Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Jasa Si Penambal Ban


__ADS_3

Matahari sudah mulai bergerak ke arah barat, dalam keremangan senja Rahmat melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan yang dilalui berjejer pepohonan yang dihiasi dengan rimbunnya semak belukar.


Duduk dibelakang dengan memeluk pinggangnya Rian anak keduanya yang berumur 10 tahun.


"Rian?" panggilnya setelah disadari sedari tadi anaknya itu diam tak bersuara.


"Iya ayah?" satu jawaban terdengar.


"Mengantukkah kau?"


"Tidak ayah, masih jauhkah tempat nenek ayah?" kini anaknya yang bertanya.


"Kurang lebih setengah jam lagi kukira kita akan sampai. Kalau mengantuk bilang sama ayah, biar nanti kau duduk di depan."


"Iya ayah." jawab Rian singkat.


Rahmat kembali fokus mengendarai motornya, lampu depan sudah dinyalakan, suasana yang menggelap dan jalanan yang kurang rata membuatnya harus lebih berhati-hati.


Sebenarnya rute yang dilaluinya ini sudah sering ia lewati, tapi baru kali inilah perjalanan harus ditempuh sampai larut malam, dikarenakan tadi banyak kerjaan yang harus dibereskannya di kantor.


Rumah ibunya atau nenek si Rian kurang lebih menempuh perjalanan dua jam dari tempat ia tinggal. Kali ini ia mengunjungi orang tuanya itu memiliki dua maksud, yang pertama silaturahmi, yang kedua menghadiri acara khitanan keponakannya, anak dari saudarinya yang bungsu.


Selagi setengah melamun, dia rasakan gerak motornya terasa oleng. Rahmat merasa ada yang tak beres dengan roda depan kendarannya. Tak ingin terjadi apa-apa, segera dipelankan laju kendaraan.


"Kenapa yah?" tanya Rian saat motor yang dinaikinya bergerak pelan dan akhirnya berhenti.


Rahmat tak menjawab. Ia turun dari motor dan meraih anaknya, membantunya turun dari motor.


Kemudian diperhatikan roda depan dan ditekannya. Gembes. Astaga! Roda motornya gembes.


Rahmat geleng-gelengkan kepala, pandang matanya menyapu daerah sekitar. Jalanan makin meredup, kegelapan menghalangi jangkauan pandangnya. Tak terlihat satupun cahaya yang menunjukkan tanda satu pemukiman.


Dilihatnya putranya yang tengah menggosok-gosok hidung.


"Motor kita gembes Rian, mari kita jalan, siapa tahu ada bengkel motor di depan." ucapnya buka suara.


Si anak hanya mengangguk. Dengan perlahan Rahmatpun menuntun motornya.


Kurang lebih sepuluh menit. Di arah depan Rahmat melihat satu sosok yang tampak berdiri di pinggir jalan. Orangkah? Pikirmya.


Setelah dekat, yang terlihat olehnya memang orang. Seorang lelaki separuh baya, memiliki jenggot pendek berwarna putih.

__ADS_1


Rahmat menghentikan langkah. "Malam Pak." sapanya.


Lelaki tua itu tak membalas, matanya terlihat mengamati motor yang di bawa Rahmat.


"Bocor ban?" tanya lelaki itu.


Rahmat mengangguk.


"Mari, ikutlah." ucap lelaki tua. Dan tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkahkan kaki.


Rahmat menoleh ke arah Rian. "Naiklah ke motor Yan, biar lebih cepat." setelah anaknya naik, Rahmat membuntuti langkah si orang tua.


Tak berapa lama si lelaki tua tampak berbelok ke arah kiri, dan tak jauh dari situ Rahmat dapat melihat sebuah cahaya kuning di depan.


Di pondok kecil yang disinari cahaya redup si lelaki tua menghentikan langkah, ia seakan menunggu Rahmat dan anaknya.


Sesampai di depan pondok Rahmat menarik napas lega, karena setelah memperhatikan tempat itu, ia tahu kalau pondok tersebut merupakan sebuah bengkel.


"Kemarikan motormu, biar bapak tambal bannya." perintah si tua.


Rahmat menurut, mendorong motornya ke arah yang di maksud.


"Nah, sudah selesai, ban motor sudah saya tambal." ucap lelaki tua itu.


Rahmat bangkit, mengeluarkan dompet, mengambil beberapa lembar uang dan mengangsurkannya ke si tua.


"Apa ini?" tanya lelaki itu.


"Ongkos Pak, buat tambal ban." jawab Rahmat.


"O tidak perlu tidak perlu, simpan kembali uangnya."


"Tapi Pak, bapak sudah menolong saya, dan memang inikan sebagai imbal pekerjaan bapak." ujar Rahmat.


"Sudahlah, menolong sesama itukan sudah kewajiban, lagipula aku sudah tak bekerja sebagai penambal lagi, lanjutkan saja perjalanan ananda, semoga aman sampai tujuan."


Rahmat termangu, melihat wajah si lelaki tua yang tampak bersungguh-sungguh, akhirnya ia masukkan kembali uang ditangannya.


"Baik Pak, sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih. Tapi kalau boleh tahu, siapa nama bapak?"


"Wongso." jawab si lelaki tua.

__ADS_1


Setelah pamit Rahmatpun kembali melanjutkan perjalanan bersama putranya.


Acara khitanan keponakannya sungguh meriah, dengan hiburan wayang kulit satu malam suntuk. Putranya tampak menikmati pertunjukkan itu. Memanglah semenjak kecil seringkali diajaknya putranya menonton pertunjukkan wayang.


Satu hari dua malam sudah terhitung ia menginap dirumah ibunya. Setelah cukup melepas kerinduan dengan sang ibu, Rahmat pamit pulang.


"Buru-buru sekali Mat, harusnya kau paling tidak menginap seminggu disini." ujar sang ibu.


"Iya Bu, tapi kerjaan di kantor sudah menunggu, nantilah kapan waktu Rahmat menginap agak lama kalau ambil cuti." jawab Rahmat.


"Baiklah, berhati-hati diperjalanan nanti." pesan ibunya.


Sekitar pukul sembilan pagi Rahmat meninggalkan rumah ibunya. Sebelum pulang berulang kali peluk dan cium di daratkan si ibu pada cucunya Si Rian. "Yang rajin ya sekolahnya." pesan si nenek.


Rahmat melajukan motor melintasi rute yang sama saat ia berangkat. Ia sempatkan mampir ke sebuah warung, dibelinya berbagai kue, tujuannya ingin mampir sebentar ke bengkel Pak Wongso, sekedar menunjukkan rasa terimakasihnya.


Sesampai di bengkel Pak Wongso, kening Rahmat berkerut, karena ternyata bengkel itu terlihat tutup. Kemanakah si orang tua? Apakah dia tutup hari ini, ataukah bukanya agak lebih siang? Pikirnya.


Selagi memikir, seorang pemuda berjalan ke arahnya.


"Hendak servis Pak?" tanya si pemuda begitu dekat.


"Ah tidak, cuma ingin ketemu si pemilik bengkel." jawabnya.


"Ketemu pemilik bengkel? Sudah setengah bulan bengkel ini tutup Pak, maksud Bapak ketemu Pak Wongso?"


"Iya benar mas, saya mau ucapkan terimakasih, dua hari kemarin beliau membantu saya menambal ban motor." jelas Rahmat.


"Eh? Dua hari kemarin? Bapak yakin?" tanya si pemuda dengan kerenyitkan wajah bingung.


"Betul mas, dua hari kemarin menjelang malam Pak Wongso membantu saya."


Sembari melirik ke arah bengkel, si pemuda berucap pelan, "Tapi Pak, sudah setengah bulan kemarin Pak Wongso meninggal... "


Entah kenapa, ucapan si pemuda membuat tengkuk Rahmat kontan merinding.


Meninggal? Pantas orang tua itu sempat berucap kalau dia sudah tak bekerja menambal lagi.. Jadi yang ditemuinya waktu itu adalah roh Pak Wongso! Kembali tengkuknya merinding.


Lekas ia mengucapkan terimakasih dan pamit pada si pemuda. Dilajukan kembali motor menuju pulang. Ah Pak Wongso, walau bagaimana ia telah berjasa, semoga arwahnya tenang dan di terima di sisi-Nya.


Selesai.

__ADS_1


__ADS_2