
Cerita ini fiksi semata. Bila ada kesamaan nama dan cerita, itu hanyalah kebetulan semata.
***
KAU PANGGIL, KAMI DATANG!
Aku diam dalam selimut setelah puas membaca sebuah cerita misteri dan mematikan lampu kamar. Ceritanya sungguh menegangkan, tentang setan dan segala terornya, “Apakah setan benar-benar ada?" pikirku, "Kalau ada aku ingin melihatnya,” bisikku dalam hati. Dan kalian tahu selanjutnya? Semalaman aku tak bisa tidur. Dalam gelap kamar kulihat wajah-wajah seram menyeringai, berputar-putar bagaikan fosfor mengelilingiku.
MERATAPI KEGAGALAN
Begitu piawai tanganku menulis dibuku catatan harian, kubuat tulisan yang isinya tentang kegagalan-kegagalan yang pernah kualami, dari hal-hal yang kecil dan besar. Kuharap bisa jadi pelajaran dimasa hadapan. Kutulis tentang kegagalan sebagai pemimpin upacara bendera. Tentang kegagalan pada sebuah lomba. Tentang kegagalan meraih cinta. Tentang kegagalan menjawab pertanyaan guru masa sekolah. Tentang kegagalan memimpin paduan suara. Tentang kegagalan presentasi tugas. Tentang kegagalan melamar pekerjaan. Tentang kegagalan mempertahankan pendapat, dan beberapa kegagalan lain, hampir empat lembar tertulis tentang kegagalan-kegagalan yang pernah kualami. Tapi kalian tahu? Sebenarnya aku hanya menuliskan separuh dari kegagalan-kegagalanku, dan aku lelah kemudian tertidur semalam. Menurut kalian siapa yang menulis separuhnya?
BANTAL SEBERAT BATU
Kebiasaan aku tiduran sambil menaruh bantal, begitu juga malam itu, asyik tiduran sambil kutaruh bantal dikepalaku sambil asyik melamunkan yang bisa dilamunkan, dan saat aku hendak beranjak bangun untuk kebelakang, tak bisa kuangkat bantal dikepalaku, seperti ditindih dengan batu.
KEMANA KITA PERGI SAYANG!?
Masa remaja masa indah untuk berpacaran, begitupula aku pernah merasakannya. Satu malam saat berboncengan dengan pacarku setelah makan malam, kutanya dia ditengah perjalanan, “Mau kemana kita sekarang pergi sayang?” Pertanyaanku belum dijawabnya, saat kulihat lampu sign kanan motorku tiba-tiba berkedip kekanan tanpa kuhidupkan. Dan ada kuburan di sebelah kanan.
BERSIHKAN RANJANGMU SEBELUM TIDUR
Selesai mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam, badanku terasa lelah, kulirik jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat, luarbiasa, begitu konsentrasi aku rupanya, bahkan tak kusadari sedari sore belum jua kumandi, selarut ini tak mungkin pula mandi, kecuali mau cari penyakit. Kulepas bajuku karena terlalu panas kurasa, dan langsung kurebahkan badanku keranjang sambil mengangkat dua tangan sebagai bantalan. Baru memejam sekejap, aku langsung terlompat bangun. Siapa tadi yang menowel ketiakku?
TOOLOONGG!
__ADS_1
Kamarku adalah bagian L dari rumah kami, tiap malam rajin aku begadang sambil mendengar musik dan membaca buku. Malam inipun begitu, walau diluar hujan dan enak buat tidur, sampai larut aku masih asyik membaca dan memutar musik. Saat mata sudah lelah, akhirnya kututup buku bacaanku, kumatikan musik yang kudengar. Hujan sudah berhenti. Belum lagi merebahkan tubuhku, terdengar suara gonggongan anjing begitu keras. GUUK! GUUK! Anjing siapa? Sepertinya gonggongannya ada didalam pagar? Tooloongg...! Suara lelaki tua terdengar. Pas didepan pintu kamarku.
APA YANG KAU LIHAT!?
Kami biasa keluyuran bila malam. Begitu juga malam itu, berlima kami mencari tempat nongkrong yang enak buat ngobrol. “Disana! Kayaknya asyik tuh!” Kata satu kawanku sambil menunjuk sebuah rumah kosong, biar begitu tak ada rasa khawatir kami segera kesana, begitu sampai kami mengambil satu ruang dan mulai ngobrol sambil menghisap rokok. Ruangan itu begitu lebar, atapnya sudah runtuh, sehingga kami bisa melihat kerlip bintang nun dilangit sana. Tengah ngobrol, satu kawan kami bolak-balik pandangannya mengarah kesatu sudut gelap rumah, kemudian mulai mengumpulkan daun-daun dan ranting yang ada disekitar duduknya, menyalakannya, “Kenapa kau?” tanya satu teman kami. Dia tak menjawab. Saat ranting dan daun sudah mulai habis terbakar buru-buru ia mengajak kami untuk meninggalkan rumah kosong itu. Sesampai diluar rumah, “Jangan menengok kebelakang...” ucapnya perlahan. Aku penasaran, lantas bertanya, “Memang apa yang kau lihat?” Didekatkan mulutnya di telingaku dan berbisik, “Pocong....”
MEMBAKAR KULIT DATUK
Dirumahku ada satu lemari yang khusus untuk menyimpan berbagai peninggalan tetua-tetua terdahulu. Aku orang modern, dan aku orang yang percaya agama, hal semacam itu kuanggap bentuk kesyirikan, maka kubilang pada orang tuaku, “Sebaiknya dibakar saja semua kertas amalan, dan ajimat-ajimat itu ayah! Tak baik kita orang beragama mempercayai hal klenik semacam itu,” ujarku. Ayahku diam tak membantah, tapi tak berani juga menuruti usulku. Lantas kubongkar semua isi lemari, kubawa keluar dan kubakar segala benda-benda itu. Tapi satu benda berupa kulit kering hendak diambil ayahku, “Jangan! Kulit harimau itu jangan ikut kau bakar!” teriaknya. Tak peduli aku, kubakar semuanya. Malamnya ketika tidur, dalam sadar dan tidak kudengar suara gerengan-gerengan diatas atap rumah. Esoknya ketika bangun. Mukaku tergores-gores seperti bekas dicakar.
RUPANYA AKU JUGA
“Kenapa aku ini ya? Tiap kali tidur mimpi buruk selalu, perasaan selalu gelisah, dan selalu ketakutan?” ujar kawanku siang itu. Aku terdiam sejenak, dan menjawab, “Setahuku, gejala yang kau rasakan itu tandanya ada jin dalam tubuhmu yang mengganggu.”
“Lantas apa yang harus kulakukan?” tanyanya. “Kau mesti diruqyah, aku ada satu kenalan, nanti malam kita kesana.”
Ustadz itu memandangku, melafalkan do’a tertentu dibibirnya, menghampiriku, memegang tangan, menekannya dan meniup telingaku. “Arrghh!”
DIA SUDAH KAU BERI RUANG
Di mesjid, begitu berkumandang adzan, tubuhku bergetar, tiba-tiba ada satu gerakan terasa dipergelangan tanganku, dan kemudian aku merasa seperti ada makhluk hidup berlari-lari dibalik kulitku, begitu sibuk aku meraba-raba tubuhku. Plak! Satu tamparan memukul pundakku, seorang lelaki berdiri disampingku, gerakan itu berhenti. Dia tersenyum, mulutnya membuka, “Dia sudah kau beri ruang ditubuhmu, sewaktu-waktu ia bisa kembali...”
WAKTU PULANG
Pulang kerja hingga larut malam memang biasa kualami, begitu juga malam ini, selepas Isya’ aku baru pulang. Jalanan sudah mulai gelap kulalui dengan santai. Dari belakang satu motor melaluiku, seorang lelaki paruh baya dengan dengan pasangannya, ia menoleh, “Awas mas kainnya masuk rantai!” ucapnya. Aku nyengir, bercanda dia. Tetap kulaju motorku hingga melewati jembatan masuk ke wilayah tempat tinggalku. Selepas jembatan, “Terimakasih mas...” satu suara perempuan terdengar dari belakang. Kejut aku menoleh. Kosong. Siapa yang barusan kubonceng?
__ADS_1
APA YANG KULIHAT?
Pulang larut malam dari berkunjung kerumah rekan dengan tergesa aku berjalan, rasanya tak tahan menahan buang air kecil. Akhirnya kuputuskan untuk buang air dipinggir sebuah kebun kosong. Tengah aku buang air, dikegelapan kulihat satu titik merah, makin lama makin membesar, dan bertambah menjadi dua. Dan dua titik itu makin mendekat, dan kini tampak di depanku satu sosok tinggi besar hitam.
MIKROLET MALAM
Karena mampir tempat kawan aku dan satu temanku pulang hingga larut malam. Begitu turun dari bus antar kota di dekat terminal, suasana sudah sepi.
Kami mencoba mencari transportasi di perempatan jalan di luar terminal.
"Calon jalan kaki kita bro," ujar temanku.
"Bisa jadi," kataku singkat.
Agak lama menunggu, muncul juga sebuah mikrolet dari belokan perempatan. Aku sudah girang, tanganku melambai meminta berhenti, tapi kendaraan itu melaju melewati kami, sekilas kutengok bagian dalam penumpang, terlihat penuh.
"Pantes, dah gak muat tuh," kataku.
Temenku tak menjawab, kuperhatikan pandangannya masih mengawasi mikrolet yg makin menjauh.
"Dah penuh," kataku lagi.
Tanpa menoleh temenku berucap,"Kamu liat sopirnya tadi?"
Eh, malah sopirnya di tanyain, "Enggaklah, aku nggak perhatiin, emang kenapa sopirnya?" Ucapku balik tanya.
__ADS_1
"Nggak ada sopirnya itu...."
Sekian.