Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Patung Hitam


__ADS_3

He he he he he he he..!


Kontan langkahku terhenti. Suara ketawa siapa itu!? Seperti suara tawa orang tua?


He he he he he he he..!


Kembali suara tawa itu terdengar. Kepalaku menoleh ke arah rerimbun semak di kebun kosong sebelah kananku, sepertinya dari sana suara tawa itu barusan.


Kuperhatikan semak-semak itu tampak bergerak-gerak. Apa itu!? Jantungku terasa berhenti saat satu sosok bayangan hitam tiba-tiba melompat keluar dan berlari.


Kaing! Kaing!


Anjing!? Rupanya yang melompat dari rerimbun semak seekor anjing. Hewan itu langsung berlari menjauh.


Aku masih terdiam ditempatku. Anjing tertawa!? Baru kali ini aku mendengar anjing mengekeh semacam itu. Benarkah yang kulihat barusan betul-betul anjing sungguhan?


Masih teringat olehku cerita si Lutfi kemarin siang, kalau ia dua hari kemarin melihat seekor anjing hitam besar saat pulang malam. "Betul kataku! anjing yang kulihat itu amat besar, berbulu hitam, tak lumrahnya anjing biasa, aku yakin itu anjing jadi-jadian!" cerita Lutfi dengan menggebu.


Apakah anjing itu yang kemarin di lihat Lutfi? Pandang mataku kembali memperhatikan rerimbun semak dari mana si anjing hitam tadi keluar, tanpa terasa tengkukku meremang.


Setelah menunggu beberapa saat, tak ada apa-apa lagi yang keluar dari semak-semak tersebut, suasana kembali lengang. Aku menarik nafas panjang, dan melanjutkan langkahku.


Ku coba hilangkan pikiran-pikiran seram dari benakku, bisa jadi memang anjing biasalah mengeluarkan bunyi seperti tawa tadi, akunya saja yang kurang pengetahuan.


Rumahku tak jauh lagi, tinggal tiga rumah dari jalan yang kulalui. Sedari selepas Isya' tadi aku memang main ke tempat kawan, dan hampir tengah malam baru teringat pulang, maklumlah malam minggu, jadi merasa terbebas dari tanggungan untuk bersiap sekolah esoknya.


Tinggal satu rumah lagi sebelum sampai dirumahku, tapi suara tangisan keras sudah kudengar. Aku hapal betul, itu suara tangis adikku yang baru berusia empat tahun.


Sudah beberapa hari ini memang adik selalu rewel kalau malam, entah apa sebabnya, mungkin karena pengaruh cuaca, sehingga membuat adikku kegerahan dan sering rewel bila malam.


Begitu sampai rumah aku masuk lewat samping, pintunya tidak di kunci, orang tuaku memang tahu kebiasaanku ngeluyur sampai malam kalau malam minggu begini, karena itu malas mereka mengunci pintu.

__ADS_1


Di dalam ayah belum tidur, ia duduk di depan TV. Melihat aku pulang, ia menegur, "Malam betul kau pulang Yok?"


"Maaf yah, keasyikan ngobrol tadi," jawabku.


Ayah mengangguk pelan.


"Adik rewel lagi yah?" ganti aku bertanya.


"Iya, tapi sudah agak tenang sekarang, itu lagi di gendong sama ibumu di ruang depan," jawabnya.


Aku lantas menuju ruang depan, kulihat ibu yang tengah sibuk menggendong adik, mulutku hendak berucap, tapi kubatalkan saat kulihat ibu memberi tanda dengan menaruh telunjuk di bibirnya.


Akupun kemudian kembali kebelakang untuk membasuh muka dan kaki sebelum tidur.


***


Ayahku seorang kolektor barang antik. Di lemari kamar tidurnya berbagai macam benda kuno tersimpan, semisal keris, mata panah, ujung tombak dan lain-lain. Sering diam-diam aku mencuri-curi untuk membuka lemari mengagumi benda-benda tersebut.


Sebenarnya sering ayah berkisah tentang asal muasal benda-benda yang ia kumpulkan di lemari, namun aku tak pandai mengingatnya dengan cermat, cuma secara samar yang kutangkap yakni berkaitan dengan peninggalan raja-raja atau tokoh jaman dulu, semacam itulah.


Yang jelas kuingat, ayahku bilang, kalau ia menyimpan benda-benda tersebut sebagai pengingat sejarah masa lampau, tak lebih dari itu, bukan untuk di keramatkan ataupun di sembah-sembah.


Puas mengagumi koleksi ayah, aku kembali menutup pintu lemari. Perutku sudah keroncongan minta di isi, dengan langkah pasti segera aku ke ruang makan. Di sana ibu terlihat lagi duduk menyuapi adik.


Iseng kutowel pipi adikku, yang langsung dipukulnya tanganku.


"Ayah pergi kemana Bu?" tanyaku sambil mengambil piring.


"Tempat kawannya, ada perlu berkaitan pekerjaan," jawab ibu.


Aku tak bertanya lebih lanjut karena perut yang sudah minta di isi, kuambil nasi dan lauk, selepas itu asyik menyantapnya.

__ADS_1


Malamnya, adikku kembali menangis hebat, kali ini sudah di gendong sana sini oleh ayah dan ibu bergantian tetap saja menangis, memang mengherankan kalau dipikir, kenapa beberapa hari ini adikku kerap menangis kalau malam, dan tangisnya selalu lama baru berhenti. Padahal dulu-dulu tak pernah adik sebegitu rewelnya. Kali ini kami bisa dibilang harus melek sepanjang malam, karena menjelang subuh baru adikku tenang.


Esoknya sepulang sekolah dengan badan yang letih karena semalam kurang tidur, aku duduk di ruang depan, kubuka buku-buku pelajaran, maksudku hendak kukerjakan PR terlebih dahulu sebelum tidur siang.


Ibu di ruang tengah sedang sibuk mengajak main adik. Terdengar suara tawa menggemaskan adik. Kalau siang begini adik tidaklah rewel, sangat girang ia bila di ajak bermain.


Kurang lebih pukul lima sore ayah pulang dari kerja, tumben ia pulang sesore ini. Aku sendiri baru selesai mandi dan tengah asyik bermain dengan adik.


"Sore amat pulangnya yah, banyak pekerjaan rupanya?" tanya ibu


Ayah tersenyum, ditaruhnya tas kerjanya dan berucap., "Aku tadi mampir ke tempat rekanku Bu, dan sudah ku kembalikan patung itu," ucapnya.


Ibuku mengangguk, "Oh begitu, iya yah, semoga saja itulah penyebab si kecil rewel selama ini."


Ayah menghampiri adik dan menggendongnya, "Haa, gimana ni jagoan kecil ayah? Gak boleh mewek lagi ya?"


Aku bengong memandangi ayah, bukan karena ia yang kini tengah mengangkat tinggi-tinggi tubuh adikku, tapi karena ucapannya barusan. Patung apa yang di bicarakannya dengan ibu? Spontan mulutku bertanya, "Patung apa yah?"


Ayah menoleh ke arahku sembari menurunkan tubuh adik kembali, "Lha itu patung yang di lemari ayah," jawabnya.


Patung di lemari? Kemarin aku lihat di lemari nggak ada semacam bentuk patung?


"Memang ada patung apa yah di lemari?" tanyaku penasaran.


"Itu, patung arca kecil dari batu hitam, beberapa hari lalu ayah taruh di lemari buat tambah koleksi, tapi karena adikmu rewel, akhirnya ayah kembalikan ke pemiliknya," jelas ayahku.


Alisku mengerut. Kenapa aku tak melihatnya selama ini?


"Sudah ah, ayah mau mandi dulu ya dedek, dah bau acem nih," ujar ayah sambil membelai rambut dan mencium pipi adik. Kemudian ayah pergi mengambil handuk untuk mandi.


Memang semenjak ayah mengatakan telah mengembalikan patung hitam, adikku tak pernah rewel lagi bila malam, tapi sungguh suatu misteri bagiku, karena hampir tiap hari ku tengok lemari koleksi benda-benda kuno milik ayah, kenapa sampai tak kulihat patung hitam yang dimaksud ayah? Kemana si patung waktu aku buka lemari!?

__ADS_1


Sekian.


__ADS_2