
Setelah lulus sekolah menengah pertama, aku berkeinginan melanjutkan ke sekolah menengah lanjutan. Karena minimnya perekonomian orang tuaku, aku di minta ikut tinggal di rumah pamanku, agar bisa di sekolahkan olehnya.
Menuju rumah paman, aku diantar oleh salah satu kakakku. Kami berangkat dengan menanti bus di depan rumah.
Tak lama bus yang kami tunggu lewat. Kakak segera melambaikan tangannya memberi tanda agar bus berhenti.
Cukup padat di bagian dalam bus. Beruntung masih ada dua bangku kosong, walaupun aku tidak berdampingan dengan kakak.
Aku duduk di sebelah seorang pemuda sebayaku, sekilas ku pandang wajahnya. Agak merinding saat kulihat di wajahnya ada semacam penyakit kulit, benjol-benjolan kecil yang tampak mengandung air menghiasi pipinya. Kualihkan wajahku kedepan dan coba tak memikirkan pemuda di sampingku.
Bau amis bercampur bau karat, itu yang kucium kemudian. Kulirik si pemuda, dan ia juga melirikku. Matanya terlihat sinis. Entah mengapa perasaanku jadi tak enak. Apa bau amis dan karat ini berasal dari pemuda disampingku?
Pandanganku beralih ke bawah, si pemuda tiba-tiba menggeser pahanya hingga menyentuh pahaku. Nyutt! Aku kontan merasa linu, seolah-olah ada sebatang besi yang ditekankan langsung ke tulang pahaku. Makin lama makin terasa nyeri. Kugeser pahaku menjauh. Si pemuda menggeser lagi pahanya menyentuh pahaku, dan kembali rasa linu menyengat. Ingin aku bersuara memanggil kakakku, tapi lidahku kelu, otakku tak bisa menduga apa sebenarnya yang terjadi.
Minggiirr...!
Itu suara kakak, rupanya kami sudah sampai di kota tempat paman. Segera aku bangkit dan turun dari bus, menyusul kakakku yang sudah terlebih dulu turun.
Tak kuceritakan peristiwa yang barusan kualami. Kami naik sebuah angkot menuju rumah paman. Kota pamanku cukup ramai, sepanjang jalan terlihat banyak rumah dan pertokoan berjejer rapi.
Tempat tinggal paman masih terhitung di bagian pusat kota, kurang dari lima belas menit naik angkot, kami tiba di rumah paman. Kulihat rumahnya tidak terlalu besar. Paman dan bibi sudah siap menyambut kami, karena saat kami memasuki halaman terlihat paman dan bibi tengah duduk di serambi. Melihat kami, mereka bangkit.
"Ayo silahkan masuk," ucap Bibi.
Waktu memang sudah menunjukkan tengah hari, setelah berbasi basi sebentar, kami di ajak makan siang. Menunya tidak terlalu mewah, tapi harus kuakui bibi pintar memasak. Rasa masakannya sungguh lezat.
Selagi makan paman beberapa kali memandang wajahku. Lama-lama risih juga di pandangi terus menerus.
"Ada apa paman?" tanyaku.
Dia tersenyum. "Tidak mengapa."
"Apakah waktu kesini tadi kau menjumpai hal-hal yang aneh Di?'' ucap paman balik bertanya.
"Eh, tidak paman, memang kenapa?"
"Terus terang, sedari kau datang tadi, aku mencium bau tertentu dari badanmu, betul kau tak menemui hal-hal yang aneh?" tanyanya memastikan.
Aku kembali teringat dengan si pemuda yang sebangku denganku. Apakah perlu kuceritakan?
__ADS_1
"Iya paman, sebenernya waktu kesini ada satu peristiwa yang agak aneh, ini mengenai teman sebangku saya di bus tadi...."
Lalu kututurkan apa yang tadi kualami. Paman tampak manggut-manggut menyimak.
"Begitulah paman yang bisa saya ceritakan, entah apa itu yang paman anggap aneh," kataku selesai bertutur.
Paman kembali tersenyum. Senyuman mengandung misteri. "Kalau menurutmu siapa pemuda itu Di?"
Aneh betul paman, kenapa ia menanyakan seperti itu?
"Tidak tahu paman," jawabku.
"Dia bukan manusia..."
Aku melengak kaget mendengarnya, "Oh, yang benar paman?" ucapku bernada cemas.
Ayah memang pernah bilang, kalau paman punya kelebihan di kemampuan batiniah, ya mungkin supranatural gitulah.
"Tak perlu cemas, dia gambaran sisi burukmu Di.. Paman kira sebagai pertanda cerminan untuk dirimu berpikir dan mawas diri.." ujar paman setelah terlihat merenung sesaat.
Tak bisa ku sembunyikan kebingunganku. Aku menoleh ke arah kakakku. Dia tampak bengong. Tapi ucapannya kemudian membuat dadaku sesak.
***
Kakakku pulang hari itu juga, karena dia sendiri karyawan swasta. Hanya satu hari ia minta ijin, besok harus kembali kerja.
Mencoba menempatkan diri di rumah orang, aku mulai membantu sedikit-sedikit pekerjaan rumah. Satu kamar sudah di siapkan buatku, letaknya ada di bagian belakang, cukup baik untuk di tempati kondisinya.
Malam selesai makan kami nonton TV di ruang tengah. "Besok ikut paman ya, kita daftar sekolah untukmu, " kata pamanku singkat. Kujawab dengan anggukan.
Setelah agak larut, aku minta ijin masuk kamar. Paman dan bibi juga tampaknya berangkat tidur, karena ku dengar suara TV dimatikan, begitu juga lampu ruang tengah yang tak lagi menyala.
Tempat tidurku merupakan ranjang berkelambu, jadi aku tidak perlu khawatir bakal di gigit nyamuk. Setelah memastikan pintu terkunci, aku menuju ranjang, ku buka kain kelambu, dan masuk kedalamnya.
Niatku ya jelas hendak langsung tidur. Tapi entah mengapa, suasana kamar yang tidak terlalu terang nyalanya membuatku tidak langsung tertidur. Kuselimuti tubuhku dengan kain yang kubawa dari rumah sedang mataku masih menyapu kesekeliling kamar.
Setelah agak lama terbawa suasana sepi malam, aku memejamkan mata.
Krek.. krek...
__ADS_1
Belum lagi beberapa menit pejamkan mata, kudengar satu suara. Kembali mataku terbuka. Kuawasi kembali kamarku dari balik kelambu, tak terlihat apa-apa. Tapi tunggu dulu.. apa itu yang ada di pojok dekat pintu!?
Aku melihat sebentuk hitam ada dipojok itu, padahal semula tidak ada sesuatu. App.. apa itu!? Seruku dalam hati.
Lama kuamati, bentuk itu hanya diam. Kuberanikan untuk membuka kain kelambu perlahan lahan dan kulihat bentuk hitam di sudut kamar.
Mataku terbelalak melihat apa sebenarnya bentuk hitam tersebut. Satu sosok tubuh manusia berpakaian gelap tegak berdiri, Tanpa Kepala!
Semua gelap, tak tahu aku apa yang terjadi selanjutnya, kesadaranku baru pulih saat terdengar gedoran dari luar kamar, aku bangun dengan sempoyongan, di pojok yang semula kulihat makhluk itu kini telah kosong, dengan tubuh yang terasa gemetar, dan bibir terasa pahit, kubuka pintu perlahan. Tampak bibi berdiri di luar. Ia terlihat terkejut dengan kondisiku.
"Astaga? Kenapa tampangmu pucat Di, ini tadi bibi ingin memintamu segera mandi dan sarapan," ujarnya, kemudian dengan balik tangannya di sentuh dahiku.
"Panas sekali, kamu sakit rupanya, nanti bibi bilang pada pamanmu agar membawa berobat," ucapnya kemudian.
Aku menggeleng, "Tidak usah bibi, merepotkan, saya tidak apa-apa, hanya kurang tidur semalam.."
"Kok kurang tidur? Kenapa? Ah sudahlah, nanti saja, kamu sarapan dulu, baru mandi pakai air hangat, biar cepat pulih kondisi kesehatanmu," putus bibi.
Aku menurut, setelah sarapan dan mandi, kondisiku lebih baik. Setelahnya bibi mengajak ke ruang depan, paman sedang duduk santai sambil membaca koran. Dia menoleh melihat kedatangan kami. "Eh, kamu kok terlihat belum siap Di?" Tanya pamanku sambil mengamati pakaian yang kukenakan.
Bibi berucap, "Ponakanmu lagi sakit, badannya panas, besok saja kau daftarkannya."
"Apa salah makan?" Tanyanya lagi.
"Bukan yah, kurang tidur katanya.."
"Kenapa kurang tidur? Apa susah tidur, gitu?" cecar pamanku.
"Nah itulah maka dia kubawa kemari biar cerita..." jelas bibiku.
Paman memandang diriku lebih lama. "Duduklah, dan ceritakan apa penyebab kamu susah tidur semalam."
Aku duduk, dan dengan pelan kututurkan pengalaman mengerikanku semalam. Aku tetap bergidik saat mengingat wujud seram yang kulihat.
Selesai menuturkan kejadian semalam, paman tampak tersenyum, dia menepuk-nepuk bahuku, "Sudah, jangan takut, ketahuilah pada dasarnya tiap-tiap rumah pasti ada penunggu tak kasat matanya, muskil untuk dilihat mata manusia normal, sekiranya kamu melihatnya semalam, bisa jadi karena waktu dan kondisi yang pas, atau karena memang makhluk itu ingin menampakkan wujud padamu...."
Aku tak terlalu paham dengan penjelasan pamanku, "Tapi paman, seandainya ia sengaja menampakkan diri pada saya, untuk tujuan apakah?"
Agak lama paman diam tak langsung menjawab, matanya memandang wajahku penuh arti, kemudiam mulutnya berucap, "Mungkin.. dia ingin sekedar berkenalan denganmu..." dan senyum kembali menghiasi wajah paman.
__ADS_1
Selesai.