
15 November Jam enam pagi
Rion sengaja datang lebih awal untuk memberikan kejutan pada Marsha. Secara diam diam ia masuk ke kelas MIPA 3 dan menyimpan Bunga dan kado berisi Buku Novel karangan tokoh ternama.
" oke selesai saatnya kembali ke kelas." Ucap Rion. " cuacanya mantap.... pagi pagi udah hujan..." Gumam Rion.
Marsha baru tiba di sekolah, bersama Intan dan Argina. Ia turun dari angkot yang ia tumpangi. Rion yang melihat hal itu segera menyebrang dan menjemput Marsha menggunakan payung.
" Ish kamu lagi kamu lagi... maunya apa sih?" Tanya Marsha yang risih dengan sikap Rion. " eh lu gimana sih? Yang hari ini ulangtahun harus mendapat perlakuan istimewa." Ucap Rion.
" eh iya ya... ihh Happy sweet seventeen Marsha... semoga makin pinter,jadi anak yang baik, kurangin galaknya. Apalagi ke si Rion." Ucap Intan dan Argina.
" makasih ya... kamu tau darimana aku ulangtahun hari ini?" Tanya Marsha. " kalau enggak salah kemarin pas bantu bawa buku ke kantor enggak sengaja liat fotocopy Kartu keluarga milik lu. Dan tanggalnya ternyata lusa. Yaudah.." Ucap Rion
" iya makasih." Marsha pun memasuki areal sekolah dan dibawah naungan Rion. Cuaca berkabut dan sedikit gerimis menutupi seluruh bagian SMA Putra Bangsa yang terletak di kaki gunung salak itu.
__ADS_1
Saat sampai dikelasnya, Marsha duduk bersama Intan dan saat ia membuka Handphone miliknya. Ia melihat chat Whatsapp Rion kalau ada sesuatu di kolong mejanya.
Ia melihat ke kolong mejanya dan ia menangis sambil mengambil sebuah kado dan bunga ikat mawar berwarna merah menyala.
" kenapa Sha?" Tanya Intan. " dari siapa ini?" Tanya Intan. " ihh pasti ada nama pemiliknya." Ucap Argina.
" dari Pangeran Beroda untuk Tuan Putri yang galak.. semoga kamu sehat selalu, menjadi anak yang pintar dan menjadi lebih dewasa ( utamakan kurangi galaknya).
" Rioooonnn!!!" Teriak Marsha yang membuat dua teman baiknya berusaha menenangkan dirinya. " kamu kenapa menangis sih? Ini kan hari ulangtahun kamu, harusnya kamu senang dong." Ucap Argina yang ikut sedih dengan kondisi Marsha yang seperti ini.
" yaudah... sekarang tenanglah... nih minum dulu...pagi pagi kamu udah buang tenaga." Ucap Argina yang memberikan sebotol air pada Marsha.
Jam setengah Tiga sore
" Ri, gimana rencana lu? Berhasil kagak?" Tanya Naufal yang merobek robek kertas sisa menghitung tugas matematika tadi.
__ADS_1
" Filling gua menyatakan Rencana gua itu berhasil." Ucap Rion. " lu emang benar benar jatuh cinta sama si Marsha?" Tanya Fahri.
" iya lah, sejak gua bertemu dengannya awal masuk SMA lalu. Wajahnya yang cantik nan mempesona seperti Tuan Putri membuat Jiwa Cinta gua meradang." Ucap Rion.
" Kita berdua mensupport lu Ri, soalnya di geng kita yang jomblo tinggal elu doang." Ucap Fahri. " iya lu benar juga." Ucap Rion yang mengelap keringat di wajahnya padahal cuaca sangat dingin berkabut
"Rion??" Panggil Marsha yang matanya berkaca kaca tak sanggup menahan rasa sedih yang ia pendam. " apa Sha?" Tanya Rion yang berjalan mendekati Marsha.
" makasih ya Rii.... kamu baik banget sama aku... selama ini aku enggak pernah mendapat hadiah ulangtahun." Ucap Marsha.
" sama sama... coba buka kadonya...bagus enggak?" Tanya Rion. " ihhh ini kan Novel yang aku pengen banget... makasih ya Rii.." Ucap Marsha yang tangisnya semakin pecah.
" Sama sama.... udah ya jangan menangis lagi.. di umur kamu yang sudah dewasa ini, cobalah untuk menjadi lebih dewasa. Kendalikan emosi kamu " ucap Rion yang mengusap air mata Marsha.
" nah udah bel pulang.... pulang yuk!!" Ucap Rion yang membelai rambut panjang Marsha. " iya..." Ucap Marsha. " plok plok.." dengan sekali tepuk tangan, Tas milik Rion sudah dibawa oleh Naufal. " ayo gua antar pulang." Ucap Rion yang merangkul Marsha dengan mesra.
__ADS_1