Kisah Kisah Misteri

Kisah Kisah Misteri
Di Bedakin 2


__ADS_3

(Bukan Buat yang Penakut)


Huntoro bangun dari tidurnya, kamarnya gelap, lampu kamar rupanya belum ia hidupkan sore tadi. Jam berapa ini? Pikirnya. Ah, pasti menjelang tengah malam. Matanya yang telah terbiasa sejenak memandangi sekeliling kamar, semua tampak rapi. Kemudian Huntoro bangkit dari kasurnya. Dia harus bertugas. Di ambilnya jaket yang tergantung dibalik pintu, dikenakannya. Tanpa menimbulkan suara Huntoro perlahan keluar dari kamar. Di ruang tengah ibunya terlelap didepan televisi, ingin ia pamit, tapi diurungkannya.


Beberapa hari ini raut wajah ibunya selalu kusut, ada semacam beban yang sepertinya dirasakan, entah apa. Mungkin salah satunya karena dia. Yah, bagaimanapun Huntoro adalah anak bungsu, anak yang tentu mendapat perhatian khusus oleh ibunya, dan di usia masuk kepala tiga, mata pencaharian Huntoro belumlah dapat diandallkan, sebagai penjaga sekolah memang pendapatannya bisa dikata pas-pasan.


Malam ini diingatnya betul malam jum'at, Huntoro tahu, sebagian orang menganggap malam jum'at malam yang keramat. Tapi baginya malam jum'at sama saja seperti malam-malam lain, tak ada rasa takut dirasakannya, apalagi setelah kejadian yang dialaminya beberapa waktu yang lalu.


Sinar rembulan tampak mengintip dibalik awan, tanpa berbekal senter Huntoro mulai berkeliling di area sekolah. Matanya kini telah tajam melihat dalam suasana gelap. Pandang matanya awas memandang kesana-kemari, melihat kalau-kalau ada hal yang mencurigakan. Sebagai penjaga sekolah sudah tugasnya menjagai sekolah, menghindari dari kemungkinan orang-orang jahat yang berniat menyatroni, mungkin mencuri sesuatu di lingkungan sekolah.


Kuuk! Kuuk!

__ADS_1


Terkejut Huntoro mendengar suara tiba-tiba, badannya spontan berbalik keasal suara. Sesosok hitam mengepakkan sayap dan terbang menjauh seakan tahu keberadaan Huntoro. Ah, burung hantu. Rupanya si burung lebih terkejut ketimbang dia, tak sadar bibir Huntoro tersenyum.


Batang pohon dimana sebelumnya burung itu mendekam dipandanginya agak lama, ia tahu sisa pohon apa itu. Pohon Kemboja. Pohon kemboja besar dihalaman sekolah. Dulu Huntoro selalu merinding tiap kali keliling dan berada di dekat-dekat pohon itu, dan maunya pohon itu ditebang saja. Tapi heran, ketika beberapa waktu lalu pihak sekolah memutuskan untuk menebang pohon dengan alasan bermacam-macam bahkan mengaitkan dengan hal-hal berbau mistik dan klenik, hati Huntoro bergetar seakan tak rela, dan kini setelah pohon itu telah di tebang, ada semacam kehilangan dirasakannya.


Awan menutupi rembulan, malam semakin larut, suasana makin dingin. Tak mau berlarut terbawa lamunan, Huntoro kembali melanjutkan tugasnya, kembali ia langkahkan kaki mengelilingi sekitar sekolah, tiap ruang diperiksanya dengan teliti, demikianlah Huntoro, yang berprinsip bertanggung jawab pada tugasnya.


Selesai memeriksa kondisi sekolah dan setelah dirasakannya aman tak ada hal mencurigakan di temuinya. Huntoro kini melangkah kearah belakang, kedapur sekolah. Tempat yang merupakan tujuan akhir Huntoro tiap kali selesai berkeliling. Seperti biasa, sebelum pulang Huntoro ingin duduk santai sambil minum kopi di dapur, mungkin sambil merenungi hidupnya yang belum menemukan titik perubahan.


Sambil melangkahkan kaki angan Huntoro kembali melayang, heran ia, selama kurang lebih satu minggu ini ia merasa tak di anggap oleh orang-orang yang berada di sekolah, baik guru, pegawai tata usaha, bahkan tukang kebun, mereka semua seolah-olah sepakat bersikap sama padanya, mengacuhkan. Bagaimana tidak ia beranggapan seperti itu, tiap kali ia sapa, atau coba beramah tamah, orang-orang tersebut seringkali tak memandangnya, sekalipun memandang, seperti tak menganggap keberadaannya. Apakah salahnya? Perasaan ia selalu menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Ataukah karena permasalahan internal sekolah? Memang harus di akui, beberapa hari ini suasana sekolah tidaklah begitu baik, bahkan ia sendiri yang melihat, beberapa siswa mengalami penyakit aneh, berteriak-teriak melihat hantu, dan yang ia dengar kondisi seperti itu dikarenakan si anak mengalami kesurupan. Entahlah, ia tak terlalu percaya dengan hal-hal semacam itu.


Selagi dia sibuk membuat kopi, dirasakan hawa dingin berhembus di punggungnya, dan kemudian dirasakan ada sesuatu menjatuhi kepala dan bahunya. Huntoro mengibaskan rambutnya, serbuk-serbuk halus bertaburan dari rambutnya. Keningnya mengerut, disentuhnya serbuk dibahunya, serbuk berwarna putih, coba diciumnya, baunya harum. Harum khas bedak bayi. Huntoro membalikkan badannya, ia sudah tahu asal taburan bedak tersebu, kepalanya mendongak keatas, kearah sumber taburan serbuk itu.

__ADS_1


Di samping dapur ada toren air, pandang mata Huntoro merayap keatas toren, ada sesosok berwarna putih bergoyang-goyang di dudukan toren itu, sesosok tubuh berambut panjang terurai tertiup angin, tangannya melambai-lambai menebarkan sesuatu berupa serbuk berwana putih. Pandang Huntoro menatap kaku ke wajah makhluk itu, wajah yang pucat, matanya yang hitam memandang Huntoro dengan lekat, tampak seraut senyum mengejek di bibirnya.


Huntoro terperangah sesaat, tapi hanyalah sesaat, kejap lain mulutnya membuka.


"Kunti! Kau..!" gertak Huntoro, ia geram, tangannya mengepal, tubuhnya bergerak menuju kearah tower. Ia melompat bagai melayang, ataukah ia memang melayang, memburu sosok perempuan berbaju serba putih itu.


Tahu diburu, terdengar suara cekikikan dari mulut si makhluk, "Maaf.. maafkan aku Huntoro..." suara lirih terdengar dari mulut si makhluk, kemudian dengan ringan seperti tertiup angin tubuhnya meninggalkan toren air, terus menghilang di kegelapan, menyisakan suara ketawa cekikikan yang samar.


Kini Huntoro berdiri diatas tower, tangannya tetap mengepal, ia sangat gusar dengan ulah si makhluk yang ia tahu bernama Kunti itu. Arah pandangnya tertuju ke lenyapnya si makhluk bergaun putih. Tak tahu berbuat apa Huntoro kemudian terduduk lemas. Rembulan kembali tampak dibalik mega, dinginnya udara malam tak lagi dirasa, pikiran Huntoro kembali ke masa beberapa hari lalu.


Dia ingat, kejadiannya hampir sama seperti malam ini, dia yang telah selesai memeriksa keadaan sekitar sekolah memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menyeruput kopi. Selagi dia sibuk menyeduh kopi, Kunti menaburinya dengan serbuk putih seperti barusan, memang ulah Kunti tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena ia sekedar iseng. Tapi waktu itu berbeda dengan sekarang, itulah karena perjumpaan pertama dengan si Kunti, Huntoro begitu ketakutan, apalagi melihat penampakan Kunti yang begitu menakutkan.

__ADS_1


Dengan refleks spontan Huntoro lari, lari lintang pukang saking takutnya. Sayang, ia tak lagi memperhatikan arah mana ia lari. Bukannya lari pulang, ia malah lari ke arah kebun dibelakang sekolah. Lari serabutan menubras-nubras. Dan yang tak diingatnya pula, kebun dibelakang sekolah dipenuhi semak-semak karena jarang dibersihkan. Huntoro terus lari, sampai kemudian ia terjungkal, tersandung pinggir sebuah sumur tua yang terlupakan, sumur kering yang sudah lama tak digunakan. Tak ayal tubuhnya jatuh deras kedalam sumur diiringi jeritan yang memilukan, jeritannya berhenti ketika kepalanya menghantam batu di dasar sumur. Huntoro mati.


S e k i a n


__ADS_2