun coba dorong pintu itu, "Memang gak bisa Bu, terkunci dari dalam ini..."


Duk! Duk! Dipukulnya daun pintu, "Jati! Jati! Apa kau di dalam nak!?" Panggil ibu.


Tak ada sahutan. "Jati! Jati! Bangun nak, buka pintunya, ada kakakmu ini!" Panggilnya lagi.


Tetap tak ada sahutan. Ibu menoleh, "Gimana ini Di? Ada orangnya apa enggak di dalem?" Tanyanya bingung.


Akupun bingung, kalo adikku yang di dalem kenapa gak nyahut? Kalo bukan Jati, trus siapa yg di dalam!!??


Kecurigaan melanda hatiku, "Bu, coba ibu tunggu di sini, biar aku tengok lewat jendela samping kamar," kataku.


Tanpa menunggu anggukannya, aku segera ke dapur, dari situ memang ada lorong kecil dalam rumah, dan jendela yang kumaksud ada dilorong itu.


Memberanikan sendiri ku sibak sedikit kain gordyn, pas di bawah jendela terletak ranjang adikku. Kosong. Diranjang tak ada sesiapa. Kusibakkan lebih lebar sehingga tampak seluruh kamar. Kosong, tak ada sesiapapun dikamar itu.


Sungguh aneh, kenapa kosong? Mataku awas memperhatikan pintu kamar. Terkunci. Dari tempatku mengintai tampak jelas pintu itu terkunci gerendelnya di bagian atas.


Gila, sungguh gila, siapa yabg mengunci dari dalam!? Setelah puas mengawasi kondisi kamar, aku berbalik menuju tempat Ibu menunggu.


"Gimana?" tanya ibu tak sabaran.


"Kosong.." bisikku.


"Kosong...?? Terus siapa yang ngunci?"


"Jelas ada orang di dalam Bu, entah siapa, aku hanya bisa melihat bagian atas, bagian bawah kamar terhalang ranjang," tuturku dengan berbisik.

__ADS_1


"Maling?" Bisiknya pula.


"Mungkin.. tolong ibu minggir, biar ku intip melalui bagian bawah pintu," ujarku. Setelah ibu agak mundur, aku mulai mengintip bagian bawah pintu, ada sela kecil di situ, cukup untuk mengawasi bagian dalam kamar.


Mataku menyipit coba melihat betul-betul bagian dalam kamar dari bawah. Kosong. Tetap tak kulihat satu bagian tubuh manusiapun yang kupikir sembunyi di bagian bawah. Setelah beberapa lama mengawasi tanpa hasil, akhirnya aku bangun.


"Ada?" tanya ibu. Aku menggeleng.


"Trus gimana ini..?" tanya ibu lagi.


"Ibu tunggu bentar di sini, biar aku tempat Bagus sebentar minta bantuannya." Ibu mengangguk, lantas aku bergegas kerumah kawanku yang berjarak dua rumah dari tempat kami tinggal.


Untung Bagus ada di rumah, bahkan ada kakaknya dan kawanku yang lain si Bongi sedang ngobrol disitu.


Langsung kuceritakan dengan cepat peristiwa aneh yang terjadi dirumah. "Jelas ada maling tu, takut ketahuan ngumpet di kamar!" Duga Bongi, seusai aku bercerita.


Tanpa tunggu lama kami balik kerumah, disana ibu masih menunggu dengan cemas.


Tiga rekanku bergantian memeriksa dengan cara mengintip dari bawah pintu maupun dari samping jendela. Setelah tak jua dilihat satu sosokpun di dalam, kami mulai memikirkan bagaimana cara membuka pintu yang terkunci.


"Ambil galah bambu, kita masukkan lewat jendela samping itu, trus dorong gerendelnya," usul Suto kakak Bagus.


Mendengar usul yang jitu itu, aku langsung keluar rumah, seingatku ada satu galah bambu yang biasa digunakan sebagai tiang bendera tersender di samping rumah. Begitu dapat galah bambu itu, kubawa cepat masuk kerumah.


Aku meminta Bagus dan Bongi menjaga di pintu kamar, kalau-kalau ada betul manusia di dalam yang coba menerobos keluar begitu pintu terbuka.


Sedang aku dan Suto membawa galah ke samping kamar, mulanya agak susah memasukkan galah panjang itu ke jendela nako yang berlubang, tapi akhirnya dengan perlahan kami berhasil meneroboskan galah melalui jendela, mengarahkannya kepintu, dan dengan pelan mendorong kunci gerendel pintu agar terbuka, beberapa kali gagal, dan akhirnya, berhasil! Pintu itu terbuka, langsung kutarik kembali galah bambu, aku dan Suto bergegas menuju pintu kamar adikku.


Bagus dan Bongi sudah tahu pintu berhasil terbuka, tapi mereka ragu untuk menerobos masuk. Ketika aku sampai di depan pintu, tanpa sungkan masuk ke kamar adikku. Kosong. Betul-betul tak ada siapapun di kamar itu, biarpun sudah kami cari di setiap sudut kamar, kolong ranjang, maupun dalam lemari, tetap tak ada satu makhlukpun yang terlihat di kamar adikku.


Itulah kenapa akhirnya Ibu memintaku mengundang Pak Khaidir.


***


"Mungkin di antara wujud-wujud kecil itu ada yang bermain-main dengan gerendel, hingga tanpa disadarinya mengunci pintu," simpul Pak Khaidir saat melihat aku dan Ibu masih terdiam dengan perasaan masing-masing.

__ADS_1


Entahlah, sampai kini misteri pintu kamar yang terkunci belum dapat dijelaskan secara logika. Ataukah...? Benar-benar seperti apa yang disampaikan Pak Khaidir?


Sekian.


__ADS_2