Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Misteri Warna Merah di Kamar Sonja


__ADS_3

"Sial!" Arman merutuk kesal. Mobil yang dikendarainya mogok dalam perjalanan, padahal hari sudah menjelang sore, dan kini dia berada di tengah perkebunan yang jauh dari perumahan.


Awalnya semua berjalan lancar, pagi tadi ia mengunjungi neneknya di satu daerah kurang lebih dua jam perjalanan dari tempatnya tinggal. Dengan mengendarai mobil tuanya dengan yakin Arman menempuh perjalanan seorang diri, lagipula mobil itu belum lama ini sudah ia servis.


Waktu berangkat tak ditemuinya satu masalah, bahkan ia bergembira bertemu dengan nenek dan sanak keluarganya. Menjelang sore baru ia memutuskan untuk pulang, karena besoknya harus sudah masuk kerja.


Mungkin memang ia yang bodoh, pikirnya. Jelas waktu berangkat di tempuhnya rute ramai dengan kondisi jalanan yang mulus, eh waktu perjalanan pulang malah diputuskan untuk menempuh rute lain, rute melalui perkebunan karet dengan jalanan tampak bagus 1 km pertama, tapi berlubang-lubang selanjutnya. Ah, dasar apes. mobilnya tak sanggup lagi melalui medan berat, dan akhirnya mogok.


Arman bukan ahli mesin, yang ia tahu cuma mengendarainya saja, dari tadi bolak-balik dibukanya kap mesin mobil, tak tahu jua mau dibagaimanakan lagi mobilnya. Heran ia, sedari tadi tak satupun orang lewat jalanan situ, pada siapa kini ia hendak minta tolong?


Langit sudah gelap, sudah lewat maghrib rupanya. Arman berdiri disamping mobil sambil memandangi suasana sekitarnya. Apakah benar-benar ujian bagi dia untuk bermalam ditengah areal perkebunan yang demikian luas malam ini?


Selagi ia kebingungan, matanya yang awas melihat satu cahaya dikejauhan, satu cahaya yang asalnya dari tengah areal perkebunan. Apakah ada rumah di tengah areal perkebunan? Dicobanya untuk memperhatikan lebih seksama. Benar! Itu cahaya, entah dari lampu minyak atau lampu listrik, tapi Arman yakin itu cahaya. Kalau begitu kemungkinan besar memang ada tempat tinggal seseorang atau semacam pos di tengah areal perkebunan ini.


Sekiranya ia bermalam dimobil Arman takut ada hal-hal yang tak diinginkan, semisal orang jahat semacam itu, maka bergegas diambilnya tas rangsel yang ia bawa, baiknya ia menuju cahaya itu, sepertinya tidak terlalu jauh, kalau memang benar disana ada yang tinggal, setidaknya ia bisa numpang berteduh, atau minta tolong mencarikan orang yang dapat memperbaiki mobilnya.


Arman melangkah dengan pelan, takut tersandung akar yang menjalar. Ada jalan setapak ditemuinya, menambah keyakinan Arman memang ada yang tinggal di perkebunan itu. Kurang lebih lima belas menit perjalanan kaki, kini Arman berdiri di depan sebuah rumah. Tak dinyananya ia bakal menemui rumah yang cukup besar. Rumah di depannya rumah besar model panggung, dibawah ada semacam tangga untuk naik keatas.


"Permisi!" ucap Arman memberi salam. Hening sesaat. Tak lama kemudian terdengar langkah-langkah kaki menghampiri. Langkah kaki itu berhenti didepan pintu.


"Siapa?" satu suara terdengar bertanya.


"Saya tuan, nama saya Arman, saya kemalaman, mobil saya mogok ditengah jalan," Arman menjelaskan agar pemilik rumah tak menaruh curiga.


Pintu terbuka, tampak di depan Arman seorang lelaki tua berdiri. Lelaki tua itu memakai kopiah hitam, dan memiliki jenggot yang mulai memutih. Arman tersenyum ramah. Si pemilik rumah tak membalas senyumnya, hanya memandangi Arman dari kepala sampai kaki seakan sedang menaksir-naksir.


"Darimana ananda ini?" tanya lelaki itu.


"Saya baru dari tempat nenek saya tuan.." Lalu Arman menjelaskan keadaan dirinya pada si lelaki tua.


Setelah mendengar penjelasan Arman, lelaki itu manggut-manggut, "Jadi maksud ananda mencari tempat menginap?"


"Iya bapak kalau diijinkan, atau setidaknya bapak bisa membantu saya untuk mencari orang yang bisa membetulkan mobil saya".


Si orang tua tersenyum, "Rumah kami jauh dari mana-mana, sukarlah untuk mencari orang yang bisa membantumu nak, mungkin besok pagi, marilah masuk, biar kita ngobrol di dalam," orang tua itu rupanya mulai melunak, dibukanya pintu lebar-lebar agar si Arman bisa masuk.


Arman masuk kedalam, kesebuah ruang tamu. Ada sebuah kursi panjang terbuat dari ukir kayu jati disitu, dan di dinding ada sebuah potret besar, yang sepertinya sudah lama. Si orang tua mempersilahkan Arman duduk. Segera saja ia menghenyakkan pantatnya dikursi yang ada, melepas penat yang semenjak tadi ia rasakan.


Siorang tua masuk kedalam tanpa mengucapkan apa-apa. Ditinggal sendiri Arman mencoba mengamati segala perabot yang ada. Di pojok ada sebuah miniatur candi, di tembok sebelah kiri ada hiasan semacam busur dan anak panah, rupanya pemilik rumah orang yang menyukai barang-barang antik. Perhatian Arman beralih ke arah potret besar yang ada di atas kursi panjang. Potret tiga orang, dua orang dewasa, dan satu orang gadis remaja yang cantik dan memiliki senyum ceria. Dari tiga orang yang ada dipotret Arman sudah mengenal satu diantaranya, walau lebih muda dipotret, tapi Arman mengenali bahwa salah satu orang yang ada di dalam potret itu adalah si lelaki tua. Lukisan keluarga, itu kesimpulannya.


Arman tak bisa terlalu lama memperhatikan keadaan ruang, si lelaki tua sudah kembali, sekarang ia tak sendiri, ditemani seorang perempuan paruh baya. Si perempuan bahkan membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan ditangannya. Dengan cekatan si perempuan langsung menata minuman dan makanan yang ia bawa di atas meja.


"Silahkan nak, diminum, jangan malu-malu lho," ucapan si perempuan menawarkan dengan sangat ramah.


Arman sedikit kikuk, "Iya Bu, waduh jadi merepotkan, terima kasih Bu".


Si Nyonya rumah tersenyum. Arman tak kesulitan membayangkan, dulunya perempuan ini waktu muda pasti sangat cantik, karena sisa-sisa kecantikannya masih kental ketara.


Menghormati tuan rumah Arman segera menyeruput minuman hangat yang disajikan.


Dari percakapan dengan kedua tuan rumah, banyak hal yang Arman tahu. Rupanya memang mereka sudah lama tinggal ditempat itu, bahkan rumah itu merupakan warisan dari orang tua mereka. Si lelaki tua yang bernama Pak Sukmo itu pensiunan pegawai dinas, dia sangat menyukai suasana alam yang damai, begitupun istrinya. Arman tertarik ingin menanyakan tentang si gadis remaja yang ada di photo, tapi Pak Sukmo selalu mengalihkan percakapan ke lain soal tiap ia menyinggung photo tersebut. Sedang istrinya dulu seorang penari, tapi semenja menikah dengan Pak Sukmo, ia fokus mengurus rumah tangga. Isteri yang baik rupanya.

__ADS_1


Rumah itu cukup besar, ada beberapa kamar setelah ruang tamu. Bersyukur Arman menemui tuan rumah yang demikian baik, menyambutnya dengan baik, menyuguhinya dengan makan malam, mempersilahkan ia untuk menginap, bahkan menjanjikan akan mencarikan orang yang bisa memperbaiki mobilnya besok pagi.


Selesai makan Arman mulai mengantuk, tuan rumah tanggap dengan keadaan Arman. "Malam mulai larut nak, mari kuantarkan ke kamar tidur yang telah kami persiapkan."


"Iya Pak.." jawab Arman sambil menguntit langkah Pak Sukmo, mereka melangkah menuju ruang berbentuk L dari rumah, ada dua kamar disitu, satu kamar dibukanya, "Ini nak kamarnya, semoga ananda bisa tidur lelap malam ini," ucapnya sambil tersenyum.


Arman memperhatikan kamar satunya yang tertutup, kamar yang unik, ada semacam bunga yang dirangkai menggantung didepan pintu.


"Itu kamar anak kami.." jelas Pak Sukmo.


"Oh, iya Pak, maaf, baik Pak, terimakasih, saya istirahat dulu," pamit Arman setelah ketahuan mencuri pandang. Pak Sukmo hanya mengangguk pelan, kemudian melangkah meninggalkan Arman.


Pintu ditutupnya setelah Pak Sukmo pergi. Kamar yang ditempatinya ini cukup bersih, dengan tempat tidur yang cukup lega untuk satu orang. Menurutnya rumah Pak Sukmo benar-benar antik, rumah panggung terbuat dari kayu, dengan kayu-kayu yang sepertinya kokoh. Arman melepas kemeja yang dipakainya menyisakan kaus dalam, coba ia rebahkan tubuhnya sambil menatap atap yang terbuat dari anyaman bambu. Anganannya lantas melayang, ia ingat dengan neneknya, senyum neneknya yang penuh kedamaian, nenek yang lama tak dikunjunginya karena segala kesibukkan. Itulah, terkadang segala sesuatu itu tak sampai kita laksanakan, kalau memang tak kita niatkan dan sempatkan waktunya. Masih ingat Arman, dulu waktu ia kecil, sang nenek sering pula menginap dirumahnya, sering mendongenginya tentang cerita-cerita jaman dulu, selalu berganti-ganti ceritanya, wanita yang luarbiasa.


Eh, lamunan Arman terganggu, karena tiba-tiba telinganya seperti mendengar alunan musik terdengar lirih, coba diacuhkannya, tapi kembali ia terganggu, suara musik itu seakan berasal dari tempat yang dekat, Arman duduk dari tidurnya di pinggir ranjang. Ditajamkan telinganya. Suara musik itu kembali terdengar, suara musik klasik yang terdengar lirih. Darimana pikirnya? Apakah Pak Sukmo yang memutarnya? Perasaan dari sore mereka ngobrol tak satu percakapanpun yang menunjukkan Pak Sukmo meminati musik.


Suara musik klasik itu memang pelan, tapi rasa ingin tahu Arman yang membuat ia tak bisa kembali terpejam. Setelah beberapa lama ditajamkan pendengarannya, Arman mulai yakin suara musik itu berasal dari kamar sebelah. Kamar anak Pak Sukmo. Arman tersenyum, mungkin anak Pak Sukmo sedari sore tidur, dan kini telah terbangun, kemudian memutar lagu klasik.


Dasar Arman masih berjiwa muda, sudah dilihatnya potret anak Pak Sukmo. Gadis remaja yang cantik dan manis, maka dengan iseng diraba-rabanya dinding yang membatasi dengan kamar sebelah, siapa tahu ditemukannya lubang kecil untuk mengintip. Bukannya ia tak sopan, hanya memastikan betul atau tidak suara musik itu dari kamar sebelah, tak lebih dari itu.


Agak lama mencari tak ditemuinya satu lubangpun, sampai ia tak sengaja menggeser kalender yang menggantung di dinding. Dilihatnya ada lubang sebesar jari kelingking disana. Lantas saja diambilnya tanggalan itu, dan dengan hati-hati matanya diintipkan kelubang. Apa itu!? Arman tak melihat apa-apa, ia hanya melihat warna merah. Dikucak-kucakkannya matanya, kemudian coba mengintip lagi. Hasilnya sama, ia hanya melihat warna merah. Tak habis pikir Arman kenapa ia cuma melihat warna merah?


Digantungnya lagi kalender itu, dan kembali ia duduk merenung, kenapa hanya warna merah yang dilihatnya? Suara musik klasik itu makin lama makin lirih dan akhirnya berhenti. Suasana kembali senyap. Masih diliputi tanda tanya ia merebahkan badannya, dalam rasa ingin tahunya Armanpun terlelap.


Paginya setelah mandi tuan rumah mengajak sarapan. "Mari nak Arman, sarapa sudah siap."


Mereka sarapan tanpa percakapan, sampai Pak Sukmo membuka mulut, "Bagaimana nak Arman tidurnya semalam? Lelapkah?"


Pak Sukmo tertawa senang, begitupun isterinya yang terlihat senang. "Baguslah, memang itu yang kami harapkan dari seorang tamu, bisa nyaman berada di rumah kami."


"Tapi pak, ada satu hal yang ingin saya tanyakan.."


"Silahkan nak, apakah itu?' balas Pak Sukmo sambil menyendokkan nasi kemulutnya.


"Apakah semalam Pak Sukmo memutar lagu-lagu bernuansa klasik?" tanya Arman sambil lalu.


Tak diduga, pertanyaannya membuat tuan rumah berhenti makan. Keduanya saling berpandangan dengan raut muka tegang dan gelisah yang tak bisa ditutupi.


"Maaf nak, apa yang nanda dengar?"


"Suara musik pak, musik klasik."


Kembali raut kegelisahan terpancar dari kedua tuan rumah. "Lantas.. eh, tak ada hal lain bukan?" tanya Pak Sukmo.


"Tidak Pak, hanya saya penasaran, maaf pak, suara musik itu seakan dari kamar sebelah, dari kamar putri bapak," jawab Arman.


"Be.. benarkah?" tanggap Pak Sukmo kaget.


Arman heran kenapa ekspresi kedua tuan rumah begitu kaget mendengar apa yang dialaminya. karena itu ia melanjutkan,"Benar Pak, dan terus terang saya penasaran, saya memutuskan untuk mengintip tadi malam, apakah suara itu memang berasal dari kamar puteri tuan..?"


"Ap.. apa yang nanda liat!?" tanya isteri Pak Sukmo setengah histeris.

__ADS_1


Arman terbatuk kecil, ia mengira tuan rumah marah atas kelancangannya,"Tidak Bu, saya tidak bermaksud lancang, saya hanya sekedar memastikan, lagipula setelahnya saya tidak melihat apa-apa, hanya... "


"Hanya apakah itu nanda..?" cecar Pak Sukmo dengan cemas.


"Hanya warna merah.." jawab Arman pelan.


Si Nyonya rumah langsung menjerit mendengar jawaban Arman. Menangis terguguk dan berlari ke ruang belakang. Arman benar-benar tak menduga ucapannya akan berakibat seperti itu, tak tahu ia hendak berkata apa, dipandangnya Pak Sukmo sesaat. Pak Sukmo membalas tatapannya sekilas dan tertunduk, kejap kemudian dengan muka yang lesu bangun dari duduknya, dan menyusul isterinya kebelakang.


Cukup lama Arman duduk di ruang makan, ia tak melanjutkan sarapannya, nafsu makannya hilang atas peristiwa tadi. Setelah di tunggu tuan rumah tak kunjung keluar, diputuskannya ke ruang tamu. Ah, sungguh tak disangka apa yang diceritakannya seakan merubah semua suasana kekeluargaan antara ia dengan Pak Sukmo. Ia mengomeli dirinya sendiri, mengapa ia begitu lancang mengintip semalam, dan lebih dari itu diceritakannya pula, bukankah setiap keluarga pasti punya rahasia. Dasar bodoh ia.


Setelah lama menunggu, Pak Sukmo akhirnya keluar menemuinya, isterinyapun turut. Sepertinya Pak Sukmo berhasil menenangkan isterinya yang terpukul dengan cerita Arman. Mereka kembali coba tersenyum ramah, walau bukan senyuman yang sama lagi.


Arman hendak berdiri.


"Jangan nanda, duduklah." cegah Pak Sukmo.


Arman kembali duduk.


Pak Sukmo dan isterinyapun duduk, sekilas Pak Sukmo memandang photo yang ada di belakangnya, setelah menghela nafas kemudian berucap, "Sepertinya kami harus menceritakan beberapa hal pada nanda atas kejadian yang nanda alami semalam."


Arman terdiam menunggu.


Pak Sukmo mengambil nafas panjang, seakan apa yang hendak diceritakannya sesuata yang teramat berat untuk diceritakan.


"Ketahuilah nak, photo yang ada di dinding ini merupakan photo kami sekeluarga."


Arman mengangguk, ia memang sudah menduga.


"Lelaki dewasa dan perempuan dewasa itu aku dan isteriku, sedang gadis remaja ditengah itu adalah anak kami, Sonja namanya.."


Kembali Pak Sukmo menarik nafas panjang. "Sonja anak kami semata wayang, anak yang sangat kami sayangi.. Tumbuh sebagai gadis remaja, dengan kemauan dan cita-cita yang luarbiasa.." Sesaat ia melirik kewajah isterinya yang kembali berkaca-kaca.


"Kau tahu apa cita-citanya?" tanya Pak Sukmo retoris. "Dia ingin menjadi penari.. Darah ibunya yang mengalir membuatnya berbakat untuk menari, kami sebagai orang tua tentu senang dan mendukung, bahkan untuk mewujudkan cita-citanya kami sekolahkan ia kekota, dimana sekolah tari yang ia gemari ada.."


"Memang apa tari yang ia gemari tuan..?" tanya Arman memotong.


"Ia menyukai tari balet.." jawab Pak Sukmo singkat. Kemudian ia lanjutkan, "Ia sangat gembira dan senang dengan dukungan kami, dan yakin impiannya untuk menjadi penari balet bakal terwujud.. Tapi sayang.. ia gagal meraih impiannya," Pak Sukmo kembali menghela nafas.


"Semenjak itu Sonja selalu murung, bujukan kami berdua tak membuat ia kembali ceria, makin sedikit ia makan, badannya makin, kurus, ia sakit nanda.. sakit karena impiannya tak teraih, akhirnya... akhirnya anak kami meninggal.." pilu nada cerita Pak Sukmo.


Arman termenung, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang diceritakan Pak Sukmo, sungguh cerita yang menyedihkan. Pantas kedua tuan rumah terguncang dengan ceritanya semalam tentang kamar puterinya. Ada kegelisahan merayap dalam tubuh Arman, lantas ia bertanya, "Sebenarnya apa yang menyebabkan puteri tuan gagal menjadi penari balet?"


"Ia sakit matanya.." jawab Pak Sukmo.


"Kenapakah matanya..?" tanya Arman penasaran.


"Matanya.. matanya berwarna merah..." Pak Sukmo menjawab lemah.


Deg! Jantung Arman bergetar. Mata merah? Jadi waktu semalam ia mengintip kekamar Sonja, ternyata Sonja juga sedang mengintipnya....


Sekian.

__ADS_1


__ADS_2