KISAH KU

KISAH KU
pindah


__ADS_3

pagi ini memang weekend, alhasil gue cuman ngebantu mbak ina bersih-bersih, sekalian gue bantuin nge rapiin taman mama irma yang agak berantakan karena tukang kebun mama sudah cuti sekitat lima hari, jadi tidak siapa yang membereskannya, kebetulan hari ini weekend jadi bisa ngeberesinnya bareng mbak ina. 0



"alhamdulillah sudah beres non," kata mbak ina yang sudah membereskan peralatan bersih-bersih tadi



"non mau minum apa, biar tak buatin spesial, berhubung non udah ngebantuin kerjaan nya bibik"



"emmm, aku mau nya yang seger-seger mbak in, jus jeruk aja deh kalo enggak" ucap ku sambil masih asyik berkutat dengan menyiram tanaman yang sudah kami rapikan tadi.



"oke deh non, bibik mau ke dapur dulu ya" pamitnya dan meninggalkan ku yang masih di taman.



memang sudah beribu kali ku katakan kepada mbak ina untuk tidak memanggil ku sebutan non, tapi dia tidak bisa dengan alasan karena gue menantu ini lah itulah, istri den ini lah itulah,, mbak2, tapi tetap, aku gak pernah mau manggil dia bibik, menurut ku panggilan yang cocok untuknya adalah mbak ina, 😊😊



setelah selesai bersih-bersih dan meminum minuman yang dibuat mbak ina, aku pun pamit untuk membersihkan badan ini yang begitu berkeringat. setelah selesai dengan ritual mandi ku, aku pun merebahkan badan ku di sofa, tak berapa lama aku pun tertidur pulas, mungkin karena terlalu kelelahan.




------@@@------



"tapi kan kalian baru juga beberapa bulan menikah, ini juga rumah terlalu besar untuk menampung kamu dan keluarga mu raian" bentak mama irma terhadap raian yang sedang duduk di sofa



"maa,, aku juga pengen kayak lain ma, punya rumah sendiri, lagian aku kan memang punya rumah ma" jawab raian untuk meyakinkan mamanya

__ADS_1



"paa, papa harus kasih tau dong sama raian, kalo papa sama mama gak setuju kalo mereka itu pindah, big no" kata mama lagi tanpa memandang ke arah raian.



papa raian hanya terdiam, dan tak tahu yang harus dikatakan, karena menurutnya apa yang di katakan putranya itu ada benarnya juga.



"biarlah ma, ini juga agar mereka bisa mengenal satu sama lain" papa raian pun angkat bicara



"paaa" mama melotot kan matanya ke arah suaminya yang taj sependapat dengannya.



"jadi kamu mau tinggal di rumah bujang mu itu?", tapi sekarang kamu sudah beristri raian, rumah bujang mu itu seharusnya di renovasi terlebih dahulu" ucap mama sekali lagi sebelum meninggalkan raian dan papa nya yang masih terduduk di ruang keluarga.



seri mendengar semua perkataan demi perkataan yang keluar dari keluarga tersebut. (apa?, gua mau pindah dari rumah ini, ya ampun, raian ada2 saja, idenya tanpa memebri tahu ku sebelumnya, dia kira aku ini apa, patung)




sesampainya di dapur, bukannya mbak ini yang ku dapati melainkan mama irma yang menangis, aku pub membukatkan mata ku "mama?"



mama kemudian melihat ke arah ku dan langsung meraih ku dan menelukku, ku usap punggung maa dengan perlahan untuk menenangkannya. "mama, kenapa?", tanya ku



mama hanya terdiam dalam pelukan ku "baiklah kalau mama belum bersedia untuk bercerita, tapi mama harus bercerita kapan pun mana mau bercerita, aku siap untuk mendengar nya" mama kemudian melepaskan pelukannya


__ADS_1


"apa betul kamu dan raian ingin pindah dari rumah mama yabg kecil ini?" tanyai mama dengan mata yang asih memerah



"(apa yang harus ku jawab, padahal aku tidak tahu menahu masalah kepindahan ku dengan raian, ya ampun)" dalam hati ku



tiba-tiba datang menghampiri kami, "ma, nanti juga kalau kami pindah, kami bakal jengukin mama kok, lagian kami gak pindah kota ma, hanya pindah rumah, dan rumah raian itu tidaj terlaku jauh ma" jawab raian dengan suara beratnya



mama hanya teridiam, sesekali raian melirik ke arah ku, seperti mengintrogasi dalam diam.








#likeeeeeeee







__ADS_1




__ADS_2