Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Cerita Horor Pendek 02


__ADS_3

Kisah fiktif, kalau ada kesamaan cerita, hanyalah kebetulan belaka.


***


SAPAAN DI KALA MALAM


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam saat Ustadz Romli pulang dari mengisi tausyiah di acara pengajian di kampungnya. Karena jarak yang tak terlalu jauh, maka cukuplah ia berjalan kaki.


Kurang dari sepuluh menit, sudah sepertiga jalan dilaluinya sebelum sampai di rumah. Kanan kiri jalanan yang ia lalu rumah-rumah sudah tampak sepi, kiranya para penghuninya sudah siap-siap di peraduan masing-masing.


"Baru pulang Pak.." Satu suara menyapa dari kiri jalan. Ustadz Romli menoleh. Oh, rupanya Bu Wakjiah, perempuan yang berumur sekitar setengah abad itu berdiri sambil memegang sapu ijuk di balik pagar rumahnya, tersenyum, rambutnya yang beruban rapi di gelung.


Ustadz Romli berhenti sejenak, ia balas senyuman Bu Wakjiah, "Iya Bu, baru pulang pengajian."


Perempuan tua itu mengangguk-angguk. 


"Mari Bu." Selesai berucap, tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya, Ustadz Romli melanjutkan langkah. Belum sepuluh meter kakinya melangkah, ia berhenti terhenyak, kuduknya tiba-tiba meremang. Ia baru ingat, bukankah Bu Wakjiah barusan meninggal tiga hari yang lalu? Di tolehkan kepala kebelakang dengan perlahan, pandang matanya was-was mengawasi rumah dimana ia tadi disapa oleh si perempuan tua. Sepi. Tak ada sesiapa di balik pagar rumah itu. Ustadz Romli menelan ludah. Lantas, siapa yang barusan menyapanya tadi??


ISTERI KEDUA


Sore itu aku lagi sibuk di ruang tamu, mengerjakan tugas kantor dengan laptop. Besok hari senin harus sudah siap untuk kepentingan kerjaan, maka dari itu hampir seharian ini aku berkutat di depan layar.


Dari arah luar masuk isteriku, kupandang sekilas, sendirian tanpa dua anakku. Setahuku selepas Ashar tadi mereka pergi main ke rumah tetangga. Ia langsung masuk ke ruang dalam tanpa menyapa. Ah, baru ku ingat rencana untuk berkunjung ke rumah kawan nanti malam, maka mulutku membuka, "Gimana Bun? Jadi nanti malam kita keluar?" Tak kudengar jawaban.


"Kerjaan ayah hampir selesai ini, masih bisa kita kalau mau keluar, lagian seharian ini kita belum kemana-mana," kataku lagi.


Tetap tak kudengar responnya. Ah, jangan-jangan dia lagi ngambek, memang begitu tabiat isteriku, kalau lagi ngambek, pasti tak mau bicara apa-apa. Apa pula yang bikin dia ngambek kali ini? Perasaan seharian aku tak ngapa-ngapain selain serius di depan laptop. Atau karena itu ia ngambek?


Baiklah, aku akan minta maaf. Mulutku membuka lagi hendak bersuara, tapi sebelum sempat membuka mulut dari luar masuk seorang perempuan menggendong anak lelaki, dan diikuti seorang gadis cilik dibelakang.

__ADS_1


"Tuhkan, ayah belum kelar juga, nggak jadi deh kita jalan-jalan," kata si perempuan.


"Uh ayah, katanya mo jalan-jalan," kini si gadis cilik yang bersuara.


"Alan-alan, alan-alan..." Celoteh si kecil di gendongan.


Aku terperangah melihat mereka bertiga. Isteriku dan anak-anakku? Lantas siapa yang tadi masuk kedalam dan sempat pula ku ajak bercakap-cakap? Tengkukku kontan meremang


IGAUAN DI TENGAH MALAM


Malam itu pukul sembilan acara seminar hari kedua sesi ke lima berakhir, aku dan kawanku satu daerah yang belum merasa mengantuk keluar dari tempat seminar sekaligus tempat kami menginap.


Sinar rembulan biar mengintip di balik mega masih mampu menerangi gelapnya malam, apalagi memanglah daerah ini termasuk wilayah kota besar, dimana kanan kiri jalan terpancang lampu-lampu penerangan.


Kami menuju sebuah warung kopi tak jauh dari tempat seminar dilaksanakan. Sebuah warung kecil yang ada di pinggir jalan. Ramai di warung itu, kami mengenali mereka-mereka adalah para peserta seminar seperti kami, setelah memesan kopi, bingunglah hendak duduk dimana karena bangku warung telah penuh.


"Dibelakang ada bangku Pak," kata pemilik warung yang melihat kami kebingungan. Akupun mengajak rekanku kebelakang. Agak kejut awalnya mengetahui apa yang ada dibelakang warung. Hamparan pekuburan luas terpampang, cahaya rembulan yang temaram menerangi area tersebut.


"Tak apalah," jawabnya.


Kamipun mengambil duduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu.


Mungkin dimikianlah di daerah perkotaan, karena makin padatnya penduduk, sampai-sampai tempat pemakamanpun berada di antara pemukiman penduduk.


Akupun asyik ngobrol dengan rekanku, tentang topik seminar, pekerjaan, sampai hobby, bahkan tak luput kelakarpun kami kadang lontarkan, lupalah kami dimana sebenarnya tempat kami bercakap.


Waktu tak terasa berlalu, malam semakin larut, para pembeli warung sudah sedari tadi beranjak kembali kepenginapan.


"Pukul berapa Sya?" Tanyaku.

__ADS_1


"Setengah dua Pak" jawabnya setelah mengecek waktu di hapenya.


"Sudah begitu larut rupanya, baiklah kita kembali untuk istirahat." Rekanku mengangguk. Setelah membayar minuman, kami kembali ke penginapan.


Dalam perjalanan beberapa kali Ahsya kawanku itu memegangi bahunya. "Kenapa Sya?" Tanyaku.


"Entahlah Pak, bahuku jadi terasa berat ini, pegal sekali," jawabnya.


"Mungkin kecapekan," ujarku.


Sampai dipenginapan lampu kamar sudah mati. Para peserta seminar di kamar itu sudah pada tidur rupanya. Memanglah akomodasi yang disiapkan bagi peserta adalah kamar-kamar besar yang mampu menampung lebih dari sepuluh orang didalamnya. Dan masing-masing sudah disiapkan kasur walau diatas lantai.


Karena sudah mengantuk, akupun segera tidur.


Sepertinya belum lama terpejam saat aku melihat suasana gelap menyelimutiku. Pandang mataku tajam melihat sosok-sosok yang bergerak-gerak menuju arahku. Apa itu?


Sosok-sosok hitam itu makin mendekat kearahku, bergidik takut menyelimuti. Ketakutan membuat mulutku berteriak, "Tolong.. tolong... tolong!"


Suara ribut-ribut terdengar. "Apa itu!?" "Siapa itu!?" "Nglindur" "Bangunin!"


"Pak.. Pak! Bangun!" Satu goyangan keras terasa. Aku membuka mata. Ruangan terang. Kawanku tampak berjongkok di dekatku.


Aku bangkit, "Astaghfirullah.. " ucapku sembari memegang kepalaku yang terasa pening.


"Mimpi Pak?" Tanya Ahsya.


Aku mengangguk, beberapa kawan satu kamar yang terbangun karena teriakan dalam igauku menggeleng, dan kembali tidur.


Aku tertegun, kenapa aku mimpi buruk begitu? Karena terlalu lelah, ataukah karena semalam kami terlalu lama berada di tempat yang tak seharusnya, sehingga mengganggu ketenangan para penghuninya?

__ADS_1


Sekian.


__ADS_2