Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Misteri Kematian Tak Wajar


__ADS_3

Berita duka menyelimuti keluarga Pakde Win, putranya yang sulung meninggal dunia. Mati karena bunuh diri katanya.


Peristiwanya terjadi beberapa hari yang lalu, penuturan dari mantan kekasihnya, putra Pakde Win yang bernama Ilham berkunjung kerumahnya. Niatnya ingin merajut kembali hubungan yang telah terputus.


Ningrum yang merupakan mantan kekasih Ilham mulanya menerima baik kedatangannya. Tapi saat tahu tujuan Ilham ingin kembali padanya, ia menolak, karena sudah tak ada perasaan suka lagi pada pemuda itu.


Ilham memaksa, dan meminta mantannya itu untuk berbaikan. Nah, selanjutnya Ningrum mengatakan kalau mantannya itu mengancam akan bunuh diri bila keinginannya di tolak. Semula Ningrum tak percaya, bahkan sempat masuk kamar menghindari lelaki itu. Namun terkejut ia, ketika kembali keluar kamar dan mengira Ilham sudah pulang, ternyata lelaki itu masih di ruang tamu. Yang lebih mengerikan, mulutnya sudah berbusa, dan di tangan kirinya menggenggam kain berwarna putih.


Segera ia dan keluarga memanggilkan becak, membawa Ilham ke klinik. Takdir berkata lain, nyawa Ilham tak tertolong. Sungguh kejadian tragis, menurut Ningrum mantan kekasihnya itu memang sudah berencana mengakhiri hidupnya, bahkan menduga kain putih yang digenggamnya adalah kain kafan yang telah disiapkan Ilham.


Aku bangkit dari duduk setelah memikirkan ulang kejadian yang menimpa keluarga Pakde Win. Kulihat Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan malam, kakiku melangkah menuju kamar, ada satu pekerjaan kantor yang ingin ku selesaikan.


Tok! Tok!


Terdengar suara pintu di ketuk.


"Bimo, ini Pakde.." satu suara yg kukenal terdengar. Aku berbalik dan menuju pintu depan.


Diluar memang sesuai dugaanku, Pakde Win. Lelaki berusia 56 tahun itu tampak masih memendam kesedihan.


"Oh Pakde, mari silahkan masuk..." ucapku.


Pakde Win menggeleng, "Tak usah Bimo, kedatanganku kemari karena ingin mengajakmu menemaniku ke satu tempat..." balasnya.


Dahiku mengerut, "Kemana Pakde?"


"Kerumah kenalanku, kau bersedia bukan?"


"Baik, tentu saya mau Pakde, kalau gitu biar aku salin dulu dan menyiapkan kendaraan.." kataku.


Kembali aku masuk kamar, sedang Pakde Win menunggu di serambi depan. Ku kenakan sebuah celana panjang, kuambil kontak motor di meja. Setelahnya kutemui dulu orang tuaku untuk pamit.


"Mari Pakde," ajakku yang sudah siap dengan sepeda motor yang baru kukeluarkan.


Kami berboncengan, aku kendarai motorku dengan pelan. "Kita hendak kemana Pakde?"


"Terus aja, nanti kuberitahu arahnya, aku hendak ke tempat Ki Ranu.." jawab Pakde Win.


"Siapa Ki Ranu Pakde?"


"Ia kenalanku, termasuk orang pintar.."


Ditengah perjalanan Pakde Win menuturkan ihwal niatnya ke tempat Ki Ranu yang disebutnya sebagai orang pintar. Ia merasa curiga dengan kematian anaknya yang tak normal. Ilham selama ini dikenalnya sebagai orang yang taat beribadah, kenapa tiba-tiba bunuh diri? Sungguh peristiwa itu membuatnya tak percaya, apalagi di bilang sudah menyiapkan kafan sebelum kematiannya, sedang Pakde Win tahu betul, kain putih yg dipegang Ilham itu merupakan syal yg biasa dia bawa kemana-mana, biasa digunakan sebagai alas kepala kalau pas sholat.


Tak terasa kami sampai dirumah yang di tuju. Rumah Ki Ranu tampak gelap dibagian depan, begitu turun dari motor aku merasakan satu perasaan aneh, seperti rasa gentar yang melanda. Namun coba kutepis, dan melangkah mengikuti Pakde Win yang berjalan menuju rumah.


Di bagian dalam rumah masih tampak cahaya, menandakan sang penghuni masih terjaga. Pakde Win mengetuk pintu dan memberi salam, tak lama pintu terbuka. Dari dalam terlihat seorang lelaki tua, mukanya klimis tanpa kumis maupun jenggot, pakaiannya serba gelap, pandang matanya tajam.


Dia tersenyum saat melihat Pakde Win. "Rupanya kamu Win.. Mari silahkan masuk..." ujar lelaki tua itu.


Kami masuk, tak ada satu kursipun di ruang tamu. Seperti sudah terbiasa Pakde Win segera duduk di lantai yang dilambari karpet. Sedang tuan rumah berjalan kedalam.

__ADS_1


Aku ikut duduk disamping Pakde. Ruang tamu Ki Ranu begitu artistik, beberapa pajangan dinding dipenuhi beberapa benda kuno semacam keris dan lukisan. Semua itu menambah kencang getaran aneh yang sejak tadi kurasakan.


Ki Ranu memunculkan diri tak lama kemudian, dia duduk didepan kami. Matanya mengawasiku berulang, "Apa yang mas rasakan?" Tanyanya tiba-tiba.


Aku agak kaget dengan pertanyaannya yang tak terduga, mulutku terbuka, "Saya Ki.. saya merasa semacam getaran Ki..."


Dia mengangguk, "Tak mengapa, yang kau rasa itu karena kehadiran si Maung, dia baru kali ini melihatmu, kulihat dari tadi mondar mandir mengendus tubuhmu.."


"Maung...?" Ucapku tak mengerti.


Pakde Win mendekatkan mulutnya ketelingaku, "Maung harimau putih peliharaan Ki Ranu untuk menjaga rumah ini.. Makhluk gaib..."


Dadaku berdesir setelah mendapat penjelasan dari Pakde.


Ki Ranu mengalihkan pandangnya pada Pakde Win, "Kurang lebih tiga tahun kamu tak berkunjung Win, aku maklum karena kesibukanmu, dari awal tadi kulihat ada rona gelap di wajahmu, ada persoalan apa? Ceritakanlah..."


Baru Pakde membuka mulut, dari dalam keluar seorang pemuda berkulit gelap. Ditangannya membawa nampan berisi minuman, dengan terampil ia menaruh gelas-gelas berisi kopi di depan kami, kemudian kembali masuk kedalam.


"Silahkan.." ucap Ki Ranu menawari.


Menghormati tuan rumah Pakde Win menyeruput kopinya, begitupun aku. Setelah beberapa kali menyeruput kopinya, Pakde Win berucap, "Sebelumnya aku minta maaf telah mengganggu istirahatmu Ki, pertama-tama kedatanganku tentu untuk silaturrahmi, yang kedua ada satu perihal yang ingin kusampaikan padamu... yakni berkaitan dengan peristiwa meninggalnya anakku..."


Pakde Win lalu menceritakan tentang kematian anakknya, dan dibagian akhir dia ungkapkan kecurigaan-kecurigaan atas kejadian yang menimpa putranya itu. ".... demikanlah Ki, jadi maksudku, aku ingin minta tolong padamu membuka tabir kematian anakku yg sesungguhnya.... dapatkah kau Ki...?" pintanya.


Mendengar penuturan Pakde Win, mata Ki Ranu menerawang ke depan sejenak, "Mengungkap peristiwa yang sebenarnya tentu yang tahu hanya anakmu sendiri Win, sedangkan memanggil roh yang sudah meninggal tentu tak mungkin, karena ia sudah berpindah alam... hanya satu yg bisa kulakukan, yakni memanggil khodam anakmu..."


"Khodam..?" Ulang Pakde penuh tanya.


"Kalau memang itu satu-satunya cara, aku menurut Ki..."


Ki Ranu mengeluarkan sebuah kertas putih dan sebuah pulpen dari saku bajunya, dimintanya Pakde Win menulis nama anaknya lengkap, beserta hari kelahirannya, setelahnya ia kantungi kembali kertas itu, dan bangkit kembali masuk kedalam. Beberapa lama Ki Ranu keluar, bersama dengan pemuda berkulit hitam yang tadi menyuguhkan minuman, ditangan pemuda itu ada segelas air putih.


Kembali Ki Ranu duduk, pemuda itupun duduk dan menaruh gelas yang dipegangnya.


"Ini Prapto, dia pembantuku, dialah yang akan jadi perantara kehadiran khodam anakmu... apapun yang terjadi, semua kuharap tenang... semua dalam kendaliku.." selesai berucap, tangannya meraih gelas berisi air putih, didekatkan pada mulutnya, bibirnya komat kamit, ditiupnya permukaan air, lalu tangan kirinya menggenggam tangan Prapto, di dekatkan gelas ke mulut pemuda itu, seperti sudah terbiasa, si pemuda langsung meneguk air yg disodorkan pada bibirnya.


Sekejap tubuh Prapto tampak kaku mengejang, menggeletar, pandang matanya tampak berbeda, terlihat sedikit buas, Ki Ranu mengusap wajah Prapto, pandang mata itu meredup.


"Kaukah yg hadir ini Ilham!?" Tanya Ki Ranu tiba-tiba. Terdengar dengusan dari hidung Prapto. Ki Ranu menekan tangan pembantunya, membuat pemuda itu mengeluarkan suara seperti tercekik. "Iy iyya... ini saya..."


Satu suara agak parau keluar dari mulut si perantara, biar begitu suara tersebut memang sangat mirip dengan suara sepupuku si Ilham.


"Kau tahu kenapa dipanggil kemari!?"


"Tidd.. daak..."


"Ceritakan dengan jujur tentang penyebab kematianmu.."


Terdengar suara gerengan. "Baa... ikk.."


"Benar kau mati keracunan!?"

__ADS_1


"Bee.. narr..."


"Kau meracun dirimu sendiri!?"


"Tidd... akk..."


"Apakah kau di racun!?"


"Benn... arrr..."


"Siapa yg meracunimu...!?"


Suara dengus marah keluar dari hidung mediator, "Ddii.. aa..."


"Dia siapa!?" Ki Ranu mencecar


"Peremm.. puannn.. ituuu.."


"Maksudmu mantan kekasihmu!?"


"Benn.. narr..."


"Bagaimana dia meracunimu?"


"Minn.. numm... man..."


"Kenapa dia meracunimu..?"


Geletar di tubuh mediator kembali terjadi kini semakin kuat. Terdengar suara gerengan membesar, "Heeerrrr.... jaa... haat... herr.. peremmm...pu... ann... jaa... haaat..."


Ki Ranu komat kamit, ia gerak-gerakkan tangannya, dan mengusap wajah si perantara, kontan tubuh pemuda itu lemas, Ki Ranu merebahkan tubuhnya di lantai dengan pelan, diambilnya gelas yang masih bersisa air putih tadi dan diminumkannya.


Tak berapa lama si Prapto sang mediator pulih, ia kembali duduk, Ki Ranu memberi satu tanda, si pemuda segera bangkit dan masuk kembali kedalam.


Ki Ranu menghadap kembali pada kami, "Itulah hasilnya, terpaksa kuhentikan, auranya semakin kuat, kalau kuteruskan akan mengganggu kesehatan pembantuku.."


Pakde Win tercenung, tentu ia terguncang setelah mendengar semua dari mulut si perantara yang telah dirasuki, sedang aku sendiri merasa degup tak keruan di dada setelah melihat dan mendengar semuanya barusan.


"Win..!?" Ki Ranu menegur Pakde, setelah beberapa lama ditunggu tak terdengar balasan dari mulutnya.


Pakde geragapan, wajahnya tampak pilu, jelas ia terkenang nasib putranya yang berakhir mengenaskan.


"Oh Ki... aku rasanya tak kuat... apa yang harus kulakukan seandainya demikian kejadiannya..."


"Semua yang terjadi karena kehendak yang Kuasa, aku hanya menuruti pintamu.. saranku, ikhlaskan kepergian anakmu.. tak usah berniat untuk membalas, seandainya kau inginkan tentu aku dapat membantu, tapi ingat, kalau kau balas, berarti kau sama buruknya dengan pelaku, biarlah yang di Atas yang akan menghukum kelak..." ujar Ki Ranu menasehati.


Pakde Win terguguk, kepalanya mengangguk. Untunglah Pakde menuruti nasehat Ki Ranu, ia mengikhlaskan semua yang telah terjadi, dan hanya berharap putranya akan diterima disisi-Nya.


Kamipun pamit, aku dan Pakde Win pulang menembus pekatnya malam.


S e k i a n

__ADS_1


__ADS_2